NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33.

Setelah meninggalkan kantor kepolisian, perjalanan pulang mereka terasa lebih hening dari biasanya. Dimas dan Raka sesekali melirik Leon, tampak ingin bertanya namun ragu untuk memulainya. Begitu tiba di halaman rumah Leon dan duduk santai di teras, akhirnya Dimas membuka suara.

“Jadi, maksud lo tadi beneran, Leon? Dunia cerita yang lo tulis itu benar-benar ada, dan lo pernah hidup di sana selama lo koma lima tahun di dunia ini?” tanyanya dengan nada penuh rasa ingin tahu.

Leon mengangguk pelan, matanya menerawang seolah melihat kembali kenangan yang masih terasa jelas. “Bukan cuma ada, Dim. Rasanya lebih nyata dari yang bisa gue jelaskan. Anginnya, suaranya, bahkan perasaan gue saat di sana semuanya terasa hidup. Dan seperti yang dibilang Reza, gue nggak cuma membayangkannya. Roh gue benar-benar ada di sana.”

“Terus soal Putri Liora itu?” sambung Raka hati-hati. “Lo bilang lo jatuh hati padanya. Itu juga bukan sekadar bagian dari cerita yang lo buat?”

Leon tersenyum tipis, namun ada rasa rindu yang terlihat jelas di wajahnya. “Awalnya dia memang karakter yang gue tulis. Tapi begitu gue berada di sana, dia berubah menjadi sosok yang nyata. Dia punya pemikiran sendiri, perasaan sendiri, dan cara pandang yang mengajarkan gue banyak hal. Lama-kelamaan, perasaan itu tumbuh dengan sendirinya, bukan karena gue merencanakannya. Gue benar-benar ingin bertemu dia lagi, tidak hanya sebagai roh, tapi dengan wujud yang utuh.”

Dimas dan Raka saling berpandangan, lalu mengangguk mengerti. Mereka mungkin tidak sepenuhnya memahami hal yang terasa mustahil itu, tapi mereka percaya pada sahabatnya sendiri.

“Kalau memang ada caranya, dan itu berarti buat lo, kita dukung,” kata Dimas tegas. “Tapi ingat pesan Reza. jangan terlalu lama di sana. Kita nggak mau lo hilang lagi begitu saja.”

“Gue ingat,” jawab Leon.

Sementara itu, Bimo hanya duduk di sudut sambil mendengarkan dengan tenang. Di luar terlihat ia ikut mendukung, namun di dalam hatinya ia terus mencatat setiap detail yang disampaikan Leon. Ia menyimpan dengan rapi penjelasan tentang tempat yang sunyi, buku catatan, dan batas waktu yang diberikan.

Setelah teman-temannya berpamitan pulang, Leon memberanikan diri masuk ke dalam rumah untuk menemui kedua orang tuanya. Ia menemukan Pak Indra dan Bu Ina sedang duduk di ruang tengah, menunggu kabar lengkap dari kejadian siang itu.

“Yah, Bu, aku mau bicara sesuatu yang penting,” ucap Leon setelah duduk di hadapan mereka.

Dengan hati-hati, Leon menceritakan semuanya mulai dari penjelasan Reza tentang keberadaan dunia cerita itu, cara untuk masuk ke sana dengan raga aslinya, hingga keinginannya untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang ia sayangi di sana. Ia juga menyampaikan pesan tentang batas waktu agar orang tuanya tidak terlalu cemas.

Pak Indra dan Bu Ina mendengarkan dengan saksama, sesekali saling bertukar pandangan. Wajah mereka tampak khawatir, namun mereka juga melihat ketulusan dan keinginan yang besar di mata putra mereka.

“Nak, Ibu dan Ayah sudah kehilangan kamu selama lima tahun,” kata Bu Ina dengan suara lembut namun penuh perasaan. “Rasanya takut kalau kamu pergi lagi dan tidak bisa kembali. Tapi Ibu juga tahu, ini adalah bagian dari hidup kamu yang tidak bisa dipisahkan. Kalau ini yang membuat kamu merasa lengkap, Ibu dan Ayah tidak akan melarang. Tapi berjanjilah, kamu akan menjaga diri dan kembali tepat waktu.”

Leon merasa haru mendengar jawaban itu. “aku janji, Bu, Yah. aku akan kembali, karena di sini juga ada tempat yang aku cintai.”

Mendapat izin, Leon mulai mempersiapkan segalanya. Ia ingat syarat pertama yang disampaikan Reza. harus mencari tempat yang benar-benar sunyi, jauh dari kebisingan, dan bebas dari gangguan apa pun. Setelah memikirkan berbagai kemungkinan, ia teringat sebuah tempat yang jarang dikunjungi orang sebuah gua kecil di lereng bukit di pinggiran kota, tempat yang sering ia datangi saat masih kecil untuk menenangkan pikiran. Tempat itu sepi, jauh dari keramaian, dan memiliki suasana yang tenang.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Leon berpamitan kepada orang tuanya. Ia membawa serta buku catatan cokelat kesayangannya, air minum secukupnya, dan menutup pintu rumah dengan hati-hati. Ia berjalan kaki menuju bukit itu, melewati jalan setapak yang mulai ditumbuhi rumput. Sesampainya di mulut gua, ia melihat ke dalam suasana di sana sejuk, hening, dan hanya diterangi cahaya matahari yang masuk dari celah atap gua. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada suara orang, hanya hembusan angin pelan yang berdesir.

“Ini tempat yang tepat,” gumam Leon pelan.

Ia masuk lebih dalam, duduk bersila di bagian paling tengah gua, lalu meletakkan buku catatan itu di atas pangkuannya. Sebelum membukanya, ia menarik napas panjang, memusatkan seluruh pikiran dan perasaannya. Di saat yang sama, di luar sana, Bimo yang diam-diam mengikuti pergerakan Leon dari kejauhan tersenyum licik. Ia sudah tahu di mana tempat itu berada, dan ia bertekad akan segera mencoba caranya sendiri bahkan mungkin sebelum Leon sempat kembali.

1
Sarah
Ini karya yang bagus sih, Kak Anggita. Aku suka sama pesan tentang menerima takdir dan Leon yang akhirnya sadar tempatnya itu di dunia nyata. Aku juga suka sama endingnya yang kerasa adem banget terus penuh dengan pesan saling memaafkan juga. Aku juga suka sama proses tentang sihir Reza itu yang akhirnya beneran ditunjukkan awal mulanya. Saran aku sebagai pembaca bener-bener ditampung dan dipertimbangkan. Ceritanya santai dan ringan banget. Aku pasti bakal rate sih, Kak. Meski bukan sekarang. 👍
Sarah
Nah ’kan~
Aku sudah mencium baunya. /Doge/
Sarah
Laki-laki juga boleh nangis, kok. Kalian kan juga manusia. Cuma turun-turunin ego aja~
(Dan jangan di tempat umum juga sih~) 😌
Sarah
Ia, tempatmu di sini, Leon. Kecuali kalau kamu bener-bener mati di dunia nyata terus isekai. Jodohmu cari yang satu dimensi aja. 😂
Sarah
Sejak awal juga sebenarnya aku bingung...
Nanti kalau Leon jadi sama Liora... gimana??
Tinggalnya dimana?
Terus kalaupun ada jembatan antara dua dunia... bingung juga sih...
maksudku...
Di dunia cerita dia beristri, putri dari kerajaan cahaya pula.
Sementara di dunia nyata ibu-ibu masih suka nanya, “Leon kapan nikah?” 😭
Sarah
Baru tau kekuatan dukun bisa untuk isekai... mau juga dong... 😭
Sarah
Meskipun aku kritik bukan berarti aku benci yah.
Semangat yah, aku kasih 2 bunga deh./Rose/👍
Sarah
Sayangnya kematian Liora masih terasa kurang emosional. Kurang pendalaman emosi sama reaksi karakter lain (selain Leon. Zarek, Valgus, Raja, semuanya juga orang terdekat Liora. Padahal mereka orang yang bahkan lebih lama bersama Liora, Tapi yang di highlight paling terpukul... Leon doang. Zarek reka Liora sejak lama, Valgus... dulunya musuh tapi sekarang temannya juga, Raja... ya... bayangin aja, putri kesayangan lu satu-satunya mati di hadapan lu. Harusnya yang paling terpukul gak cuma Leon doang. Reaksi karakter lain gak langsung tegar dan suruh Leon balik. Masih ada tahap renungan dulu pasca tubuh Liora memudar.)
Mana scene pas matinya itu kayak masih berada cepet banget.
Paling kekurangan besar cerita ini... dramanya sih.
(Ya... lain kali aja aku jabarkan lebih jelas soal ini.)
Sarah
Aku jadi bertanya-tanya lagi, Leon ini sebenarnya penulis hebat atau amatir sih? Kalau di bilang yang udah jago rasanya gak mungkin deh. Karena ya... dunia cerita dia ajak se-gak jelas itu. Dan jujur tokoh-tokoh di dunia ceritanya Leon masih kerasa kaku kurang natural dan ada vibe klise nya juga. Tapi, dipuji guru yah?... bagus dong tulisannya.
Atau apakah gini...
Tulisan yang dimaksud kayak tulisan yang tugas-tugas gitu, tapi kalau buat nulis novel masih belum...?
Sarah
Gue pikir bakal di bogem. Untung kagak. Biasanya kan gitu di cerita-cerita film/novel. 😂
Ya... meskipun emang salah, kalau dia langsung nge-bogem juga Dimas jadi ikutan salah. Bayangin aja baru bangun, masih di RS, terus dipukul. /Facepalm/
Sarah
Kamu masih punya ortu dan temen-temenmu, Leon...
Sarah
Wait, meskipun aku gak terlalu sedih sih tapi... agak gak nyangka juga dia bakal mati sekarang. 😦😮
Sarah
Jangan lupa mie instan, Bang~ 😌
Sarah
Mon maap, Leon udah berapa hari di dunia cerita yah? Takut gak bisa balik eyy. Asaan udah lamaa. /Scowl/
Sarah
Nama, thor. Biasakan huruf awal kapital.
Sarah
Masa selamanya? Nanti layu dong. 😂
Wulandari Ayuningtyas
Semangat thor💪
Ananda Anggit: semangat💪💪
total 1 replies
Sarah
Kalau menurutku... Bimo emang gak sejahat itu sih, dia iri aja itu mah. Coba pikirin deh, 5 tahun koma... tidak sadarkan diri, titik paling tak berdaya, itu bukan waktu yang singkat lho. Dalam jangka waktu itu kalau Bimo mau, dia bisa aja bunuh Leon. Diam-diam tinggal cabut alat-alat rumah sakit yang ada badannya, atau bisa lewat cara apa aja asal diam-diam. Udah deh, bisa wassalam itu Si Leon. Tapi meski 5 tahun, tapi dia gak ada niatan bunuh Leon. Padahal itu waktu yang panjang banget untuk merencanakan sesuatu...
Sarah
Tapi, aku masih bertanya-tanya... soal Leon yang awalnya ingetnya dia anak kost dan sebelum masuk cerita dia lagi di kamar kost-an. Padahal nyatanya dia sama sekali gak pernah nge-kost?
Sarah
Nah, mulai lebih make sense nih. Good job. 👍😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!