Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.
Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Umi Dari Umroh***
Langit Jakarta mendung sejak asar. Awan tebal menggantung di atas Bandara Soekarno Hatta.
Kirana berdiri di balik pagar pembatas. Telapak tangannya dingin. Spanduk karton di genggaman agak lecek karena keringat. Tulisan spidol hitam. _Selamat Datang Umi Zahra._
Saqir di samping. Kemejanya pink masih basah kuyup di bagian pundak gak dandan rambut panjangnya diikat dengan Tindikan ditelinga yang dihiasi anting jepit. Ia Habis kehujanan pakai grab dari Depok. "Umi belum keluar?"
Kirana menggeleng. Matanya terpaku ke pintu geser. "Katanya mendarat jam lima. Sekarang lima lewat sepuluh."
Antrean jemaah umroh mulai keluar. Satu persatu. Mukena putih. Koper roda. Wajah lelah tapi tenang.
Detak jantung Kirana makin cepat. empat minggu ini rasanya empat tahun. Sejak Umi berangkat. Sejak rumah sepi. Sejak dia hampir dipaksa menikah
"Kirana!"
Suara itu memecah keramaian.
Kirana menoleh cepat. Napasnya tercekat.
Umi Zahra. Mukena putih. Tas selempang coklat. Wajahnya lebih tirus dari foto terakhir. Tapi sorot matanya. Masih sama. Hangat.
Tanpa pikir, Kirana berlari. Spanduk jatuh. "Umi!"
Pelukan itu keras. Kokoh. Kayak pulang ke tempat paling aman di dunia.
Umi Zahra terperangah setengah detik. Lalu lengannya menguat. Membungkus Kirana sepenuhnya. "Ya Allah... Nak..."
Bau mukena. Bau minyak wangi tanah suci. Bau rumah.
Saqir mundur dua langkah. Memberi ruang. Tangannya meremas koper lipat.
Umi melepas pelukan. Kedua tangannya naik ke pipi Kirana. Ibu jari mengusap. "Kurus kamu."
Kirana tertawa. Padahal air mata sudah jatuh. "Umi juga kurus."
"Alhamdulillah kita ketemu." Umi mencium kening Kirana. Lama. "Maaf ya. Telat kabar."
"Enggak apa Umi." Kirana menggeleng cepat. "Yang penting Umi selamat."
Saqir maju. Membungkuk sedikit. "Assalamualaikum, Umi."
Umi menoleh kearah Saqir. Senyumnya melembut. "Waalaikumsalam, Saqir. Terima kasih sudah jemput."
"Sama-sama, Umi."
Koper diambil. Taksi dipesan. Perjalanan pulang senyap. Hanya suara wiper dan deru mesin.
Tiga orang. Tapi rasanya seperti seluruh dunia.
Rumah Umi Zahra terang saat mereka tiba. Maghrib.
Mpok Rini sudah di dapur. Bau opor ayam. Mbak Sulis menggelar sajadah di ruang tengah.
Shalat dulu. Makan bersama. Tawa kecil sesekali.
Tapi setelah Isya, suasana berubah.
Teras belakang. Kursi rotan. Angin malam masuk lewat sela pagar bougenville.
"Duduk, Nak." Umi menepuk kursi sebelah.
Kirana menurut. Duduk di lantai. Punggung bersandar ke kaki Umi. Saqir di kursi depan. Menjaga jarak.
Umi menggenggam tangan Kirana. Dingin. "Selama di Mekah, aku tidak tidur nyenyak."
Kirana mendongak. "Kenapa, Umi?"
"Karena umi merasa tidak tenang." Suara Umi pecah. "Setiap malam di depan Ka'bah. Aku sujud lama. Aku bilang, Ya Allah, aku bibi yang gagal lindungi ponakan."
Kirana menegang. "Umi..."
"Jangan potong." Umi menggeleng. Air mata jatuh. "Kamu anak adikku. Anak yatim piatu. Titipan adik ku yang sudah di surga. Tugas ku menjaga kamu. Mendidik kamu. Melindungi kamu."
Umi menatap langit. "Tapi aku sibuk. Toko. Pengajian. Kerja. Aku lempar kamu ke Syarif. Ke Asih. Kupikir pondok itu aman. Kupikir kamu aman."
Genggaman Umi mengerat. "Ternyata aku salah besar, Kirana. Aku lalai. Hampir saja kamu dinikahkan paksa oleh Ustadz Yusuf."
Nama itu seperti paku. Menancap di udara.
Kirana menunduk dalam-dalam. "Umi..."
"Jangan diam." Umi menangis. "Mpok Rini telepon aku seminggu lalu. Cerita semua. Utang tiga ratus juta. Komisi tiga puluh juta. Kamu diusir dari pondok. Kamu lari tengah malam."
Saqir menunduk. Rahangnya mengeras.
"Maafkan Umi, Nak." Umi menarik kepala Kirana ke pelukannya. "Maaf karena datang terlambat."
Bendungan itu jebol.
Kirana menangis. Tubuhnya kejang. "Umi... Umi tidak salah..."
"Salah!" Umi tegas, tapi suaranya hancur. "Bibi itu ibu kedua. Aku tidak ada saat kamu ketakutan. Aku tidak ada saat kamu butuh dipeluk."
"Umi ada sekarang." Kirana terisak di pangkuan Umi. "Sekarang Umi di sini."
Jari Umi menyisir rambut Kirana. "Iya. Sekarang Umi tidak akan pergi lagi."
Mereka menangis. Lama. Tanpa kata.
Saqir diam. Matanya merah. Tapi dia tahan. Dia hanya laki-laki yang menyaksikan dua perempuan yang dia cintai saling menyembuhkan.
Dari dapur, Mpok Rini mengintip. Lalu menutup pintu pelan. Membiarkan.
Setelah isakan mereda.
Umi mengangkat wajah Kirana. "Cerita, Nak. Dari awal. Jangan ada yang disembunyikan."
Kirana menarik napas. Gemetar.
Lalu dia bicara.
Tentang Ustadz Yusuf yang datang dengan map dan senyum. Tentang tawaran tiga ratus juta. Tentang syarat istri keempat. Tentang Asih yang keliling mencari calon. Mawar yang kabur. Laila yang mengunci diri. Nisa yang membanting pintu.
Tentang dia yang memilih miskin daripada dijual.
Umi mendengar. Diam. Tangannya makin dingin.
"Jadi kamu lebih memilih hidup susah?" Umi berbisik.
Kirana mengangguk. "Iya, Umi."
Umi memeluknya lagi. "Anak hebat."
"Terus Saqir..." Kirana menunjuk. "Dia yang datang nyelamatin kirana. Dia yang hadang Ustadz Yusuf. Dia yang..."
Suara Kirana habis.
Umi menoleh ke Saqir. "Saqir."
Saqir berdiri. "Iya, Umi."
"Duduk." Umi menepuk lantai.
Saqir duduk. Bersila. Dekat Kirana.
Umi menggenggam tangan Saqir. "Terima kasih."
Saqir terkejut. "Umi..."
"Kalau bukan kamu," Umi menggeleng. "Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Kirana. Mungkin sekarang dia sudah di pelaminan dengan orang yang tidak dia inginkan."
Saqir menunduk. "Saya hanya..."
"Kamu hanya apa?"
"Hanya tidak tega melihat dia takut, Umi." Suara Saqir pelan, tapi jelas. "Dia kuat. Tapi dia perempuan. Seharusnya dilindungi. Bukan diperjualbelikan."
Umi mengangguk. Air matanya jatuh lagi. "Benar."
Hening.
Umi melepaskan genggaman. "Kirana."
"Iya, Umi."
"Kamu benci Umi?"
Pertanyaan itu seperti pisau.
Kirana kaget. "Tidak, Umi."
"Bohong." Umi tajam. "Pasti ada kecewa."
Kirana diam lama. "Tidak ada umi hanya Kirana merasa kenapa gak dari dulu Kirana Sama Umi."
Umi menutup mata. "Maafkan."
"Tapi sudah hilang." Kirana cepat. "Sejak Umi memeluk aku waktu di pondok dulu. Hilang semua."
Umi tersenyum. Basah. "Benarkah?"
"Benar." Kirana mengusap air mata Umi. "Umi pulang. Itu cukup."
Umi memegang pipi Kirana. "Dengar. Mulai hari ini. Umi tidak akan menyerahkan kamu ke siapa pun. Tanpa izin kamu. Tanpa ridha kamu."
Kirana mengangguk. "Iya, Umi."
"Termasuk Saqir." Umi menoleh.
Saqir menegang. "Umi?"
"Kamu suka dia?" Umi bertanya langsung.
Wajah Kirana merah. "Umi..."
"Jawab."
"Iya." Suara Kirana pelan. Tapi tidak ragu. "Suka."
Umi menoleh ke Saqir. "Kamu?"
Saqir duduk tegak. "Saya serius, Umi. Saya ingin menghalalkan Kirana. Dengan cara yang benar. walaupun saya masih kerja nge MC tapi penampilan saya tidak seperti dulu Umi sedikit sedikit sudah berubah. InsyaAllah honor cukup untuk menafkahinya."
Umi diam. Menimbang.
"Saya tidak punya apa-apa, Umi." Saqir jujur. "Rumah kontrak. Motor bekas. Tapi saya punya niat. Saya akan menjaga Kirana. Saya tidak akan mengulang kesalahan Paman Syarif dan Bik Asih."
Umi menarik napas panjang. "Syarif itu adikku."
"Saya tahu, Umi."
"Dia khilaf. Asih juga." Umi berkata. "Takut miskin membuat mereka buta."
Kirana menggenggam tangan Umi. "Umi jangan benci mereka."
"Aku kecewa." Umi jujur. "Tapi tidak benci. Mereka darahku."
Umi berdiri. Masuk ke dalam. Kembali membawa mukena. Ia mengajar Kirana dan Saqir sholat bareng. Saqir diminta untuk menjadi imam. Awalnya saqir ragu ragu tetapi umi meyakinkan bahwa saqir bisa.
Saqir menjadi imam walaupun hanya 2 surah pendek yang ia baca berulang-ulang.
Setelah salam, Umi duduk lagi. Ia menatap saqir dan Kirana secara bergantian.
"Umi menerima."
Saqir dan Kirana menoleh bersamaan.
"Menerima apa?"
"Menerima kalian." Umi berkata. "Menerima hubungan kalian. Tapi dengan syarat."
Saqir menelan ludah. "Syarat apa, Umi?"
"Pertama. Nikah segera. Tidak pacaran. Tidak menggantung." Umi tegas. "Kedua. Kamu bekerja sungguh-sungguh, Saqir. Buktikan tanggung jawab. Ketiga. Tinggal di sini dulu. Rumah Umi cukup besar. Biar Umi mengawasi."
Saqir menghela napas lega. "InsyaAllah, Umi."
Kirana menangis lagi. Tapi kali ini karena lega. "Umi..."
Umi memeluk mereka berdua. "Umi gagal menjadi bibi dua puluh tahun yang lalu. Sekarang Umi akan menebusnya. Dengan menjadi ibu untuk kalian berdua."
Pelukan itu hangat. Di bawah langit yang baru saja reda dari hujan.
Mpok Rini dari jendela tersenyum. Lalu menutup gorden.
Malam itu.
Kamar Kirana.
Umi duduk di tepi kasur. Kirana berbaring. Kepalanya di pangkuan Umi. Seperti saat dia kecil.
"Umi."
"Hmm?"
"Di Mekah, Umi berdoa apa?"
Umi menyisir rambut Kirana. "Berdoa untukmu. Berdoa agar aku bisa menjaga ku. Agar aku tidak terlambat lagi."
Kirana menggenggam tangan Umi. "Umi sudah menjaga kirana."
"Iya." Umi mencium keningnya. "Umi akan terus menjaga Kirana. Dan tidak akan pergi lagi."
"Umi."
"Apa?"
"Terima kasih sudah memilih Kirana."
Umi diam. Lalu berbisik. "Seharusnya dari dulu."
Mereka terdiam. Hanya suara jangkrik dari luar.
Di teras, Saqir masih duduk. Menatap langit.
HP-nya bergetar. Pesan masuk.
_Selamat Saqir. Anda diterima sebagai tenaga administrasi PT. Sejahtera. Masuk Mulai Senin._
Saqir tersenyum. Menatap jendela kamar Kirana. Lampunya masih menyala.
"Alhamdulillah." ia lalu membagikan kabar tersebut ke Kirana melalui WA
Kirana membalas. " Alhamdulillah Mas rezeki kita".
Malam itu mereka tidur dengan senyuman. Saqir semakin merasa mantap untuk menikah dan memulai semua dari awal. Sebagai Saqir Indrawan.
Terus ini namanya Agil atau Aqil sih? Bingung gue... 😭
@Miss Danica
@Miss Danica
🗿
@Miss Danica
@Miss Danica
Paman Syarif awalnya masih rada bener, ke sini-sini mulai sedeng juga. 😌
Secara undang-undang tindakan mereka namanya “Menyekap”. Itu menyalahi hak asasi manusia, ustadz.
Orang berilmu dari mana-lah kalian? Sejauh cerita ini jalan yg masih waras cuma Ustadz Sobri.
Harusnya tambahin tag “Konflik etika” di novel toon, thor. Ini ceritanya cocok banget masuk tag itu.