NovelToon NovelToon
Pernikahan Impian

Pernikahan Impian

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:36k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Dia menikah, semata-mata hanya untuk terbebas dari siksaan keluarga. Namun, nyatanya, semua itu tidak sesuai harapan. Pernikahan dini yang dipaksakan, bukanlah pernikahan impiannya.

Seiring berjalannya waktu, semua perlahan berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keributan

Aku berjanji setelah keluar dari rumah ini, kamu hanya akan mendapatkan kebahagiaan.

****

"Wulan! Cepat kamu setrika baju aku ini, sebentar lagi kekasihku akan datang ke rumah!" titah Salsa sembari melempar pakaian ke muka Wulan.

Wulan yang tengah merebus air gelagapan menangkap benda tersebut.

"Lho, kenapa masih belum ada sarapan? Sudah jam berapa ini? Kamu belum memasak apapun? Astaga!" Susi datang ikut meninggikan suara, berkacak pinggang menggelengkan kepala melihat meja makan masih kosong.

Wulan menunduk, meremas pakaian Salsa di tangannya menahan gejolak api amarah di dada. Ia memang belum menyiapkan sarapan karena berniat melayani suaminya terlebih dahulu ketika bangun dari tidur nanti.

Mendengar suara keributan di luar kamar, mata Sandi berkedut. Tidurnya terusik, terpaksa harus bangun karena tak ada lagi ketenangan. Ia mencoba untuk duduk, dan merangkak mendekati kursi roda. Menaikinya, ingin melihat sendiri apa yang sedang terjadi.

"Jangan mentang-mentang kamu sudah menikah, lalu bisa seenaknya. Rumah ini perlu dibersihkan, dan itu semua tugas kamu. Pakaian di kamar mandi tidak akan bersih dengan sendirinya jika kamu hanya duduk-duduk di sini saja. Cepat kerjakan semua itu seperti biasanya sebelum matahari benar-benar naik!" titah Susi.

Sandi mengepalkan tangan mendengar perintah mereka untuk istrinya. Baru satu malam ia berada di rumah itu, sudah dibuat tak nyaman oleh keributan yang terjadi di pagi hari. Seharusnya mereka melewati pagi dengan tenang dan damai, bukan dengan adu mulut dan saling meninggikan suara.

"Aku tidak mau tahu, bajuku harus secepatnya kamu setrika!" Salsa kembali bersuara, sedangkan Wulan hanya diam membisu tanpa berkata sepatah pun.

Geram dan tidak tahan mendengar semuanya, Sandi membuka pintu kamar. Membawa kursi rodanya mendekat, melihat lebih jelas drama bawang merah bawang putih yang dilakoni keluarga barunya.

"Ekhem!" Suara Sandi yang terdengar mengalihkan pandangan mereka semua.

Wulan berbalik dan menatap sendu wajah suaminya, ada genangan air di kedua pelupuk yang ditahan agar tidak tumpah. Pemandangan itu sungguh mengiris hati Sandi.

Sialan mereka! Beraninya membuat istriku menangis di pagi hari. Apa mungkin ini selalu terjadi setiap hari?

"Badanku lengket, aku mau mandi," tuturnya sambil menatap Wulan.

"Aku akan menyiapkan air hangat terlebih dahulu," sahut Wulan yang segera berbalik hendak menyiapkan air di kamar mandi.

"Apa-apaan kamu! Bagaimana dengan pakaianku? Enak, ya, main pergi saja." Salsa kembali membentak, tak senang karena Wulan mendahulukan suaminya.

"Aku hanya akan menyiapkan air hangat, setelah itu aku akan melakukan pekerjaan yang lain," ucap Wulan dengan lirih.

"Tidak bisa!" tolak Salsa berang.

"Tidak perlu melakukan pekerjaan yang bukan menjadi tugasmu. Berikan pakaian itu padanya, dia sudah besar dan sudah bisa mengerjakannya sendiri," perintah Sandi terdengar meski dengan nada pelan, tapi Wulan tahu ia tak ingin dibantah.

Salsa membelalak, begitu pula dengan Susi.

Kurang ajar! Memang dia pikir dia siapa?! Salsa mengumpat, kedua tangannya mengepal kuat menahan amarah.

"Kamu pikir kamu siapa? Itu sudah menjadi tugas Wulan di rumah ini." Susi menatap Sandi tak senang, melipat kedua tangan di perut dengan angkuh. Layaknya seorang nyonya yang memerintah pekerjanya.

"Aku siapa? Aku suami Wulan, tugasnya hanya melayaniku bukan orang lain." Sandi menatap nyalang ibu dan anak itu, sementara Wulan tengah dilanda kebingungan harus menuruti perintah siapa.

"Tidak bisa! Dia terlebih dahulu melayani kami! Memangnya siapa kamu? Laki-laki miskin tidak pantas bersikap arogan di depanku!" tolak Susi tegas.

Sandi tak acuh, matanya berputar menatap Wulan yang membelalak mendengar hinaan dari sang ibu tiri yang begitu kejam. Sandi tersenyum, tak merasa terhina sama sekali.

"Sayang, berikan pakaian itu padanya. Mulai sekarang, kamu tidak perlu mengikuti perintah orang lain selain suamimu sendiri. Tidak ada yang bisa memerintah istri seorang Sandi Mahardika!" Senyum tajam ia arahkan pada dua wanita angkuh itu.

Tersirat ancaman yang tidak main-main, membuat keduanya cukup tertekan dan meneguk ludah kesusahan. Wulan tidak menyahut, berjalan mendekati Salsa dan meletakkan pakaiannya di atas meja.

"Maaf, kamu harus melakukannya sendiri mulai sekarang," ucapnya lirih, seraya berbalik mendekati Sandi kembali.

Lelaki itu tersenyum puas, apalagi melihat wajah Salsa yang memerah padam karena luapan emosi. Sungguh pemandangan indah untuk dinikmati dan sayang untuk dilewati. Wulan membawa sebuah ember berisi air panas ke kamar mandi, diikuti Sandi yang mengekor di belakang.

"Sialan! Bagaimana ini, Mamah? Laki-laki miskin itu sudah meracuni Wulan!" gerutu Salsa sambil menatap pakaian di tangan.

Susi mendesah kasar, garis wajahnya mengeras tak terima dengan penolakan Wulan. Sungguh, itu semua diluar perkiraannya. Dia pikir Sandi tidak akan ikut campur karena bukan siapa-siapa.

"Nanti kita pikirkan lagi," ucap Susi seraya berbalik pergi membawa amarah yang tak terluapkan.

Di kamar mandi, Sandi mengamati Wulan yang tengah mencampur air dingin dengan yang panas untuk dirinya mandi. Kamar mandi itu terlalu sempit, bahkan tidak sebanding dengan milik asisten rumah tangga di kediamannya.

"A-apa perlu aku bantu?" Wulan bertanya lirih, menunduk sambil menggigit bibir. Dia malu sebenarnya, tapi melihat kondisi Sandi ada rasa khawatir yang tiba-tiba hadir.

"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri. Pergilah ke depan, seseorang datang membawakan pakaianku," sahut Sandi sambil tersenyum. Tidak di sini, Wulan. Tunggu saat kamu berada di rumahku!

Wulan mengangguk kecil, dan keluar dari sana. Ia kembali berbalik sebelum benar-benar pergi.

"Katakan saja jika Anda merasa kesulitan," katanya masih dengan cemas. Sandi menganggukkan kepala, ada binar kebahagiaan yang memancar di matanya. Rasanya lain ketika seseorang yang baru dikenal begitu mencemaskan keadaannya.

Ia menggeleng, menutup pintu dan melakukan ritual yang selama ini dilakukan seorang diri. Sementara Wulan, berdiri di teras menunggu kedatangan seseorang yang dimaksud Sandi.

Sebuah mobil memasuki halaman, mengernyit dahi Wulan melihat benda mewah yang kini berhenti tepat di depannya. Seseorang keluar sambil membawa sebuah koper berukuran cukup besar. Wulan mengerti, dialah yang dimaksud Sandi.

"Anda Nona Wulan?"

Ditanya begitu, Wulan membelalak. Anggukan kecil ia lakukan tanpa menjawab.

"Tuan Sandi memerintahkan saya untuk membawakan pakaian ganti. Semua keperluan tuan ada di dalam sini," ucapnya sembari menyerahkan koper tersebut kepada Wulan.

"Terima kasih banyak." Wulan mengangguk sopan, menerima benda tersebut.

Ia tak tahu ada dua pasang mata yang tengah memindai penasaran. Salsa tak habis pikir, mobil mewah itu berada di halaman rumahnya. Tak lama, mobil itu pun pergi dan mereka segera mendatangi Wulan.

"Siapa?" ketusnya bertanya.

"Aku tidak tahu, dia membawakan ini untuk suamiku," jawab Wulan menunjukkan koper di tangannya.

"Oh."

"Wulan, cepatlah membuat sarapan, aku sudah lapar," titah Susi sambil melengos masuk ke dalam rumah.

Wulan menghela napas, ikut membawa dirinya masuk. Bertepatan dengan Sandi yang baru saja menyelesaikan mandinya.

"Sudah datang?"

Wulan menganggukkan kepala.

"Sebaiknya kamu ganti pakaianmu. Pakaian itu tidak pantas melekat di tubuh istriku!" titahnya menatap bengis baju lusuh yang dikenakan Wulan.

"Tapi hanya ini yang aku punya," ucap Wulan menunduk sedih.

"Buka koper itu, di dalamnya ada pakaian milikmu juga." Sandi tersenyum ketika istrinya mendongak. Mata gadis itu berkedip-kedip tak percaya.

"Ayo!"

****

"Pakaian ini terlalu bagus meski hanya pakaian rumahan. Apa aku pantas mengenakannya?" seru Wulan sambil berputar setelah berganti pakaian.

Ada binar di kedua matanya yang tak ia sembunyikan.

"Tentu saja!"

Wulan berhenti berputar, berdiri menghadap Sandi.

"Terima kasih," katanya tulus.

"Untuk?"

"Pakaian baru ini dan semua yang terjadi."

"Baiklah. Beri aku hadiah!" Sandi menunjuk pipinya, rona merah segera mendominasi saat Wulan sadar apa yang harus dia lakukan. Sebuah kecupan di pipi untuk orang baik itu.

1
Uthie
mampir cari-cari,cerita dr Othor yg keren ini 👍😍🤗
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Sugiharti Rusli
oh ini awal si Wulan ditinggalkan dulu yah, berarti masih sekolah dan belum lulus,,,
Sugiharti Rusli
eh si mama mertua yah yang komen tuh, uda ada ular di rumah tersebut ternyata yah,,,
Sugiharti Rusli
awalnya masih manis yah mereka karena masih ada Sandi,,,
Sugiharti Rusli
oh ini awal malapetaka Wulan selanjutnya yah nanti,,,
Sugiharti Rusli
padahal si Sandi pasti udah tahu si Wulan pasti memaafkan mereka,,,
Sugiharti Rusli
kalo orang udah otak kriminal yah ga akan pernah kapok modelan si Salsa ini deh
Sugiharti Rusli
aduh Sandi udah balik lagi, si Arya kenapa kepala batu yah,,,
Sugiharti Rusli
si Arya yah itu, darimana dia tahu Wulan dirawat,,,
Sugiharti Rusli
kalo diserahkan ke Wulan mah dia pasti ga tegaan anaknya tuk mengeluarkan murid" pasti deh,,,
Sugiharti Rusli
memang dasarnya sombong yah si Susi sama anaknya tuh
Sugiharti Rusli
wah Sandi sudah mulai mengeluarkan taringnya nih,,,
Sugiharti Rusli
wah siapa yah yang akan Sandi suruh tuk membereskan orang" yang sudah menyakiti si Wulan,,,
Sugiharti Rusli
apa mau divisum yah si Wulan ke rumah sakit,,,
Sugiharti Rusli
semoga pak Andri bisa kasih pelajaran ke mereka deh,,,
Sugiharti Rusli
apasih masalah mereka semua ke Wulan, karena dia bisa diintimidasi akibat kekurangannya,,,
Sugiharti Rusli
bagus Lan, kamu harus berani melawan mereka apalagi si Salsa yang notabene adik kan,,,
Sugiharti Rusli
bahagia itu sederhana, bisa saling percaya dan memahami hati pasangan yakan
Sugiharti Rusli
apa si Arya masih ada hubungan kerabat sama Sandi yah,,,
Sugiharti Rusli
ada story apa yah antara Arya dan Sandi,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!