NovelToon NovelToon
Benih Sang Mafia

Benih Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Aksi / Drama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸

Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.

Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.

"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Wajah Rosa berubah seketika, senyum pura-puranya lenyap digantikan tatapan tajam dan kejam. Melihat bujukannya tidak mempan, ia beralih ke cara lain yang lebih kejam.

"Kamu pikir kamu bisa menolak seenaknya saja?" ucap Rosa dengan nada dingin dan mengancam. Ia melangkah mendekat, menatap Azalea dengan pandangan menusuk.

"Kalau kamu tidak mau ikut dengan Tuan Aldric ini, jangan salahkan Ibu kalau hal buruk menimpa orang yang kamu sayangi." ucap Rosa dan tersenyum smirk.

Jantung Azalea berdegup kencang. Ia menatap Rosa dengan waspada. "Apa maksudmu?" tanya Azalea.

Rosa tersenyum miring, senyum yang membuat bulu kuduk meremang. "Kamu pasti tahu siapa yang paling menyayangimu dan selalu membela kamu di rumah ini. Ya, Bi Inah. Kalau kamu menolak pergi, maka besok pagi juga Bi Inah akan diusir dari rumah ini tanpa pesangon sepeser pun. Atau bisa jadi... dia akan mengalami kecelakaan kecil yang membuatnya tidak bisa bekerja lagi seumur hidupnya." jawab Rosa.

Azalea tertegun, tubuhnya terasa lemas namun hatinya bergejolak marah. "Kamu tidak berani!" bentaknya, meski suaranya sedikit bergetar menahan kekhawatiran.

"Coba saja buktikan," tantang Rosa dengan santai. "Ingat, nasib Bi Inah ada di tanganmu sekarang. Pilihannya sederhana, ikut dengan mereka, atau biarkan Bi Inah menderita dan tidak punya tempat tinggal lagi." ucap Rosa dan tersenyum puas.

Selvina yang melihat itu hanya tersenyum puas di sampingnya, merasa ibunya sudah menemukan cara paling ampuh untuk menaklukkan Azalea.

Aldric yang menyaksikan semuanya hanya diam, namun matanya menyipit menatap Rosa. Di dalam hatinya, ia semakin tidak menyukai sifat licik wanita di hadapannya ini, namun ia tetap bungkam dan menunggu reaksi Azalea.

Azalea mengepalkan tangannya erat-erat hingga kuku menancap ke telapak tangan. Ia tahu Rosa tidak main-main dengan ancamannya. Selama ini Bi Inah adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki di rumah ini, orang yang selalu baik padanya. Ia tidak tega membiarkan wanita tua itu menderita hanya karena dirinya.

Dengan napas yang berat dan hati yang hancur, Azalea akhirnya menunduk perlahan. Air matanya menetes jatuh ke pipi, namun ia berusaha menahan isak tangisnya.

"Baiklah..." ucapnya lirih namun terdengar jelas. "Aku akan ikut dengan mereka. Tapi berjanjilah, jangan sekali-kali menyakiti atau mengusir Bi Inah. Kalau sampai ada sesuatu yang menimpanya, aku tidak akan memaafkan kalian selamanya." ucap Azalea menatap tajam ke arah Rosa.

Rosa tersenyum lebar, puas mendapatkan apa yang ia inginkan. "Bagus. Itu anak yang baik. Tentu saja, selama kamu menuruti keinginan kami, Bi Inah akan tetap aman di sini." ucap Rosa.

Aldric berdiri dari duduknya, menatap Azalea dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kalau begitu, bersiaplah. Kita berangkat sekarang juga." ucap Aldric.

Azalea menatap tajam ke arah Aldric, seolah ingin meluapkan segala kekecewaannya lewat pandangan itu. Tanpa menambah sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan cepat menuju dapur untuk berpamitan pada Bi Inah.

"Tatapannya... sungguh mirip sekali dengan Daxon. Sama-sama tegas, menyimpan amarah, dan tak mudah menyerah. Apakah ini pertanda mereka memang ditakdirkan untuk bersatu? " gumam Aldric dalam hati, merasa sedikit terkejut dengan pemikiran yang tiba-tiba muncul di benaknya.

Sesampainya di dapur, Azalea melihat Bi Inah sedang duduk beristirahat di kursi. Ia menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri sejenak, lalu berjalan mendekat perlahan.

"Bi..." panggilnya pelan, suaranya bergetar menahan tangis.

Bi Inah menoleh dan tersenyum melihatnya. "Sudah selesai membersihkan kolam, Non? Ayo duduk sebentar, istirahatlah dulu," ajaknya ramah.

Namun senyum Bi Inah perlahan memudar saat melihat mata Azalea yang berkaca-kaca, seolah menahan air mata yang siap tumpah kapan saja. Wajahnya langsung berubah khawatir.

"Non Azalea kenapa? Apakah Nyonya atau Nona Selvina menyakiti hatimu lagi?" tanyanya dengan cemas, tangannya terulur ingin menyentuh pundak gadis itu.

Azalea menggeleng pelan, namun air matanya akhirnya jatuh juga membasahi pipinya. Ia menatap Bi Inah dengan pandangan sedih.

"Bi... Aku harus pergi. Ibu telah menjualku kepada seorang bos mafia," ucapnya lirih namun jelas.

Hati Bi Inah terasa bergejolak. Di satu sisi, ada rasa lega — setidaknya Azalea bisa lepas dari penderitaan di rumah ini yang bagaikan neraka. Namun di sisi lain, kekhawatiran jauh lebih besar menyelimutinya. Bagaimana nasib gadis muda itu jika diserahkan kepada orang yang dikenal kejam dan berkuasa?

Azalea seolah mengerti apa yang ada di pikiran wanita tua itu. Ia menggenggam tangan Bi Inah erat-erat.

"Kalau aku menolak. Ibu dan Kak Selvina berjanji akan menyiksa dan mengusir Bi Inah dari sini. Aku tidak tega melihat Bi Inah harus menderita karena aku," jelasnya dengan suara bergetar.

Wajah Bi Inah memucat mendengar penjelasan itu. Ia mengusap lembut punggung tangan Azalea, matanya pun ikut berkaca-kaca.

"Bibi tidak rela melihatmu pergi ke tempat yang tidak jelas. Tapi Bibi mengerti, kamu tidak mungkin membiarkan Bibi menderita." ucap Bi Inah.

Bi Inah kemudian bangkit perlahan, berjalan ke sudut dapur dan membuka laci kecil yang sudah lama ia simpan. Ia mengambil sebuah kalung sederhana dengan liontin berbentuk bunga mawar yang terbuat dari perak, lalu kembali menghampiri Azalea.

"Ini peninggalan ibumu, Non. Dulu dia titipkan pada Bibi untuk diberikan padamu saat waktunya tiba. Pakailah ini, semoga bisa melindungimu dan mengingatkan bahwa kamu tidak sendirian," ucap Bi Inah sambil memasangkan kalung itu di leher Azalea.

Azalea menyentuh liontin itu dengan lembut, air matanya semakin deras mengalir. "Terima kasih, Bi. Azalea janji akan menjaganya dengan baik." jawab Azalea.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat, disusul suara keras Rosa dari arah pintu dapur: "Cukup! Sudah waktunya berangkat, jangan buang waktu!" bentak Rosa.

Azalea memeluk Bi Inah erat-erat untuk terakhir kalinya. "Jaga diri baik-baik ya, Bi. Azalea akan berusaha kembali secepatnya." ucap Azalea.

"Semoga Tuhan melindungimu, Non. Hati-hati di mana pun kamu berada," bisik Bi Inah sambil menepuk punggung Azalea.

Azalea melepaskan pelukan itu, menyeka air matanya dengan kasar, lalu berbalik dan berjalan keluar dari dapur. Di ruang tamu, Aldric sudah berdiri menunggu dengan wajah datar. Ia menatap sekilas kalung di leher Azalea, namun tidak berkata apa-apa.

"Kita berangkat sekarang," ucap Aldric singkat.

Azalea melangkah melewati Rosa dan Selvina tanpa menoleh sedikit pun. Ia tidak ingin melihat senyum puas di wajah mereka. Sesampainya di depan mobil, Aldric membukakan pintu untuknya. Azalea menunduk dan masuk ke dalam, diikuti oleh Aldric yang duduk di kursi seberang.

Pintu mobil tertutup rapat, memisahkan Azalea dari rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal sekaligus penjara baginya. Mobil itu pun melaju perlahan meninggalkan gerbang mansion, membawa Azalea menuju nasib yang tidak ia ketahui.

...****************...

Di sepanjang perjalanan, Azalea hanya terdiam membisu. Pikirannya terus melayang, hatinya dipenuhi kekhawatiran mendalam terhadap Bi Inah. Ia juga teringat percakapannya dengan Sari semalam, di mana ia terpaksa berbohong bahwa dirinya sudah berada di luar negeri.

"Maafkan aku, Sari... aku tidak punya pilihan lain," batinnya dengan perasaan bersalah.

Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhenti di persimpangan karena lampu lalu lintas berwarna merah. Di saat itulah, tepat di samping jendela mobil, berhenti seorang wanita yang mengendarai motor Vespa — Anindya Sari, sahabat Azalea.

Sari menatap lekat ke arah jendela mobil, matanya tertuju pada sosok wanita yang terlihat samar di dalam sana. Namun sinar matahari yang terik memantul ke kaca, membuatnya silau dan tidak bisa melihat wajah dengan jelas — hanya siluet tubuh saja yang terlihat.

"Wanita itu... bentuk tubuhnya mirip sekali dengan Azalea. Tapi tidak mungkin, kan? Dia bilang dia sudah ada di luar negeri... " batin Sari ragu, mengingat pesan dan percakapan telepon mereka semalam.

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, lampu berubah hijau. Sopir langsung menginjak gas, dan mobil hitam itu melaju cepat meninggalkan tempat.

Sari tertegun sejenak. "Mungkin aku salah lihat saja. Lagipula dia bilang sudah di luar negeri, mustahil ada di sini... " pikirnya mencoba meyakinkan diri sendiri, meski perasaan tidak enak masih terasa di hatinya. Ia pun melanjutkan perjalanannya dengan perlahan.

1
Mia Camelia
semoga azalea dan anak nya selamat yaa😔
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
Mia Camelia
iiihhh...dasar ulat bulu jahat valeria, awas klo sampe azalea kenapa2, daxon siap beraksi🤣
Mia Camelia
ya ampun daxon posesif juga yaa😄
Mia Camelia
ciee..daxon terpesonaa juga🥰🥰🥰
Mia Camelia
hahaaha semua takut syaiton🤣🤣🤣
aldric paling penakut iiih🤣
Mia Camelia
azalea ngidam nya manja2 gitu,
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
Miu.Nuha
ahahaha betul
Miu.Nuha
nah loh, azalea sejujur itu apa nggak mengkeret itu ibu dn anak 😅
Miu.Nuha
ibu dn anak cantik dn modis juga ya 😅
Mia Camelia
daxon sweet banget sih🥰🥰🥰
lanjut thor😄
ɴs_sᴀᴘᴜᴛʀɪ✍︎: oke kak
total 1 replies
Risa Virgo Always Beau
Daxon mematung karena ulah berani kamu Azalea
Risa Virgo Always Beau
Daxon cemas banget memikirkan Azalea yang ada di rumah
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Azalea bohong ya bilang dia punya kekasih
Risa Virgo Always Beau
Sepertinya Azalea hamil ya sampai mual gitu
Risa Virgo Always Beau
Azalea kamu setelah melakukan hubungan badan dengan Daxon langsung mau beli cimol ngga istirahat dulu
Risa Virgo Always Beau
Daxon sepertinya cemburu setelah Azalea menyebut kata kekasih
Risa Virgo Always Beau
Daxon menyuruh Azalea supaya akting jadi suami istri sungguhan di depan mamanya Daxon
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon sudah menyuruh Azalea untuk bersandiwara menjadi suami istri sungguhan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata Daxon menjadikan Azalea tameng buat hindari perjodohan
Risa Virgo Always Beau
Ternyata setelah Azalea hamil dan melahirkan Daxon akan membuang Azalea kejam banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!