Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DEBAT - Part 3
“Guys, Dan lagi otw ke sini ya,” kata Risa, mengangkat kepalanya dari layar ponsel.
Sore itu, setelah menyelesaikan rapat koordinasi di himpunan, mereka berempat memutuskan untuk berkumpul dan bersantai di apartment Risa.
“Sekalian nitip beli gorengan atau cemilan apa gitu dong, Ris, sama cowok lo,” ujar Nindy dari atas karpet.
“Dia udah jalan nih. Katanya udah bawa donat sama dimsum mentai.”
“Pinter juga laki lo,” sahut Karin santai, membuat mereka berempat tertawa.
Risa menoleh ke arah Gea yang duduk di sebelahnya. “Eh, jadi gimana urusan lo? Mau menerima ajakan Malik buat jadi sekretaris umum di kepengurusan dia gak?”
Yang ditanya hanya mengangkat bahu dan berkata, “gak tau. Tergantung pak bos.”
“Siapa? Laki lo?” tebak Nindy asal menuang kembali air dingin ke dalam gelasnya. “Aduh, laki lo posesifnya kadang bikin gua gatel pengen tabok, tau gak?”
Gea hanya tersenyum tipis mendengar yang tampak dipaksakan ucapan jujur sahabatnya. Jauh di lubuk hatinya, Gea pun merasakan hal yang sama. Ada rasa ingin menanyakan langsung pada Jay mengenai apa yang sebenarnya pria itu rasakan, sampai-sampai perhatian yang diberikan Jay terkadang justru terasa begitu menyesakkan dada. Semenjak perdebatan hebat tempo hari, Gea bahkan mulai menarik diri dari teman-teman lawan jenisnya, bahkan untuk urusan organisasi himpunan sekalipun, murni demi menjaga suasana hati Jay.
“Lagi chatting-an sama Jay?” tanya Karin saat menyadari kening Gea yang berkerut dalam dengan jemari yang tak henti mengetik di atas layar.
“He-em,” jawab Gea singkat, matanya tetap terpaku pada layar ponselnya yang kini dipenuhi rentetan paragraf panjang.
Suasana mendadak hening. Tanpa Gea sadari, ketiga sahabatnya sedang lempar pandang dengan perasaan penuh empati padanya.
Keheningan itu untungnya segera pecah begitu pintu apartemen terbuka, menampilkan sosok Daniel yang datang dengan kedua tangan penuh tentengan. Satu lusin donat di tangan kiri, dan sebuah kotak besar berisi dimsum mentai di tangan kanan. Keempat perempuan itu langsung menyambut kehadiran makanan menggiurkan tersebut dengan sorak antusias. Saat mereka hendak memberikan uang patungan untuk mengganti biaya makanan, Daniel langsung melambaikan tangan menolak dengan tegas.
“Udah, simpen aja. Makan dulu ini donatnya,” kata Nindy melihat Gea yang masih terfokus dengan ponselnya.
Gea menghembuskan napas berat lalu melempar ponselnya asal ke atas sofa. Ada aura kekesalan yang mengudara dari gestur tubuhnya.
“Berantem lagi?” tanya Risa peka.
Gea hanya mengangguk lemah. Ia meraih satu potong donat dengan rasa matcha, mengunyahnya pelan, lalu menghembuskan napas dalam-dalam seolah beban di dadanya teramat penuh.
“Mau cerita?” tawar Karin lembut.
“Dia kesal karena gue main ke sini. Jadi, Jay itu mendadak ngajak gue ke rumahnya sore ini karena katanya lagi ada acara keluarga besar, dan nyokapnya ngundang gue,” Gea memulai ceritanya dengan nada lelah. “Tapi karena gue udah ada janji duluan sama kalian, ya gue bilang gak bisa. Eh, dia malah ngamuk.” Bahu Gea melorot turun, kelihatan sangat lesu. “Dia marah-marah karena udah telanjur mengiyakan ke nyokapnya kalau gue bakal datang, terus nuduh gue gak izin kalau mau main ke sini hari ini. Padahal dari dua hari lalu, gue udah bilang kalau sore ini mau ke apartemen Risa, dan dia sendiri yang mengiyakan waktu itu.”
“Cowok lo lagi PMS ya,” celetuk Risa asal, mencoba menghibur.
“Tau, ah. Capek ribut terus,” menggelengkan kepala, mencoba mengusir sesak di dadanya. “Anyway, lupain dulu deh. Gue ada oleh-oleh buat kalian!” Gea segera meraih goodie bag besar yang ia bawa sejak tadi.
“Nah, gitu dong! Mana, mana?” sahut Nindy semangat. Perempuan itu juga mengeluarkan oleh-oleh yang sudah dia siapkan dari liburnya kemarin.
Melupakan sejenak urusan pacar yang pelik, sore itu ruang tengah apartemen Risa kembali dipenuhi canda tawa saat mereka saling memamerkan buah tangan dan menceritakan keseruan liburan masing-masing.
Ketika perut mereka sudah mulai berdemo, tak cukup dengan kudapan manis yang ada di atas meja, Daniel langsung berdiri dari duduknya. Pria itu berjalan ke dapur dengan langkah yang sangat familiar, seolah itu adalah dapur rumahnya. Dibantu oleh Risa dan Karin, Daniel dengan cekatan mulai mengecek bahan yang ada di dalam kulkas.
Tak butuh waktu lama, Daniel sudah sibuk membuatkan nasi goreng dengan potongan dada ayam dan wortel, lengkap dengan irisan timun sebagai garnish serta telur ceplok setengah matang di atasnya. Sementara itu, Nindy dan Gea bertugas membereskan meja dari sisa bungkusan camilan, sebelum menyambut piring-piring berisi nasi goreng yang aromanya sangat menggugah selera.
“Enaaaak,” puji Gea tulus setelah suapan pertama. “Jago juga lo, Dan, beruntung banget si Risa bisa makan masakan enak kayak gini tiap hari nanti.”
“Kuncinya apa? Cari cowok yang jago masak,” sahut Risa asal, memeluk lengan Daniel manja.
“Plus bonus bisa dapetin green card,” tambah Nindy terbahak, mengingat kekasih dari sahabatnya itu memang masih memegang kewarganegaraan Amerika Serikat.
Gelak tawa pun kembali mengudara dengan lepas. Hari yang panjang itu akhirnya ditutup dengan obrolan santai ditemani film pilihan Karin yang menyala di layar televisi. Di tengah kehangatan sahabat-sahabatnya, Gea setidaknya bisa bernapas lega, melupakan sejenak cekcok melelahkan antara dirinya dan Jay yang kian hari kian menguras energi.
...****************...
Siapa yang bisa mengira atau menduga nasib siap di jalan raya? Siang itu, saat sedang berkendara dengan santai -tidak mengebut, tidak menyalip sembarangan, apalagi ugal-ugalan- motor Gea mendadak diseruduk di arah depan oleh pengendara dari jalur berlawanan. Benturannya cukup kencang hingga membuat Gea jatuh seketika. Tubuhnya langsung mencium aspal. Rasa perih menyengat langsung menjalar, tidak hanya di telapak tangan, tetapi juga di sepanjang tangan kiri dan lututnya.
Orang-orang di sekitar lokasi kejadian langsung membantu Gea mendirikan motornya. Si penabrak, seorang bapak-bapak yang juga ikut terjatuh, segera meminggirkan kendaraannya dan menghampiri Gea dengan wajah pucat pasi.
“Maaf ya, Mbak. Duuh, maaf banget.. saya tadi sempet merem sedetik karna ngantuk. Maaf banget. Ada yang sakit, Mbak?” tanyanya panik begitu melihat darah di tangan Gea.
Beruntung, tidak ada adegan dramatis seperti di film aksi di mana Gea sampai terpental jauh. Sembari menahan perih, Gea berkata, “gak apa-apa, Pak. Cuma luka dikit kok,” jawabnya berusaha berempati melihat sang bapak yang juga tampak syok dan lecet-lecet.
Gea mendudukkan diri di trotoar sambil mengatur napas dan jantungnya yang berdegup dengan cepat. Ingatannya seperti kosong saat kejadian tadi dan seluruh persendiannya terasa lemas. Bapak penabrak tadi berbaik hati membelikannya sebotol air mineral, obat antiseptik, plester, serta menyelipkan uang sebesar dua ratus ribu rupiah untuk biaya berobat sebelum melanjutkan perjalanan karena ada urusan mendesak.
Setelah bapak itu pergi, Gea meringis pelan saat menyiram luka-lukanya yang kotor terkena aspal menggunakan air minum yang tersisa.
“Ge?” panggil seseorang di depan Gea.
Gea mengangkat kepalanya yang terasa berat, lalu mengembuskan napas lega begitu mendapati Malik sudah berdiri di hadapannya. “Lo kenapa, Ge?” Malik langsung berjongkok di samping Gea, raut wajahnya dipenuhi rasa cemas.
“Kena sundul motor lain,” jawab Gea, mencoba terdengar santai walau jantungnya masih berdebar kencang.
“Lo gak apa-apa? Ada yang parah gak?” Malik dengan hati-hati mengecek tangan Gea, mendapati beberapa luka gores yang cukup dalam di telapak dan sikunya. Lutut Gea pun sepertinya juga terluka di balik celana jinsnya.
Malik tidak bisa membayangkan bagaimana sahabat masa kecilnya ini bisa menghantam aspal sekeras itu. “Orang yang nabrak mana?”
“Udah pergi, Mal, dia tadi buru-buru,” sebelum Malik angkat bicara, Gea menambahkan, “tapi dia
tanggung jawab kok. Udah minta maaf, beliin gue minum sama beliin gue betadine sama hansaplas juga, ngasih uang juga. Gue cuma lagi lemes aja, lagi nenangin diri, Mal. I’m okay, I think,” ucapnya sambil terkekeh hambar.
Tanpa banyak bicara, Malik mengambil alih botol obat antiseptik itu dan membantu Gea mengobati serta memplester luka-lukanya. Setelah itu, Malik beranjak memeriksa kondisi motor Gea yang ternyata cukup memprihatinkan, stangnya bengkok parah dan kaca spionnya patah.