Kara,gadis cantik dan baik hati, tapi suatu kejadian mengerikan mengubah hidupnya menjadi gadis liar dan sulit di kendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy reana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 10
Alfaro Keenan
Sulit sekali melihat Kara tersenyum, bahkan semenjak aku datang lima belas menit lalu, Kara hanya diam memperhatikan setiap lembar jawaban yang harus di isinya.
Tidak biasanya dia seperti itu.
"Ada yang kamu ga ngerti?" Aku mencoba memecah keheningan.
"Enggak. Aku ngerti." Dia tidak menjawab panjang lebar seperti biasanya.
Harusnya menjadi hal biasa, Kara diam seperti ini lagi pula apa yang aku harapkan. Tapi, melihat nya tidak seceria biasanya, membuatku sedikit terganggu.
Suasana canggung akhirnya usai, setelah Kara menyelesaikan lembar jawaban dengan benar. Aku ragu untuk bertanya, apakah dia mau melanjutkan belajar mengendarai motor atau tidak.
"Aku mau jalan-jalan." Tiba-tiba Kara bersuara di sela tangannya sibuk memasukan buku kedalam tas sekolah.
"Mau jalan sama aku?" Tanyaku dan Kara mendongkak,
"Iya , kalau kamu ga sibuk."
"Kemana?"
"Kemana aja. Sebentar aja." Aku balik menatapnya, sepertinya ada hal buruk yang terjadi padanya. Tidak biasanya dia seperti itu.
"Oke. Ayo!."
Aku menunggu Kara di luar dekat pos security . Tak lama nampak dia keluar mengenakan celana jeans hitam panjang dan kaos pink. Seperti biasa dia berpenampilan sederhana,tapi sangat manis.
"Pake motor kamu?" Tanya Kara, begitu melihatku berada di atas motor Ducati,milikku.
"Ga mau pake motor ini ya?"
"Bukan gitu. Ga enak aja, pake motor kamu."
"Ga apa-apa. Yu jalan, nanti keburu sore."
Aku menyalakan motor, perlahan meninggalkan gerbang rumah Kara.
Kara mulai mencengkram jaket boomber yang aku kenakan, semakin aku melajukan motor dengan cepat, semakin erat pula pegangan tangannya.
Motor melaju semakin jauh, tapi aku tidak tau harus membawa Kara kemana. Akhirnya aku memutuskan membawa Kara ke danau di daerah Sunter. Danau buatan yang cukup bagus, lagipula aku tidak terlalu faham mengajak gadis seperti Kara ke tempat asing.
"Kesana aja yuk!" Aku menunjuk kursi di pinggiran danau. Langit sore nampak masih cerah dan angin cukup kencang di sekitar danau, membuat rambut panjang Kara berhamburan karena terkena angin.
"Aku ga tau mau ajak kamu kemana. Jadi kesini aja, gak apa-apa kan?" Tanyaku.
"Aku suka, tempatnya bagus." Jawab Kara, matanya masih memandang jauh ke arah danau.
"Mau minum apa?" Tawarku. Karena cuaca masih terasa panas, aku yakin Kara pasti merasa haus.
"Aku mau es kelapa." Aku mengangguk, segera mencari pedagang es kelapa.
Entah apa yang di fikirkan Kara , hingga dia tidak menyadari kedatanganku. Matanya masih menatap jauh, bahkan terlihat ada kesedihan di balik mata bulatnya.
"Kamu aneh bgt hari ini. Ada apa?" Tanyaku sembari meletakan es kelapa di pangkuannya.
"Mm? Aku ga kenapa-kenapa." Kara nampak bingung.
"Keliatan baget di sini, kalau kamu lagi bete." Kutunjuk dahi nya dengan telunjuku. Kara tersenyum , meski aku tau senyum nya terlihat terpaksa.
"Satu hari lalu, aku mendapat surat teguran dari salah satu guruku di sekolah. Aku tidak sengaja datang terlambat, tapi tetap saja. Dan informasi itu sampai ke telinga ibu, akhirnya pagi tadi Ibu marah." Ucap Kara, pandangan matanya jauh menerawang, tangannya mencengkram gelas berisi es kelapa dengan kuat.
"Ibu paling tidak suka aku membuat ulah, tapi hari itu aku tidak sengaja melakukannya." Kara nampak sedih, dia menundukan kepalanya menatap sepatu cats putih yang di kenakannya.
"Kenapa bisa terlambat?" Tanyaku
"Salahku sendiri, pergi ke luar sekolah hingga akhirnya aku terlambat masuk kelas." Jawabnya sambil menyedot es kelapa.
"Yang sudah terjadi memang tidak bisa di kembalikan, tapi kamu bisa memperbaikinya, esok ." Aku berusaha membuat Kara merasa lebih baik, meski aku tau itu tidak membantunya.
"Benarkah?"
"Mmm, setiap orang pasti melakukan kesalahan, yang di sengaja ataupun tidak. Yang pasti kamu harus berusaha agar kesalahan itu tidak terulang lagi. Dan minta maaf sama Ibu, berjanji kamu tidak akan mengulanginya lagi. Dia pasti mengerti."
"Jika saja meyakinkan Ibu semudah itu."
"Seorang Ibu pasti memafkan kesalhan anak nya, apalagi itu tidak di sengaja."
Seulas senyum manis terbit dari bibir Kara. Membuatku merasa lega, akhirnya aku bisa melihatnya tersenyum, meski hanya sekilas.
"Terimakasih, udah ngajak aku kesini. Aku suka tempatnya. Atau jangan-jangan kamu sering kesini juga?"
"Enggak. Ini baru pertama kalinya aku kesini." Jujur saja, aku memang baru pertama kali ke sini. Biasanya aku hanya pergi ke tempat futsal, atau ke rumah Dea.
Mengingat tentang Dea, aku lupa jika sore ini aku berjanji akan menemuinya, dan begitu aku melihat jam dari layar ponsel aku langsung terkejut. Sudah pukul lima sore, sedangkan aku berjanji menjemputnya jam empat.
Aku segera membuka layar ponsel yang sejak tadi aku simpan di ransel, beberapa pesan dan panggilan memenuhi layar dan semua itu dari Dea.
Celaka!
Entah kenpa, ketika bersama Kara, aku sering kali melupakan Dea.
"Udah sore, mau pulang sekarang?" Tiba-tiba Kara menepuk lenganku ketika aku masih sibuk mebuka satu persatu pesan dari Dea.
"Kamu udah mau pulang?" Tanyaku.
"Sebenarnya masih betah. Tapi,kaya nya kamu ada janji lain. Jadi, pulang aja."
Aku semakin heran di buatnya. Kara itu cenayang atau apa, dia selalu bisa membaca fikirannku, bahkan sudah dua kali tebakannya selalu benar.
"Lain kali aku ajak lagi ke tempat yang lebih bagus."
"Iya"
Akhirnya aku dan Kara memutuskan pulang. Sampai di rumah Kara tiga puluh menit kemudian, Kara langsung turun dan menyuruhku langsung pulang.
"Aku pulang ya," Kara tersenyum dan mengangguk
"Jangan sedih lagi, jelek kalau cemberut." Aku mengusap puncak kepalanya, bahkan rambut kara terasa lembut di balik jemariku. Kara nampak terkejut dengan perlakuanku, terlihat dari pipinya yang langsung merona membuatku semakin gemas.
Aku tiba di rumah Dea hampir jam tujuh malam,di sambut beberapa anggota keluarga Dea yang tengah berkumpul di ruang keluarga. Aku sudah cukup akrab dengan keluarga Dea, bahkan cerita orang-orang yang mengatakan jika berhadapan dengan calon mertua lebih horor di banding uji nyali di gedung berhantu.
Aku mematahkan teori aneh itu, nyata nya aku bisa akrab dengan mudah dan di terima baik oleh Om Emil, Ayah Dea.
"Selamat malam Om," sapaku, begitu menghampiri Om Emil yang tengah sibuk memainkan tabletnya.
"Baik, Far. Mau ketemu Dea?" Tanyanya, menaruh tablet dan menyuruhku duduk di sampingnya.
"Iya, ada janji mau keluar. Ke acara temannya." Jawabku.
Di ruangam ini tidak hanya ada aku dan Om Emil saja. Ada juga Jupiter yang tengah menatap layar ponsel tanpa merasa terganggu dengan kehadiranku dan juga ada David yang sibuk membaca komik kesukaannya.
Dari arah pintu dapur muncul Tante Tati, Ibu Dea. Dia membawa nampan berisi tiga cangkit teh dan benerpa toples berisi cemilan, untuk suami dan kedua anak lelakinya.
"Eh,ada Faro. Kapan datang?" Tanya nya. Aku segera berdiri menghampiri, dan mencuim lengannya.
"Iya Tante, baru dateng. Mau jemput Dea."
"Ohh, Dea masih di atas. Tunggu sebentar ya. Mau minum apa?"
"Nggak usah Tante, udah kenyang."
"Ya sudah. Kalau mau minum minta di buatin Bibi aja ya, tante mau ke kamar dulu." Aku mengangguk.
Tak berselang lama Om Emil pun pegi menyusul Tante Tati, dia pamit karena ada banyak pekerjan kantor yang harus di selesaikan. Kini tinggal aku,Jupiter dan David. Mereka nampak asik dengan mainanya masing-masing, hanya saja sesekali aku mendengar Jupiter berdecak kesal sambil mengacak-acak rambutnya, meski tatapan nya tak lepas dari layar ponsel.
"Tumben ga nongkrong?" Tanyaku.
"Mmmmm, mager bang." Jawab Jupiter, tanpa melihat ke arahku.
"Kenapa telat sih!" Suara Dea begitu nyaring, membuatku menoleh. Kudapati raut wajahnya yang sudah di tekuk,masam turun dari tangga. Sebelah tangannya menjinjing sepatu hills dan sebelah lagi menenteng tas berwarna biru muda. Senada dengan dress ketat yang di kenakannya.
"Tadi ada kerjaan mendadak, ga bisa di tinggal."
"Kenapa ga bilang. Aku udah telfon ratusan kali, kamu ga jawab!" Dea masih nampak kesal
"Iya aku minta maaf." Tidak ada pembelaan selain mengucapkan maaf untuk mereda emosi Dea.
Sifat Dea memang keras, tapi dia akan luluh begitu aku minta maaf. Untuk saat ini ucapan maaf dan elusan di pipinya masih menjadi senjata andalanku, di saat dia tengah marah atau merajuk.
"Kita mau kemana?" Tanyaku
"Jalan, kita bakal keluar bareng sama Nadia dan yang lain juga."
Maksud jalan yang Dea maksud, yaitu berkumpul dengan teman-temannya di club yang sudah menjadi langganan tetap Dea dan teman-temannya. Awalnya aku merasa kurang nyaman berada ditempat seperti itu,hanya saja aku harus membiasakan diri semenjak dekat dengan Dea. Karena, kehidupan Dea tidak jauh dari acara buang-buang uang seperti itu.
"Tumben banget kamu di rumah." Tanya Dea, bagitu menyadari salah satu adik nya yang jarang di rumah, kini berada di kursi dan hanya diam menatap layar ponsel.
"Mmmm, mager." Jawab Jupiter singkat.
"Biasa juga keluyuran atau mojok sama si Ayu." Sindir Dea.
Jupiter menurunkan ponsel dari hadapannya, balik menatap kakanya dengan tatapan jengah.
"Berisik, buruan pergi sana!"
"Putus ya?"
"Apaan sih?!"
"Tampang kamu kumel baget.keliatan kalau lagi patah hati."
"Bukan patah hati, tapi Ka Jupiter lagi nungguin temennya bales chat." Tiba-tiba David ikut menjawab, kini ia pun menaruh komik yang sedari tadi menutupi wajahnya.
"Hah? Serius dek?"
"Iya, temennya ga bales-bales. Padahal Kakak udah kirim ratusan pesan." Sedetik kemudian Dea langsung tergelak tertawa.
"Hahahhaha, aku perlu sungkem sama tuh orang. Bisa-bisanya dia mengabaikan adik aku yang ganteng ini." Dea masih mentertawakan adik lelakinya yang semakin di buat kesal karena di jadikan bahan ejekan.
Aku hanya tersenyum melihat kedekatan mereka. Keluarga Dea termasuk keluarga kaya yang harmonis. Berbeda dari kebanyakan keluarga lain yang saling tidak peduli, justru keluarga Dea saling suport satu sama lain. Di balik sosok Dea yang egois, dia sebenarnya kaka yang baik dan penyayang, begitu juga di balik sikap acuh dan susah di atur Jupiter, dia anak lelaki yang patuh dan menghormati kaka dan orang tuanya. Sedangkan si bontot David, dia pelengkap di antara dua kaka nya. David pintar dan juga cerdas.
Bayangkan saja di balik sikap diam nya, ternyata dia masih sempat menyelinap mencari tau apa yang Jupiter lakukan dari tadi.
"Siapa yang udah nyuekin adek ku yang tampan ini. Mmm?" Dea mengelus dagu Jupiter, menggodanya.
"Kepo! Sana pergi. Kamu ga tau Bang Faro udah nunggu tiga jam." Elak Jupiter sambil menepis lengan Dea yang masih mengelus dagu nya dengan sengaja.
"Biarin, dia aja telat datengnya." Jawab Dea sambil melirik ke arahku.
"Siapa sih, aku penasaran. Cantik ga? Cantik mana sama Ayu?"
Dea semakin kepo, bakhan Dea mencondongkan badannya hendak melihat layar ponsel Jupiter. Namun belum sempat Dea merebut ponsel milik Jupiter, ia terlebih dulu di dorong Jupiter agar kembali menjauh. Sebenarnya Dea dan Ayu cukup akrab, karena mereka pernah melakukan pemotretan bersama. Dan semenjak tau Ayu adalah kekasih dari adiknyaJupiter, jadilah mereka semakin akrab.
"Siapa? Ayu? Nanti aku chat deh, biar nggak bikin adek gantengku ini galau."
"Buka ka Ayu. Nama nya Kara Kaisara." Celetuk David.
Aku tertegun begitu mendengar nama yang begitu familiar di telingaku, di ucapkan demgan lantang oleh David. Apa itu orang yang sama?
Atau Kara yang berbeda? Ada banyak nama Kara di dunia ini,dan aku sangat berharap itu bukan Kara yang aku kenal.
"Kara? Siapa? Aku baru dengar."
"Udah ga usah kepo. Buruan pergi sana!"
"Iya,,, iya,,," Dea masih terkekeh, namun kali ini dia menarik lenganku, mengajak untuk segera pergi.
Seperti biasanya setiap kali pergi bersama Dea, aku pasti menggunakan mobil milik Dea. Sepanjang perjalanan aku hanya diam, bahkan aku tidak bisa konsentrasi dengan benar.
"Far,, Alfaro!"
"Ya? Kenapa?"
"Harusnya aku yang tanya kamu kenapa. Kenapa diem aja? Sakit?" Dea menempelkan tangannya di dahiku.
"Enggak panas." Lanjutnya.
"Aku enggak sakit."
"Terus kenapa diem aja?"
"Harus teriak ya?"
"Ya enggak gitu juga." Decak Dea. Untung saja ada panggilan masuk di hp milik Dea, hingga akhirnya Dea hanya fokus berbicara dengan seseorang dari seberang sana.
Aku kembali fokus ke jalan. Aku mencoba mengabaikan perasaanku, tapi rasanya ada yang mengganjal. Melihat bagaimana raut nelangsa Jupiter, menatap layar ponsel tanpa henti, membuatku yakin jika orang yang tengah di tunggu Jupiter bukan orang biasa.
Aku sudah lama mengenal Jupiter, aku tau bagai mana kesehariannya. Dia tidak akan gelisah seperti itu hanya untuk sekedar menunggu balasan pesan dari seseorang. Tapi,kali ini Jupiter nampak kesal, bahkan berulang kali dia meraup wajahnya dengan kasar.
Siapapun orang itu, harusnya aku tidak perduli. Tapi, begitu mendengar nama Kara Kaisara, perasaanku berubah tidak menentu. Aku bingung mengartikannya,hanya saja ada rasa sedikit tidak rela, dan kesal, Kara'ku mendapat pesan dari lelaki lain.