NovelToon NovelToon
Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: bulane

"Mama akan menikah."

Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.

"Aku tidak setuju, Ma..."

Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.

"Mama berhak bahagia, Amerta."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.

Amerta Bunga Adiguna.

Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.

Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Mahesa Putra Dirgantara.

Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 15

Sinar matahari pagi yang tipis menerobos masuk melalui celah gorden kamar yang sengaja dibuka sedikit, membawa bias cahaya kekuningan yang menerpa permukaan ranjang. Amerta perlahan membuka matanya. Kepalanya masih terasa agak berat, namun sensasi terbakar yang menyiksa dari demam tinggi semalam telah menyusut, menyisakan keringat dingin yang membasahi tengkuknya.

Hal pertama yang Amerta rasakan saat kesadarannya pulih seutuhnya adalah sebuah beban berat yang melingkari pinggangnya. Rasa hangat yang sangat familier namun sekaligus memicu alarm bahaya di kepalanya.

Amerta menolehkan kepala dengan sangat pelan. Di sana, tepat di sebelahnya, Mahesa sedang tertidur lelap. Jarak wajah mereka begitu dekat, hingga Amerta bisa merasakan embusan napas teratur Mahesa menerpa keningnya. Ini adalah pertama kalinya Amerta melihat kakaknya dalam kondisi sepasrah ini, tanpa dasi yang mengikat leher, tanpa kemeja kerja yang kaku, dan tanpa tatapan mata biru yang biasanya memancarkan dominasi yang mengintimidasi.

Memanfaatkan momen kelengahan itu, Amerta terpaku, mengamati setiap jengkal wajah pria di hadapannya. Harus ia akui, Mahesa memiliki visual yang nyaris sempurna. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung dan lurus, serta bulu mata yang lebat menutupi sepasang kelopak matanya yang terpejam. Struktur wajahnya begitu simetris, memancarkan pesona aristokrat yang dingin. Di bawah dahi Mahesa yang bidang, ada gurat kelelahan yang samar—mungkin akibat terjaga semalaman untuk mengganti kompres dan mengurus tubuhnya yang sempat sekarat.

Namun, rasa kagum yang sekilas melintas itu segera terkubur oleh rasa benci dan ngeri yang membuncah di dada Amerta. Wajah tampan ini adalah wajah yang sama dengan pria yang telah mengurungnya selama tiga hari tanpa ampun, merampas kebebasannya, dan menghancurkan kewarasannya.

"Aku tahu aku memang cukup tampan, Amerta. Kamu tidak perlu menatapku seintens itu."

Suara bariton yang serak khas orang baru bangun tidur memecah keheningan. Amerta tersentak hebat, mencoba mundur namun pelukan di pinggangnya justru mengencang. Sepasang mata biru Mahesa terbuka perlahan, langsung mengunci pandangan Amerta dengan binar geli yang jarang terlihat.

Amerta langsung memalingkan wajahnya, raut mukanya berubah drastis menampilkan ekspresi jijik yang sangat kentara. "Najis, Kak! Lepasin! Jangan dekat-dekat, aku mau muntah," desis Amerta ketus, mencoba menyentakkan tangan besar Mahesa dari pinggangnya.

Mahesa bukannya marah, ia justru terkekeh rendah. Suara tawanya bergetar di dada bidangnya yang menempel pada lengan Amerta. "Mulutmu ini masih saja tajam, padahal semalam kamu meracau ketakutan seperti anak kucing. Setidaknya, suaramu yang menyebalkan ini menandakan kalau demammu sudah turun."

Mahesa perlahan melepas pelukannya, lalu duduk di tepi ranjang. Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi Amerta, memastikan suhunya. Amerta menepis tangan itu dengan kasar, namun Mahesa tidak peduli. Ia hanya menatap Amerta datar. "Hari ini adalah hari terakhir kita bisa menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan. Besok Papa dan Mamamu pulang. Jadi, jadilah anak manis untuk hari ini saja."

"Aku tidak mau! Keluar dari kamarku!" usir Amerta, menarik selimutnya hingga ke dagu.

Mahesa tidak mendengarkan. Pria itu berdiri, keluar kamar sejenak, dan kembali dua puluh menit kemudian dengan membawa nampan berisi bubur instan hangat, segelas air putih, dan beberapa butir obat. Ia meletakkan nampan itu di atas nakas, lalu menyalakan televisi layar lebar yang terpasang di dinding kamar Amerta.

"Kita akan menonton film di sini," ucap Mahesa mutlak sambil memegang remote, memilih salah satu film bergenre drama psikologis di platform streaming.

"Aku bilang aku tidak mau, Kak Esa! Aku mau tidur, aku masih lemas!" protes Amerta, suaranya melengking frustrasi.

"Kamu bisa tidur sambil mendengarkan suara TV, atau kamu makan bubur ini dan menonton bersamaku. Pilihan kedua jauh lebih baik untuk kesehatanmu," balas Mahesa dingin, tidak menerima bantahan. Ia duduk kembali di sisi ranjang, menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur, lalu menarik paksa pundak Amerta agar ikut bersandar di sampingnya.

Amerta memberontak, memukul lengan Mahesa dengan sisa tenaganya yang payah. "Lepas! Aku benci film ini, aku benci kamu! Kenapa kamu egois sekali?!"

Mahesa mengabaikan makian itu. Dengan satu tangan yang kokoh, ia mengunci pergerakan Amerta, membiarkan gadis itu bersandar pada bahunya mau tidak mau. Selama film berputar, suasana kamar diselimuti ketegangan yang aneh. Suara dialog dari televisi menjadi satu-satunya pembatas di antara mereka. Amerta awalnya terus membuang muka, namun karena tubuhnya yang masih dalam masa pemulihan benar-benar kelelahan, ia akhirnya terdiam, menatap layar dengan pandangan kosong dan napas yang masih agak berat.

Memasuki pertengahan hari, tubuh Amerta mulai terasa kaku dan pegal akibat terlalu lama berbaring selama berhari-hari. Ia berulang kali menggeser posisinya dengan tidak nyaman, mengerang pelan tanpa sadar.

Melihat hal itu, Mahesa mematikan televisi. Ia menggeser tubuhnya mendekat, lalu menyuruh Amerta untuk berbalik membelakanginya.

"Mau apa lagi?!" tanya Amerta waswas, matanya membelalak penuh curiga.

"Badanmu kaku. Aku akan memijatmu sedikit," kata Mahesa pendek.

"Nggak! Jangan sentuh aku! Sentuhanmu itu menjijikkan!" Amerta menolak keras, mencoba merangkak ke ujung ranjang yang lain.

Namun, Mahesa bergerak lebih cepat. Ia mencengkeram pergelangan kaki Amerta, menariknya kembali dengan mudah ke tengah ranjang. Pria itu memosisikan dirinya di belakang Amerta, lalu menekan kedua pundak gadis itu agar tetap duduk. Amerta berteriak memaki, menyikut, dan mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman Mahesa di bahunya seperti jepitan besi—tidak menyakiti, namun mustahil untuk dilawan.

"Diam, Amerta. Jangan membuang energimu yang baru pulih," tegur Mahesa dengan nada baritonnya yang menenangkan namun tak terbantahkan.

Perlahan, kedua telapak tangan Mahesa yang hangat mulai memijat tengkuk dan pundak Amerta yang tegang. Gerakannya tidak kasar; ia memijat dengan ritme yang teratur, menekan titik-titik yang pegal dengan kelembutan yang sangat kontras dengan watak aslinya yang kejam.

Amerta yang awalnya terus menolak dan mengeraskan otot-otot tubuhnya, perlahan-lahan mulai kehilangan daya lawan. Rasa hangat dari telapak tangan Mahesa seolah meresap ke dalam kulitnya, mengusir rasa linu di persendiannya. Pijatan itu berpindah ke punggung bagian atas, membuat Amerta tanpa sadar menghela napas panjang, melarutkan ketegangannya. Walau hatinya terus meneriakkan kata benci, fisiknya tidak bisa berbohong bahwa perlakuan Mahesa saat ini membuatnya merasa jauh lebih nyaman.

"Nyaman?" bisik Mahesa di dekat telinga Amerta, membuat gadis itu tersentak kecil dan kembali mengerucutkan bibirnya.

"Nggak. Biasa aja," ketus Amerta, gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui.

Mahesa tersenyum tipis di belakang punggung Amerta. Ia meneruskan pijatannya hingga senja meredup dan malam kembali mengambil alih. Pria itu benar-benar mengisolasi Amerta dari dunia luar hari itu, memonopoli seluruh eksistensi adiknya seolah-olah besok hari kiamat tidak akan pernah datang.

Ketika malam semakin larut, badai kembali bergemuruh di luar rumah. Suara guntur yang menggelegar membuat Amerta yang masih trauma otomatis meringkuk di dalam selimut. Kamar telah gelap, hanya menyisakan lampu tidur yang temaram.

Mahesa tidak beranjak dari ranjang tersebut. Ia ikut merebahkan badannya di samping Amerta, kembali menarik tubuh rapuh itu ke dalam dekapannya dari belakang. Kali ini, Amerta terlalu lelah untuk memaki atau menjerit. Tubuhnya yang lemas dan efek obat penurun panas membuatnya tidak memiliki kekuatan lagi untuk berontak.

Menjelang pagi hari, di bawah keheningan malam yang pekat dan suara sisa-sisa rintik hujan, mereka berdua akhirnya tertidur dalam posisi yang sama. Mahesa memeluk Amerta dengan protektif, menyembunyikan wajahnya di antara helai rambut adiknya, sementara Amerta tertidur lelap dalam pasrah, terikat di dalam pelukan pria yang paling ia benci sekaligus satu-satunya orang yang merawatnya di dalam sangkar emas itu.

1
Reni Anjarwani
lanjut
Tunik nur Agustina
seruu
Tunik nur Agustina
seruuuu thorr
azzura faradiva
Yach....cuma seuprit doang upnya😔
azzura faradiva
wow....keren poollll sekalinya up 7 bab sekaligus👏🏻👏🏻
azzura faradiva
lanjut....,bagus ceritanya
bulane: terimakasih atas dukungan nya🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
seruuuu bangettt
ela
semangat kakk💪🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!