NOVEL Ke.8 berjudul: SUGENG RAWUH
Bukan inginku untuk menjadi berbeda dan Serena adalah temanku dari alam yang berbeda. Teman dengan palung rahasia yang mendorongku ke dalam kegelapan nan pekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGHUNI LAIN DI SALON
"Serena, aku sangat senang," ucap Karin.
"Selamat! mimpimu akan segera terlaksana!"
"Apa tadi, kamu juga di sana?"
"Iya, aku selalu ikut ke mana pun kamu pergi."
Karin tak henti-hentinya menyunggingkan senyum seraya meraih ponsel dan lekas mengabarkan kabar bahagia ini kepada sahabatnya, Nanda dan juga Agam. Keduanya turut merasa senang seraya lekas mengucapkan selamat.
"Kalau gitu, bakal ada traktiran nih kayaknya," celetuk Agam di saat ketiganya melakukan video call bersama.
"Wah, bener tuh, kapan?" sahut Nanda.
"Iya-iya, kapan deh kalian bisanya? malam ini juga boleh."
Mendengar jawaban Karin membuat kedua temannya bersorak senang.
...🍁🍁🍁...
Kursus Karin berlangsung lama sebab, ia hanya bisa mengikuti kursus di hari minggu saja. Meski demikian, Karin tetap senang dan semangat menjalaninya. Hari berlalu dan terus berlalu hingga tanpa terasa, telah tiba di hari kelulusan SMAnya. Tawa dan senyum bahagia kedua orang tuanya melengkapi kebahagiaan gadis yang sebentar lagi akan menjadi mahasiswi. Selama ini, orang tuanya tahu kalau Karin mengikuti kursus Hair stylist. Tidak ada masalah hingga saat Karin memasuki bangku perkuliahan. Ibunya khawatir kalau fokus Karin akan terpecah sebab, aktivitas kuliah lebih sibuk dibandingkan masa sekolah. Ibunya khawatir kalau hal ini akan membuat kegagalan dalam akademiknya.
"Tidak akan bu, Karin yakin kalau Karin bisa menghandle semuanya," ucap Karin menenangkan.
"Tapi kan sekarang kamu sudah tidak kursus lagi melainkan sudah bekerja di salon "CANTIK". Waktu dan tenagamu akan terkuras habis. Mungkin, satu bulan pertama akan baik-baik saja tapi selanjutnya?"
"Ibu percaya ya sama Karin! gini deh, Karin jalani dulu saja, kalau memang dirasa berat, Karin akan berhenti."
"Janji ya jangan memaksakan diri!"
"Iya bu, Karin janji!"
Begitulah rutinitas harian Karin selanjutnya. Kuliah di pagi hingga sore hari. Selepas maghrib kerja di salon hingga pukul sembilan malam. Dengan catatan, sudah tidak ada customer lagi. Jika masih ada customer maka, Karin wajib menyelesaikannya dulu sampai entah jam berapa selesainya. Meski terkesan melelahkan tapi Karin sungguh menikmatinya. Tentu karena hal ini adalah bidang yang ia sukai. Sehingga semua kepenatan seolah mampu tertahankan.
...🍁🍁🍁...
Suatu malam, ketika Karin usai memarkir motornya. Karin melihat dua sosok hitam gemuk berdiri di sisi kanan dan di sisi kiri pintu salon. Masing-masing membawa palu besar yang dipanggul di pundak. Karin terhenyak untuk sesaat. Dia mematung pada posisinya sembari menahan rasa takut. Sementara para customer, berjalan keluar masuk seolah tak melihat keberadaan kedua sosok itu di depan pintu.
Dalam keraguan, Karin memutuskan untuk mencoba berjalan masuk. Dengan segala keberanian yang tersisa, Karin melangkah. Ia menutup matanya rapat-rapat sembari berlari ketika jaraknya dengan kedua sosok itu semakin dekat. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang hingga membuat bu Mirna dan mbak Santi yang juga merupakan pegawai di salon "CANTIK" menjadi kebingungan.
"Kamu kenapa Rin?" tanya bu Mirna.
"Saya.. saya.."
Karin menahan diri untuk tidak mengatakan yang sebenarnya mengingat kondisi salon sedang ramai pelanggan.
"Kamu kenapa?" tanya bu Mirna sekali lagi.
"Saya kurang enak badan bu. Jalan dari parkiran ke sini saja rasanya ngos-ngosan."
"Kalau sakit, kenapa tidak izin ke dokter saja?"
"Tidak apa-apa kok bu, saya ke atas sebentar saja ya mau minum obat dulu! setelah itu, saya akan lanjut bekerja."
"Yakin kamu bisa?"
"Bisa kok bu."
"Ya sudah kalau begitu."
"Iya bu terima kasih."
...🍁🍁🍁...
Karin menyandarkan tubuhnya di sofa panjang di lantai dua. Otaknya kembali mengingat wujud kedua sosok gemuk besar di depan tadi sembari berusaha keras menormalkan kondisinya kembali. Baginya, sosok penunggu salon sungguh menyeramkan. Memang bukanlah rahasia jika di setiap tempat pasti memiliki penghuni lain yang tak kasat mata. Namun, sosok yang baru saja Karin lihat, cukup membuat nyalinya menciut takut.
"Kok bisa seseram itu sih? apa ndoro tidak pernah melihat sosok itu ya saat membeli dan membangun salon ini?"
...🍁🍁🍁...
Ketika Karin telah merasa lebih baik. Tiba-tiba ada sosok makhluk lain yang melongokkan kepalanya mendekat ke wajah Karin membuat gadis itu berteriak seketika seraya beringsut mundur. Karin terjingkat lalu berlari ke sisi yang lainnya. Sosok itu memiliki mata yang memerah tajam membuat kaki Karin terasa gemetar. Hendak berlari turun, rasanya lemas. Anehnya, sosok itu tiba-tiba menghilang setelah sebelumnya melayang mendekat ke arah Karin. Karin yang masih bingung merasa lega.
"Kamu baik-baik saja Karin?" tanya Serena yang entah sejak kapan ada di belakangnya.
"Kamu.."
"Kamu baik-baik saja?"
"Kamu lihat makhluk tadi?"
"Iya."
"Dia menyeramkan, rasanya seperti mau memakanku."
"Jangan takut! sekarang, dia sudah tahu, siapa majikan dan siapa bawahan."
Karin memicing sembari mengangkat sebelah alis.
"Maksud kamu apa Serena?"
"Bukan apa-apa."
"Duo makhluk di depan tadi.."
"Iya, mereka juga sudah tahu."
"Maksudmu?"
"Mereka penjaga di sini yang memang ditugaskan oleh ndoro Retno."
"Hah? mereka?"
"Mereka tidak akan mengganggumu. Mereka tahu posisimu."
"Tapi untuk apa?"
"Bukankah itu hal yang wajar? Karin, kamu mau tetap di sini atau bergegas bekerja?"
"Bekerja, tentu saja bekerja," jawab Karin seraya lekas bangkit dari duduknya lalu berjalan turun ke bawah.
...🍁🍁🍁...
Di sela-sela bekerja, sesekali Karin mengintip dari balik jendela. Memeriksa, apakah dua sosok makhluk di depan masih ada. Ternyata, mereka tetap berdiri di sana. Meski takut tapi Karin berusaha mengabaikan. Ketika pulang, ia bergegas keluar bersama bu Mirna dan mbak Santi. Tidak ingin berjalan seorang diri ke parkiran. Mungkin, dia akan terbiasa setelah beberapa hari berselang tapi khusus hari ini, ia masih belum bisa.
...🍁 Bersambung.. 🍁...
Thanks thor 😘🙏😍