Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Lebih Suka Kamu
Bab 24
Suara deru mobil di halaman memecah keheningan. Eru bergegas keluar, berdiri di beranda dengan tangan bersedekap. Pintu sedan hitam itu terbuka, memunculkan sosok Mami. Wanita paruh baya yang selalu tampak anggun seperti biasa, tapi gurat kelelahan—dan wajah yang agak sembab tidak bisa disembunyikan. Eru tidak salah, mami tadi menangis saat menjawab telponnya.
Maura memaksa tersenyum mendapati sang putra menunggu kedatangannya.
“Sayang, gimana magang hari ini?” Maura menghampiri Eru, meraih lengan dan memeluknya. Mengajak melangkah ke dalam, mengacuhkan tatapan serius penuh tanya putranya. Namun, Eru malah tidak bergerak.
“Sudah makan belum? Pasti belum, ayo kita makan.”
“Ada masalah apa?” tanya Eru.
Pelukan dengan di lengan Eru pun dilepas, Maura menghela nafasnya.
“Tidak ada sayang, hanya bicarakan masalah magang kamu.”
“Kenapa menangis?”
“Nangis? Siapa yang nangis. Gimana hari ini, kayaknya makin semangat. Mami jadi penasaran, ingin ketemu Cinta.” Maura kembali memeluk lengan Eru, kali ini pria itu melunak. Ikut melangkah ke dalam, menuju meja makan. Maura masih mengoceh seperti biasa. Masalah yang dihadapi seharian ini. Mulai dari memasak, bertemu dengan circlenya juga mengeluh om-om tetangga yang berstatus duda sering titip salam dengan security.
“Bik, es jeruknya ya,” pinta Maura. Minuman kesukaan Eru saat makan malam atau makan siang.
“Jangan pakai gula, bik. Aku lagi malas nge gym.”
“Iya, den.”
Maura menyendok nasi ke piring Eru, mengambilkan lauk dan sayur lalu meletakkan di hadapan pria itu.
“Lusa aku berangkat lagi.”
Sendok yang akan meluncur masuk ke dalam mulut Maura, mendadak berhenti. Ia diam sejenak lalu meletakan pelan sendoknya.
“Maksudnya berangkat kemana?”
“Luar kota Mih. Jogya, perbatasan Jawa tengah, tepatnya Gunung Kidul. Terima kasih, bik,” ucap Eru saat asisten rumah tangga meletakan gelas berisi es jeruk.
“Jauh Ru. Harus kamu berangkat?” tanya Maura hati-hati.
“Hm.” Eru mengunyah sambil mengangguk, meraih gelas dan meneguknya. “Ya harus Mih, memang sudah tugasku.”
“Naik pesawat ‘kan?”
Eru terkekeh. “Ini bukan perjalanan bisnis mih. Apalagi kami bawa alat shooting yang tidak mungkin dibawa dengan pesawat. Jalur darat, pakai mobil.”
“Lama dan jauh sayang, gimana kalau ada kendala di jalan. Mobil mogok atau ….”
“Mih, tenang saja. Aman, mih.” Maura akan membuka mulutnya, tapi langsung disela Eru. “Nggak usah hubungi om langit untuk minta keringanan pekerjaan aku apalagi dimutasi lebih cepat. Aku sedang belajar bisnis mih, mulai dari hal teknis,” tutur Eru, maura menarik nafas. Dia sudah sepakat pada Langit, membiarkan Eru fokus dengan kegiatan magang. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk menyampaikan hubungannya dengan Cinta.
Lelahnya hari ini baru terasa. Eru pamit ke kamar, biasanya ia akan berbincang dengan Maura setelah makan malam.
“Hm, istirahatlah. Perlu mami bawakan vitamin?”
“Tidak usah, nanti aku cari sendiri. Mami istirahat, jangan terlalu banyak memikirkan aku. Semua akan baik-baik saja,” ujar Eru. Tangannya berada di bahu Maura yang tersenyum miris.
Semua tidak akan baik. Kamu pasti kecewa kalau Cinta tidak bisa terima kenyataan sebenarnya, batin Maura.
***
Bersandar pada head board, Eru melakukan panggilan video dengan CInta. Bukan menghindar dari mami, ia memang lelah. Tapi, tidurnya tidak akan nyenyak sebelum menuntaskan rindunya.
Kembali melakukan panggilan video. Layar ponsel Eru yang awalnya menampilkan lingkaran pemanggilan, berubah menampilkan wajah Cinta. Gadis itu berada di bean bag, mengenakan piyama dengan rambut yang dicepol asal-asalan.
“Apa sih, vc segala. Aku lagi nonton tau.”
"Heii," sapa Eru, matanya agak menyipit karena silau layar ponsel.
"Bukannya tadi ngeluh capek, kok belum tidur? Kirain udah pingsan, tau-tau nggak ada kabar, padahal bilang mau nelpon.”
Eru memaksakan segaris senyum. Melihat wajah manis Cinta entah kenapa sedikit menurunkan detak jantungnya yang tadi memburu. "Gak bisa tidur. Kamu nonton sama siapa?”
Cinta memutar kamera belakang ponselnya sebentar, memperlihatkan sekeliling kamar menunjukan tidak ada orang lain di sana. padahal simple tinggal jawab sendiri, tapi begitulah Cinta. Mengarahkan kamera kembali ke wajahnya. Ia mengunyah keripik dengan santai.
“Jangan lama-lama, cepat tidur. Besok kerja lagi.”
“Ini lagi seru, ceritanya tentang CEO yang menyamar jadi karyawan biasa. Udah gitu dia suka sama cewek, staf gitu dan statusnya hampir ketahuan. Seru pokoknya.”
Raut wajah Eru perlahan berubah serius, bahkan ia merubah posisi bersandar menjadi tegak.
“Memang kenapa kalau ketahuan dia CEO, bagus dong pacarnya bukan orang sembarangan. Bukan rekan tapi pemimpin."
“Ya nggak gitu dong. Si cewek mereka dibohongi, ditipu. Selama ini dia sudah menerima cowok itu apa adanya, nyatanya hubungan mereka diawali dengan kebohongan. Tau nih akhirnya happy atau sad ending.”
Penjelasan itu tidak sengaja menyentil hati Eru. CEO menyamar, kebohongan dan akhir yang masih abu-abu. Kenyataan hidupnya ternyata mirip dengan cerita fiksi yang ditonton sang kekasih.
"Ru? Kamu dengerin nggak?" Cinta mendekatkan wajahnya ke kamera, menyadari ada yang aneh dengan ekspresi Eru. "Muka kamu kok tegang banget? Ngantuk atau kurang sehat?”
Lekas menggeleng, Eru posisi duduknya agar lebih nyaman. "Enggak kok. Cuma... ngantuk aja kali. Tau sendiri aku fresh graduate, masih menyesuaikan dengan ritme kerja yang langsung full begini."
Eru menatap lekat wajah Cinta di layar. Ada keinginan besar untuk menumpahkan seluruh rahasia tentang siapa dirinya, tidak ingin menjadi sandungan akan hubungan mereka di masa depan. Namun, ia menahannya. Setidaknya belum untuk malam ini.
“Ya udah istirahat, nggak usah lebay kayak abege lagi jatuh cinta. Harus banget video call sampe ketiduran.”
Eru terkekeh lalu merebahkan diri. “Tapi aku masih kangen, mau kamu ada di sini. Tidur aku pasti lebih nyenyak, apalagi sambil peluk.”
“Lebay.”
“Ternyata lihat kamu mengunyah keripik sambil nonton drakor cukup efektif bikin lelahku berkurang."
Pipi Cinta mendadak merona tipis, ia buru-buru mengalihkan pandangan sambil pura-pura meraih remote tv.. "Ih, apaan sih! Tiba-tiba gombal. Gak mempan ya!"
"Nyatanya itu fakta," cetus Eru. "Ya udah, lanjutin nonton drakornya. Jangan kemalaman, besok harus kerja lagi memperjuangkan tanggal muda.”
“Aku suka tanggal muda.”
“Kalau ke aku, suka juga nggak?” tanya Eru.
“Hm. Suka … banget,” jawab CInta lirih.
“Eh, apaan? Ulangi!”
“Nggak ada siaran ulang. Night Mahameru, bye.”
“Eh, Cinta.” Namun, layar ponsel sudah menggelap dan wajah CInta sudah tidak ada di sana. Eru tersenyum. “Aku lebih suka kamu. Kira-kira kisah kita akan happy atau sad ending.”
egoisnya akbar hanya mementingkan ke baikan keluarganya sendiri. tanpa memikirkan orang lain.😤
siap2 reaksi cinta nrma ga ya kenyataan
kamu dah di kasih tau sama mamih kan dan di wanti² tentang gosip tidak enak nah ini maksudnya
harusnya kamu dukung dan restuin agar cinta dapet keluarga baru dari pihak keluarga laki². lah ini aneh² aja 😏
takut nama keluarga tercoreng,takut ini takut itu..
Takut saham hancur dan turun lebih pastinya..
tapi nggak mikir gimana cinta tidak mendapat keadilan untuk orang tuanya...
Perselisihan dan perpisahan pasti ada,tapi aku yakin cinta Eru itu tulus dan kuat.
lama lama Cinta juga akan luluh dan memaafkan Eru..
lagian bukan eru yang menabrak,mereka sama sama korban juga