Kejutan ulang tahun ke tujuh belas tahun dari teman sekelas Zifa, mampu memberi Kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Namun kebahagiaan itu dirampas paksa ketika ia baru sampai di depan rumahnya. Bendera kuning memberi tahu bawa sang pemilik rumah tengah berduka. Tubuh kaku yang sangat ia kenal menyapa ketika Zifa baru sampai diambang pintu.
Ibu, orang tua satu-satunya telah berpulang. Keganjalan satu per satu Zifa rasakan ketika memandikan jenasah ibunya. Sehingga ia menduga ibunya meninggal bukan karena serangan jantung seperti tetangganya katakan. Namun, Zifa tidak bisa serta merta menuduh, terlebih minimnya informasi kejadian menjadi kendalanya. Zara sang kaka yang tengah hamil karena korban pelecehan seksual oleh orang mistetius menambah masalah bagi Zifa.
Mampukah Zifa menjalani kehidupan yang berat ini? Serta mampukah ia mencari keadilan bagi kakak dan almarhum ibunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocybasoaci, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Itu Banyak Warna
Zifa terkejut dengan apa yang Kemal katakan, uang dua miliar itu bukan uang yang sedikit dan Kemal dengan santai'nya mengatakan bahwa ia akan meminjamkan uang dengan nilai dua miliar itu. Lalu ia akan membayar uang itu dari mana? Seperti itu kira-kira isi kepala Zifa ketika mendengar ucapan Kemal.
"Kemal kamu sedang tidak bercanda kan? Uang dua miliar itu tidak sedikit, bagai mana caranya aku nanti mengembalikannya pada kamu? Bahkan aku menjual diri pun sepertinya tidak akan bisa melunasi utang-utang aku itu, dan aku akan meninggal meninggalkan hutang-hutang itu. Hisab'nya terlalu besar kalo meninggal meninggalkan hutan," ujar Zifa, secara tidak langsung ia menolak bantuan dari Kemal itu.
"Ok, kalo kamu tidak mau aku menghutangkan uang itu, maka izinkan aku memberi secara cuma-cuma pada kamu," ucap Kemal laki-laki itu masih terus berusaha, agar Zifa tidak menolak bantuannya. Yah, Kemal tahu betul bahwa di tahap ini lah ia akan benar-benar menemukan kesulitan yang teramat. Di mana ia harus membujuk Zifa agar mau menerima bantuannya, sedangkan orang seperti keluarga Zifa tidak akan mau menerima bantuan itu secara cuma-cuma.
Zifa nampak diam berfikir dengan apa yang Kemal katakan.
"Kamu jangan kebanyakan berfikir soal uang itu, dan kamu cobalah berfikir akan masa depan kalian, terutama kakak kamu Zifa, dia sangat membutuhkan uang itu, setidaknya dia menjalani terapi agar belajar mengolah emosi agar ia bisa membedakan mana dunia imajinasi dia dan mana yang menjadi dunia kenyataannya. Kalo dia tidak ada terapi malah dia akan dianggap orang dengan gangguan kejiwaan dan lainnya, padahal yang ia butuhkan adalah orang yang tepat yang bisa membimbing dia menemukan jati dirinya. Semuanya belum terlambat maka mari berjuang bersama-sama. Jangan pikirkan uang itu. Percaya kalo pun kamu tidak bisa membayar uang itu aku ikhlas membantu kamu. Aku sangat prihatin dengan kondisi keluarga kamu Zifa. Kamu butuh keadilan dan jangan biarkan keadilan bisa di beli dengan materi. Kamu harus bisa buktikan bahwa keadilan memang milik seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan pancasila tepatnya sila ke lima." Kemal masih terus memberikan pandangannya terhadap apa yang menimpa dengan keluarga Zifa, dan itu sebabnya ia mau membantu Zifa dengan uang yang bisa di bilang tidak sedikit itu.
"Alasan kamu membantu aku hanya ini, tidak ada hal lain kan?" tanya Zifa memastikan, ia takut kalo nanti bantuan Kemal justru memberatkan dirinya. Zifa pun setuju, dan membenarkan apa yang Kemal katakan. Sehingga ia akan memutuskan untuk menerima uang bantuan dari Kemal itu.
"Maksud kamu apa? Yah, tentu tujuan aku karena aku kasihan dengan nasib kamu dan kakak kamu, aku tidak bisa membayangkan andai aku berada di posisi kamu, dengan kondisi tidak punya apa-apa aku bernasib seperti kamu, dan tidak ada yang membantu pasti akan terasa dunia ini gelap gulita. Maka dari itu aku kekeh ingin bantu kamu agar kamu bisa melihat bahwa dunia itu memiliki warna yang indah bukan hanya gelap dan putih saja," jelas Kemal agar Zifa tidak berpikiran yang tidak-tidak. Meskipun Kemal tahu bahwa Zifa suatu saat akan tahu bahwa bantuannya itu semata-mata juga karena atas dasar merasa bersalah, yang mana sebagian besar apa yang menimpa pada hidupnya adalah hasil dari perbuatan keluarganya. Meskipun Kemal sampai saat ini masih belum bisa memastikan apa yang terjadi dengan keluarganya.
"Baiklah aku akan ambil bantuan dari kamu, dan aku tetap akan mencoba memasukan uang dua miliar itu kedalam daftar hutangku. Aku pasti akan mencoba mengumpulkan pundi-pundi rupiah, hingga uangku sebanyak itu. Namun apabila aku tidak bisa membayar uang itu tolong jangan kamu tagih nanti di akhirat yah." ucap Zifa ini bukan candaan semata, tetapi ini memang hal yang serius Zifa takut nanti dia akan ditagih diakhirat, karena uang yang ia katakan hutang itu. Sebab apabila ia tidak memasukanya ke daftar hutang terlalu banyak uang itu kasihan Kemal, mungkin saja uang itu adalah hasil tabungan dia selama ini dan ia akan gunakan untuk kebutuhan yang sudah ia inginkan sejak dulu.
"Hahah... Mey, aku tidak setega itu. Aku malah akan dengan senang hati apabila kamu mau menerima uang itu dengan cuma-cuma sehingga kamu tidak akan memikirkan hutang pada diriku," balas Kemal dengan serius.
"Tidak lah kasihan kamu pasti mengumpulkan uang itu tidak mudah," ujar Zifa, pandanganya menatap tubuh kakaknya. Ada secercaH harapan pada hati Zifa di mana mungkin saja kakaknya akan ingat kejadian yang menimpa ibunya sampai meninggal dunia, dan juga kejadian yang menimpa pada dirinya kenapa kakaknya bisa hamil dan siapa laki-laki yang menghamilinya. Itu lah dua PR besar yang harus Zifa pecahkan, dan semua kuncinya ada pada kakaknya. Oleh sebab itu ia harus benar-benar melindungi kakaknya, agar tidak ada yang mengendus kakaknya berada, ditakutkan masih ada orang yang mengincar Zara dan juga Zifa.
"Baiklah terserah kamu saja Fa, yang penting kamu jaga diri yang jangan terlalu gegabah. Aku tidak bisa membantu banyak nantinya sehingga kamu harus bisa memastikan bahwa kamu bisa melindungi diri kamu sendiri. Besok aku malam-malam akan datang lagi kerumah ini, dan kamu pastikan sudah mengepak barang yang penting yang akan kamu bawa. Lebih cepat kamu pindah dari rumah ini itu tandanya kamu lebih baik dan aman," ucap Kemal.
"Aku akan melakukan apa yang kamu katakan, sampai kita bertemu lagi, aku janji akan menjaga diriku sendiri dan tidak gegabah dalam mencari bukti-bukti semua yang menimpa kakak dan ibuku," jawab Zifa dengan seulas senyum teduh'nya, dan mungkin saja ini adalah senyum pertama kali dari kematian ibunya, entah sadar atau tidak Zifa memberikan senyum itu. Kemal pun membalas senyum Zifa dengan senyum kelegaan, setidaknya Zifa tidak keras kepala dan mau mendengarkan usulan nya.
promonya lebih gencar lg dong biar banyak y like
semangat
biar ZIFA sama gavan saja jangan di pisahkan lah Thor
bertahun² bukti 1 pun kau tidak dapatkan kalau bukan Lyra yang bertindak kalau kau mau ceroboh