NovelToon NovelToon
AKU DIANTARA KAU DAN DIA

AKU DIANTARA KAU DAN DIA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:380.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fifie

Kisah cinta segitiga antara Dika, Ranti dan Vika. Semua berawal dari ketidaksengajaan hingga menjadi cerita cinta yang cukup pelik. Menguras airmata dan juga emosi Ranti yang akhirnya mengetahuinya setelah hubungan rumah tangganya dengan Dika telah menginjak tahun kelima dengan dikaruniai buah hati cantik berusia 2 tahun. Sementara Vika adalah sahabat baiknya semasa SMA. Semua rasa dihatinya bercampur aduk, bergejolak membuatnya dilema antara menjaga keutuhan rumahtangganya dan juga mempertahankan harga dirinya sebagai wanita yang selalu menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fifie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIA TAKUT PADAKU ATAU AKU TERLALU KEJAM PADANYA

"Cecil... Pulang bareng aku ya!? Aku mau langsung ke kantor pemasaran perumahanmu selepas jam kerja." Kataku pada Cecil.

"Oke! Jadi nih liatin rumah buat mbak Vika, Pak?" jawabnya sedikit menggoda. Terlebih senyum Cecil membuatku memanyunkan bibir membuatnya tertawa kecil sambil berlalu.

Seperti pesanku tadi. Vika berdiri dikejauhan pintu masuk gedung Graha. Tersenyum ia melihatku. Tapi kembali datar melihat Cecillia yang berdiri dibelakang mengikutiku.

"Ayo, masuk!" ajakku pada dua perempuan cantik itu. Cecillia dan Vika duduk dibelakang jok kursiku. Mereka terlihat berusaha mengakrabkan diri.

"Tasnya Cecil unyu sekali. Beli dimana?" tanya Vika tertarik melihat tas kerja Cecil. Mereka berdua terlibat obrolan seru khas perempuan.

"Hei, hei...kalian! Enak banget ya asyik ngobrol seolah aku ini sopir kalian!" gerutuku ketus tapi sebenarnya hanya bercanda.

"Maaf, pak!" kata Cecil cepat.

"Hehehe...ga apa Cil! Aku becanda koq!" ralatku melihat reaksi Cecil yang langsung kaku merasa tak enak.

"Kenapa ya, mas Dika lebih lembut ngomongnya kalo sama Cecil!" tiba-tiba Vita nyeletuk. Pelan tapi nyeletit. Cecillia bungkam.

"Itu karena Cecil tau batasannya denganku. Kami sudah bekerjasama selama 4 tahun. Lebih lama pertemanannya dibanding persahabatanmu dengan istriku." Jawabku tak kalah pedas.

Vika diam. Agak kesal karena matanya mendelik jutek. Aku tersenyum dalam hati. Sepertinya ia sedang merajuk, tapi tak mendapat respon dariku.

Cecil tak enak hati diantara kesunyian yang mencekam itu. Ia memegang tangan Vika.

"Pak Dika orangnya tegas, mbak! Tapi sebenarnya hatinya baik koq," bisiknya pada Vika tapi bisa kudengar sayup.

"Aku tau koq, Cil. Istrinya juga bilang begitu. Aku cuma pingin goda dia aja!" bisik Vika juga tapi lebih keras dari bisikan Cecil. Seperti sengaja supaya aku mendengarnya.

Cecillia tertawa menggeleng-geleng kepalanya.

"Tutup jam berapa kantor pemasarannya, Cil?" tanyaku kembali fokus pada tujuanku.

"Oh...sepertinya buka 24 jam, pak!"

"Oke, kalo gitu kita ga harus terburu-buru kejar waktu."

"Mau kemana kita, mas?" Vita menimpali dengan bertanya.

"Oiya, notaris tadi pagi telpon. Katanya pertemuan kita dipercepat. Tapi yang mau beli rumahmu kepengen kamu cepet angkat kaki dari situ. Mau direnov total mungkin. Nah, aku mau tanya sama kamu.... Udah dapet tempat belum buat tinggal?" kataku bertanya lagi pada Vika.

"Belum, mas!"

"Nah, kebetulan Cecil juga baru pindah diperumahan Griya dibilangan Pasar Pagi. Perumahan baru, tipe 21 memang. Sederhana tapi menurutku lumayan lingkungannya. Kita liat dulu, siapa tau kamu minat. Tapi kalo ga suka, aku ga maksa!"

"Boleh. Kita liat dulu. Cecil juga baru tinggal disana?" respon Vika lalu menanyai Cecil.

"Iya, mbak. Hampir 4 bulan."

"Kredit?"

"Iya. Hehehe... Belajar mandiri, mbak!"

"Hebat kamu! Pantas mas Dika respek banget sama kamu." Cecil hanya tersenyum menanggapi pujian Vika.

Entah kenapa aku tidak suka tekanan suara Vika. Terdengar mengintimidasi atau lebih tepatnya seperti orang cemburu.

"Biasa aja koq! Kamu aja yang berlebihan menyikapinya. Istriku aja ga seposesif kamu koq sama Cecil!" Lagi-lagi Cecil tersenyum agak kecut. Terlihat ia mulai tak nyaman lagi diantara aku dan Vika.

Vika diam. Ia memang lebih membatasi dirinya. Mungkin karena ada Cecillia. Jadi ia tak terlalu terbuka menunjukkan dirinya tidak seperti biasanya.

"Cecil tinggal sendiri?" Vika kembali mencoba berkomunikasi dengan Cecil. Cecil mengangguk.

"Tapi ibu saya tiap minggu datang dan menginap. Maklum, ibu agak kolot pemikirannya. Jadi selalu protektif sama saya."

"Itu tandanya orangtuamu sayang sama kamu, Cil! Mungkin karena kamu juga termasuk anak yang manis, baik dan penurut. Jadi orangtuamu begitu perhatian sama kamu!" ujarku membuat Vika tertunduk. Tak lagi berbincang dengan Cecil. Hanya memandang kosong kearah jalan.

Jam 5 lewat ketika kulirik jam tangan. Masih lumayan sore, fikirku. Ternyata perumahan itu lebih ramai disore hari. Mungkin para penghuninya sudah pulang kerumah dan kumpul bersama keluarga dengan berjalan-jalan santai diarena taman perumahan.

"Itu kantor pemasarannya, Pak! Maaf, pak, mbak Vita,...saya pamit pulang duluan."

"Mau kuantar sampe rumah, Cil?"

"Ga usah, Pak, terima kasih! Saya bisa jalan sedikit koq dari sini. Mbak Vita dan Pak Dika, bisa mampir jika berkenan!"

"InsyaAllah, Cil!"

"Maaf, Cecil! Sepertinya aku ga bisa mampir kerumahmu! Ada urusan lain,"kata Vika membuatku memandangnya. Punya sikap juga dia.

"Ga apa, mbak! Mungkin lain waktu. Senang bisa ketemu dan ngobrol dengan mbak Vika! Mari, saya duluan!"

"Iya."

Vika menepak bahuku membuatku kaget.

"Gadis cantik jangan diliati terus!" katanya membuatku mendelik kesal. Urusan apa dia cemburu padaku dan Cecil. Aku hanya ingin memastikan Cecil pulang kerumahnya dengan selamat. Karena aku lelaki sejati. Tidak enak rasanya menurunkan anak gadis orang dipinggir jalan saja padahal sudah berbaik hati mengantar kami ke kantor pemasaran perumahan Griya.

"Toh, perumahan ini udah masuk kawasannya, mas!" kata Vika lagi seolah membaca pikiranku.

Kami mengetuk pintu kantor yang terlihat sepi. Seorang pria berpakaian putih biru membukakan kami pintu. Setelah berbasa-basi menanyakan maksud kedatangan kami, ia membawa kami kelantai 2. Bertemu langsung dengan manajer bagian pemasarannya.

Setelah ngobrol panjang lebar dan memperlihatkan kami denah wilayah perumahan dan rumah-rumah yang masih kosong, mereka mengajak kami survey langsung ke rumah-rumah tersebut.

Vika memegang beberapa brosur dari perumahan tersebut. Mengekor langkahku dengan mata memandang sekitar. Melihat-lihat tanpa banyak komentar.

Mereka meninggalkan kami berdua agar bisa leluasa melihat semua sudut ruangan rumah itu. Aku mengangguk-angguk.

"Kalau mas suka, kita boleh ambil rumah ini mas!" kata Vika tiba-tiba. Sepertinya ia mengamatiku dari kejauhan.

"Hei, harusnya aku yang nanya kamu. Kamu yang akan nempati rumah ini, bukan aku. Lagipula kamu yang beli pake uangmu sendiri. Bukan dengan uangku!" Vika tertawa. Bergelayut manja dilenganku membuatku jengah.

"Aku cemburu tau,... kamu deket sama Cecil!" katanya setelah tawanya reda.

"Apa hubungannya beli rumah sama Cecil?"

"Nanti kamu bakalan sering kunjungin aku khan kalau aku tinggal disini? Secara Cecil juga punya rumah diperumahan ini lho! Jadi kalo mas antar pulang Cecil jangan lupa harus mampir kerumahku ini."

"Hus! Jaga omonganmu, Vika! Aku ga pernah antar Cecil pulang! Ranti tau itu!" Aku marah. Membentak Vika yang memerah wajahnya. Aku menepis tangan Vika. Menjauhinya adalah langkah tepat. Ucapannya kali ini membuat darahku mendidih.

"Maaf, mas! Aku ini pencemburu berat!"

"Lagipula kamu salah orang. Buat apa kamu cemburu padaku? Pada Cecil? Itu juga bukan kapasitasmu, Vika! Hubungan kita hanya sekedar bisnis. Karena aku menghormatimu sebagai sahabat istriku. Ga lebih! Dan harus kamu ingat, kamu ga bisa mengekangku dengan segala tingkahmu yang konyol itu! Paham?"

Vika terdiam. Aku juga merasa tak nyaman karena bentakan kerasku tadi. Perempuan ini selalu memancing emosiku. Membuat pening kepalaku.

Aku bergegas menemui pak manajer perumahan Griya. Menjanjikannya segera menghubunginya dalam waktu 2-3 hari ini, baik jadi bertransaksi maupun tidak.

Aku kadung kesal dengan Vika.

Aku diam tak ingin bicara. Mengantar Vika pulang kerumahnya dibilangan Menteng yang harus putar arah cukup jauh dari tempat perumahan Griya.

Tiba-tiba Vika teriak histeris. Hendak lompat dari mobil yang melaju kencang membuat jantungku hampir copot. Seperkian detik aku telat menarik tubuhnya kepelukanku, habis sudah Vika bisa berguling dijalanan aspal yang kami lewati.

"Perempuan sinting! Kamu mau buat kita berdua celaka? Hah??" makiku menghentikan mobil segera. Merangkulnya dengan erat yang menangis tersedu didadaku.

Aku menarik nafas lega. Memejamkan mata bersyukur dalam hati Tuhan masih melindungi. Tanganku mengusap-usap punggung Vika perlahan. Mencoba menenangkannya hanya dengan sentuhanku. Karena jantungku masih berdegub keras mengingat kejadian tadi.

Lama Vika menangis. Menenggelamkan wajahnya didadaku hingga terasa basah kemejaku dengan airmatanya.

"Kita ini bukan anak-anak Vika! Berfikir sebelum bertindak. Itu perbuatan yang bisa mencelakakan banyak orang. Kamu, aku, juga orang lain yang juga sedang menggunakan jalan ini. Mereka yang ditunggu keluarganya, orangtuanya, pasangannya, anak istrinya. Kalo kamu tiba-tiba menjatuhkan diri keluar dalam keadaan mobil melaju kencang, terus ada motor atau mobil lain dibelakangnya. Bukan cuma kamu korbannya. Tapi kita semua, Vika!"

"Aku bukan salah satu dari kalian! Yang ditunggu keluarganya atau orangtuanya atau pasangannya seperti katamu tadi! Jadi biarkan aku mati! Aku lebih baik mati! Biar mati sendiri ga lagi nyusahin kamu! Juga ga akan ada orang yang tangisin aku! Orangtuaku pasti senang ketemu aku!"

"Kata siapa? Hah? Kata siapa kalau kamu mati seperti itu kamu bakal ketemu orangtuamu yang juga sudah mati? Kata siapa??... Buka Al-Qur'an! Roh dan jasadmu tidak diterima bumi dan langit kalau kamu mati bunuh diri. Kamu juga tidak akan dipertemukan orangtuamu yang hidup bahagia dialam barzakh menunggu doa-doamu. Kamu salah! Dan kamu fikir Ranti istriku ga akan menangisi kamu jika kamu mati? Sepicik itu fikiranmu pada Ranti sahabatmu yang sudah wara-wiri bantuin kamu."

"Aku cemburu pada Ranti! Aku cemburu pada Cecil!... Kamu bahkan bisa berkata baik pada gadis muda itu. Tapi kenapa padaku kata-katamu begitu pedas. Tajam menghujam jantungku, mas! Aku lebih baik mati bila kamu tak mau mempedulikanku. Aku ingin mati melihat kamu tertawa-tawa pada asisten cantikmu itu. Tapi wajahmu asam padaku. Padahal dimalam ketika aku menginap dirumahmu, kamu mulai membuka diri berbincang bahkan bercanda padaku, mas!"

Aku tersekat mendengar perkataan Vika. Ia mengeluarkan semua unek-uneknya. Dan aku hanya terdiam mengetahui betapa terlukanya hatinya karena ucapan-ucapanku selama ini.

"Maaf, Vika. Maafkan aku telah jahat padamu. Bukan maksudku menyakiti hatimu, sungguh! Aku lakukan itu untuk kebaikanmu. Buktinya, kamu jadi pribadi yang lebih baik khan setelah kenal aku. Asal kamu tau juga, Ranti itu dulu kugembleng dengan keras hingga jadi wanita sempurna dimataku seperti sekarang ini." kataku berusaha membuatnya tenang kembali. Kugenggam jemarinya perlahan. Memberinya sentuhan lembut supaya ia memahami perkataanku.

Berhasil. Vika terlihat lebih tenang. Tangisnya mulai mereda. Kami terdiam cukup lama. Tangannya masih kugenggam. Tubuhnya masih dalam pelukanku. Merasakan getaran yang menjalar ditubuh masing-masing. Tenggelam dalam ketenangan yang menyenangkan hati.

"Kita lanjut jalan, ya?... Kita udah buat kemacetan, lho!" bisiknya membuat Vika tersadar. Ia mengangguk. Mengangkat tubuhnya yang menumpu tubuhku.

Aku menarik nafas lega. Menarik lagi tangannya.

"Janji dulu padaku, ga akan berbuat begitu lagi. Ya?!?" pintaku membuat Vika menatap lekat bola mataku. Ia mengerjap. Mengangguk perlahan.

"Janji?"

"Iya."

"Cemburu buta tak beralasan bisa fatal buat hati dan fikiran kita. Itu ga baik, Vika! Aku ga suka perempuan cemburuan!" kataku tapi sedikit menekan intonasinya agar tak terdengar kasar. Vika mengangguk dan menunduk.

"Maafin aku ya, mas! Udah buat kamu susah." kata Vika pelan.

Hhhh.... Aku mulai menyalakan mesin mobil. Meraih tangannya yang masih dingin. Berusaha menyalurkan hawa hangat suhu tubuhku padanya menunjukkan bahwa aku peduli padanya.

Walau aku tahu, perbuatanku salah. Karena bisa menimbulkan kesalahfahaman baru lagi padanya karena memaknai kedekatan kami. Tapi kali ini, aku biarkan semua berlalu tanpa berusaha menjelaskan detilnya perasaanku padanya.

Biar waktu yang menjawabnya.

Bersambung-

1
Lailatul Fadjariyah
bnyak hikmah yg BS kita ambil drcerita ini.bhwa kehidupan spti roda yg berputar..,tp semua tetap akan kembali kpd sang Halik.🙏🙏
Nanik Ismawati
Ranti yg skrg tambh bijak Krn didewasakan oleh pengalaman dan keadaan...skrg Dika yg tambh menyesal
YuWie
yaelahhh..malah salah2 an. laki2 mah klo zina istri yg di salahkan..yg sdh gak seksi lah, yg sdh gak perhatian lah, yg gak dilayani lah... apalagi lg merasa diri mapan..beuhhh
YuWie
dika kie nangisan ough
YuWie
trus klo Vika muncul ntar goyah lagi kamu Dika
YuWie
lagi membayangkan 2 laki2 dewasa yg gagah perkasa menangis...ya opo kuwi suasanane..
ika
byk pelajaran dari crita ini...
hidup bkn hny melulu seneng, tp jg ada sedihnya...
smoga Dika tenang disisiNya...
ika
rasain...
jd laki koq gitu amat...
sapa coba yg g sakit hatinya...
dari awal baca udah greget ma sikap Dika..
ika
karyanya bagus
ika
sakit rasanya...
Cusrita Bachri
sukurin deh...kesel sm laki² model bgini
Rani Ummi
krrennn ranti
‼️n
Walah....pelakot....njengkelke.....nghrrhetke😡😡😡😡
Dep queen
Bom like kU meluncur bubun🥰🥰👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏
Beast Writer
tamat
Fira Ummu Arfi
lanjuttttttt
Fira Ummu Arfi
semangatttt
Kd Aswini Putra
biar Ranti balikan sama mantan suaminya ,demi jingga thor
Kd Aswini Putra
biar Ranti balikan sama mantan suaminya ,demi jingga thor
Kd Aswini Putra
biar Ranti balikan sama mantan suaminya ,demi jingga thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!