NovelToon NovelToon
The Mafia'S Only Weakness

The Mafia'S Only Weakness

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mel R.

Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.

Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Isabell​a menggeleng pelan, menangkupkan tangannya di atas tangan kekar Dominic yang berada di pipinya. "Aku baik-baik saja, Dom." Jawab Isabella dengan sedikit tersenyum.

Dominic mengecup bibir Isabella sekilas, sebuah kecupan manis yang menenangkan. "Hanya obrolan antar pria. Dia berjanji akan belajar lebih keras hari ini."

​"Dia memang sangat mirip denganmu, Dom. Keras kepala, tapi selalu tahu apa yang dia inginkan," bisik Isabella lembut.

Benar-benar mirip, dari wajah sampai watak nya pun sama.

"Mau mandi sekarang istriku?" Tawar Dominic dengan penuh perhatian. Karena memang dirinya setelah ini harus kembali ke kantor dan ke markas.

Isabella mendongak, menatap sepasang mata elang Dominic yang kini dipenuhi binar kelembutan—sisi langka yang hanya ditunjukkan pria itu khusus untuk dirinya. Pertanyaan Dominic barusan sukses memancing rona merah di kedua pipinya saat memori keintiman semalam mendadak berputar kembali di benaknya.

​"Mandi?" Isabella menggigit bibir bawahnya sekilas, merasa agak canggung karena ia tahu persis kondisinya saat ini. "Tapi... kakiku masih sulit untuk digerakkan berjalan ke kamar mandi, Dom."

Dominic terkekeh rendah, suara baritonnya yang seksi terdengar begitu memanjakan telinga Isabella. Tanpa menjawab dengan kata-kata, Dominic langsung menyibak selimut sutra yang menutupi tubuh istrinya. Dengan gerakan yang sangat tangkas namun penuh kehati-hatian, ia menyusupkan satu lengan kekarnya di bawah tengkuk Isabella dan lengan lainnya di bawah lipatan lutut sang istri.

​"Ah, Dom! Kaget..." pekik Isabella pelan, refleks mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Dominic demi mencari pegangan.

​"Apa gunanya suamimu ini jika untuk berjalan ke kamar mandi saja kamu harus kesusahan, hm?" bisik Dominic sensual tepat di depan wajah Isabella. Napas hangatnya berembus menerpa bibir Isabella, membuat debaran di dada wanita itu kembali berpacu liar sepagi ini.

Begitu sampai di dalam kamar mandi yang luas, Dominic mendudukkan Isabella dengan perlahan di tepi bathtub marmer yang nyaman, memastikan posisi istrinya aman sebelum ia mulai menyalakan air hangat.

Isabella hanya bisa menatap punggung tegap suaminya yang sedang menyiapkan air mandi untuknya. Rasa hangat dan haru menjalar di hatinya. Di mata dunia, Dominic mungkin adalah sosok Salvatore yang kejam, dingin, dan ditakuti. Namun di dalam ruangan ini, pria itu menjelma menjadi pelindung yang begitu tulus, yang rela melakukan apa saja demi kenyamanannya.

​"Airnya sudah siap, Sayang," ucap Dominic memecah keheningan. Ia berbalik, menatap Isabella dengan pandangan yang kembali menggelap—gairah semalam tampaknya belum sepenuhnya padam dari sepasang mata elang itu.

​"Biar Daddy yang membantumu melepaskan ini, ya?" bisik Dominic dengan suara serak yang begitu menuntut, kembali mengambil kendali penuh atas diri Isabella pagi itu sebelum ia pergi berperang menghadapi dunia luar.

"Daddy..." lirih Isabella dengan malu.

Dominic melihat nya terlampau begitu gemas.

"Iya, sayang Daddy. Panggil lah aku dengan sebutan itu. Bukan kah aku sudah menjadi seorang Daddy dari anak mu" goda Dominic.

Selama ini memang Isabella jarang memanggil nya dengan panggilan sayang. Tapi Dominic tidak mempermasalah kan itu.

Tapi kini kondisinya mereka sudah punya anak sekarang.

​"Tapi... tapi di dalam kamar mandi seperti ini rasanya aneh, Dom," bisik Isabella pelan.

​Dominic tertawa rendah, suara tawanya bergetar di dada, terdengar sangat seksi dan puas melihat kepolosan istrinya yang tidak pernah berubah sejak dulu. Ia menangkup dagu Isabella, mendongakkannya sedikit agar sepasang mata mereka kembali bertemu.

​"Tidak ada yang aneh, Wife. Damian sudah besar, dan di kamar ini, hanya ada kau dan aku," ucap Dominic dengan tatapan mata yang mengunci Isabella sepenuhnya.

Jemarinya dengan lembut namun pasti mengekspos kulit mulus istrinya yang masih menyisakan jejak kemerahan dari percintaan panas mereka semalam.

Isabella refleks memejamkan matanya, merasakan embusan napas Dominic yang mendekat. Namun, alih-alih melakukan gerakan yang terburu-buru, Dominic justru mengangkat tubuh Isabella dengan sangat lembut, membawanya masuk ke dalam bathtub yang sudah terisi air hangat bertabur kelopak mawar.

​Rasa hangat air seketika merilekskan otot-otot tubuh Isabella, terutama bagian inti tubuhnya. Dominic ikut berlutut di sisi bathtub, meraih spons lembut dan sabun cair beraroma mewah, lalu mulai mengusap bahu dan punggung istrinya dengan gerakan memijat yang sangat perhatian.

​"Bagaimana? Nyaman?" tanya Dominic rendah, matanya menatap lekat-lekat ekspresi wajah istrinya.

​"Emm... sangat nyaman, Dad..." jawab Isabella tanpa sadar, menikmati pijatan lembut tangan kekar suaminya.

​Gerakan tangan Dominic sempat terhenti sejenak mendengarnya. Seringai tampan yang penuh kemenangan langsung terukir di wajah tegasnya. "Pintar. Ulangi lagi, Sayang."

Isabella yang baru sadar dengan apa yang diucapkannya langsung membuka mata, menatap Dominic dengan tatapan bersalah yang menggemaskan. "Dom, jangan menggodaku terus." Malu Isabella.

Dominic langsung tertawa mendengar nya.

Tertawa renyah mendengar gerutu malu dari istrinya. Suara tawa baritonnya menggema di dalam kamar mandi, terdengar begitu lepas dan bahagia—sebuah suara yang tidak akan pernah didengar oleh siapa pun di luar kamar ini.

​"Baik, baik, Daddy tidak akan menggodamu lagi untuk sekarang," ucap Dominic dengan sisa kekehan di bibirnya. Ia mencubit pelan hidung bangir Isabella, terlampau gemas melihat wajah istrinya yang sudah semerah kepiting rebus.

Dengan penuh ketelatenan, Dominic melanjutkan kegiatannya. Ia membasuh sisa sabun di tubuh Isabella menggunakan air hangat, memastikan istrinya benar-benar merasa rileks. Setiap sentuhannya adalah perpaduan antara dominasi mutlak dan kelembutan seorang suami yang teramat memuja wanitanya.

​Setelah selesai, Dominic meraih handuk tebal yang hangat, membungkus tubuh polos Isabella, lalu kembali menggendongnya keluar dari kamar mandi dengan mudah, seolah tubuh istrinya itu seringan kapas.

​Ia mendudukkan Isabella di tepi ranjang dengan sangat hati-hati, lalu beralih menuju lemari pakaian besar untuk mengambilkan sebuah gaun rumah yang longgar dan nyaman untuk istrinya.

​"Pakai ini, hm?" Dominic menyodorkan pakaian itu, lalu berlutut di lantai. "Buka kaki mu" pinta Dominic. Ia mau memakaikan kain segitiga itu kepada istrinya.

"Ohh ayolahh...aku bisa melakukan ini."

"Jangan menolak, biarkan aku melayani mu karena kamu sudah melayani ku di malam hari."

Oh astaga...Dominic perkataannya benar-benar berutal yang membuat nya begitu malu.

​"Buka kakimu, Sayang. Jangan membuat Daddy menunggu," perintah Dominic lagi. Kali ini suaranya merendah, menjadi sebuah bisikan berat yang sarat akan otoritas mutlak yang tidak bisa didebat.

​Isabella akhirnya pasrah. Ia menggigit bibir bawahnya, memalingkan wajahnya ke samping karena terlalu malu untuk menatap mata Dominic saat suaminya dengan sangat telaten dan lembut menuntun kedua kakinya yang lemas untuk memakai pakaian dalam tersebut. Gerakan Dominic sama sekali tidak terburu-buru; setiap sentuhannya terasa begitu menghormati dan memuja tubuh istrinya, seolah Isabella adalah harta paling berharga di dunia ini.

1
meliana
kalian semua jangan lupa mampir yah, di jamin seru dengan cerita cerita author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!