(NOVEL INI DALAM PERBAIKAN.)
Zahra Aneska, 28 tahun, telah lama memutuskan untuk tidak menikah. Hidupnya sudah cukup rumit tanpa harus memikirkan pasangan, terlebih keluarganya selalu menentang setiap pilihan yang ia ambil.
Namun hidup sering kali berjalan di luar rencana. Suatu hari sepulang kerja, ia dikejutkan oleh kenyataan yang sulit dipercaya dengan status lajang yang selama ini ia pertahankan tiba-tiba berubah. Ia resmi menjadi istri dari atasannya sendiri.
Pernikahan itu penuh tanda tanya. Apakah pria itu juga berada dalam situasi yang sama? Ataukah ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan?
Menjalani rumah tangga tersebut jelas bukan hal mudah. Konflik, tekanan, dan berbagai rahasia perlahan mulai terungkap. Di tengah semua itu mampukah cinta tumbuh di antara mereka, atau justru ini menjadi awal dari masalah yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Halaman ~
...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...
Zahra dan Abyan kembali ke kamar untuk berganti pakaian sekaligus beristirahat sejenak sebelum acara berikutnya dimulai.
Sepanjang perjalanan tangan Zahra masih berada dalam genggaman Abyan, baru dilepaskan begitu mereka benar-benar masuk ke dalam kamar.
“Maaf Mas, Mbak, pegawainya masih makan. Sebentar lagi mereka akan datang,” ucap seorang pegawai laki-laki yang berdiri di dekat pintu. “Mbaknya bisa duduk dulu di kursi. Maaf ya Mbak, Mas,” sambungnya lagi dengan wajahnya sedikit canggung.
“Nggak apa-apa Mas, santai aja,” ucap Abyan.
Sedangkan Zahra hanya mengangguk kecil, berusaha terlihat biasa saja meski suasana terasa sedikit kikuk.
“Mas, duluan,” tegur Abyan.
Zahra melirik sekilas ke arah Abyan, pikirannya kembali dipenuhi kecurigaan yang belum juga mereda sejak kejadian di pesta tadi.
Tiba-tiba Abyan mulai membuka pakaiannya di tempat, membuat Zahra refleks menahan napas.
“Aku ke kamar lainnya aja, Mas.”
“Mau ngapain, Ay?” tanyanya saat Zahra sudah berdiri hendak pergi.
“Agar Mas bisa ganti baju."
“Kamu nggak perlu ke mana-mana, Ay,” ucap Abyan santai. “Duduklah di sini.”
Zahra hanya bisa mengangguk, ia pun akhirnya kembali duduk, meski wajahnya sedikit memerah karena tidak biasa melihat pemandangan yang cukup terbuka baginya.
Tapi kenyataannya Abyan masih menggunakan pakaian lengkap yaitu kaos oblong putih dan boxer hitam. Sesantai itu ia menggunakan pakaian.
Namun tidak bagi Zahra, ini saja sudah cukup membuat jantungnya berdebar begitu kencang.
Setelah selesai Abyan duduk di dekat Zahra.
“Ay, berat ya?”
Zahra melirik Abyan sekilas. “Iya, Mas. Tapi masih bisa aku tahan kok.” walaupun hiasan di kepalanya memang terasa sangat berat.
“Bang tolong buka yang di luar hijabnya istri saya,” pinta Abyan kepada pegawai laki-laki itu. Abyan sendiri sudah tahu bahwa Zahra masih begitu gengsi untuk mengakui hal kecil seperti ini.
“Baik, Mas,” ucap salah satu pegawai itu dengan langsung mendekat. “Permisi saya lepas ya, Mbak,” ucapnya meminta izin.
Zahra hanya mengangguk saja.
Pegawai itu dengan hati-hati mulai melepaskan hiasan di atas kepala Zahra. Sementara itu, Abyan tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun seolah memastikan semuanya baik-baik saja.
Tak lama kemudian dua pegawai perempuan masuk dengan napas sedikit terengah. “Maaf Mas, Mbak, kami terlambat.”
“Nggak apa-apa. Sekarang lakukan pekerjaan kalian,” jawab Abyan dengan ramah.
“Kami permisi dulu Mas, Mbak,” ucap pegawai laki-laki sebelum keluar.
“Duduk di sini, Mbak,” ajak salah satu pegawai perempuan dengan senyum ramah.
Zahra mengikuti saja dengan ia duduk di kursi, sementara kedua pegawai itu mulai melepas hiasan di kepalanya satu persatu. Rasa lega langsung terasa begitu beban di kepalanya berkurang.
Di sisi lain Abyan duduk santai di ujung ranjang sambil memainkan ponselnya, sesekali melirik ke arah Zahra.
Zahra sempat memperhatikan bagaimana kedua pegawai perempuan itu beberapa kali mencuri pandangan ke arah Abyan sambil tersenyum kecil, membuat Zahra kembali merasa tidak nyaman.
Ia pun memiliki ide. “Mas...”
“Iya, Ay,” Abyan menjawab sembari masih fokus ke ponselnya.
“Ada yang mau kenalan sama Mas.”
Abyan mengangkat wajahnya untuk melihat ke Zahra yang memberi kode dengan melihat kedua perempuan di belakangnya melalui pantulan cermin.
“Maaf ya, Mbak-Mbak. Sudah punya istri. Saya sangat tergila-gila dengan istri saya,"
Sontak saja wajah Zahra mendadak memanas. Tadinya hanya bercanda, malahan mendapatkan candaan balik baginya. Namun tidak dengan kedua perempuan di belakang Zahra yang terlihat seperti mereka salah sasaran.
“Eh ada laki-laki, Mbak,” ucap Zahra saat mereka hendak melepas hijabnya.
“Nggak ada siapa-siapa Mbak, hanya suami anda saja.”
“Kenapa harus malu, Ay?”
Zahra terdiam, tidak tahu harus membalas apa. Ia hanya bisa menarik napas pelan mencoba mengendalikan pikirannya yang mulai ke mana-mana. Zahra sudah tahu bagaimana reaksi Abyan yang memandangnya dari belakang melalui kaca.
Ketika kedua pegawai itu mulai menyentuh pakaian, Zahra segera berdiri. “Di kamar mandi saja, saya lepaskan.” tanpa menunggu jawaban ia langsung berjalan cepat menuju kamar mandi. Setelah berhasil melepas pakaian yang berat, ia membuka pintu sedikit.
“Mbak, bisa minta tolong ambilkan baju ganti saya."
“Oh iya Mbak, sebentar.”
Tak lama kemudian pakaiannya yang diminta diserahkan.
“Terimakasih.”
“Iya Mbak, sama-sama.”
Zahra kembali menutup pintu mengganti pakaian dengan cepat, lalu mengambil wudhu. Setelah itu ia mengenakan kembali hijabnya dan keluar dari kamar mandi.
Ruangan terasa lebih sepi, hanya ada Abyan yang masih duduk di ranjang.
“Mana pegawai tadi, Mas?”
“Keluar shalat, Ay. Kamu sudah ambil wudhu?”
“Iya Mas, sudah.”
“Tunggu kita shalat berjamaah lagi.”
Abyan segera bangkit dan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Tak lama kemudian mereka melaksanakan salat berjamaah bersama.
Setelah selesai Zahra merapikan alat salatnya.
Tok tok tok.
Abyan langsung membukakan pintu.
“Makanan siang, Mas.”
“Oh, silahkan masuk.”
Para pelayan masuk membawa makanan dan menatanya di meja. Setelah selesai mereka pergi.
“Ay, makan dulu.”
Zahra menghampiri Abyan yang sudah duduk di balkon.
“Capek nggak, Ay?”
“Enggak Mas, kenapa?”
“Kalau capek, di kamar aja. Biar Mas yang kembali ke ballroom.”
“Nggak capek kok, Mas. Aku ikut Mas ke sana.”
“Mmm... iya sudah kalau begitu.”
Mereka makan bersama dalam suasana yang lebih tenang dibanding sebelumnya.
Setelah selesai, para pelayan kembali membereskan. Zahra dan Abyan sempat duduk sejenak di balkon memandangi para tamu yang semakin ramai berdatangan.
Tok tok tok.
Ketukan kembali terdengar.
Abyan segera membuka pintu.
“Mari Mbak, Mas, kita berhias lagi.”
Zahra kembali mengikuti arahan para pegawai. Kali ini hiasan yang dikenakan terasa jauh lebih ringan.
Sementara itu Abyan sudah berganti dengan pakaian kasual yang terlihat sederhana namun tetap rapi.
Zahra pun selesai berhias. Penampilannya kali ini terlihat lebih simpel namun tetap elegan. Ia melihat ke Abyan yang lagi-lagi menatap dengan ekspresi yang sulit ditebak.
Tak lama mereka keluar dari kamar dan kembali menuju ballroom. Sepanjang jalan, mereka menyapa para tamu dengan ramah.
Suasana pesta terasa semakin hidup. Musik terdengar, beberapa anggota keluarga bahkan mulai menari dengan penuh semangat.
Falisha dan Hanum tampak paling mencolok, menari tanpa rasa malu. Bahkan Farra ikut bergoyang dengan penuh semangat, membuat suasana semakin meriah.
Zahra hanya bisa memperhatikan semua itu dengan perasaan campur aduk. Keluarga ini terasa begitu unik, hangat, tapi juga penuh kejutan.
Namun di tengah keramaian itu pikiran Zahra tetap mengganjal di benaknya. Apalagi kalau bukan tentang Abyan, dan semua hal yang belum ia pahami sepenuhnya.
Setelah akhirnya acara resepsi pun selesai. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Meskipun masih banyak tamu yang bertahan di ballroom, pihak keluarga meminta Abyan dan Zahra untuk kembali ke kamar agar bisa beristirahat.
Zahra sempat melirik ke arah keramaian yang masih berlangsung. Andai saja ia tidak berada dalam situasi seperti ini, mungkin ia sudah ikut bernyanyi atau sekedar bergoyang menikmati suasana.
Ia kemudian mengikuti langkah Abyan yang berjalan lebih dulu, tanpa banyak bicara. Keduanya menuju kamar di hotel lain yang telah disiapkan khusus untuk mereka.
Kamar itu cukup besar dengan dekorasi yang jelas menunjukkan bahwa itu adalah kamar pengantin. Begitu pintu terbuka Abyan langsung masuk lebih dulu. “Yuk masuk, Ay.” ajaknya ke dalam kamar.
Zahra melangkah masuk sambil mengamati sekeliling, lalu menoleh ke arah Abyan dengan raut wajah ragu. “Kita nggak beda alam ya, Mas. Eh maksudnya beda kamar?”
Abyan menatap Zahra sekilas dengan ekspresinya sulit ditebak. “Ay kamu pasti mengerti kondisi kita saat ini, jangan memintaku untuk mengulangi kata-kata lagi. Atau,” ucapnya pelan dengan suara yang terdengar menggantung.
Zahra memilih tidak menanggapi. Ia berbalik dan berjalan ke arah balkon, mencoba mengalihkan pikirannya. Dari sana pemandangan kota terlihat jelas di bawah cahaya malam.
“Ay masuk sudah malam. Nggak baik angin malam begini untuk kesehatan.” suara Abyan terdengar dari dalam kamar.
Zahra akhirnya kembali masuk tanpa banyak protes lalu menutup pintu balkon.
“Mandilah duluan.”
Tanpa menjawab Zahra langsung berjalan menuju kamar mandi, membiarkan suasana di antara mereka tetap menggantung tanpa kejelasan.
...***...
Suara ketukan pintu terdengar cukup keras sejak beberapa saat lalu memecah keheningan kamar mandi.
Di dalam Zahra rupanya tertidur di dalam bathtub. Rasa lelah setelah beberapa hari terakhir membuatnya tanpa sadar terlelap, apalagi dengan air hangat, susu, dan bunga mawar yang menenangkan.
“Ay kamu nggak apa-apa kan. Kamu jangan lama-lama mandinya, nanti masuk angin.” suara Abyan terdengar dari luar, disusul ketukan yang kembali menggema. “Ay kalau kamu nggak jawab, Mas dobrak nih pintu."
Zahra langsung tersentak panik. Ia segera bangkit dan membilas tubuhnya dengan cepat. “Sebentar lagi, Mas.”
Ia bergerak tergesa-gesa, kemudian baru menyadari satu hal yang membuatnya semakin panik, ia lupa membawa pakaian ganti.
Tak punya pilihan lain, Zahra mengenakan handuk kimono yang tersedia, lalu menutupi kepalanya dengan handuk lain sebelum membuka pintu kamar mandi perlahan.
Abyan terlihat duduk di atas ranjang, fokus pada laptopnya.
Zahra berusaha berjalan secepat mungkin tanpa menarik perhatian.
“Baju kamu di atas meja, Ay.” suara Abyan terdengar tenang tanpa menoleh.
Zahra langsung mengambil pakaian itu dan kembali ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian ia keluar dengan pakaian yang sudah rapi, meski rasa lelah masih terasa di seluruh tubuhnya.
“Ay, kamu pakek hijab, kalau nggak ada siapa-siapa?”
Zahra tersentak. Ia tidak menyadari sejak kapan Abyan sudah berdiri begitu dekat dengannya.
“Nggak Mas, kenapa?”
“Terus kenapa di pakek, Ay? Apa ada, Mas?”
Zahra terlihat ragu sejenak sebelum menjawab pelan. “Mmm... iya, Mas.”
Abyan menatap Zahra lebih dalam. “Ay, Mas ini suami kamu, masa kamu lupa lagi? Atau Mas perlu membuka kitab kita menjelaskan bahwa halal bagiku dan halal bagimu untuk melihat satu sama lain. Walau kamu belum mencintai Mas setidaknya kita kan teman halal. Apa yang kamu punya sudah menjadi milik Mas dan sebaliknya.”
Zahra menggeleng kecil. “Tapi nggak bagiku, Mas."
“Kenapa?"
“Kamu masih orang asing bagiku, kita baru bertemu tiga hari yang lalu. Aku belum terbiasa, Mas. Semoga kamu paham.”
Abyan terdiam sesaat lalu melangkah mendekat. “Tapi nggak untuk Mas, Ay.”
Zahra refleks mundur hingga punggungnya menyentuh dinding. Ia memejamkan mata dengan napasnya tertahan saat Abyan semakin dekat.
Perlahan Abyan mengangkat dagu Zahra dengan lembut.
Sreeet...
Ia membuka resleting hijab Zahra dan melepaskannya.
Zahra membuka mata dengan menatap Abyan yang kini berada sangat dekat. Tatapan mereka bertemu dalam diam, hanya suara napas yang terdengar samar.
“Ay, kenapa nggak di keringkan?”
“Apa, Mas?”
“Rambutmu."
“Oh, belum sempat, Mas.”
Abyan kemudian menggenggam tangan Zahra dan membawanya duduk di kursi di depan cermin.
Tanpa banyak bicara, ia mengambil hair dryer dan mulai mengeringkan rambut Zahra dengan hati-hati.
Suasana yang tadinya tegang perlahan berubah menjadi diam yang aneh.
...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...