Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Baru
Sudah enam bulan berlalu, banyak pelajaran berharga yang Yura dapatkan selama berada didesa ini.
Hubungan dirinya dengan Winter bisa dibilang masih seperti Tom and Jerry saja. Terkadang akur, terkadang saling dingin.
Kalau bicara soal sikap dingin, Yura lah pemenangnya. Ia tidak terlalu suka basa-basi. Namun akhir-akhir ini Winter sering muncul sebagai sosok yang paling selalu ada untuk nya.
Walau masih tetap dengan kalimat yang andalannya, "jangan ganggu pria ku?" Hahaha.
. ..
Pagi ini, Yura terbangun dengan wajah cerah, secerah mentari pagi di ufuk timur. Ia teringat pesan sang ibu yang mengatakan akan datang berkunjung bersama Lily, gadis yang merupakan putri sambungnya.
Awalnya pasti sulit untuk menerima kehadiran orang lain dihidupnya, namun Yura tentu sudah semakin dewasa untuk menanggapi semua itu.
Ia dengan sukarela menerima dan mengatakan akan menyambut sang ibu dengan baik. Itulah yang membuat dirinya terbangun pagi ini dengan mood yang lumayan bagus.
Soal Steven, pria itu tidak lagi menghubungi nya sejak tiga bulan yang lalu. Dimana kalimat terakhir nya yang memberikan harapan untuk bertemu.
Seharusnya telah tiba waktu nya, waktu yang dijanjikan oleh pria itu. Namun Yura sangat mengerti, ini masih hari pertama libur panjang sekolah. Ia yakin jika Steven sedang menyusun segala rencana nya dengan baik.
Nenek sudah sejak pagi buta berkutat didapur untuk memasak hidangan penyambutan untuk menantu nya itu.
Seperti biasa, kehebatannya dalam memasak tidak perlu diragukan lagi. Ia sudah sangat terkenal dengan cita rasa masakannya yang istimewa.
Yura segera bersiap untuk melakukan rutinitas pagi nya, Walaupun hari libur, jadwalnya untuk mengurus rumah Liam tidak boleh libur.
Cuaca yang cerah, ditambah angin yang berhembus dingin membuat dirinya segera merapatkan jaket yang ia kenakan.
Ayam-ayam mulai berkeliaran, mengais apa saja yang bisa memenuhi persediaan makanan dikerongkongan mereka.
Yura tersenyum melihat beberapa anak ayam yang berlarian saat dirinya mulai mendekat. Pagi itu,dirinya tidak hanya disambut oleh anak-anak ayam yang menggemaskan, beberapa bunga daisy yang baru saja mekar seolah turut menyambut pagi yang bahagia ini.
. ..
Setelah matahari berada tepat lurus diatas kepala, Rosa dan gadis yang bersama nya kini tiba didepan rumah nenek Lea.
Yura yang memang sudah terbiasa dengan wajah datar nya tetap bersikap seperti biasa, irit bicara. Namun bukan berarti ia masih tidak menerima sang ibu.
"Hai, aku Lily,,, " sapa gadis manis itu dengan ramah.
Keluarga kecil itu kemudian masuk dan berkumpul disofa ruang tamu minimalis milik nenek Lea. .
Sangat kebetulan, usia Yura dan Lily hanya terpaut hitungan bulan saja. Kedua nya kini sama-sama duduk dikelas dua.
Setelah selesai menyantap makanan yang disiapkan oleh nenek Lea, gadis itu meminta kepada Yura agar menemaninya melihat laut.
"Aku suka sekali berpetualang... " ucapnya membuka pembicaraan.
Yura yang berada di sampingnya hanya manggut-manggut serta meng-ia kan didalam hatinya.
"Sayang sekali, pasti sangat menyenangkan jika kita bisa bersekolah ditempat yang sama... "
"Aku sangat kesepian, papaku tidak menyenangkan jika diajak bermain... "
Ia tertawa menceritakan kehidupannya, sedangkan Yura hanya tersenyum menanggapi. Sepertinya nasib keduanya tidak terlalu beda jauh. Namun tidak bisa juga dikatakan sama.
Lily tumbuh hanya dengan kasih sayang seorang ayah, dan Yura tumbuh hanya dengan mengandalkan keberuntungan.
Tapi saat ini, ia sudah tidak memikirkan rasa sakit lagi. Melainkan penerimaan diri dan orang lain.
Waktu semakin beranjak sore, para warga sudah mulai berdatangan untuk menghabiskan waktu senggang mereka.
"Wah, menyenangkan sekali bisa berenang seperti mereka... " ucap Lily dengan sangat antusias saat dirinya melihat para penyelam melakukan aksi nya.
para penjual makanan ringan dan olahan hewan laut mulai berdatangan memadati area tersebut. Ada yang menjual mentah, ada juga yang matang. Berbagai usaha mereka buat semenarik mungkin untuk mengugah selera para pembeli.
Seperti itu lah laut, ia selalu memberikan panorama indah apalagi di sore hari menjelang matahari terbenam diufuk barat.
Namun bagi sebagian orang, laut bisa menjadi ancaman yang sangat mematikan apabila tidak dipahami dengan baik.
Sudah banyak kisah memilukan yang Yura dengar dari para sesepuh di desa itu. Namun mereka yang memang sejak lahir dan besar disana, memilih untuk tetap melanjutkan hidup walau pun hati kadang tidak ikhlas bahkan hampir menyalahkan.
Contohnya paman Tom, dulu ia memiliki seorang putri yang seharusnya seusia dengan Yura. Gadis itu sangat malang. Ia memiliki kecacatan dikakinya, membuat dirinya tidak bisa berjalan dengan normal.
Alhasil, karena tidak memiliki iman yang kuat, gadis itu menyusul sang ibu yang telah terlebih dahulu menjadi korban dari amukan laut itu sendiri.
Karena itu pula lah paman Tom jadi tidak menyukai laut. ia lebih memilih bekerja diladang daripada harus berhubungan secara langsung dengan alam yang mengambil separuh hidupnya.
Nenek Lea selalu berpesan padanya "jangan sekali-sekali kamu masuk ke laut jika kau tidak bisa berenang... "
Sampai saat ini Yura tidak pernah melanggar aturan itu. Ia hanya menikmati dengan cara yang aman, yaitu berdiri tidak terlalu dekat dengan ombak atau pun karang.
...
Keesokan harinya, dengan segala bujuk rayu akhirnya Yura mau juga ikut ke kota bersama ibu dan saudari baru nya itu.
Sebelum berangkat, terlebih dahulu ia menitipkan sang nenek pada pak Tom, tetangga sebelah. Yura juga mendatangi klinik dokter Mark untuk meminta dokter itu agar sesekali mampir melihat sang nenek.
Disana tidak ada Winter, karena gadis itu sedang menikmati liburan bersama dengan keluarganya.
"Tak perlu khawatir, hanya beberapa hari saja... " ucap nenek Lea.
"Itu karna nenek tidak mau ikut... " Ucap Yura dengan sedih.
"Nenek sudah tidak kuat lagi bepergian... " jawab sang nenek.
Yura jelas tahu kalau nenek nya itu tidak pernah keluar dari desa ini. Ada sesuatu yang masih tidak ingin nenek ceritakan padanya sampai saat ini
Ketiga orang itu pun segera menaiki taksi yang akan membawa mereka ke stasiun kota. Sekilas Yura menoleh kerumah Liam yang masih sepi seperti biasa.
Diam-diam dirinya kembali mengingat kebersamaan singkat mereka selama tiga bulan itu.
"bagaimana kabar mereka... "
Tidak ada yang tahu tentang berita kedua nya, tidak dengan Kara maupun Winter yang biasanya selalu update tentang gosip heboh disekolah mereka.
Kara sendiri pernah mengatakan jika penyakit Yura a semakin parah, makanya orang tua nya lebih memilih untuk membawanya ke kota mereka saat ini berada.
Didalam perjalanan kereta, Yura dapat melihat perubahan sang ibu yang sudah mulai menunjukkan perhatiannya.
Walau masih terlihat kecil, tapi ia merasa lega saat sang ibu mengupaskan dua buah telur rebus untuk mereka.
Yura juga turut senang melihat Lily yang sangat nyaman memiliki ibu Rosa disampingnya. "Tidak masalah jika dengan ku gagal, setidaknya tidak dengan Lily. " ucapnya didalam hati.
Saat dirinya tertidur, tak sengaja ia merasakan sebuah belaian dikepalanya. Yura yakin sang ibulah yang melakukannya.
Ia memilih untuk tetap berpura-pura tidur seolah tidak menyadari nya. Dengan begitu, sang ibu tidak akan merasa malu atau sungkan.
...
Saat hari sudah malam, kereta pun berhenti di stasiun utama Gor. Ketiga nya keluar dan mendapati se sosok pria dewasa telah menunggu didepan sana.
Yura bisa tahu karena melihat ekspresi bahagia Lily saat berlari untuk memeluk sang ayah. Ia dan mama Rosa saling pandang dengan canggung.
Kemudian anak dan ayah itu segera mendekati Yura dan ibunya. Pria itu memeluk mama Rosa sekilas lalu berganti menghadap Yura.
.
.
.
Bersambung...