Bertemu dengan kembali dengan Kaisar adalah suatu kesalahan. Jatuh dalam cinta yang dalam. Mengikat sang Putri dalam dunia Kaisar yang posesif.
“Sekali menjadi milikku maka sampai mati akan menjadi milikku.”
Ucapan Kaisar yang menjadi ancaman untuk semua klan.
Terlahir dari kerajaan Byuni yang memisahkan dari dunia luar, membuat sang Putri tidak dapat mempertahankan cintanya. Karena banyak kehidupan yang akan hancur jika tidak ada kekuatan yang besar melindunginya.
Tugas Byuni melindungi dunia. Melindungi empat klan. Bagaimana bisa ia harus berpaling dari semua itu hanya demi satu cintanya. Terlebih ternyata cinta yang ia miliki, justru mengikatnya. Sang Putri hanya bisa hidup untuknya saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Liwey merasa bersalah terhadap Han Qi. Wanita itu tidak pernah mempertanyakan keberadaan dirinya. Ntah Liwey pulang dengan kondisi apapun baik terluka, mabuk, sedih, marah. Han Qi akan selalu menyambut dengan tangan terbuka.
Seperti saat ini. Liwey yang sudah tidak pulang berhari-hari. Kini kembali pulang setelah dinasehati oleh Yuga, sahabatnya.
BRAAAKK !!
“Yang Mulia !!” Han Qi terperanjat mendapati Liwey terjatuh dibawah ranjangnya, ia segera berlari memapah Liwey.
Sudah sekian kali, Liwey kembali dalam keadaan mabuk. Dan sang Ratu tidak pernah mengambil kesempatan untuk tidur bersama sang Raja. Ia akan selalu membawa Liwey kembali keistana utama.
“Bangunlah Yang Mulia, kenapa kau harus mabuk parah seperti ini.” Han Qi mencoba memapah Liwey. Namun ia tak sanggup kali ini, Liwey kali ini tampak sangat mabuk berat.
“Aku akan memanggil pengawal.”
Liwey menarik tangan Han Qi, ia memang sengaja mengunjungi kediaman Ratu.
“Aku ingin disini bersamamu.” Ucap Liwey lembut.
Han Qi kini duduk disisi Liwey dibawah ranjangnya.
“Apa kau sadar? Kau minum terlalu banyak Yang Mulia.”
“Tidak begitu banyak.”
“Apa kau mengenal ku?” Uji Han Qi.
Liwey melemparkan senyumnya, “Aqi. Han Qi. Ratu ku.”
Han Qi tersipu malu mendengarnya. Ia memalingkan wajahnya dari hadapan Liwey. Ia sangat senang saat Liwey memanggil nama kecilnya.
“Maafkan aku Aqi.” Ucap Liwey yang sedari tadi menatap wajah Han Qi dalam pilunya.
“Tidak Yang Mulia. Aku yang tidak dapat memuaskan mu. Aku yang seharusnya meminta maaf.”
“Yang… Mulia…” Getir Liwey. “Aqi… kau cukup panggil nama ku.” Lirih Liwey.
“Maafkan aku.” Jawab Han Qi pelan.
Liwey kini memandang bulan dari jendela kamar Han Qi.
“Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa tidak tidur?”
”Bagaimana aku dapat tidur jika kau masih diluar, aku belum mendapatkan kabar jika kau sudah kembali.”
”Kau tidak perlu menungguku.” Lirih Liwey.
”Aku bersedia melakukannya Liwey.”
Liwey menyadari sudah lama perasaan Han Qi padanya sangat mendalam. Namun ia tidak pernah menyambut perasaan wanita itu.
“Orang yang mengetahui sakit rasanya cinta tak dapat dibalas adalah aku. Pedih harus bertahan dengan cinta sebelah. Tapi aku justru membiarkanmu merasakan hal yang sama.”
Liwey kini menitikkan air mata. Bagaimana bisa ia menjadi pria kejam pada wanita yang sangat baik padanya.
“Kau tidak salah.” Han Qi mengusap air mata Liwey. “Aku mengetahui dirimu sangat mencintai Putri. Tapi aku yang memaksa kehendakku untuk berada di sisimu. Mencari simpatik dari Putri hanya untuk mengenal dirimu lebih dalam. Melewati segala ujian kerajaan untuk berada di sisimu. Ini semua keinginan ku.”
Han Qi mendekap sang Raja dengan pelan. Mengelus kepala dan punggungnya. Han Qi mengetahui bahwa sang raja sedang merindukan adiknya malam itu. Wanita yang ia cintai.
“Aku yang paham perasaanmu. Sangat pedih. Merindukan seseorang yang dicintai tanpa kehadirannya. Menangislah, itu akan membuat mu lebih baik. Meski sesaat.” Ucap Han Qi mencoba menenangkan sang raja.
Sang raja kini menangis tersedu-sedu dipelukan sang Ratu.
“Maafkan aku Aqi… maafkan aku.”
Liwey meminta maaf atas kesalahannya merindukan wanita yang ia cintai dihadapan sang istri. Ia meminta maaf atas perasaan Han Qi yang tidak pernah ia balas. Padahal ia sendiri memahami bagaimana pedihnya cinta tanpa balasan. Ingin rasanya ia menghukum dirinya sendiri sebagai kakak yang bodoh terhadap adiknya. Terlebih lagi sebagai suami yang tidak tahu diri. Ingin rasanya ia mengakhiri ini semua. Kalau bukan dirinya terlahir sebagai pewaris takhta klan Byuni, dimana nyawa klan Byuni seluruhnya berada ditangannya. Ia tidak akan semenderita ini. Menikahi wanita lain hanya sebatas melanjutkan garis keturunan kerajaan.
Malam itu Han Qi membiarkan sang Raja tidur dikamarnya. Namun ia masih enggan mengambil kesempatan. Perasaan sang Ratu tulus dan murni pada sang Raja. Tidak ada niatan untuk menyakiti hati sang Raja, terlebih Han Qi juga menyayangi adiknya, Yubi. Han Qi menutup tirai ranjangnya dan pergi kehalaman istana hanya sekedar mencari udara segar.
Malam semakin larut. Udara dingin mulai menusuk. Han Qi segera masuk kedalam kamarnya dan duduk dimeja tengah meminum arak untuk menghangatkan tubuhnya.
PRAAANGG !!
Han Qi menjatuhkan gelasnya. Dengan tenaga dalam Liwey menarik tubuh Han Qi, menjatuhkannya diatas ranjang. Tirai tersebut mulai menutup rapat ranjang sang Ratu. Terasa hangat didalamnya.
“Kau tidak tidur?” Tanya Liwey menggenggam tangan Han Qi yang dingin.
“Aku tidak bisa tidur.” Jantung Han Qi berdebar cepat.
“Apa karena aku ada disini.”
“Bukan.” Han Qi berusaha mendorong tubuh Liwey yang berada diatasnya. Namun Liwey semakin menghimpit tubuhnya yang berada dibawah.
“Jika kau sudah sadar kembalilah ke istanamu.” Pinta Han Qi.
Liwey tidak menjawab. Ia menatap wajah sang Ratu. Cantik meski tidak ada rasa cinta. Bagaimanapun seorang pria juga akan tergoda.
“Aku ingin bersamamu. Bukankah tadi aku jelas mengatakan itu.”
Jantung Han Qi semakin berdegup kencang. Ia dapat merasakan hangatnya nafas Liwey menerpa wajahnya.
“Layani aku sebagai Raja mu, Ratu.” Tihta Liwey berbisik ditelinga Han Qi.
Kini Liwey merengkuh tengkuk leher Han Qi, mencium bibir Han Qi. Lidahnya dengan liar menyapu isi mulut sang Ratu. Aroma arak dengan rasa pahit dapat dirasakan Ratu. Perlahan ia membalas ciuman sang Raja meski ia sadar sang Raja sedang memikirkan banyak hal saat ini.
Malam itu adalah malam pertama bagi keduanya untuk melakukan hubungan suami istri.
Sang Raja membuka seluruh pakaian Ratu. Dan kembali menikmati setiap bagian tubuh sang Ratu. Kini kembali dirinya membuka cepat pakaian ditubuhnya. Merengkuh kembali punggung Ratu dan menikmati lembut serta harum aroma tubuh sang Ratu.
Liwey sangat liar malam itu. Terlebih pikirannya kacau dibawah pengaruh arak dan kesedihan yang mendalam. Ia berharap dapat melakukan hal tersebut bersama wanita yang ia cintai. Fantasi liarnya yang menganggap Han Qi adalah Yubi sedang bersamanya kini.
“Aaah…….” Sang Ratu merintih kesakitan, saat Liwey membelah kedua kakinya dan menekannya.
Sang Raja berhenti saat mendegar rintihan sang Ratu, “Tahanlah.” Ucap Liwey kembali mencium bibir sang Ratu. Melumatnya. Mendorong tubuhnya dengan keras menghimpit tubuh sang Ratu.
Ratu hanya dapat menahan rasa sakit atas keliaran sang Raja. Namun hatinya merasa puas saat sang Raja menitipkan benih yang akan menjadi calon penerus kerajaan. Ia berharap kelak perasaan sang Raja akan tersentuh dengan hadirnya seorang anak. Tak apa jika lama, selama hanya ada satu wanita disisi sang Raja.
Pagi hari menjelang. Sang Ratu terbangun dan tidak mendapati sang Raja disisinya. Hanya sebuah pesan di surat.
Maafkan aku yang tidak dapat membalas perasaan mu saat ini. Meski tidak baik sebagai suami, Setidaknya aku akan berusaha menjadi Raja yang layak untuk Ratu ku.
Han Qi paham. Pada akhirnya hubungan suami istri ini berjalan tanpa ada cinta didalamnya, tetap bertahan untuk sebuah tugas kerajaan. Memberikan keturunan pada Raja Byuni.
———————————————————————
Malam hari yang terang, Yubi mengendap keluar dari kediaman Yan. Ia sebelumnya sempat melihat beberapa prajurit keluar masuk dari sebuah lorong yang panjang dan lebar. Ia merasa yakin bahwa lorong tersebut terhubung dengan jalan keluar istana paviliun Yan.
Dengan penerangan yang minim. Yubi melangkah tanpa bersuara menuju sudut ruangan tersebut. Namun sebilah pedang tepat menghalaunya. Yubi menangkisnya.
Ia melihat A Lee dengan wajah dinginnya menatap tajam diri Yubi. Tanpa aba-aba kembali A Lee memberi pelajaran pada Yubi. Ia mengarahkan pedangnya tepat ke leher Yubi, kembali Yubi menangkis pedang A Lee. Yubi tidak menguasi ilmu bela diri. Jelas jurus yang ia gunakan hanya sebatas menghindar dan menangkis pedang A Lee. A Lee menyadari bahwa serangan bertubi-tubi yang ia lancarkan hanya akan ditangkis oleh Yubi. Wanita ini sangat licin untuk ditangkap.
“Kau ingin menghindar terus.” Sahut A Lee akhirnya. Suaranya terdengar dingin dan menggema diruangan tersebut. Pedang tersebut kini tepat diwajah Yubi. Yubi masih menahannya dengan kuat dengan kipas miliknya.
“Aku tidak dapat melawanmu.”
“Tapi kau selalu melawan ku.” Ketus A Lee.
“Kau ingin menahanku?”
“Aku yang mencoba bertahan atas sikap mu.”
SLASSH!!!
Kini pedang tersebut tepat membuat Yubi tersudut. A Lee menurunkan pedangnya perlahan dan memasukkan kembali ke sarung pedangnya. A Lee memang tidak ingin melukai wanita tersebut. Hanya sedikit memberinya peringatan.
“Apa kau berusaha kabur?” Tanya A Lee mengulurkan tangannya pada Yubi.
Namun Yubi segera menarik tangan A Lee dan memelintir tubuh pria itu. Menekan titik saraf untuk melumpuhkan sebagian anggota tubuh A Lee.
Dengan gesit Yubi berlari meninggalkan A Lee, menuju pintu utama. A Lee secepat kilat menarik tubuh Yubi dan memeluknya erat dengan tangan kirinya mencekal kedua tangan Yubi dengan tali petir miliknya.
“Apa aku terlalu lembut pada mu?” Tanya A Lee ditelinga Yubi.
“Apa yang kau lakukan.” Yubi mencoba berontak saat A Lee menaikkan tubuhnya ke atas pundak A Lee. Tangan kanan A Lee saat itu terasa kebas akibat saraf yang dilumpukan Yubi. Wanita licik yang terlalu banyak akal.