Namaku Indira.
Karena kesalahan satu malam yang tidak aku sadari, aku harus melahirkan bayi kembar di usia yang masih sangat muda. Akan tetapi, aku lagi-lagi harus menelan pil pahit saat mengetahui bahwa satu diantara kedua anakku meninggal dunia beberapa detik setelah dilahirkan.
Dukung novel baru aku ya kak.
Bismillah, semoga kalian semua suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.
Pagi hari Nala memilih duduk di balkon seorang diri seraya menikmati secangkir kopi yang dia buat usai sarapan tadi. Tubuhnya yang berotot nampak terbuka karena hanya mengenakan singlet dan celana pendek.
Sedang asik menyeruput kopinya, tiba-tiba gawai yang dia letakkan di meja berdering. Nala menaruh cangkir yang ada di tangannya di atas meja kemudian meraih benda pipih itu.
"Hmm..." gumam Nala sesaat setelah panggilan itu tersambung.
"Bocah laki-laki itu anaknya dokter Indira, tapi menurut informasi yang saya terima dia belum pernah menikah sama sekali." ucap seseorang dari ujung sana.
Seketika Nala mengerutkan kening karena tidak dapat mencerna kata-kata itu dengan sempurna. "Apa yang kau katakan? Mana mungkin..."
"Saya tidak mungkin salah, begitulah kenyataannya. Dokter Indira juga bukan anak kandung dokter Hendri, dia cuma anak angkat." terang pria itu dengan penuh keyakinan.
"Apa ucapanmu bisa dipercaya?" tanya Nala memastikan dengan kening mengernyit.
"Tentu saja, silahkan diselidiki lagi jika Anda masih ragu!"
Nala mengakhiri panggilan tersebut dan menggenggam ponselnya dengan erat. Dia benar-benar bingung, jika Indira belum pernah menikah lalu dari mana datangnya anak itu. Apa Indira hamil di luar nikah dan memilih membesarkan putranya seorang diri?
Nala tidak dapat menerka-nerka, mungkin akan lebih baik jika dia sendiri yang mencari tau tentang kebenaran itu. Segera Nala bangkit dari duduknya dan berjalan memasuki kamar, dia pun mulai bersiap-siap untuk datang ke kantor.
Sebelum meninggalkan rumah, Nala menyempatkan diri melihat Nasya terlebih dahulu. Seperti biasa, lagi-lagi dia harus mendapati putrinya yang tengah termenung seorang diri. Hati ayah mana yang tidak akan luluh lantah menyaksikan kesedihan di wajah sang putri.
Nala ingin sekali melihat Nasya tersenyum dan ceria seperti anak-anak seusianya, akan tetapi permintaan bocah itu terlalu berat untuk diwujudkan. Mungkinkah Nala sanggup, dia bahkan baru beberapa kali bertemu dengan Indira.
Namun tidak masalah, demi Nasya, Nala harus mencobanya. Diterima ataupun ditolak, itu merupakan urusan belakangan, kini niatnya hanya ingin memberikan yang terbaik buat Nasya, kasihan bocah itu.
Nala sengaja tidak menemui Nasya, dia memutuskan untuk pergi karena tau lagi-lagi putrinya akan mengatakan hal yang sama, dia tidak akan mungkin bisa memberikan jawaban.
Di tempat lain, mobil Indira berhenti di depan gerbang sekolah. Ya, hari ini adalah hari pertama Isa memulai aktivitasnya sebagai seorang pelajar yang baru saja didaftarkan di sebuah TK. Bocah laki-laki itu tampak sangat bahagia, dia melompat turun dari mobil dan disusul oleh sang ibu.
Setelah menemui guru pembimbing dan menitipkan Isa, Indira pun berpamitan pada sang putra. Dia juga berpesan agar putranya itu menurut pada guru dan belajar dengan giat agar nantinya menjadi anak yang pintar. Isa pun mengangguk dengan gagahnya dan melepas kepergian sang ibu sembari melambaikan tangan. Lalu Indira kembali masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari sekolahan.
Baru saja Indira turun dari mobil, langkahnya terhenti mendapati Nala yang tengah menunggu di parkiran. Indira sengaja berpura-pura tidak melihat tapi Nala segera menyusul dan menghentikan pergerakannya.
Indira mendengus kesal dan mematut Nala dengan tatapan nyalang, akan tetapi Nala terlihat begitu santai sembari mengulas senyum simpul.
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah Nasya sudah..."
"Menunggumu." potong Nala yang membuat Indira menautkan kedua alis.
"Menungguku? Untuk apa?" tanya Indira kebingungan.
Kembali Nala tersenyum kemudian menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Aku ingin bicara denganmu, bolehkah kita..."
"Aku sibuk." tolak Indira sebelum Nala berhasil menyelesaikan ucapannya.
"Sesibuk apa?" lagi-lagi Nala hanya bisa tersenyum melihat wajah kesal Indira. "Aku baru saja bertemu dengan dokter Hendri, aku pun sudah meminta izin untuk membawamu bersamaku."
"Tapi, aku..."
"Sudahlah Indira, jadi orang jangan terlalu keras kepala! Aku hanya ingin bicara denganmu, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu, percayalah padaku!" bujuk Nala dengan wajah penuh harap.
"Ya sudah, bicara di sini saja!" ucap Indira seraya plangak-plongok melihat keadaan di sekelilingnya. Dia takut kehadiran Nala akan menjadi bahan omongan di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Jangan di sini, sekarang ikut aku!" Nala menghela nafas panjang kemudian memberanikan diri menggenggam tangan sang dokter dan membawanya ke mobil.
Indira benar-benar takut saat Nala menggenggam erat tangannya, dia sudah berusaha menariknya tapi genggaman pria itu terlalu kuat seperti ada lem yang menempel di telapak tangannya.
Lalu Nala membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Indira duduk, akan tetapi dokter itu hanya mematung dan menatap Nala dengan sendu.
"Masuklah, kamu tidak perlu takut padaku!" ucap Nala dengan nada bicara sangat lembut, seketika Indira bergeming hingga akhirnya menurut seperti terkena hipnotis.
Setelah Indira duduk, Nala dengan cepat menutup pintu dan lekas mengitari mobil. Dia pun masuk dan duduk bersebelahan dengan sang dokter.
Saat mobil itu mulai melaju, Indira nampak canggung dan hanya diam seraya mematut jalanan. Tidak ada kata yang terucap, keduanya sama-sama mengunci mulut dalam pemikiran masing-masing.
Pada akhirnya, Nala memutar stir mobil ke arah sebuah cafe yang cukup terkenal di kota itu. Sesaat setelah keduanya turun, dua orang pelayan langsung menyambut kedatangan mereka dengan ramah.
Ya, ternyata Nala sudah mengatur semuanya dengan sangat hati-hati. Setelah menemui Hendri tadi, dia segera memesan tempat di cafe itu dan memilih ruang VIP agar tidak ada orang lain yang melihat keberadaan mereka.
Sesampainya di ruangan yang sudah disediakan, Indira bergeming mematut dekorasi ruangan yang tertata dengan apik. Sekilas terlihat nyaman tapi jantung Indira mendadak berdebar saat menyadari ada yang berbeda dengan pelayanan di cafe itu.
"Kenapa harus di sini? Ini terlalu berlebihan." ucap Indira, dia hendak berbalik badan tapi Nala lagi-lagi menggenggam tangannya. Indira tidak dapat meninggalkan tempat itu.
"Sekali ini saja, tolong!" pinta Nala dengan wajah memelas, seumur-umur baru kali ini dia memohon di hadapan seorang wanita, rasanya cukup sulit dan memalukan.
"Tapi..."
"Tolong!" selang Nala, kali ini Indira tidak dapat berkata apa-apa lagi.
Indira akhirnya luluh dan menarik tangannya dari genggaman Nala kemudian melangkah pelan ke arah sofa dan duduk dengan raut canggung.
Entahlah, rasanya Indira ingin sekali berteriak, dia benar-benar kesal dan bingung. Kenapa Nala harus membawanya ke tempat tertutup seperti itu? Apakah benar pria itu tidak memiliki niat buruk? Tapi bagaimana jika...
Pemikiran Indira semakin kacau saat menangkap Nala yang tengah berjalan menghampirinya, pria itu bahkan memilih duduk di sampingnya. Mana mungkin Indira bisa berpikir jika seperti ini? Dia takut Nala melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan.
lanjut Thor 💪💪💪🥰
makin seruu
tapi Alhamdulillah semua sudah jelas
buat indira semoga selalu bahagia setelah ini
untuk othornya sukses selalu sama karya-karya nya selalu ditunggu
terimakasih sudah menghibur 🙏🫰😘😘😘