Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.
Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.
Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.
Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.
Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—
mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26—Mengalahkan Setan
Bab 26
WUSH!
Cahaya hijau gaib meledak dari tubuh Bima, menyebar ke segala arah bagaikan ombak yang menghantam karang. Begitu pendaran Mustika Hijau bersentuhan dengan kabut hitam kiriman tersebut, terdengar suara mendesis keras seolah air dingin disiramkan ke atas bara api yang menyala. Kabut kutukan hitam itu langsung terkikis, terurai, dan hancur menjadi abu spiritual yang lenyap tak berbekas di udara.
Melihat senjatanya dipatahkan dengan mudah, makhluk gaib itu mulai merasakan ketakutan. Naluri setannya mendeteksi bahwa pemuda di hadapannya ini memiliki level kekuatan spiritual yang jauh di atas sang dukun yang memanggilnya. Makhluk itu melangkah mundur, bersiap untuk melompat kembali ke langit-langit koridor demi melarikan diri.
"Mau lari ke mana? Urusan kita belum selesai," ucap Bima dengan seringai dingin.
Sebelum monster itu sempat melompat, Bima melesat maju dengan kecepatan yang hampir tak kasat mata. Energi Mustika Hijau kini telah berpusat sepenuhnya di telapak tangan kanannya, membentuk pendaran cahaya yang sangat padat dan terasa menghangat.
“Makan ini dasar makhluk halus!”
Bima melompat, memosisikan dirinya tepat di atas kepala raksasa hitam itu. Dengan satu gerakan yang sangat presisi dan bertenaga, Bima menghantamkan telapak tangannya langsung ke arah dahi sang makhluk, tepat di titik pusat energi magis negatifnya berkumpul.
*GLEP!*
"GRAAAAWWWHHH...!!!"
Makhluk itu melolong sangat melengking, suara jeritan batinnya bergema hebat di dalam dimensi gaid koridor tersebut. Begitu telapak tangan kekar Bima bersentuhan dengan kulit legamnya, energi murni Mustika Hijau merangsek masuk tanpa ampun, membakar jalinan sihir hitam yang mengikat wujudnya.
Urat-urat cahaya hijau mulai menjalar di sekujur tubuh raksasa tiga meter itu, memecah kegelapan yang menyelimutinya. Hanya dalam hitungan detik, tubuh makhluk hasil pengorbanan darah itu retak, hancur berkeping-keping menjadi serpihan asap tipis, lalu sirna total dari koridor belakang mal.
Suasana koridor mendadak kembali sunyi, menyisakan hawa hangat yang menenangkan dari sisa energi Bima.
Bima mendarat dengan mulus di atas lantai beton. Dia menarik napas panjang, menstabilkan kembali putaran Mustika Hijau di dalam dadanya hingga pendaran cahaya di kulitnya perlahan meredup dan menghilang.
Mengingat Rasti, Bima langsung tersadar. Dia tidak boleh membiarkan kakak iparnya menunggu terlalu lama di dalam toko yang gelap. Bima segera berbalik, melangkah cepat meninggalkan koridor logistik dan kembali menuju area pusat perbelanjaan utama.
Tepat saat Bima melangkah keluar dari koridor belakang, sistem kelistrikan mal mendadak kembali berfungsi.
Bzzzzt... Jlap!
Lampu-lampu mal menyala serentak, menerangi kembali seluruh sudut ruangan. Generator cadangan akhirnya berhasil mengambil alih setelah gangguan gaib yang menyumbat aliran listrik runtuh bersama hancurnya makhluk tadi. Suasana kepanikan para pengunjung perlahan mereda, digantikan oleh bisik-bisik kebingungan tentang apa yang baru saja terjadi.
Bima mempercepat langkahnya menuju pojok deretan manekin di toko pakaian tempat ia meninggalkan Rasti. Dari kejauhan, dia bisa melihat sosok Rasti yang berdiri meringkuk, memeluk gaun pilihan mereka dengan wajah yang masih pucat karena sisa ketakutan.
"Mbak Rasti," panggil Bima lembut sambil berjalan mendekat.
Mendengar suara yang sangat ia kenal, Rasti langsung mendongak. Begitu melihat Bima kembali dalam keadaan utuh, tanpa luka sedikit pun, rasa cemas yang menghimpit dadanya seketika runtuh. Tanpa memedulikan gengsi atau pandangan beberapa orang di sekitar mereka, Rasti refleks maju dan memeluk lengan kekar Bima dengan sangat erat.
"Bima... kamu dari mana saja? Mbak takut banget tadi... suaranya bener-bener mengerikan," bisik Rasti dengan suara parau yang bergetar di dada Bima.
Bima merasakan kehangatan tubuh Rasti yang bersandar pasrah padanya. Hatinya kembali menghangat, rasa lelah setelah pertempuran gaib tadi menguap begitu saja. Dia mengulurkan tangannya, mengusap rambut Rasti dengan lembut untuk menenangkannya.
"Kan Bima sudah janji bakal kembali secepatnya. Lihat, lampunya sudah menyala lagi, kan? Semuanya sudah aman, Mbak," ujar Bima dengan senyuman terbaiknya. "Urusan Bima di belakang sudah selesai. Sekarang, bagaimana kalau kita lanjutkan kencan kita? Gaun pilihan Mbak tadi harus tetap dibeli, jangan sampai layu karena mati lampu."
Rasti perlahan melepaskan pelukannya, wajah cantiknya merona merah muda karena menyadari tindakannya yang terlalu spontan tadi. Dia menatap Bima dengan pandangan yang penuh rasa ketundukan dan kekaguman. Keberadaan Bima di sampingnya benar-benar memberikan rasa aman yang luar biasa, meluluhkan seluruh kemandiriannya sebagai seorang janda desa.
"I-Iya, Bima... ayo kita bayar ke kasir. Habis itu... temani Mbak makan, ya? Mbak lapar karena tegang tadi," cicit Rasti manja, menyembunyikan senyum bahagianya di balik helaian rambutnya.
"Siap, Mbak Rasti cantik. Apa pun buat Mbak hari ini," sahut Bima penuh karisma, sengaja menggoda hingga pipi Rasti semakin merah merona.
Di sisi lain. Bima tidak menyadari sama sekali bahwa pristiwa gelud sama setan itu dilihat oleh seseorang lain.
Seorang kakek tua yang sesepuh desa melotot tak percaya. 'Mustahil. Energi gaib yang begitu pekat, mendadak menghilang begitu saja, padahal baru saja mau kubasmi. Pemuda ini sebenarnya siapa?’
***
Sementara itu di sisi lain. Bola kaca kyai wok langsung pecah.
“Alamak mustahil, setan ku langsung mati–ups!” Ujar kyai wok. Asu dia malah keceplosoan mengatakan hal ini. Dia langsung menatap wajah klien dia.
Mang ujang, yang awalnya sudah kegirangan membayangkan kematian Bima, seketika menghentikan tawa kemenangannya. Wajahnya berubah menjadi masam, lalu mengeras dengan urat-urat leher yang menegang kaku. Aura di sekitar pria beringas itu mendadak jauh lebih menakutkan daripada hawa dingin gubuk tua tersebut.
“Sebentar, apa maksudmu tadi, hah?!” bentak Mang Ujang, melangkah maju dengan tatapan mata yang menghunus tajam. “Setanmu mati? Bocah ingusan itu... bisa membunuh makhluk kirimanmu?!”
Kyai Wok menelan ludah gila-gilaan, keringat dingin mengucur deras dari dahinya yang keriput, bercampur dengan sisa darah di bibirnya. Dia merutuki mulutnya sendiri yang ceroboh karena refleks keceplosan.
“M-Maksud saya... kekuatan bocah itu bener-bener di luar nalar, Mang! Dia bukan manusia biasa!” cicit Kyai Wok terbata-bata, tangannya bergerak mundur, mencoba mengumpulkan sisa-sisa barang pusakanya di atas altar. “Ikatan darah ayam cemani saya diputus paksa. Dada saya rasanya seperti dihantam godam tak kasat mata. Sukmanya... sukmanya terlalu kuat, Mang! Kita harus mundur dulu, cari cara la—”
BUGH!
Satu tendangan keras dari sepatu lars Mang Ujang menghantam tepat di dada Kyai Wok, membuat dukun tua itu terjerembap ke belakang, menabrak altar pemujaannya hingga cawan kuningan dan tengkorak hewan peliharaannya berhamburan jatuh ke tanah.
“Mundur matamu juling!” raung Mang Ujang benar-benar murka. Seluruh kesabarannya sudah habis. Rencana matang yang dia susun sejak tahun lalu untuk menjerat Rasti kini hancur berantakan hanya karena seorang pemuda kemarin sore yang tiba-tiba bangkit menjadi batu sandungan.
Mang Ujang berbalik ke arah pintu gubuk yang terbuka, lalu berteriak lantang memanggil para pengawal setianya yang sedari tadi berjaga di luar. “Dono! Juki! Masuk kalian!”
Kok gak mikir konsekuensinya ya..🫣
Bersekutu dengan iblis menjanjikan keuntungan duniawi sesaat, namun selalu berujung pada petaka.
Konsekuensi utamanya meliputi ketergantungan spiritual, hilangnya kendali atas kehendak bebas, tuntutan tumbal nyawa, penderitaan batin, serta kehancuran dan penyesalan abadi di akhir.
Dampak fatal akibat praktik tersebut akan kehilangan Jiwa dan Kebebasan, harga yang harus dibayar untuk bantuan iblis adalah jiwa manusia itu sendiri.
Manusia yang awalnya merasa mengendalikan kekuatan tersebut akhirnya diperbudak dan kehilangan kehendak bebas mereka.
Untuk menghindari fitnah dengan cara membentengi diri dari perbuatan yang mendekati zina, pergaulan bebas dan pacaran.
Dengan melakukan pernikahan, seseorang dapat menyalurkan hasrat biologis secara halal, menjaga kehormatan, dan mencegah timbulnya tuduhan negatif serta prasangka buruk di masyarakat.
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
Lebih dari sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan resmi, pernikahan memiliki tujuan yang lebih dalam dan bermakna...🤭🤨😊