Cover by @Iqbald26
Hidup adalah rangkaian rasa, suka dan duka adalah antonim yang saling berkaitan. Karena tidak akan ada yang namanya suka, kalau duka itu tidak ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap
"Reyhan kamu datang sendiri,kemana Aisya?" tanya ibu Rini pada anaknya
"Aisya sedang ada acara Bu di sekolahnya, kegiatan Pramuka atau apa gitu,jadi dia menginap di daerah puncak, karena dia salah satu pembina"jawab Reyhan
"Semenjak Aisya mengajar,dan kamu punya kesibukan sebagai penulis, rasa-rasanya hubungan kalian semakin renggang saja"ucap ibu khawatir
Reyhan merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Aisya, sejak kejadian 5 bulan yang lalu,Aisya ikut-ikutan sibuk seperti Reyhan meskipun dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri,namun tetap saja komunikasi mereka terbatas.
"mMafkan kami Bu,karena kesibukan kami membuat ibu khawatir"
"Apa Aisya pun mengunjungi orang tuanya sendirian?"tanya ibu yang lebih mengejutkan
"Hhmhh iya Bu,saat itu pun Reyhan sedang sibuk,jadi tidak bisa mengatakan Aisya kerumah orang tuanya"sahut Reyhan
Wajah ibu menampakkan kesedihan meskipun tidak terlihat dengan jelas,namun Reyhan memahami bahwa ibunya sedang bersedih.
"Rey segala sesuatu yang terus dibiarkan itu jelas tidak akan baik,akan hancur dan usang, begitu pun rumah tangga,jika komunikasi tidak berjalan dengan lancar,dan satu sama lain tidak mempermasalahkan atau bahkan tidak peduli,maka keharmonisan rumah tangga itu akan hilang dengan sendirinya"ucap ibu yang menasehati Reyhan.
"Iya Bu Reyhan pun menyadari itu, akhir-akhir ini kesibukan kami memang sedikit berdampak,tapi Reyhan akan memperbaikinya Bu"
"Baiklah ibu percaya padamu nak,jangan pernah sakiti Aisya dengan cara kasar maupun lembut,karena perasaan wanita itu sensitif,jadi kamu harus benar-benar menjaga perasaan Aisya "
"Baik Bu,Reyhan mengerti"
"Oh iya,Rey kamu makan malam disini saja,ibu akan masak makanan kesukaan kamu"
"Baiklah Bu, Reyhan mau mandi dulu. Oiya Bu Hana ada dirumah?"
"Hana ada dikamarnya,tadi dia baru pulang dari kampus"
"Yasudah Bu,Reyhan naik keatas dulu ya"
Reyhan pun pergi ke lantai atas dia menuju kamarnya disana Reyhan beristirahat dan membersihkan diri, setalah itu dia mendatangi kamar Hana untuk sekedar curhat berharap Hana memahami perasaan Reyhan karena adiknya itu calon psikolog.
"Tok...tok..tok"suara ketukan pintu dari kamar Hana.
Tak lama Hana pun membuka pintu kamarnya.
"Ceklek..(anggap saja suara pintu dibuka)ehh mas Reyhan,kapan datang mas?"
"Belum lama Hana,mas mau curhat dong sama kamu "ucap Reyhan terus terang
Raihana mengernyitkan dahinya.
"Tumben mas, biasanya juga gengsi hehe?"
"Iya,mas lagi pengen curhat aja, sekalian kamu belajar menjadi pendengar dan memberikan solusi kepada permasalahan orang lain"
"Wahhh berat kayanya ni, bahasanya aja masalah"
"Ahhh kamu ini,mas sudah boleh masuk belum ni?"
"Ohh iya lupa mas,maaf...maaf,yaudah silahkan masuk"
Reyhan pun masuk kedalam kamar Hana,dia duduk dibawah lantai yang sudah di gelar karpet tebal dan juga lembut.
"Jadi mas mau cerita apa sama Hana?"
"Mas akan langsung pada intinya saja,kamu tau mas bukan tipikal orang yang berbelit-belit"
"Iya mas, Hana tau dan silahkan ceritakan dengan senang hati Hana akan mendengarkan mas".
"Begini Han,ini mengenai rumah tangga mas,lima bulan yang lalu Aisya mengutarakan maksudnya untuk memiliki seorang anak,dan mas terkejut mendengar hal itu pasalnya di usia 1 bulan pernikahan dia sudah ingin memiliki anak"
"Terus masalahnya dimana mas, bukannya orang yang sudah menikah itu tujuannya ingin mempunyai keturunan?"
"Masalahnya ada di mas han,mas belum bisa mencintai Aisya sampai saat ini,mas takut anak yang Aisya lahirkan nanti tidak bisa mas terima dengan cepat juga, seperti hubungan mas dan Aisya saat ini"
Hana terkejut mendengar pengakuan kakaknya.
"Mas!"ucap Hana seolah tak percaya
"Maafkan mas han,memang itu kenyataannya selama hampir enam bulan ini mas pura-pura bahagia,dan menjadi suami yang baik padahal mas diliputi rasa bersalah yang amat pada Aisya "
"Apa ibu dan Mbak Aisya mengetahui ini mas?"
Reyhan menggelengkan kepalanya.
"Astaghfirullah mas,kenapa mas tidak bilang sejak awal jika tidak mau menerima perjodohan ini,kenapa mas harus menyiksa diri sendiri dan akhirnya menyakiti yang lainnya?"
"Mas tidak ingin mengecewakan ibu han,mas terlalu menyayangi ibu"sahut Reyhan menundukkan kepalanya
"Mas sebuah kebohongan cepat atau lambat akan terbongkar,mas hanya perlu menunggu waktu saja,namun aku berharap mas segera mencintai Mba Aisya "
"Mas bingung Han harus bagaimana,mas tidak mungkin menceritakan semua ini pada ibu,dan mas juga tidak mungkin mengakui perasaan mas pada Aisya. Akan sangat menyakiti mereka jika mas melakukan hal itu"
"Lalu apa rencana mas selanjutnya dengan pernikahan mas yang sudah berjalan ini?"
"Mas akan tetap menjalaninya Han,mas akan berkorban perasaan yang terpenting ibu bisa bahagia dengan pernikahan mas,kalau perlu mas akan memutuskan untuk memiliki anak dari Aisya"
"Apa mas yakin?"
"Iya han, setelah ini mas akan membicarakan perihal mempunyai anak dengan Aisya,mas harap dia menyetujuinya karena waktu itu mas sempat menolaknya"
"Ya Allah mas,lalu bagaimana sikap Mbak Aisya selama ini?"
"Dia wanita yang baik,dia melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik, meskipun mas tau dia sedikit kecewa terhadap mas karena penolakan itu"
"Aku tidak akan memberikan saran yang seolah menggurui mas,tapi belajarlah untuk mencintai mba Aisya mulai saat ini,dia berhak mendapatkan cinta mas"
"Mas akan berusaha Han,tolong bantu doa untuk mas, karena sebenarnya mas takut kalau Aisya suatu saat nanti mengetahui perasaan mas yang sesungguhnya,mas takut han"
"Selalu mas,Hana akan selalu mendoakan mas Reyhan dan rumah tangga mas,semoga secepatnya Allah menghadirkan perasaan cinta itu untuk mas"
"Terima kasih ya Han sudah mendengarkan cerita mas,aku merasa bebanku sedikit berkurang,dan tolong han,jangan ceritakan semuanya sama ibu ,mas ga mau ibu bersedih"
"Iya mas,Hana tahu jangan khawatir"
Perbincangan mereka pun sudah selesai,hal itu bertepatan dengan suara ibu yang memanggil kedua anaknya untuk makan malam bersama.
"Rey,Han cepat turun makannya sudah siap"
"Baik Bu"sahut keduanya
Ketiganya pun telah duduk dimeja makan,mereka makan dengan hikmat,tanpa ada pembicaraan sepatah kata pun. Setelah makan mereka kembali mengobrol banyak hal setelah itu Reyhan pamit pulang.
"Rey hari ini kamu akan menginap atau pulang kerumahmu?" tanya ibu pada anaknya
"Sepertinya Reyhan pulang saja Bu, soalnya masih harus mengoreksi hasil ujian mahasiswa,dan besok Reyhan akan menjemput Aisya di perkemahan"
"Yasudah kalau seperti itu,ibu berharap ketika kalian berkunjung kesini lagi sudah membawa kabar baik tentang kehamilan Aisya"
Kedua anaknya salin melirik, karena keinginan ibu untuk memiliki seorang cucu.
"Sabar Bu,itukan hak prerogatif Allah, mungkin saja mas dan mbak Aisya sudah berusaha namun kesempatan itu belum datang Bu"sahut Hana
"Kamu masih kecil Hana,memang kamu tahu apa tentang pernikahan?"
"Ahh ibu selalu menganggap aku anak Kecil😒"sahut Hana kesal
"In syaa Allah ya Bu kabar baik itu secepatnya hadir"ucap Reyhan menyahuti keinginan ibu.
"Iya Rey ibu akan menantikan hal itu"
Reyhan tersenyum penuh arti,entah senyuman kesedihan atau senyum kebahagiaan.
tertarik karena baca komentar pembaca ✔️