NovelToon NovelToon
Aku Bukan Actor Genius

Aku Bukan Actor Genius

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:23.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rohid Firmansyah

Apa anda serius?...... AKU BENAR BENAR HANYA INGIN MENJADI PENULIS NOVEL, Mengapa sistem ini Memaksaku untuk Menjadi Aktor ?........

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohid Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

test dadakan

Ruangan itu dipenuhi keheningan yang tegang.

James duduk dengan tenang di kursi yang disediakan, tatapannya lurus ke depan, tidak terpengaruh oleh tatapan menilai dari orang-orang di sekitarnya. Di hadapannya, Lynn, sang sutradara, mengamati James dengan seksama, berusaha mengungkap rahasia di balik ketenangan pemuda itu.

"Otodidak, ya?" Lynn mengulang jawaban James dengan nada skeptis. "Maaf, tapi sulit dipercaya. Ekspresi dan emosi yang kamu tunjukkan di adegan sebelumnya... itu bukan sesuatu yang bisa dipelajari begitu saja."

James hanya mengangkat bahu, acuh tak acuh. "Mungkin saya memang punya bakat alami," jawabnya santai.

Di sudut ruangan, penulis skenario, yang masih terlihat kelelahan, menyilangkan tangan di dada dan menatap James dengan tatapan menyelidik. "Kalau begitu, buktikan," tantangnya.

"Tunjukkan pada kami apa yang bisa kamu lakukan."

Seorang asisten sutradara yang berdiri di dekat Lynn menimpali, "Kita bisa melakukan tes akting dadakan. Bagaimana?"

Lynn mengangguk setuju. "Ide bagus. James, apa kamu bersedia?"

James menghela napas pelan. "Terserah. Tapi jangan harap saya akan melakukan adegan drama yang berlebihan. Saya di sini hanya untuk uang," jawabnya jujur, tanpa berusaha menyembunyikan motif sebenarnya.

Sikap James yang blak-blakan dan terkesan meremehkan membuat beberapa orang di ruangan itu mengerutkan kening. Namun, Lynn justru tersenyum tipis. "Baiklah, kalau begitu kita buat sederhana saja. Ada yang punya ide untuk adegannya?"

Penulis skenario melangkah maju, matanya berbinar-binar.

"Bagaimana kalau kita coba sesuatu yang berbeda? James, bayangkan kamu adalah seorang prajurit veteran yang baru saja kembali dari medan perang.

Kamu dihantui oleh trauma dan rasa bersalah karena kehilangan rekan-rekanmu. Kamu mencoba untuk kembali ke kehidupan normal, tapi masa lalu terus menghantuimu."

James mendengarkan dengan seksama, ekspresi wajahnya tetap datar.

"Kedengarannya cukup klise," komentarnya singkat.

Penulis skenario tidak terganggu oleh komentar James. "Coba saja dulu. Rasakan emosinya. Bayangkan kengerian perang, kehilangan, dan rasa bersalah yang mendalam."

James memejamkan mata sejenak, mencoba membayangkan situasi yang digambarkan oleh penulis skenario.

Ia membayangkan ledakan bom, teriakan rekan-rekannya, dan bau darah yang menyengat. Ia membayangkan rasa sakit karena kehilangan, kehampaan yang menggerogoti jiwa, dan mimpi buruk yang terus menghantui tidurnya.

Perlahan, ekspresi wajah James mulai berubah. Kerutan muncul di dahinya, matanya tampak kosong dan jauh, dan sudut bibirnya sedikit bergetar. Ia membuka matanya, dan tatapannya kini berbeda—tajam, dingin, dan dipenuhi rasa sakit yang terpendam.

"Oke," James berkata dengan suara rendah dan serak, "Saya siap."

Penulis skenario mengangguk, lalu mulai memberikan arahan.

"Kamu sedang duduk di sebuah bar, sendirian. Kamu memesan minuman, tapi tidak menyentuhnya. Kamu hanya menatap kosong ke gelas di tanganmu, tenggelam dalam pikiranmu sendiri."

James mengikuti arahan tersebut. Ia duduk di kursi yang disediakan, membayangkan dirinya berada di sebuah bar yang remang-remang. Ia membayangkan gelas berisi minuman keras di tangannya, dingin dan berat. Ia menatap pantulan dirinya di permukaan cairan yang gelap, melihat wajah seorang pria yang lelah dan hancur.

"Tiba-tiba, seseorang menepuk pundakmu. Kamu menoleh, dan melihat seorang wanita yang kamu kenal. Dia teman dari salah satu rekanmu yang gugur di medan perang," lanjut penulis skenario.

James menoleh, dan membayangkan sosok seorang wanita berdiri di sampingnya. Ia membayangkan wajah yang dipenuhi kesedihan dan kerinduan.

Ia membayangkan wanita itu mengucapkan nama rekan seperjuangannya yang telah tiada, mengenang masa-masa indah mereka bersama.

"Kamu terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Rasa bersalah dan penyesalan menghantam hatimu. Kamu merasa bertanggung jawab atas kematian temanmu," penulis skenario melanjutkan ceritanya.

James merasakan dadanya sesak. Ia membayangkan beban berat yang ia pikul selama ini, beban yang membuatnya sulit bernapas. Ia membayangkan wajah-wajah rekan-rekannya yang tewas di medan perang, wajah-wajah yang menghantuinya setiap malam.

"Wanita itu menatapmu dengan tatapan penuh pengertian. Dia tahu apa yang kamu rasakan. Dia juga kehilangan seseorang yang dicintainya. Dia mencoba menghiburmu, mengatakan bahwa itu bukan salahmu," penulis skenario mengakhiri arahannya.

James menatap lurus ke depan, membayangkan wanita itu berdiri di hadapannya. Ia merasakan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya agar tidak jatuh. Ia merasakan bibirnya bergetar saat ia mencoba mengucapkan kata-kata yang tepat, namun suaranya tercekat di tenggorokan.

Ruangan itu hening kembali.

Semua mata tertuju pada James, yang kini tampak seperti orang yang berbeda. Ekspresi wajahnya, bahasa tubuhnya, bahkan auranya, semuanya berubah total. Ia bukan lagi James, mahasiswa yang acuh tak acuh.

Ia adalah seorang prajurit yang terluka, seorang pria yang dihantui oleh masa lalu kelam.

Lynn, yang tadinya skeptis, kini menatap James dengan mata terbelalak. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri saat menyaksikan transformasi James yang begitu nyata dan menyentuh. Ia tidak pernah melihat akting yang begitu kuat dan natural, bahkan dari aktor-aktor berpengalaman sekalipun.

Penulis skenario, yang menciptakan adegan dadakan itu, juga terkesima. Ia tidak menyangka James bisa menghidupkan karakter yang ia ciptakan dengan begitu sempurna. Ia merasakan emosi yang begitu kuat terpancar dari James, emosi yang membuatnya ikut merasakan penderitaan dan kegelisahan sang prajurit.

Asisten sutradara dan orang-orang lain di ruangan itu juga terdiam, takjub dengan penampilan James yang luar biasa.

Mereka menyadari bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang istimewa, sesuatu yang langka dan berharga.

James, yang masih tenggelam dalam perannya, tidak menyadari reaksi orang-orang di sekitarnya.

Ia masih merasakan beban berat di pundaknya, rasa sakit yang menusuk hatinya, dan kehampaan yang menyelimuti jiwanya. Ia adalah sang prajurit, terjebak dalam perangkap trauma dan penyesalan.

Hening beberapa saat, lalu Lynn berdeham pelan, memecah keheningan yang mencengkeram. "James," katanya dengan suara lembut, "Kamu luar biasa."

James mengerjap, perlahan keluar dari perannya.

Ia menatap Lynn dengan tatapan bingung, seolah-olah baru saja terbangun dari mimpi. Ia melihat ekspresi kagum dan tak percaya di wajah orang-orang di sekitarnya, dan ia menyadari bahwa ia telah melakukan sesuatu yang luar biasa.

"Apa?" tanyanya dengan suara serak, masih sedikit terbawa suasana.

Lynn tersenyum lebar. "Kamu benar-benar berbakat, James. Kami semua terkesan dengan penampilanmu."

James mengangkat bahu, berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya. "Ah, itu tidak seberapa," jawabnya dengan nada rendah.

Penulis skenario mendekat, menepuk pundak James dengan ramah. "Jangan merendah, James. Kamu punya bakat yang luar biasa. Kamu harus mengembangkannya."

James hanya tersenyum tipis, tidak tahu harus berkata apa.

Ia masih merasa aneh dengan pujian yang ia terima. Ia tidak pernah menganggap dirinya berbakat dalam akting. Ia hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh sistem, dan entah bagaimana, ia berhasil melakukannya dengan sempurna.

Lynn berdeham lagi, menarik perhatian semua orang. "Baiklah, saya rasa tes akting ini sudah cukup. James, selamat, kamu diterima. Kita akan mulai syuting besok."

James mengangguk, menerima keputusan Lynn tanpa banyak bicara.

Ia merasa lega karena tes akting ini telah berakhir, dan ia bisa segera mendapatkan bayarannya. Ia tidak peduli dengan pujian atau karier di dunia akting. Ia hanya ingin menyelesaikan pekerjaan ini dan kembali ke kehidupannya yang sederhana.

Namun, di lubuk hatinya, ada sedikit rasa bangga yang mulai tumbuh.

Ia telah membuktikan pada dirinya sendiri dan orang lain bahwa ia mampu melakukan sesuatu yang luar biasa, meskipun ia tidak pernah menyadarinya sebelumnya. Ia telah menemukan bakat terpendam yang mungkin akan mengubah jalan hidupnya selamanya.

1
ADYER 07
oy thorr up ngakkkk?
Hari Sptra
authornya kemana dah nih di tinggal bae
Kiki Ginanjar
lanjut dong ini bagus
Kiki Ginanjar
kenapa gak di lanjut padahal seru loh
Fadli
up dong
Kiki Ginanjar
kenapa gak up lagi/Grin/
Baday ys
bague
Baday ys
mantab...up up
ADYER 07
walau penjabaran nya bertele² tapi alurnya lumayan bagus.
Hr⁰ⁿ
yang bener *arghhh bikin orng khawatir saja*
Hr⁰ⁿ
maaf Thor kritik dikit,
saya baru baca dan kosa katanya masih agak berantakan,ayo Thor smngt untuk memperbaiki tulisannya
Go Anang
Luar biasa
Farah Umaiha
thor gak up??🤔
RidhoNaruto RidhoNaruto
up
Farah Umaiha
bentar lagi hp Arthur mati itu(meledak) 🤣🤭
Farah Umaiha
bagus
Farah Umaiha
bangus banget😀👍👍👍
Was pray
kok james gak tahu nominal uang dlm kontrak kerjanya? emang gitu ya dlm dunia perfilman ya thor? aktor gak tahu apa2 isi kontrak kerjanya?
Smeliy: dia sahabat James mereka sudah seperti saudara, Dan Arthur akan jadi orang paling berpengaruh pada cerita
total 4 replies
Farah Umaiha
ceritanya seru banget thor🤣😂😂😭😭💪💪
RidhoNaruto RidhoNaruto
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!