Empat bersaudara Jafar, Ira, Iskan, dan Tina harus berjuang melawan kehidupan yang keras dan tidak adil bagi mereka, yang dibuang dan ditelantarkan oleh kedua orang tua mereka.
Jafar, sebagai kakak tertua yang kini masih duduk di kelas 12 terpaksa berhenti sekolah dan mencari pekerjaan, serta banting tulang untuk menghidupi ketiga adiknya yang masih sekolah.
Dan Ira, yang kini baru duduk di kelas 10 berusaha dengan sangat baik, belajar dengan giat dan bekerja paruh waktu untuk membantu sang kakak.
Serta Iskan, yang kini masih duduk di kelas 8 selalu bertugas untuk menjaga adik bungsunya-Tina yang masih duduk di kelas 5 SD.
Masalah demi masalah terus berdatangan kepada mereka. Membuat hidup mereka sangat menderita dan terkadang tertimpa oleh rasa putus asa. Lantas, akankah mereka berhasil membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik?
Yuk, ikuti kisah mereka. Jangan lupa like dan komen yah! Semoga para readers suka ama ceritanya.
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina0801, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 10
Karena hari menjelang malam. Iskan secepatnya mengantar Al pulang dengan selamat sampai ke depan pintu rumahnya. Ternyata Iskan baru tahu kalau Al terlahir dikeluarga yang sangat kaya. Melihat rumahnya saja yang sangat besar dengan halaman yang luas sudah nampak bahwa Al anak pewaris keluarga kaya.
"Makasih yah, kak sudah mengantarku pulang. Maaf sudah merepotkan," ucap Al tak enak.
"Tidak papah. Kalau gitu, aku pamit pulang," balas Iskan segera berbalik untuk pergi.
"Boleh nanti aku sering main ke rumah Tina?" tanya Al menghentikan langkah Iskan.
Iskan sejenak menatap Al dengan tatapan penuh akan pertanyaan atas permintaannya itu. Iskan sedikit heran mengapa Al betah bermain di rumah kecil mereka. Sementara, ia memiliki rumah yang sangat nyaman dengan fasilitas yang sangat baik.
"Yah, boleh boleh saja jika orang tuamu tak melarang," jawab Iskan.
Wajah Al menjadi sangat cerah setelah mendapatkan jawaban baik dari Iskan.
"Terima kasih, Kak! Hati-hatilah saat pulang. Sampai jumpa lagi!" Al langsung berlari masuk ke dalam rumah kegirangan.
Iskan hanya bisa tertawa kecil melihat sikapnya tersebut. "Aneh," gumam Iskan.
Iskan pun segera pulang. Karena ia mulai merasa lelah setelah bekerja sebagai pengangkut barang di pasar. Membantu orang-orang membawakan barang-barang yang berat. Walau hasilnya tak sebegitu memuaskan. Tapi setidaknya, ia tidak perlu terlalu membebani sang kakak untuk uang jajan.
Iskan merasa lelah dan capek. Ia berjalan dengan langkah santai. Saat melewati swalayan, pandangan Iskan menangkap seseorang yang sangat ia kenal. Itu adalah Maya. Kebetulan, Maya pun melihat Iskan yang sedang memandanginya. Buru-buru Maya menghampiri Iskan.
"Hai! Kebetulan sekali..." ujar Maya.
"Yah... gue rasa..." balas Iskan.
"Loh habis dari mana?" tanya Maya penasaran.
"Hanya... berjalan-jalan saja. Loh keluar untuk belanja?" jawab Iskan lalu bertanya.
"Mmm... aku lagi dapet. Jadi keluar beli pembalut," terang Maya walau sedikit malu mengatakannya.
Yah, daerah sini memang lingkungan tempat tinggal Maya. Jadi, wajar saja jika Iskan bertemu dengannya disini.
Iskan hanya mengangguk pelan. "Oh..."
"Oh iyah! Untunglah aku ketemu sama kamu disini. Ada yang mesti aku omongin sama kamu. Besok, kamu jadi ikut study tour, yah!"
"Jadi ikut? Tapi gue kan gak daftar. Kok bisa?"
"Oh itu... begini, sebenarnya aku membayar pendaftarkanmu. Tapi tunggu dulu! Jangan salah paham dulu! Aku mendaftarkanmu tentu tidak gratis. Ada hal yang ingin ku pinta darimu untuk membayarku kembali," jelas Maya ada maunya.
Iskan mengangkat salah satu alisnya dan mengerutkan keningnya menatap gadis yang ia sukai diam-diam itu, ternyata gadis yang sangat licik.
"Maksud loh? Loh sengaja bayarin, supaya loh leluasa minta sesuatu sama gue, gitu?"
"Yah, kurang lebih seperti itu, sih... tapi permintaan gue gak berat, kok!"
Iskan menghembus nafas berat dan segera menolak permintaan Maya. Karena ia tak mau sampai berhutang pada siapapun. Walaupun ia menyukai Maya, tetapi Iskan sadar diri bahwa saat ini dirinya sangatlah tak pantas untuk Maya.
"Sorry! Tapi gue tetep gak akan ikut. Jadi, loh cabut saja pendaftaran atas nama gue. Dan ambil balik uangnya," tolak Iskan mentah-mentah.
"Tapi, masalahnya... uang yang sudah masuk tak bisa dikembalikan tanpa alasan yang jelas. Dan jika aku ingin mengambilnya kembali aku tak punya alasan untuk itu," balas Maya sengaja membuat alasan supaya Iskan tak punya pilihan.
"Itu masalah loh. Dan sekarang pun jika loh ada maunya sama gue, gue gak bakalan mau nurutin permintaan loh," tukas Iskan lagi.
Maya cemberut kecewa. "Padahal permintaan gue itu sederhana banget, lho! Gue hanya minta loh mau belajar bareng sama gue setiap hari, itu aja."
Iskan menghela nafas panjang dan menatap gadis yang ia sukai itu dengan tatapan malas. Walau sebenarnya dalam hati ia merasa sangat gemas saat ini melihat tingkahnya tersebut.