Sudah jatuh tertimpa tangga plus diludahi, sebuah gambaran kehidupan yang dialaminya, Akibat kecerobohannya, ia terjebak malam panas dengan lelaki yang paling dibencinya di sekolah,
Kehidupan yang tadinya damai berubah drastis menjadi kekacauan baik di sekolah dan keluarganya.
Beruntung ada sang ibu yang selalu menguatkannya melewati masa-masa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sepuluh
Rindu baru menyelesaikan pekerjaan rumahnya, saat hari sudah gelap, lelah tapi menyenangkan, karena memang inilah kegiatan rutinnya.
Perutnya terasa lapar, ia ingat tadi hanya makan sekadarnya sembari berbincang dengan teman-teman sang mama di restoran Jepang.
Rindu memutuskan mandi terlebih dahulu, supaya lebih segar nantinya, begitu memasuki kamarnya, ia merasa ada sesuatu yang berbeda, entah apa, tak mau ambil pusing, ia langsung memasuki kamar mandi.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk menyelesaikan ritual mandinya, ia menutupi tubuhnya dengan selembar handuk saat keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk kecil.
Ia mulai membuka lemari, memilah baju rumahan yang akan dikenakannya, pilihannya jatuh pada daster rumahan berwarna biru bergambar kepala kartun kucing kesukaannya.
Namun alangkah terkejutnya ketika ia menutup pintu lemari ada seseorang lelaki dengan tatapan tajamnya sedang berdiri sembari bersandar di lemari miliknya.
"kaget gue,"ucapnya memegangi handuk di dadanya, "kok Lo disini? kenapa nggak pakai baju?"tanyanya memindai penampilan lelaki yang bertelanjang dada itu.
"Ri, gue numpang mandi ya! sini handuknya,"sahut Milano sembari merebut handuk yang dipegang Wanita itu.
Rindu melongo melihat tingkah lelaki yang seolah sudah terbiasa berada di kamarnya.
Baru saja pintu kamar mandi tertutup, lalu terbuka lagi, Milano hanya menunjukan kepalanya, "Ri, kaos item yang Lo bawa malam itu, masih Lo simpen kan? Tolong siapin dong,"
Rindu jadi teringat kejadian malam itu, saat dirinya menangis dibawah guyuran shower masih mengenakan kaos milik Milano karena dress miliknya robek tak layak pakai.
"udah gue buang,"sahutnya kesal, seenaknya lelaki itu menyuruh dirinya, memangnya apa hubungan mereka.
Milano dengan kepala penuh shampo membuka pintu kembali, "kok dibuang sih Ri? Itu kaos kesayangan gue tau, terus gue mesti pakai apa setelah mandi? masa nggak pakai baju,"
Meski kesal, Rindu terpaksa mengambilkan celana bokser baru milik papanya juga kaos milik Milano yang ia ingat ia taruh disalah satu tumpukan kaos miliknya.
"lama banget sih Ri,"protes Milano yang hanya mengenakan selembar handuk menutupi aset berharganya.
"nih, pake punya papa dulu, tenang aja ini baru kok,"ucap Rindu menyodorkan kaos dan celana bokser tanpa memandang ke arah lelaki itu, ia jengah melihat lelaki itu bertelanjang dada.
"nih ada, makasih ya!" hampir saja dahinya dikecup oleh Milano, untung saja Rindu menghindar.
Meskipun tak suka, Rindu tetap menawarkan makan malam pada tamunya.
Masakan yang dibuat Kartika, masih tersisa sedikit, cukup untuk makan mereka berdua.
"sorry seadanya, gue belum belanja soalnya,"ujarnya sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.
"enak kok, ini Lo yang masak atau nyokap?"tanya Milano yang terlihat lahap memakan makanan rumahan itu.
"Nyokap lah, masa iya gue,"
"kalau iya, fix lo bakal gue nikahi abis lulus,"ucap Milano santai.
"gue nikah sama lo! Sorry Sampai kapanpun ogah,"
"loh, kenapa emang? nggak ada alasan cewek buat nolak gue, gue ganteng, kaya, pinter lagi,"tutur Milano jumawa.
"kalau Lo pinter, harusnya masuk IPA, kalau kaya maaf gue nggak silau harta, kalau ganteng bikin gue makan ati tiap hari, lagian Lo bukan tipe gue,"
Milano yang hendak memasukan makanan ke mulutnya, mendadak mengurungkan niatnya, ia bahkan sedikit membanting sendok yang dipegangnya, "seperti apa tipe cowok yang Lo sukai?"tanyanya dengan tatapan tajam.
"kalem, nggak banyak gaya, pekerja keras dan sayang keluarga,"jawab Rindu jujur, ia mengatakannya sembari membayangkan sang papa.
Milano mengepalkan tangannya, hingga buku jarinya memutih, ia memejamkan matanya untuk meredam amarahnya yang mendadak muncul.
Rindu sadar jika lelaki yang duduk bersebrangan dengannya tengah diselimuti emosi, tapi ia tak peduli, toh ia menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya dengan jujur.
Meski sedang emosi, Milano tetap mengambil alih pekerjaan mencuci piring usai makan malam, sementara Rindu membantu mengeringkannya.
Baru saja selesai mencuci piring, ponsel milik Milano berdering, ia mengangkatnya, "Hem.... Kenapa?"
"......"
"sorry gue ketiduran,"
"......"
"ada di rumah,"
"......"
"nggak usah, Lo bawa aja,"
"......"
"males ah, gue mau tidur lagi,"
"......"
"udah Lo sama Vino aja,"
"......"
"besok sore gue ambil,"
Milano mengakhiri panggilannya begitu saja, ia lalu melangkah menuju wanita yang sedang duduk di sofa.
"Lo kapan balik?"tanya Rindu tanpa melihat lelaki yang duduk disebelahnya, ia sedang fokus membaca novel.
"gue mau nginep,"jawab Milano sambil menyandarkan punggungnya, sementara tangannya ada di Sandaran sofa seolah sedang merangkul wanita disebelahnya.
"gue perhatiin selain banyak gaya Lo juga sok Deket ya, padahal sebelumnya kita sama sekali nggak kenal dan gue rasa Lo juga nggak sadar ada murid namanya Rindu di sekolah, kenapa sekarang seolah kita udah kenal bertahun-tahun? Lo bahkan tidur di kasur gue, mandi di kamar mandi gue, makan bareng gue, dan sekarang mau nginep, Lo ada merasa aneh nggak sih? Apa emang Lo udah terbiasa sama cewek-cewek lain?"tanya Rindu tanpa melihat lelaki disebelahnya.
"sama sekali nggak,"jawab Milano masih bersandar di sandaran sofa.
Rindu menutup novel miliknya lalu memiringkan tubuhnya, menghadap lelaki disebelahnya, "perasaan pertanyaan gue banyak deh, jawabannya singkat bener,"
Lelaki yang mengenakan kaos hitam itu, menatap lawan bicaranya dengan tatapan tajam, "kenapa sih Ri, Lo nggak seneng banget gue disini? Kan gue nggak ganggu, gue nggak ngapa-ngapain, gue cuman mau deket sama Lo, emang nggak boleh? Gue tau, gue pernah buat salah, tapi itu kan nggak sengaja, lagian kita udah pernah berhubungan badan, wajar dong kalau kita deket, bisa aja kita lanjut ke jenjang lebih serius kalau Lo hamil,"
"gue nggak bakal hamil anak Lo, tenang aja, jadi seperti gue bilang sebelumnya, lupain tentang kejadian itu, kita lanjutkan hidup masing-masing, seperti dulu lagi, Lo nggak kenal gue, dan gue hanya sebatas tau kalau Lo itu, cowok yang disukai temen-temen gue, lagian bentar lagi kita lulus, nggak ada alasan lagi buat kita deket,"Rindu mengungkapkan pendapatnya.
Milano menghela nafas, baru kali ini ia ditolak berkali-kali, rasanya kesal sekali, tapi ia mencoba untuk bersabar, "akan selalu ada alasan supaya gue bisa Deket sama Lo, jadi please jangan dorong gue untuk jauh dari Lo, mengenai sekolah, dimanapun nanti kuliah, gue bakal ikut Lo,"
Rasanya lelah sekali menghadapi lelaki kepala batu, "Denger gue Milano, seingat gue cewek-cewek Lo itu cantik luar biasa, apalagi Rachel si ratu kecantikan sekolah, sedangkan gue? Lo liat gue deh, nggak ada bagus-bagusnya, cupu, kuper jelek, gue itu bagai remah-remah diantara cewek-cewek Lo, terus Lo nggak bisa banggain gue dihadapan temen-temen Lo, adanya Lo bakal nyesel kalau pacaran sama gue, percaya deh, satu lagi, gue kalau kentut bau, sebelum terlambat mending Lo enyah jauh-jauh deh,"
Milano memindai wanita dihadapannya, rambut yang di kuncir asal, kaca mata, hidung sedikit mancung, bibir yang menurutnya seksi, dagu yang sedikit terbelah, leher tidak sedang, kulit kuning Langsat, dada sedang sepertinya pas digenggaman tangannya, kesimpulan dari penilaian adalah wanita yang biasa saja, tapi entah mengapa ada daya tarik sendiri yang membuatnya ingin dekat dengan wanita ini.
"gue nggak peduli omongan orang lain termasuk temen-temen gue, yang jalanin hubungan kan gue bukan mereka, gue yang tertarik sama Lo, bisa dibilang rasanya beda dengan yang sebelumnya, nyaman aja, maunya deket Lo terus,"jelasnya.
Rindu menggeleng seolah tak percaya, "nggak jelas, nyaman apaan? Baru dua kali kita ngobrol, udah gitu gue kan ketus, ngomel mulu bawaannya, masa iya elo nyaman, korslet otak Lo kayaknya,"
"Terserah elo percaya apa nggak, yang jelas gue mau kita deket, gini deh, gimana kalau coba seminggu dulu, kalau ternyata Lo nyaman, bisa diperpanjang, seminggu lagi, dan seterusnya, sampai Lo merasa yakin sama gue,"usul Milano.
Rindu terdiam sejenak, ia berfikir menimbang baik buruknya, walau dalam benaknya, masih ada rasa takut karena kejadian malam itu, tapi mengingat betapa keras kepalanya Milano, akhirnya ia mengangguk setuju, tak apa toh cuma seminggu.
"tapi gue minta sembunyikan ini dari temen-temen Lo, termasuk Andini,"pintanya.
"lah bukannya Andini itu sahabat Lo?"tanya Milano heran.
"udah nggak lagi, jangan tanya atau cari tau kenapa gue sama dia udah nggak sahabatan, Lo paham maksud privasi kan?"
Milano mengangguk setuju, saat hendak mendekat dan memeluk pacar barunya, Rindu menahannya, "eits lagi masa percobaan jangan macem-macem,"
"Peluk doang Ri,"
"nggak, jangan aneh-aneh Lo!"
"janji peluk doang nggak yang lain,"pinta lelaki itu memohon.
Malas berdebat, akhirnya Rindu membuka tangannya, dengan senang hati Milano menyambutnya, ia memejamkan matanya sembari menghirup aroma yang disukainya.