jarum jam selalu berputar memutari dua belas angka yang sama yang terdapat di sekeliling nya, namun saat jarum jam membali menujuk angka yang sama, peristiwa yang perna terjadi sebelum nya telah menjadi masalalu.
Masalalu, sekuat apapum kita ingin kembali, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa terulang kembali layaknya jarum jam yang selalu berputar tuk kembali menujuk angka yang sama, kita hanya bisa memutar masa lalu hanya dalam sebuah ilasan kenangan.
"Gelang ini akan selalu tersenyum, mengingatkan mu padaku." Niana kembali mumutar ilasan kenangan nya, mengingat soso pria kecil penolong nya, setiap ia melihat gelang di tangan nya. "Aku ingin kembali ke hari itu."
Berharap pertemuan itu bisa terulang kembali, namun Waktu seakan merahasiakan Sebuah pertemuan yang tidak di sadari keduanya.
Hingga perjuangan, menjadi bukti kebersamaan mereka.
( Novel ini berkisahkan tentang perjuangan Niana dan Aksa untuk sampai akhirnya bisa bersama. Novel ini juga tidak hanya menceritakan percintaan saja, tapi juga mengangkat sebuah perjuangan seorang Aksa untuk meraih kesuseksanya, demi Gadis Impian nya, Keluarganya, juga Orang lain)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Pagi hari begitu cerah, remang-remang cahaya mulai masuk ke kamar Niana membuat gadis itu mulai terbangun, badan yang masih lelah, dan belum lagi semalam tidur terlalu larut malam membuat Niana sangat malas untuk beranjak dari tempat tidurnya.
tok tok tok...
"Woy ayo bangun, sarapan, kita sudah nunggu di meja makan dari tadi." Teriakan Raksa dari balik pintu membuat Niana segera bergegas membersihkan diri lalu menghampiri keluarga yang sudah menunggunya sarapan.
"Maaf aku kesiangan." Ucap Niana menarik kursi, kemudian ikut duduk depan meja makan paling ujung dekat Safira dan berhadapan dengan Raksa.
"Aku sudah kelaparan dari tadi nungguin kamu.." Cetus Raksa membuat Niana merasa tidak enak dan sedikit menunduk.
"Gak apa Ana, tante ngerti kamu pasti sangat lelah kemarin sudah bantu-bantu di toko. Ayo sekarang makan." Safira dengan tersenyum hangat, membuat Niana merasa sangat nyaman berada di antara mereka.
"Ana kamu sepertinya tidak usah ikut ke toko." Ucap Safira membuat Niana menghentikan mengunyah makanannya, dan langsung menelanaya, menengok melihat Safira.
"Kenapa tante?" tanya Niana dengan Nada kecewa.
"Sepertinya kamu tidak terbiasa bekerja Nak"
"Maaf kalo kerjaku kurang baik tante, Aku akan berusaha lebih baik lagi tante. Tolong aku sangat senang bisa membantu di sana." Waloupun lelah tapi Niana sangan senang bekerja di toko, terlebih ada karin dan pegawai lain yang baik padanya. Seperti baru sekarang Niana memilik banyak teman.
"Bukan begitu, tante takut kamu kelelahan saja, kamu boleh tinggal di sini gratis tidak perlu melakukan apa-apa." Ucap Safira sembari mengelus rambut Niana dan menyelipkan beberapa anak rambut rambut yang sedikit menghalanngi wajahnya ke belakang bahunya.
"Tapi Aku senang membantu di toko. Aku punya teman baru dan banyak belajar di sana, boleh ya tante," Niana kembali memohon.
"Baiklah kalou mau kamu seperti itu." Safira akhirnya menyetujui permohonan gadis di depannya itu.
"Makasih tante.." Niana tersenyum senang kembali memasukan satu suapan besar kedalam mulutnya saking senangnya.
Safira sendikit menggeleng dan memperlihatkan senyumnya melihat Niana.
****
Sampai di Royal Cake & Bakery, Niana Raksa dan Safira yang datang bersama di sambut hangat oleh para pegawai yang sudah siap bekerja.
"Niana," Karin mendaratkan pelukanya untuk Niana. "Seneng banget aku sekarang punya rekan kerja yang seumuran dan nyenengin kaya kamu."
"Aku juga seneng banget punya teman seceria kamu Karin." Ucap Niana di sertai senyum manisnya.
Tak berapa lama Royal Cake & Bakery waktunya buka, aneka kue yang sudah siap di hidangkan oleh para koki kue Royal Cake sudah terjajar rapih di dalam etalase.
Pengunjung sudah mulai berdatangan walou tidak seramai kemarin, tapi pekerjaan mereka cukup melelahkan. Safira yang ikut melayani pelanggan bersama Karin dan Niana, senyum dan tawa kecil sedikit terdengar sesekali di tengah pekerjaan mereka. Begitupun Niana Waloupun melelahkan tapi Niana sangat begitu bahagia.
"Ana, Kamu anter pesenan delivery ini ke di Rakew atou kak Aji ya suruh anterin." pinta Karin dengan menyodorkan dua kotak kue kepada Niana,
Niana segera menyautinya, membawa dua kotak kue itu ke depan
"Kak Aji ini ada pesanan delivery." setelah celingukan mencari Raksa tidak ada, yang di dapati hanya Aji.
"Oke.." Ucap Aji mengambil kotak itu dari Niana.
"Kamu nyari siapa" Tanya Aji yang melihat Niana masih celingukan seperti mencari sesuatu.
"Engga.." Jawab Niana mengelak, Aji mengangguk dan segera bergegas mengantarkan kue itu.
"Hemmh.. kenapa aku jadi nyari-nyari dia." gumam Niana membalikan badannya hendak kembali
Namun belum beberapa langkah Niana beranjak, Tiba-tiba datang sebuah motor berhenti di sana. Niana berbalik dan terlihat Raksa yang sudah akan membuka helemnya dan turun dari motor.
"Sedang apa kamu?" Tanya Raksa menghampiri Niana.
"Habis nganterin kue delivery ke kak Aji" jawab Niana sedikit cepat.
"Oh.." ucap Singkat Ralsa yang kemudian melewati Niana hendak masuk kedalam Royal Cake & Bakery.
"Ana.." Raksa berbalik dari langkahnya memanggil Niana.
"Iya..." Niana segera menyaut.
"Mau ikut aku ke taman hiburan, Alea dan Alia ingin pergi kesana. Aku pasti sangat kerepotan menjaga mereka bersamaan, kamu mau menolongku?"
Niana terdiam sebentar tidak langsung menjawab
"Kalou tidak bisa aku akan mengajak Karin," ujar Raksa.
"Bisa, bisa... aku bisa." Jawab Niana cepat.
"Baguslah..." Raksa lalu melanjutkan langkahnya masuk dalam toko.
****
Suasana taman hiburan malam hari, Sangat ramai dan di penuhi lampu yang gemerlap.
Raksa Niana Alea dan Alia sudah sampai dengan menggunakan Bus malam.
"Ayo kak ayo..." Talea dan Talia yang begitu semangat menarik tangan Raksa dan Niana
"Ayo kak.. kita naik itu kak." Tunjuk kedua anak kembar itu pada sebuah permainan roller coaster.
"Engga-enggak.. itu bahaya buat kalian." Tolak Raksa.
"Kita berani tau, kita kan udah delapan tahun kak dari dulu kita mau naik itu.." kedua anak itu mencebikan bibirnya pada Raksa, seperti tak terima dengan larangan kakanya.
"Jangan-jangan Kakak takut yah.." Cetus Talia dengan senyuman menggoda kakanya.
"Siapa bilang kaka takut.." jawab Raksa mengelak tudingan adiknya, masih mengalihkan pandangan nya dari kedua anak yang terus menggodanya.
"Kak Ana berani gak naik roller coaster.?" Kedua gadis kecil itu beralih bertanya pada Niana.
"Berani dong, kaka juga mau banget nain itu." Jawab Niana dengan semagat,
"Kalo gitu kita naik, Kaka ikut engak?" Dua gadis kecil itu kembali menantang Raksa
"Oke.. oke, Awas nanti kalo pada takut minta turun." jawab Raksa menerima tantangan kedua adiknya.
Keseruan mereka di Taman hiburan terlihat jelas dari tiga gadis disana. Menaiki satu persatu wahana permainan, melihat kedua adiknya dan Niana tertawa lepas Raksa hanya mengulas senyuman melihat keseruan dan keceriaan mereka.
"Kamu seperti tidak bersenang-senang?" Tanya Niana pada Raksa yang sembari memperhatikan kedua adiknya yang sedang naik Komedi putar.
"Biasa saja, jujur aku tidak terlalu suka keramaian" jawab Raksa tidak mengalihkan pandangannya dari kedua adiknya.
"Begitu ya, aku justru senang sekali terakhir aku kesini delapan tahun lalu." Niana merunduk sedikit mengingat pada kejadian menyedihkan delapan tahun silam.
Raksa berbalik melihat gadis di sampingnya. Memandangi Niana tekat-tekat, melihat Niana yang hampir meteskan air matanya namun segera di tahan dengan ibu jarinya, Membuat Raksa beralih melihat gelang yang melingkar di pergelangan Niana.
"Gelang itu?" Raksa memandanginya dengan seksama, seakan menyadari gelang yang Niana pakai.
"Maaf aku sedikit teringat sesuatu yang menyedihkan delapan tahun lalu setelah aku dari Taman bermain ini." Ucap Niana terlihat berusaha tersenyum.
Raksa masih tidak mengalihkan pandangannya dari gadis di samping nya, sampai gadis di sampinya itu merasa sedikit risih sadar dari tadi Raksa yang tidak mengalihkan pandangan nya darinya.
"Delapan tahun lalu aku juga pergi ke Taman Bermain ini, waktu itu aku pergi sendiri karna Ayahku berjanji akan menemuiku di sini. Tapi aku menunggu ayah tak kunjung datang, sampai larut malam ayah tidak datang juga. Aku menunggunya sampai kedinginan awalnya aku pikir ayah berbohong dan melupakan janjinya. Tapi ternyata ayah terlibat sebuah kecelakaan dan tewas di tempat." Tutur Raksa membuat Niana berbalik melihat melihatnya yang sudah mengalihkan pandangan nya dari Niana, terlihat mata pria itu sudah berair nanmun tak sampai keluar.
Di balik tingkah acuh tak perduli Raksa, Niana banyak melihat sisi lain dari pria itu.
Niana sangat mengerti apa yang di rasakan Raksa, terlebih dia juga merasakan hal yang sama kehilangan seorang yang sangat berarti tepat delapan tahun lalu. Niana pikir selama ini hanya dirinya yang selama ini terpuruk dalam rasa kehilangan.
Salam Dari Navillera (Cinta yang beracun)
~Cinta Pertama~