Menikahi lelaki tampan, kaya raya, CEO pula! siapa yang tidak tergila-gila??
TIDAK!
Berbeda dengan Hazeline. Ia justru mencintai Sekertaris Suaminya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Singkat
Apa-apaan itu? Manu pergi disaat Hazeline bahkan belum mendengar jawabannya. Apa dia tidak mendengar apa yang Hazeline katakan? Mustahil. Telinga pria itu amat peka hingga napas Hazeline pun dia bisa mendengarnya.
Air mata Hazeline mulai menggenang. Nampaknya keputusan untuk bercerai tidak akan mudah. Tiba-tiba saja ia diselimuti rasa takut. Bagaimana kalau Manu melakukan sesuatu padanya? Lelaki itu kan, sedikit gila.
Menyesal. Hazeline menyesal telah menikah dengan pria itu. Pria yang ia sukai saat pandangan pertama.
Waktu itu, Hazeline tengah sibuk dengan tugasnya di bangku taman kampus. Ia harus mengumpulkan tugas tepat waktu. Hazeline tak ingin nilainya turun, karena ia masih menginginkan beasiswa yang sudah 6 semester berturut-turut ia dapatkan.
Namun sial, angin bertiup kencang sampai membuat tumpukan kertas tugas Hazeline beterbangan.
"Aaahh.." Keluh Hazeline dan terburu-buru ia mengumpulkan kertasnya. Ia berjongkok dan berjalan sembari terus memungut kertas-kertasnya.
Hazeline melihat satu kertas yang terbang cukup jauh. Ia pun mengejarnya. Ia berjongkok ingin mengambilnya, namun kertas itu tergulung angin lagi cukup jauh sampai mendarat bawah kaki seseorang bersepatu hitam.
Hazeline berdiri saat menyadari kertasnya ada dibawah kaki seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan hidung mancung jika dilihat dari samping. Lelaki itu mengambil kertas yang terbang ke kakinya, lalu melihat isi kertas itu.
Terlihat alis yang menyatu saat ia melihat kertas itu. Apa dia tengah membaca isinya?
Hazeline pun mendekat sembari menelisik wajah pria itu. Siapa dia? Hazeline baru pertama melihatnya.
"Permisi.."
Lelaki itu menoleh, menatap Hazeline dengan mata bulat dengan bulu yang lentik. Bola mata berwarna abu-abu itu terlihat indah.
Mereka saling bertatap beberapa saat. Mata itu, Hazeline melihatnya dalam-dalam. Lalu kedipannya, membuat Hazeline segera tersadar dari lamunan.
"Ah, maaf. Kertas itu.. milikku."
Lelaki itu melihat lagi kertas di tangannya beberapa detik. Lalu ia serahkan pada Hazeline tanpa senyuman atau sepatah katapun. Wajahnya datar namun memiliki garis ketampanan yang berbeda menurut Hazeline.
"Terima kasih.."
Lelaki itu tetap tidak bersuara sampai ia pergi dengan tas yang tersandang di bahunya.
Siapa ya, dia? Hazeline sudah tiga tahun disini tetapi belum pernah melihat wajah yang seperti itu berkeliaran. Dipikirkan seperti apapun Hazeline yakin ia tidak pernah bertemu pria itu. Apa bukan mahasiswa sini?
"Hazel!"
Hazeline tersentak. Seorang teman perempuan Hazeline menepuk bahunya sambil cekikikan.
"Kau melihati siapa sampai bengong begitu." Tanyanya, melihat kearah Hazeline menatap.
"Oh, kau menyukai Tuan Manu, ya?" Goda temannya.
"Tuan... Manu?"
"Ya. Yang kau perhatikan itu namanya Manu. Dia mahasiswa magister. Kudengar orang-orang memanggilnya Tuan begitu karena ia mempunyai perusahaan sendiri. Dia itu kaya raya dan dia juga pintar. Ah, sebenarnya dia sempurna. Walau sudah begitu, dia tetap melanjutkan pendidikan s2-nya. Bukankah itu keren? Banyak yang mendekati, tapi tak sedikit merasa takut."
"Takut? Kenapa?" Tanya Hazeline penasaran.
"Entahlah. Mungkin karena dia tak pernah tersenyum. Memang dia tampan, tapi melihat wajahnya itu aku juga agak takut. Ah, lupakan soal itu. Bagaimana tugasmu? Kau sudah selesai? Kalau aku...."
Hazeline malah terus menatap punggung lelaki yang perlahan menjauh. Dia tak lagi mendengarkan apa ucapan temannya itu. Karena pikirannya sibuk dengan seorang Manu. Ia mendadak penasaran.
Kenapa ya, dia merasa ada sesuatu dari tatapan mata lelaki tadi. Dia tidak terlihat seperti orang yang puas dengan hidupnya jika memang ia merupakan orang yang kaya raya dan mempunyai perusahaan sendiri. Dia.. terlihat berbeda.
Sampai keesokan harinya, tak sengaja Hazeline bertemu kembali dengan Manu saat Hazeline mengantar tugas ke ruangan dosen. Di pintu yang separuh terbuka, ia melihat Manu tengah duduk di sofa, mengobrol dengan dosennya.
Belum Hazeline mengetuk pintu, ia terpaku disana. Apalagi tatapan Manu jelas kearahnya. Sampai sang dosen ikut memperhatikan arah Manu melihat.
"Ah, kau sudah datang? Cepat letakkan tugasmu diatas meja." Tegur dosen itu, membuat Hazeline terkesiap.
"Baik." Hazeline berjalan menunduk menuju meja yang dimaksud sang dosen. Saat berjalan, Hazeline bisa merasakan bahwa Manu tengah memperhatikannya.
"Dia Hazeline." Ucap dosen itu pada Manu. "Yang pernah aku ceritakan padamu."
Apa? Hazeline terkaget. Yang pernah diceritakan? Dosen itu menceritakan apa? Hazeline bertanya-tanya dalam hatinya sembari meletakkan tugasnya perlahan diatas meja.
"Hazeline, kemarilah."
Hazeline mendekat, lalu berdiri disamping sofa dimana dosen itu duduk.
"Aku pernah mengatakan padamu, kan, kalau ada seorang gadis bernama Hazeline yang terus mendapatkan nilai terbaik sampai tiga tahun berturut-turut hingga ia bisa mendapatkan beasiswa darimu."
Hazeline mengangkat wajahnya. Apa katanya? Beasiswa.. dari siapa?
"Hazeline, inilah tuan Immanuel Benzi, orang yang aku ceritakan padamu, yang memberikan beasiswa bagi mahasiwa terbaik sampai lulus. Beri salam padanya."
Walau tekejut, Hazeline tetap membungkukkan sedikit badannya. "Te-terima kasih untuk bantuannya selama ini, Tuan."
Manu mengangguk. Seperti kemarin, ia tak juga bersuara. Bahkan wajahnya tetap datar dalam situasi apapun.
Hazeline menutup pintu ruang dosen. Tangannya menyentuh dada yang bergetar. Dia memang terus berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik supaya bisa berkuliah secara gratis hingga lulus. Bahkan yang Hazeline pernah dengar, ia bisa saja diterima di perusahaan pemberi beasiswa jika nilainya bertahan. Tapi ia tak tahu jika ternyata, Immanuel Benzi yang namanya sering disebut-sebut itu adalah laki-laki yang ia temui kemarin. Dan pemberi beasiswa itu.. berkuliah disini?
Setelah beberapa bulan, Hazeline lulus kuliah dengan nilai yang sangat bagus. Waktu itu, Immanuel Benzi, si pemberi beasiswa itu memanggilnya. Hazeline pun datang dan duduk berhadapan dengan lelaki yang beberapa kali ia temui di kampus.
Sejak kejadian di ruang dosen, Hazeline menunduk hormat saat bertemu dengan Manu. Hanya saja yang Hazeline lihat, Manu selalu saja memandangnya cukup lama, membuat Hazeline sungkan dan bertanya-tanya. Apa ada yang salah dari dirinya?
"Tu-tuan, apa.. saya melakukan kesalahan?" Tanya Hazeline saat Manu tak juga berbicara setelah sepuluh menit berlalu. Lelaki itu hanya menatapnya tanpa bicara. Sama seperti saat mereka bertemu dimana pun, Manu terus memperhatikannya seolah Hazeline punya kesalahan padanya.
"Tidak." Jawab Manu yang akhirnya bersuara.
Ah, Syukurlah. Ucap Hazeline dalam hati. Itu artinya, peluang dirinya diterima di perusahaan Manu cukup besar. Apalagi selama ini Hazeline dengar, kalau perusahaan Manu cukup terkenal dengan gaji besar, dan hanya mempekerjakan orang-orang yang cerdas.
"Aku menawarkan sesuatu padamu." Ucap Manu.
"Ah, iya." Senyum Hazeline mengembang saat ia tahu kalau Manu akan menawarkannya pekerjaan. Itu artinya setelah lulus kuliah, ia tak perlu repot-repot melamar pekerjaan kesana kemari karena sudah ada perusahaan hebat yang akan menampungnya.
"Menikahlah denganku."
"A-apa?!"
Bersambung...
trmksh byk utk semu karya apikmu🙏🙏🙏
padahal sdh di niatkan, kok persiapannya cuma lari.
kurasa siapapun wanita yg diperlakukan seperti itu pasti tdk akan mau , pingin aku tonjok juga 👊
istri selingkuh dengan lelaki lain dan perselingkuhan itu kalian benarkan (munafik)
tapi lihat novet novel2 kalian yang bertema suami selingkuh apa yang terjadi kalian laknat habis2an suami, kalian buat suami menyesal, mengemis maaf, berjuang, dan dapat karma, kalian buat karakter istri tegas dan pergi
tapi lihat saat kalian buat novel bertema istri selingkuh, perselingkuhan itu kalian benarkan, karakter suami kalian buat bodoh yang Terima saja kayak tidak punya harga diri sebagai lelaki,
ini lah bukti kalau pemikiran wanita sangat munafik yang dituangkan kedalam novel, dan mereka akan berlindung ini hanya halu, hanya novel hanya karya, tapi faktanya novel kalian bisa menunjukkan pola pikir kalian