NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Sore itu, langit di atas jalur perbatasan menuju desa mendadak berubah menjadi abu-abu pekat.

Hujan rintik-rintik mulai turun, membawa kabut tebal yang menyelimuti jalanan pegunungan yang berkelok tajam.

Di dalam kabin mobil mewah yang kedap suara itu, suasana awalnya terasa begitu hangat.

Darren sengaja menyetir sendiri tanpa membawa sopir, ingin menikmati waktu berdua bersama istri suburnya sembari memberikan kejutan kunjungan untuk memantau perkembangan Andre dan Riko.

Jihan duduk di kursi penumpang dengan senyum yang tak pernah pudar, sesekali melirik suaminya dengan tatapan penuh cinta. Namun, kehangatan itu seketika sirna dalam hitungan detik.

Bzzz... Bzzz... Bzzz...

Ponsel Darren yang diletakkan di dasbor mobil bergetar bertubi-tubi, memecah keheningan.

Layar pintarnya menyala, menampilkan rentetan notifikasi dari nomor tidak dikenal.

Karena fokus menyetir di jalanan berkabut, Darren melirik sekilas dan menekan tombol buka.

Detik itu juga, dunia di dalam mobil seolah berhenti berputar.

Layar ponsel itu menampilkan foto-foto lama yang sangat jelas.

Foto Jihan beberapa tahun lalu yang sedang merangkul dan memeluk seorang pria muda bernama Albert dengan senyuman yang begitu lepas—senyuman yang Darren kira hanya milik duni anya saat ini.

Di bawah rentetan foto itu, sebuah pesan teks provokatif tertulis dengan sangat tajam, menusuk tepat di harga diri sang CEO:

"Istrimu yang sok suci sebenarnya menjadikanku pelarian, Darren. Sampai detik ini, hatinya dan cintanya hanya untukku, Albert. Kamu hanya pria paruh baya yang dimanfaatkan untuk kekayaannya."

Cittt!

Mobil mewah itu sempat sedikit oleng sebelum Darren berhasil menguasai kemudi dengan sentakan kasar.

Wajah matang sang CEO paruh baya yang biasanya tenang dan berwibawa seketika berubah drastis menjadi sangat mengerikan.

Sifat asli Darren yang sangat posesif, cemburuan, dominan, dan tidak pernah mau berbagi apa pun yang sudah menjadi miliknya—seketika bangkit sepenuhnya.

Jiwa predatornya yang tertidur karena kelembutan Jihan kini meledak keluar.

Rahang Darren mengeras begitu kuat hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang.

Cengkeraman kedua tangannya pada lingkar setir mobil begitu kuat dan bertenaga, membuat buku-buku jarinya memutih pasi.

Sorot mata elangnya yang semula menatap Jihan dengan penuh pemujaan, kini berubah menjadi setajam silet, dingin, dan dipenuhi oleh kilatan amarah yang sanggup membekukan darah.

Atmosfer di dalam kabin mobil mewah itu mendadak drop menjadi sedingin es, terasa begitu mencekam hingga membuat pasokan oksigen di sekitar mereka seolah menipis.

Jihan yang merasakan perubahan drastis suaminya langsung menoleh dengan wajah pucat.

Jantungnya berdegup kencang melihat aura kegelapan yang memancar dari tubuh Darren.

"M-Mas Darren, ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Jihan dengan suara bergetar ketakutan, sama sekali belum tahu bahwa badai fitnah terbesar yang dirancang anak tirinya kini siap menguji ikatan pernikahan mereka di atas tebing yang berkabut.

Klik.

Suara sentakan kasar Darren mematikan sistem audio mobil memecah keheningan yang mencekam.

Detik berikutnya, dengan gerakan cepat yang dipenuhi amarah, Darren menyambar ponselnya lalu melempar benda pipih itu ke atas pangkuan Jihan dengan sangat kasar.

"Jelaskan padaku, Jihan! JELASKAN!" tuntut Darren.

Suara baritonnya yang biasa terdengar penuh wibawa kini bergetar hebat, menahan ledakan amarah yang luar biasa besar di dalam dadanya.

Jihan tersentak. Dengan tangan yang mulai gemetar, ia mengangkat ponsel tersebut dan melihat layarnya.

Ia melihat rentetan foto masa lalunya bersama Albert, seluruh persendian Jihan seketika terasa lemas. Wajahnya memucat pasi.

Air matanya langsung menetes deras membasahi pipi tembamnya.

Ia benar-benar syok dan tidak habis pikir bagaimana dokumen rahasia yang ia simpan rapat-rapat di dalam laci tersembunyi di rumah lamanya bisa tersebar dan jatuh ke tangan orang asing.

Dengan tangis yang mulai pecah, Jihan memberanikan diri mengulurkan tangan, mencoba memegang lengan kekar Darren demi menenangkan suaminya.

"M-Mas Darren ,Demi Allah, Mas! Ini tidak seperti yang tertulis di pesan itu! Aku bersumpah demi Allah, ini semua hanya masa lalu. Sekarang hatiku dan cintaku sepenuhnya hanya untukmu, Mas!" ratih Jihan di sela isak tangisnya yang semakin histeris.

"Dia lelaki yang pernah aku ceritakan dulu, Mas! Lelaki yang aku ceritakan saat pertama kali aku menolongmu di taman, lelaki bajingan yang sudah menyelingkuhiku dan mengatakan kalau aku bertubuh besar seperti babi! Aku sudah tidak ada hubungan apa pun lagi dengannya, Mas! Tolong percaya padaku!" jerit Jihan mencoba meluruskan kesalahpahaman.

Namun, kata-kata tulus Jihan sama sekali tidak bisa menembus dinding tebal cemburu buta yang terlanjur membakar otak Darren.

Sebagai seorang pria berkuasa yang memiliki sifat posesif tingkat tinggi, melihat wanita yang teramat dipujanya pernah memeluk pria lain dengan begitu mesra membuat ego dan harga dirinya terluka parah.

Pikiran sehatnya telah lumpuh total oleh rasa terbakar.

"Masa lalu?! Tapi kenapa dia bilang kamu hanya menjadikanku pelarian, Jihan?! Kenapa?!" bentak Darren, matanya memerah menatap lurus ke depan dengan pandangan liar.

Alih-alih meredakan kecepatan, Darren yang sudah gelap mata justru menginjak pedal gas dalam-dalam.

Mesin mobil itu menderu keras, melaju kencang membelah jalanan pegunungan yang sepi, licin karena rintik hujan, dan diselimuti kabut tebal.

Di sisi kanan mereka, terbentang jurang yang sangat dalam tanpa pembatas jalan yang memadai. Mobil mewah itu melesat beringas, menikung dengan sangat ekstrem di setiap kelokan tajam.

"Mas Darren, hentikan! Tolong pelankan mobilnya, Mas! Aku takut!"

Jihan menjerit histeris ketakutan. Kedua tangannya mencengkeram erat sabuk pengaman dan pegangan di atas pintu saat tubuh suburnya terombang-ambing akibat laju mobil yang sudah tidak terkendali.

Tangis Jihan semakin pecah, meratapi suaminya yang kini berubah menjadi sosok monster asing yang mengerikan akibat hasutan foto-foto masa lalu, tanpa mereka sadari bahwa di salah satu tikungan di depan, Albert sudah bersiap dengan rencana mautnya.

Di depan sana, pada sebuah tikungan tajam yang rawan, licin, dan tertutup kabut tebal, sebuah mobil tua yang dikendarai oleh Albert sudah menunggu dengan mesin yang terus menderu.

Matanya yang tamak menatap tajam ke arah jalanan, menunggu mangsa yang akan mendatangkan uang ratusan juta untuknya.

Begitu lampu sorot mobil milik Darren menembus kabut dan mendekat dengan kecepatan tinggi, Albert langsung menginjak gas.

Ia sengaja melajukan mobil tuanya secara zig-zag dan memotong jalur dengan sangat ekstrem tepat di depan moncong mobil Darren, mencoba memprovokasi agar mobil mewah itu banting setir ke arah kanan—lurus menuju bibir jurang.

Darren yang saat itu sedang dikuasai emosi dan cemburu buta seketika terkejut melihat serangan mendadak yang memotong jalurnya.

Kilat amarah di matanya mendadak berubah menjadi kepanikan total saat melihat bayangan mobil tua menghalanginya.

"Sialan!" umpat Darren.

Ia mencoba menginjak pedal rem sedalam mungkin. Namun, karena jalanan yang sangat licin akibat guyuran embun sore yang basah serta kecepatan mobil yang sudah terlanjur terlalu tinggi, hukum fisika tidak dapat dihindari.

Ban mobil mewah itu kehilangan traksi. Mobil mereka mulai slip dan mengalami oversteer hebat—berputar tak terkendali tepat di tepi pembatas jurang yang curam.

BRAKKK!

Benturan keras tak terhindarkan saat bagian samping mobil menghantam pembatas jalan seadanya dengan kekuatan yang masif.

Pintu di sisi penumpang—tempat Jihan duduk—terhantam begitu keras hingga ringsek dan terlempar terbuka akibat tekanan hidrolik dan guncangan yang dahsyat.

Sabuk pengaman Jihan terputus karena entakan yang terlalu ekstrem.

Tubuh Jihan terlempar keluar dari kabin mobil, kehilangan pijakan, dan langsung jatuh terperosok ke dalam jurang yang dalam dan gelap tertutup kabut.

Sementara itu, di bagian atas tebing, Darren sekuat tenaga menimba kemudi dan menginjak rem berkali-kali hingga akhirnya mobil mewah itu berhenti dengan posisi hidung mobil menggantung di tepi jurang.

Begitu mobil berhenti, Darren menoleh ke samping kiri.

Kursi di sebelahnya sudah kosong melompong. Pintu mobilnya hancur, dan yang tersisa hanyalah keheningan yang mencekam bersama kabut yang merayap naik.

Kesadaran Darren seketika tersentak kembali. Seluruh rasa cemburu buta, amarah, dan ego prianya mendadak lenyap tak berbekas, digantikan oleh rasa bersalah dan ketakutan luar biasa yang mencabik-cabik dadanya.

Pria paruh baya itu langsung menendang pintunya, keluar dari mobil, dan berlari ke tepi tebing dengan napas memburu.

"JIHANNN!!!"

Teriakan bariton Darren menggema memecah kesunyian pegunungan, dipenuhi oleh rasa putus asa yang teramat dalam saat matanya menatap kekosongan jurang yang gelap, menyadari bahwa kebodohannya sendiri telah membuat wanita yang teramat dicintainya terlempar ke dalam pelukan maut.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!