Kerap kali persahabatkan akan menumbuhkan ras cinta, terlebih jika persahabatan antara laki - laki dan perempuan.
Seperti yang aku alami, aku dan Arjuna sudah bersahabat sejak lama tepatnya sejak SMP. Usiaku memang lebih muda dua tahun darinya. Tapi karena keenceran otakku aku bisa tinggat dengannya.
Dan ini kisahku dengan sahabatku Arjuna, yang terpaksa menikah karena suatu alasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri sulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat, Istri atau Adik.!
Sebenarnya ada debaran aneh dalam hatiku saat berada terlalu dekat dengannya. Ketika mata hazelnya menatapku, begitupun saat bibir merahnya tersenyum padaku. Tanpa ku sadari ada yang aneh didalam sini. Hati.
Ah, ini bukan cinta.!
Bukan Cinta.!
Tapi, perasaan ini bukan hanya sekedar rasa sayang pada sahabat seperti dulu. Melainkan perasaan yang sama seperti yang kurasakan pada Bima. Ahh, tidak sama ini bahkan lebih kuat.
Lantas, kalau bukan cinta apalagi namanya.!
Minggu pagi yang cerah, aku dan Arjuna ditugaskan pergi kesupermarket berbelanja bahan kue. Katanya mama mau buat kue untuk oleh - oleh omanya Arjuna.
Setelah turun dari mobil, aku mengekori Arjuna yang berjalan terlebih dahulu masuk kegedung yang ramai dan dingin ini.
Hufft, rasanya iri melihat pasangan laki - laki dan perempuan yang berjalan dengan bergandeng tangan, saling rangkul mesrah. Sementara aku, persis seperti asisten yang mengikuti majikannya berbelanja. Lah emang iya kan.?
Aku mengambil sebuah troli. Lalu berjalan menyusuri rak demi rak sambil melihat secarik kertas catatan dari mama yang sedang aku pegang. Mengambil barang - barang yang tertera dicatatan itu.
" Eh, Jun " sapa seorang laki - laki jangkung pada Juna yang berjalan didepanku. Otomatis aku berhenti dan menyaksikan dua pria itu saling tegur sapa, bertanya kabar. Dalam hati bertanya siapa dia aku tak mengenalnya padahal sebagian besar temannya Juna, temanku juga. Rata - rata teman kita sama.
" Sorry banget kemarin gak sempat datang diacara Loe.!" Kata lelaki yang dipanggil Wa itu.
" Oke santai aja Wa.!"
" Eh, sama siapa.?"
" Oo, Adek sepupu Gw."
Damn!
"Adek sepupu " batinku dalam hati.
Dia pun tersenyum menyapa ku dengan mengangukan kepalanya.
Tak lama berbincang leleki itu pamit berlalu pergi begitu saja.
Aku membeku, dada terasa seperti ditusuk duri tanpa ampun, perih. Memang benar tak ada artinya pernikahan ini baginya.
Dia hanya menganggapku sebagai saudaranya, adik sepupunya. Haah, dari sahabat mendadak nikah dan sekarang hanya dianggap adek sepupu. Sudahlah.
Sebegitu tak pantaskah aku menjadi istrinya.
Walau bagaimana pun tak bisakah dia melihat pengorbanan ku. Meski terasa berat aku sudah belajar mengalah dan menerima. Karena aku tahu pernikahan adalah proses belajar seumur hidup.
Apakah tanpa aku sadari cinta mulai datang dan saat ini menuntut kepastian serta pengakuan. Saat tadi dia mengatakan pada orang lain bahwa aku hanya adik sepupunya, ada sakit tak berdarah didalam hati. Rasanya hatiku sesak dihati dengan mata yang mulai panaa. Aku terpejam sejenak. Yaa Allah rasanya sangat sakit.
" Kenapa.?" tanya Arjuna saat menoleh kebelakang.
" Haah, gak apa - apa!"
Aku mendorong troli mendahuluinya, sambil mrnghapus air mata dipipi. Bersikap seolah semua baik - baik saja.
Benarkah aku telah jatuh cinta padanya? Salahkah perasaan ini jika benar adanya?
Sejak kejadian itu aku mendadak malas bersuara pada Arjuna. Aku hanya mengambil barang - barang yang tertera dicatatan itu.
Biarlah aku belajar untuk tak perduli lagi padanya. Mungkin sudah cukup waktu yang ku korbankan untuknya.
Ketika perjalanan pulang pun, aku hanya diam. Menyandarkan kepalaku, memandang keluar jendela menikmati hiruk pikuk jalanan yang ramai akan kendaraan yang lumayan padat siang itu.
" Tidur Han?" tanya Arjuna yang aku tahu sebenarnya sejak tadi dia melirikku beberapa kali.
" Hm." jawabku tanpa menoleh padanya.
" Kita mampir makan ditempat biasa yaaa Han.?"
" Nggak, aku mau pulang.! Kalau kamu mau mampir silahkan. Aku bisa pulang naik taksi.!" jawabku ketus masih enggan menolah padanya.
Tak ada sahutan darinya, mungkin dia tahu suasana hatiku sedang tidak baik. Ah, sudahlah buat apa mikirin dia, dia aja tak memikirkan perasaanku.
*
Begitu sampai dirumah, aku langsung menuju kamar setelah meletakkan barang belanjaan tadi didapur. Lagian kata bibik, mama mertuaku belum pulang dari arisan.
Ku sandarkan kepalaku ditepian ranjang, karena saat ini aku duduk di karpet dekat tempat tidur.
Memejamkan mata, sekelebat komentar dari Bima pada sebuah foto yang aku unggah di aplikasi berwarna hijau itu membuatku penasaran. Karena belum sempat aku baca sampai selesai.
Tambah cantik. Tapi sayang tak dapat cinta dari suaminya.!
Apa - apaan si Bima. Luka dihati gara - gara tadi saja masih mengagah, ehhh malah ditaburi garam juga. Periiihhh....
" Han, " seru Arjuna yang ternyata telah duduk disampingku. Tanpa aku sadari sejak kapan dia disana.
" Maaf, " lanjutnya saat aku menoleh sekilas padanya.
Kuhembuskan nafas kasar,
" Sudahlah Jun. Keadaanlah yang membuat kita seperti ini.!" jawabku berlalu kekamar mandi setelah tadi mengambil baju ganti yang lebih santai.
Ada yang salah dihati ini. Tak peduli setelah sekian lama dihuni nama Bima. Namun, nyatanya cinta itu dengan mudahnya berganti nama dengan yang selalu ada. Karena saat kepastian tak kunjung didapat. Maka pilihan terbaik adalah membiarkannya berganti.
Benarkah aku telah jatuh cinta pada Arjuna. Yakin kah perasaan ini bukan belas kasihan karena melihatnya nelangsa.
Cinta itu bukan tentang logika. Kita tak akan pernah tahu, akan menjatuhkan hati pada siapa. Setengah mati aku menolak memikirkan sahabat ku ini, tapi perasaan ini tak mampu ku kontrol. Haah, sayangnya hanya dianggap adik sepupu. Nyesek. !
*
Waktu sudah menunjukan waktu hampir tengah malam. Aku yang masih terjaga memilih untuk pergi kedapur membaut teh hangat mungkin bisa menjernihkan pikiranku yang benar - banar buntu saat ini.
" Belum tidur kak.?" tanya Gina yang juga kedapur untuk ambil minum.
" Hu um. Gak bisa tidur.!"
" Kak, gimana rasanya jadi istri mas Juna.?" tanyanya duduk didepanku.
" Bingung Gin, rasanya aku mau menyerah saja. Gak apalah persahabatan kami hancur gara - gara ini. Dari pada aku jadi istri tapi tak dianggap!"
" Kakak jatuh cinta yaa sama mas Juna.?"
" Gak taulah, takut aja. Berkorban sendiri itu menyakitkan. Apalagi kalau berjuang sendiri mempertahankan rumah tangga, nyesek banget.!" jawabku menatap gamang ke arah Gina.
" Sabar yaa kak. Aku yakin_ " Aku memotong ucapannya.
" Iya, Gin. Gak apa - apa. Nanti aku akan bicara sama semuanya gimana baiknya. Sebelum lebih jauh memang harus diakhiri kayaknya.!"
Gina diam, mengenggam tanganku. Terharu juga, keluarganya saja mau menerima ku dengan sangat baik. Tapi, dia yang memintaku malah selalu saja mengacuhkan ku.
*
Pagi itu aku tengah sibuk di dapur bersama mama. Mempersiapkan sarapan dan oleh - oleh untuk Oma di puncak. Ternyata aku juga harus ikut. Gagal dek weekand ini pulang kerumah bapak.
Sekelabat pikiran dan rasa penasaranku akan pernikahan Juna dan Dafina yang gagal melintas begitu saja. Mungkin tak mengapa kalau aku bertanya pada mama. Lagi pula kondisinya juga sudah dingin.
" Ma, gimana sih ceritanya Dafina itu.!" tanya ku hati - hati.
Mama tertegun sejenak. Aku tahu mengingat ini sama saja mengulik luka lama yang belum sembuh benar. Apalagi mereka keluarga terpandang, gak gampang meredam berita diluar sana. Tapi, aku sangat amat penasaran.
Bodoh kamu Han, ngapain membuka luka yang belum pulih.