Namanya Ara, gadis berpostur mungil yang memiliki fitur wajah bak boneka. Tak hanya menjadi pujaan laki-laki seusianya, pesonanya juga memikat pria dewasa disekelilingnya.
Terutama Farhan, pria sederhana yang agak sombong dengan ketampanannya. Dia tak pernah menyangka bahwa suatu saat akan ada seseorang yang mampu membuatnya bertekuk lutut. Terutama Ara, gadis yang diharapkan dapat menghiburnya dikala bosan, yang bisa ia ajak 'main-main'
Tak seperti Farhan yang awalnya memiliki niat buruk, Dion, pria kaya raya itu menyukai Ara dengan tulus. Wajahnya pun tak kalah tampan dari Farhan. Namun, sikapnya yang dingin kerap membuat orang lain merasa tak nyaman. Selain itu dia sangat posesif terhadap pasangannya.
Siapakah yang akan di pilih Ara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilyFlow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penolakan
"... Setelah ini, pantaulah fesesnya secara berkala. Jika keluar cacing, berikan obatnya dua hari kemudian. Jika tidak ada, berikan setelah 2 bulan kemudian. Jangan lupa perhatikan kebersihan lingkungan dan makanannya juga."
Farhan mengangguk mengerti. "Baik, Dokter."
"Terimakasih, Dokter Willie," kata Ara sambil menggerakkan cakar Bleki ke arah dokter muda itu. Kucing itu mengeong dengan suara lembut. Seolah sedang menirukannya, yang membuat semua orang diruangan itu tertawa.
Dengan senyum di wajahnya, dokter Willie mengelus kepalanya "Sama-sama, Bleki."
Matahari sudah terbenam saat Farhan dan Ara keluar dari klinik hewan itu. Keduanya berjalan beriringan ketika terdengar suara khas dari cacing yang menjerit kelaparan.
Farhan menghentikan langkah dan menatap gadis di sebelahnya. "Maaf, aku membuatmu kelaparan."
Ara menggoyangkan tangannya dengan cepat. "Tidak. Bukan aku, aku tidak lapar."
Sialnya, perutnya kembali berbunyi begitu dia selesai bicara. Ara dipenuhi rasa malu yang membuatnya ingin menggali lubang dan mengubur dirinya ke dalam tanah.
"Ah, rupanya cacing di perutku yang kelaparan." Farhan meraih tangannya dan kembali melanjutkan perjalanan. "Ayo cari makan," ajaknya.
Ara mengangkat wajah dan menatap punggungnya yang lebar. Kemudian beralih ke tangannya yang menggenggam tangannya. Telapak tangannya agak kasar, tapi sama sekali tidak membuatnya tidak nyaman. Ara justru menyukainya karena terasa hangat. Diam-diam bibir cerinya merekah.
"Apa yang ingin kamu makan?" tanya Farhan.
"Apa saja, aku tidak pilih-pilih makanan."
Farhan menoleh untuk menatapnya. "Bagaimana kalau makanan laut? Apa tidak apa-apa?"
Ara mengangguk setuju. "Tentu. Aku suka ikan."
"Oke."
Farhan membawanya ke warung seafood pinggir jalan langganannya. Mereka memesan ikan bakar, udang dan cumi goreng tepung saus padang, serta dua porsi cah kangkung.
"Aku tidak menyangka makanannya akan seenak ini." Ara menunjuk ikan bakar di hadapannya. "Terutama yang ini, dagingnya lembut dan manis. Tidak amis sama sekali. Dari beberapa restoran yang pernah aku kunjungi, di sini yang paling enak," imbuhnya.
Farhan tersenyum menatapnya. Setelah menelan makanan di mulutnya, dia berkata, "Akan lebih enak lagi jika kamu memakannya menggunakan tangan langsung."
"Benarkah?"
"Coba saja," Farhan menyarankan. Dia memperhatikan gadis itu meletakkan sendok dan garpunya. Kemudian mencubit daging ikan dengan jari-jarinya yang lentik. Dia mencocolkan ke sambal sebelum memasukan ke dalam mulutnya yang kecil.
"Bagaimana?" tanya Farhan kemudian.
Ara tersenyum. "Kak Farhan benar."
Ara memisahkan udang dari kulitnya dengan cekatan. Kemudian menyodorkannya ke Farhan. "Udangnya juga enak—cobalah."
Farhan menatap tangannya yang tergantung di udara. Kemudian mencondongkan tubuh dan mengambil udang itu dengan mulutnya.
Ara terkejut Farhan menerima pemberiannya dengan cara seperti itu. Dia tidak bermaksud menyuapinya. Ketika lidahnya menyapu ujung jarinya, tubuhnya membeku seolah tersengat listrik. Gadis itu buru-buru menarik tangannya setelahnya.
"Lembut sekali," ucap Farhan seraya menatap bibir gadis itu, yang tampak begitu menggoda.
Kedua pipinya merona saat Ara menunduk dan kembali menatap makanannya. Keduanya melanjutkan makan dalam diam.
"Tunggu sebentar," seru Ara ketika mereka hendak pulang.
Farhan mengerutkan kening, melihat gadis itu berjalan menjauh dan menyebrangi jalan. Apa yang dilihatnya kemudian membuat hatinya bergetar.
Tatapannya tak pernah lepas dari gadis itu, yang sedang membantu seorang tunadaksa menyebrang jalan. Tidak peduli pakaiannya mungkin akan mengotori bajunya, dia menggendongnya seolah anak itu masih bayi. Butir-butir keringat membasahi dahinya ketika mereka sampai di tepi jalan seberangnya.
Sebelumnya Farhan tidak percaya bahwa ada malaikat di dunia ini. Kini dia menemukan satu. Ara, si malaikat tak bersayap itu begitu menawan dan juga baik hati. Farhan begitu mengaguminya hingga jantungnya berdegup kencang.
"Terimakasih, Kakak cantik," kata Anak itu setelah Ara menurunkannya ke tanah.
"Sama-sama," Ara menjawab sambil mengelus kepalanya. "Dimana ibumu?"
"Ibuku sedang keliling, nyari kardus sama botol bekas."
"Kamu sudah makan?"
Anak itu menganggukkan kepala.
"Dimana kamu tinggal?" Ara kembali bertanya.
Anak itu menunjuk gang kecil di belakangnya. "Di dalam sana."
Ara menatap gang kumuh itu sebentar, sebelum merogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Kemudian memberikannya kepada anak itu. "Belilah apapun yang kamu mau, secukupnya, sisanya berikan pada ibu, oke?"
Anak itu tersenyum dan mengangguk. "Baik, Kakak."
Anak itu kemudian pergi setelah melambaikan tangan. Ara masih menatap ke arah anak itu pergi saat sesuatu yang lembut menyentuh dahinya. Ketika mendongak, dia melihat wajah tampan Farhan.
"Terimakasih," ucapnya begitu Farhan selesai mengelap keringatnya.
"Kita pulang sekarang?" tanya Farhan sambil memasukkan tisu bekas ke dalam saku celana. Pria itu tidak terbiasa membuang sampah sembarangan.
Ara mengangguk. "Ya."
Keduanya naik ke motor setelah mengenakan pelindung kepala. Detik berikutnya, kuda besi itu meluncur dengan kecepatan rendah. Mereka tiba di rumah Ara satu jam kemudian.
Ara segera melepas helm dan menyerahkannya ke Farhan begitu turun.
"Boleh minta nomor rekening Kak Farhan?"
Farhan mengerutkan kening. "Untuk apa?"
"Aku tidak pegang uang tunai. Jadi, aku ingin mentransfernya untuk membayar makananku tadi."
Farhan menatap wajahnya lekat-lekat. Kemudian memanggilnya dengan lembut. "Ara...."
Ara membalas tatapannya dan menjawab dengan lirih. "Ya."
"Aku mungkin tidak kaya, tapi aku masih mampu membelikan makanan seorang pacar."
"Tapi aku bukan pacar Kak Farhan."
"Kalau begitu, jadilah pacarku."
Ara tertegun, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Netranya bergerak ke kanan dan ke kiri, mengamati wajahnya yang tampan. Kemudian berhenti di kedua manik matanya yang hitam pekat.
Belum pulih dari keterkejutannya, Ara kembali terkesiap saat Farhan tiba-tiba meraih kedua telapak tangannya dan menggenggamnya erat-erat.
"Aku menyukaimu, Ara. Maukah kau menjadi pacarku?"
Baru berselang beberapa hari, dan seseorang kembali mengungkapkan perasaan padanya dan menginginkan dia agar menjadi pacarnya. Apakah dia menjadi lebih cantik akhir-akhir ini?
Perlahan, Ara menarik tangannya dari genggamannya. "Maaf, aku tidak bisa."
Kini giliran Farhan yang terkejut. Setelah menjalani hidup lebih dari seperempat abad, dia wanita pertama dan satu-satunya yang berani menolaknya. Entah, mungkin karena tidak terbiasa, Farhan merasa sedikit terhina dengan penolakan itu.
"Kenapa? Apakah karena aku miskin?"
"Apakah aku terlihat seperti itu dimata Kak Farhan?" Sejujurnya Ara tidak senang dengan perkataannya. Jika dia seseorang yang mempedulikan atau memandang orang lain berdasarkan strata sosialnya, dia tidak akan mau repot-repot membantunya.
"Sampai detik ini, aku bahkan tidak tahu seperti apa latar belakang Kak Farhan. Kaya atau miskin, aku tidak peduli."
Kata-katanya menusuk hati Farhan. Wajahnya begitu merah seolah telah di tampar berkali-kali. Dia begitu malu hingga tidak berani mengangkat wajahnya. Farhan terdiam untuk waktu yang lama.
"Aku masuk dulu, jika tidak ada hal lain." Setelah mengatakan itu, Ara berbalik dan melangkah pergi. Namun, Farhan menghentikannya dengan meraih tangannya.
"Tunggu," serunya.
Ara kembali menghadapnya tanpa mengatakan apa-apa.
"Maaf, aku salah." Untuk pertama kalinya dalam sejarah, satu kata itu keluar dari mulut Farhan. Sebelumnya, pria itu bahkan tidak pernah mau mengakui kesalahannya, apalagi meminta maaf. Teman-temannya akan mengira dunia berakhir jika mereka tahu.
Farhan memberanikan diri menatap wajahnya lagi. "Maafkan aku, Ara," pintanya.
Ara sedikit pemarah, tapi dia juga tipe orang yang mudah dibujuk. "Jangan diulangi lagi, Aku tidak suka."
Farhan mengangguk. "Tentu. Aku tidak akan melakukannya lagi," janjinya.
"Aku akan masuk sekarang."
Farhan mengangguk. Dia menatap kepergiannya hingga gadis itu menghilang di balik pintu. Setelah itu dia berbalik dan kembali menunggangi motornya. Dia tiba di kediaman temannya tiga puluh menit kemudian.
"Wah, sejak kapan kau menjadi begitu dermawan?" Bimo memandang tas astronot di tangan Farhan dengan takjub. Di dalamnya, Bleki sedang tertidur pulas.
"Apa kau baru saja memenangkan lotere?" imbuhnya seraya menoleh ke arah Farhan.
"Bagaimana kamu bisa tahu? Apa kau peramal?" jawab Farhan dengan nada dan ekspresi seolah terkejut. Dia meletakkan nota pembayaran di telapak tangannya.
"Apa ini?" Bimo membuka kertas yang dilipat kecil itu.
"Kau benar-benar membawanya ke dokter?" tanyanya tak percaya.
"Kau pikir aku sama seperti dirimu?" Farhan memandangnya dengan tatapan mengejek. "Aku tidak pernah berbohong."
"Baiklah, terimakasih atas kepedulianmu, Orang Jujur. Kau bahkan membelikannya tas baru."
"Tidak. Itu milik orang lain—aku akan mengembalikannya nanti."
"Jadi, kau meminjam pada orang lain? bukan secara khusus membeli untuknya?"
"Mengapa aku harus?" Farhan menatap Bleki yang masih terlelap. "Dia bukan kucingku."
Bimo menyesal telah memujinya. Dia menatap pria di sebelahnya, yang memperlakukan rumahnya seolah rumahnya sendiri. Kemudian mengingatkannya, "Kau tidak pulang ke rumah dulu? Ibumu akan menghawatirkanmu."
Farhan, yang sedang berbaring di sofa menegakkan tubuh. Kemudian menoleh ke Bimo dengan wajah serius. "Apakah aku terlihat tua?"
Bimo menatapnya dengan alis terangkat. Ada apa dengannya? semakin hari tingkahnya semakin aneh saja.
Melihatnya diam saja, Farhan kembali bertanya dengan suara keras, tepat di telinganya. "Kau dengar apa yang kukatakan?"
Bimo menutup telinga seraya menjauh. Dia berkata dengan kesal. "Aku tidak tuli."
"Ah, kau mendengarnya?" kata Farhan dengan senyum jahat. "Lalu, bagaimana dengan jawabannya?"
"Tentu saja kau terlihat tua. Apa kau tidak punya cermin di rumah?" Bimo mencemoohnya, "Kau pikir dirimu masih seperti bayi?"
"Tapi aku masih tampan kan?"
"Tidak peduli seberapa tampannya dirimu, tetap saja kau sudah tua, Han," Timpal Hendra dengan malas. Dia mengangkat gelas kopinya, lalu menyeruput isinya yang tinggal sedikit.
"Mungkinkah dia menolakku karena aku jauh lebih tua darinya?" gumam Farhan.
Telinga Sandi berdiri tegak. Dia bangun dari lantai dan bergegas menghampirinya. "Apa? Kau baru saja ditolak?"
Farhan kesal melihat senyum serta binar di matanya. "Kau tampak sangat gembira?"
"Tentu saja," jawab Sandi, terus terang.
"Akhirnya kau mengalami apa yang kami alami juga, Han," kata Hendra dengan tawa kecil. "Aku benar-benar tidak menyangka hari seperti ini akan tiba," imbuhnya.
Diantara keempat pria itu, Sandi yang paling banyak dan sering ditolak. Sementara Farhan menjadi satu-satunya yang belum pernah ditolak.
Sekarang pria tampan itu juga mengalaminya, Ketiga temannya tidak sabar untuk merayakannya.
"Haruskah aku membeli kue sekarang?" Bimo menyeringai.
"Ide bagus," Sandi mengangguk setuju. "Jangan lupa beli lilinnya juga."
Bimo menunduk, menatap asbak dan mengetukkan rokok di jarinya di sana. "Farhan, pria paling tampan yang diidamkan dan digilai oleh banyak wanita, kini justru ditolak. Ah, betapa menggemparkannya jika kabar itu tersiar."
"Katakan padaku, wanita mana yang berani menolakmu, Han?" tanya Hendra.
Bimo dan Sandi menajamkan telinga. Keduanya sangat penasaran, siapa dan seperti apa wanita yang berani menolak pria sempurna seperti Farhan.
"Kau ingat gadis yang pernah kau lihat di ponselku?" tanyanya seraya mengembuskan asap di mulutnya. "Itu dia."
"Gadis?" Hendra mengulangnya sambil menggali memori di kepalanya.
"Jadi, kau baru saja ditolak oleh anak SMA?" Berbeda dengan Hendra, Sandi memiliki ingatan yang kuat.
"Gadis itu benar-benar sesuatu."
"Sekarang kau berubah pikiran, Han?" tanya Bimo. "Kau pernah bilang tidak tertarik dengan dengan anak SMA."
Farhan tidak menjawab. Sudut mulutnya melengkung saat pikirannya berkelana, mengenang kembali kebersamaannya dengan Ara.
Cara gadis itu memperlakukan orang lain, dan bagaimana dia bertindak, sopan santunnya membuatnya kagum.
Farhan menyukai seseorang yang sama seperti dirinya. Dia tidak suka bertele-tele. Ketika gadis itu menyatakan ketidaksukaannya secara langsung, dia semakin menyukainya.
Ketiga temannya saling memandang dengan bingung. Dalam hati mereka meneriakkan pertanyaan yang sama. Apa dia gila?
Farhan mengambil sebatang rokok yang tergeletak di meja. Kemudian menyalakan korek api untuk menyalakan ujungnya. "Besok, siapa saja yang ikut main?" tanyanya, mengganti topik pembicaraan.
"Seperti biasa. Galih, Dendi, dan kita semua," sahut Bimo.
"Andri nggak ikut?"
Bimo mengangkat bahu. "Entahlah. Anak itu semakin susah dihubungi,"
"Apa sih yang dia lakukan? Kerja juga enggak," ucap Sandi.
"Sembarangan kalau ngomong! Sekarang dia kerja tahu," seru Hendra.
"Benarkah?" tanya Sandi, tak percaya "Kerja apaan?"
"Jadi kang ojek buat pacarnya," Balas Hendra dengan tawa. Dikuti oleh temannya yang lain kecuali Farhan. Pria tampan itu mengembuskan asap rokok dengan lesu.
"Aku tidak mengerti, apa sih yang membuatnya betah diperlakukan seperti budak?"
"Apalagi? Tentu saja karena pacarnya cantik," balas Sandi.
"Seperti itu dibilang cantik?" Farhan mencemooh. "Apakah kau buta?"
Wanita itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Ara, gadis kecilnya.
skrng lg fokus pngn namatin novel yg satunya dulu jd ini jarang update
tp lg berusaha biar update dua2nya