NovelToon NovelToon
Polaris

Polaris

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: Alana Kanaya

Arunika Gantari, seorang perempuan ceria yang tiba-tiba saja menghilang selama 4 tahun.

Asoka Danubrata, putra bungsu pemilik perusahaan yang menyembunyikan identitasnya sebagai putra pemilik perusahaan dan bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan miliknya sendiri.

4 tahun Asoka menunggu kepulangan Arunika, menepati janjinya untuk memantaskan diri. Namun ketika gadis itu kembali, sosoknya berubah. Tak ada lagi Arunika yang ceria, yang ada hanya Arunika yang tertutup.

Apa yang menjadi rahasia kepergian Arunika 4 tahun lalu? Akan kah Asoka berhasil mengembalikan kecerian perempuan yang dia cintai? Atau kan posisi Arunika sudah digantikan oleh perempuan lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

True Colors

“Mengenai penilaian karyawan, ini kamu tidak salah memberi nilai Riko?”

“Memangnya kenapa, Pak?”

“Ini kenapa nilainya pas-pasan seperti ini?”

“Riko memang harus banyak belajar lagi, Pak, terutama dalam ketelitian.”

“Lho, ya kamu bisa lah sedikit toleran dengan Riko, bagaimanapun dia itu keponakannya H.I, tidak enak kalau kita memberi nilai seperti ini.”

Oka tersenyum kecut mendengar perkataan Ananta, saat ini Oka berada di ruangan sang manager membicarakan tentang penilaian karyawan yang akan berpengaruh terhadap besaran kenaikan gaji tahunan. Sebagai supervisor Oka berkewajiban menilai para staff nya secara objektif.

“Justru kalau kita memberi nilai lebih untuk Riko, itu malah akan membuat image Bapak menjadi buruk.”

“Buruk bagaimana?” Ananta terlihat bingung dengan ucapan Oka yang tengah menebar jebakan.

“Ya, Bapak tahu sendiri bukan, kita tidak bisa menutup mata kalau kemampuan Riko memang masih kurang dibanding yang lainnya.”

“Itu kan bisa kita maklumi, pekerjaan ini memang bukan bidangnya dia ketika kuliah dulu, jadi dia harus banyak belajar dan kamu sebagai seniornya yang memang berpengalaman di bidang ini berkewajiban mengajarinya.”

“Nah karena itu, Pak, akan aneh kalau kita memberi nilai Riko sempurna secara semua orang mengetahui tentang kelemahan Riko. Nanti mereka malah membicarakan kita berdua sebagai atasan yang pilih kasih, yang parahnya lagi nanti dikira Bapak lagi menjilat Riko karena dia keponakannya H.I.”

“Menjilat?” Ananta terlihat terkejut dengan ucapan Oka. “Lho, kalau saya mau, saya dekatin saja H.I sekalian, iya to’? Tapi saya orangnya tidak seperti itu.”

“Saya tahu Bapak orangnya tidak seperti itu, tapi orang lain tidak tahu tentang itu, Pak.”

Ananta terlihat mulai goyah, saat itulah Oka kembali memberikan sentuhan terakhir dari jebakannya.

“Tapi beda ceritanya kalau kita memberikan penilaian seperti ini, semua orang akan melihat Bapak sebagai atasan yang objektif tidak terpengaruh dengan status Riko yang keponakan direktur sekalipun.”

“Saya memang objektif, bagi saya semua sama mau dia keponakan direktur bahkan anak pemilik perusahaan sekalipun, kalau memang jelek ya saya beri nilai jelek.”

“Bagus, memang harus seperti itu, Pak.” Ananta terlihat jumawa dengan pujian Oka. “Jadi bapak setuju bukan dengan penilaian saya ini?”

“Ya, tentu saja! Kita kan memang haris adil dan objektif dalam menilai apapun juga.”

“Betul!” Oka tersenyum puas ketika akhirnya Ananta membubuhkan tanda tangannya di atas KPI.

Kenapa gue yang berasa jadi penjilat ya? Rutuk Oka dalam hati. Bodoh amat yang penting penilaian anak-anak adil.

***

“Hahahaha, jadi si Mail akhirnya setuju dengan KPI yang lo buat?” Kemal tertawa setelah mendengar cerita dari Oka tentang pembicaraannya dengan Ananta tentang penilaian karyawan.

“Iya, yang tahu bagaimana pekerjaan anak-anak kan kita, dia cuma terima report hasil akhir saja. Gila saja kalau sampai dia ikutan ngasih penilaian yang gue rasa kurang adil buat yang lainnya.”

Seperti biasa setelah shalat ashar Oka, Kemal, Hendra, Angga dan Doni duduk di taman yang berada di balkon lantai 23 dimana bagian operasional berada, dan karena mayoritas penghuni lantai 23 adalah pria bisa dipastikan taman itu secara tidak langsung menjadi smoking area, bukan hanya departemen operational saja, tapi departemen lain pun terkadang sengaja datang ke sana hanya untuk merokok sambil minum kopi di antara penatnya pekerjaan.

“Memangnya tuh si tuan muda, segitu begonya, Ka?”

“Tidak juga, tuh anak sebenarnya bisa hanya kurang teliti saja. Untungnya dia terima kok kalau dia salah dan mau kita kasih tahu.”

“Mendinglah kalau mau dikasih tahu. Ada yang jelas-jelas salah, tapi masih ngeyel dan sok pinter. Beuh! Rasanya pengen masukin orang macam itu ke dalam mobil molen, terus dijadiin cor-coran.”

“Hahaha.”

“Kalau yang seperti itu anaknya A.S, lo masih berani nggak, Ga?” tanya Kemal dengan senyum iseng.

“Waah, kalau sama putra mahkota sih, gue nggak berani, paling diam-diam gue kasih kopi yang sudah dicampur obat pencaharlah dikit.”

“Hahaha, tanggung, sianida saja sekalian,” ucap Oka sambil tertawa.

“Terlalu cepat reaksinya, nanti ketahuan dong.”

“Pelan-pelan, Ga, awalnya kita bikin mules-mules, lama-lama dosis meningkat.” Hendra berkata sambil tertawa seperti yang lainnya.

“Tapi sepertinya putra mahkota tidak sebodoh itu, siapa tahu dia pintar seperti bapaknya.” Doni berkata sambil membuang abu rokok.

“Ya, mudah-mudahan, doakan saja dia tidak bego-bego amat biar tidak dimasukan ke dalam mobil molen sama diracun pelan-pelan.” Oka berkata santai membuat keempat temannya tertawa.

“Ka, lo kan dekat nih sama Tania, dia tidak pernah cerita apa soal putra mahkota?” tanya Angga penasaran.

“Tania tidak pernah cerita apa-apa, tapi gue pernah dengar kalau anak bungsu A.S itu … ganteng, ganteng banget mirip model gitu.”

“Uhuk-uhuk!” Kemal tersedak asap rokok hingga terbatuk-batuk.

“Makanya, Ke, jangan merokok terus lo!” ujar Oka santai yang mendapat delikan dari Kemal.

“Dasar, Kampret!”

Oka hanya tertawa melihat Kemal yang masih terbatuk-batuk sampai wajahnya memerah.

“Dunia ini kadang tak adil.” Angga berkata sambil menghisap rokoknya. “Kaya, ditambah ganteng pula, kalau misalnya dia juga pintar. Fix, ini tak adil buat kaum pas-pasan seperti kita ini.”

“Gaji cuma pas buat hidup sebulan, kadang nombok, ditambah muka juga pas-pasan. Pokoknya serba pas-pasan, cenderung minus daripada plusnya.”

“Hahaha, apalagi seperti gue sama Kang Doni nih, yang harus mikirin susu anak, token listrik yang cerewet seperti ibu yang punya kontrakan, telat sehari saja cerewetnya sudah seperti priwit tukang parkir yang muncul tiba-tiba seperti jelangkung.”

“Hahaha.”

“Ya, kita kan tidak tahu realita kehidupannya seperti apa. Kita hanya melihat dari luar saja, siapa tahu masalah kehidupan mereka lebih pelik lagi, walaupun bukan soal masalah financial, tapi kan masalah hidup tidak melulu soal keuangan saja.”

“Betul, Kang Don, terkadang apa yang kita pikirkan tentang kehidupan orang lain jauh berbeda dengan kenyataannya,” ujar Oka yang mendapat anggukan dari Doni.

Di antara mereka berlima, Doni memang paling tua dan paling dewasa dalam berpikir walau terkadang tertular juga erornya oleh mereka berempat.

“Ya, setidaknya dia tak tahu bagaimana rasanya mendengar token listrik bunyi tengah malam.”

“Hahaha.”

“Setidaknya lo masih beruntung, Dra. Lo sudah nikah dibandingkan putra mahkota yang katanya masih jomblo.”

“Nah itu membuktikan, wajah tampan, kaya, punya segalanya belum tentu dapat jodoh paling cepat, kan? Buktinya lo yang pas-pasan dari segala aspek sudah nikah, sudah bisa merasakan surga dunia diusia 24 tahun.”

“Hahaha, benar juga ya.”

“Ngomong-ngomong soal surga dunia, mending lo gercep deh sama Tania, Ka, sebelum lo ditikung sama si putra mahkota.”

“Benar, tuh! Bahaya nanti kalau sampai si putra mahkota mulai masuk sini, bisa oleng Tania sama dia.”

“Lagian cewek sekelas Tania itu pasti masuk kategori calon menantu A.S.”

“Tania boleh saja menolak GM bank GA, tapi sepertinya kalau sudah berhubungan dengan anak pemilik perusahaan. Beuh! saingan ketat, Ka, seketat celana lagging mbak-mbak yang senam aerobik.”

“Hahaha, benar.”

Oka hanya terdiam, sambil tersenyum. Beberapa hari lalu setelah pertemuan dan pembicaraannya dengan Tania, keraguan Oka semakin menjadi hanya saja dia tidak memiliki bukti nyata, karena selama ini yang dia miliki hanya perasaan curiga saja.

“Jangan deh, gue nggak setuju kalau lo sama Tania, Ka,” ucap Kemal menarik perhatian semuanya.

Awalnya mereka pikir Kemal bercanda, tapi melihat wajahnya yang serius mereka sadar kalau sahabat Oka dari mulai bangku kuliah itu sedang tidak bercanda dan itu membuat Oka mengangkat alisnya bingung.

Bukan kah Kemal termasuk yang paling gencar mendukung Oka dan Tania? Tapi kenapa kini semuanya berbalik dengan cepat? Bahkan keesokan harinya ketika Tania berusaha mendekati Oka di food court, Kemal berperan seperti satpam yang akan menjauhkan Oka dari perempuan itu, dan itu terus berlangsung membuat Oka keheranan dengan sikap Kemal yang berubah terhadap Tania.

“Lo kenapa sih, Ke, kemarin-kemarin yang nyuruh gue dekat sama Tania kan elo, kenapa sekarang lo jadi seperti cewek lagi PMS yang cowoknya dideketin cewek lain setiap Tania datang, sepertinya tuh tangan sudah gatal banget mau nyakar mukanya dia.”

“Emang! Asli kalau dia cowok sudah gue ajak berantem tuh.”

Oka terdiam memerhatikan Kemal yang terlihat emosi.

“Kenapa? Jangan bilang lo cemburu sama Tania.”

“Naj*s! Hahaha.”

“Terus kenapa? Lo tahu sesuatu yang gue enggak tahu?”

Kemal terdiam, terlihat putus asa. Dia ingin memberi tahu Oka tentang apa yang sempat dia dengar tanpa sengaja beberapa hari lalu, tapi dia takut itu akan memberikan efek yang buruk tentang perempuan kepada sahabatnya itu.

“Ka, lo tahu kan gue selalu mendukung lo, termasuk urusan perempuan?” Oka mengangguk sebagai jawaban. “Gue akan menjadi orang pertama yang akan bahagia banget kalau lo bisa move on dan melupakan Arunika, tapi … jangan Tania.”

Oka menatap Kemal menyelidik.

“Ya, kenapa? Pasti ada alasannya, kan? Selama ini lo menjadi tim pendukung nomer satunya Tania, kenapa tiba-tiba berubah haluan gini?”

“Gue akan mendukung lo sama siapa saja, selama perempuan itu baik dan menerima lo apa adanya, hanya saja … perempuan itu bukan Tania.”

Oka terdiam mencerna makna di balik ucapan Kemal, sebelum akhirnya dia tersenyum paham.

“Ka …”

“Gue gak apa-apa, Ke. Dari awal gue sudah memersiapkan hal ini.” Oka berkata dengan lirih. “Ternyata sulit ya, Ke, membuat orang menyukai kita dengan tulus tanpa ada embel-embelnya.” Oka tersenyum getir.

Mereka berdua terdiam duduk di atas trotoar parkiran motor, tanpa banyak bicara Kemal mengeluarkan bungkus rokok, mengambil sebatang kemudian menawarkannya kepada Oka yang sepertinya memang memerlukan sedikit ketenangan.

“Ada, akan ada perempuan yang menyukai kita apa adanya.” Kemal berkata setelah menyulut rokoknya. “Ada pepatah yang bilang perempuan baik-baik akan mendapatkan lelaki baik-baik, dan itu berlaku juga untuk lelaki.”

Oka mengangguk sambil menghembuskan asap rokok.

“Lo, lelaki baik-baik pasti akan mendapatkan perempuan baik-baik. Yakin saja akan ada perempuan yang menyukai lo apa adanya sebagai Asoka Danubrata, bukan karena status lo.”

Oka tersenyum sambil mengangguk, mengamini doa sang sahabat.

“Bagaimana lo bisa tahu?”

Kemal menghisap rokok kemudian menghembuskan asapnya perlahan sebelum dia bercerita.

“Gue tidak sengaja melihat Tania di Memory (Coffee shop), tadinya gue berniat menyapanya, tapi ternyata dia sedang bersama temannya, dan mereka sedang membicarakan lo, Ka. Mereka menertawakan kebodohan lo yang mengira tak ada seorangpun tahu kalau lo anak pemilik perusahaan, mereka menertawakan kebodohan lo yang sengaja mengajak dia makan di kaki lima, mereka menertawakan kebodohan lo yang berperan sebagai karyawan biasa, padahal lo anak pemilik perusahaan, mereka menertawakan kebodohan lo yang memberikan pertanyaan jebakan. Dia tahu, selama ini lo hanya sedang mengetes ketulusan dia. Dan dia sudah mempersiapkan itu semua.”

Oka menghembuskan asap rokoknya perlahan, matanya menerawang menatap langit malam, bibirnya menyunggingkan senyum kecewa.

Sebelumnya Oka sudah menduga hal ini, bahkan sudah menyiapkan hati seandainya prediksinya benar. Namun ketika mengalami langsung, tetap saja hatinya terasa sakit ketika mengetahui ada seseorang yang mendekatinya dengan niat tertentu, karena statusnya sebagai anak pemilik perusahaan yang menempel padanya.

Dulu ada seseorang yang mencintai dengan tulus, tanpa melihat statusnya sebagai putra salah satu konglomerat negri ini, hanya melihatnya sebagai seorang mahasiswa biasa, sebagai Asoka Danubrata. Namun perempuan itu telah pergi, entah kemana meninggalkannya dalam penantian panjang. Dan sekarang dia sudah terlalu lelah untuk menanti.

*****

*KPI (Key Performa Indicator): Parameter atau indikator untuk menilai kinerja karyawan.

1
Nina Mariana
Ga afdol rasanya kalau ga nengokin Abang Oka, setelah kmrn udh nengok Kirana & Bi😍
Reread lagi nih mbak Kanaya di bln Juni 2026, sambil berharap Novel br dari Mbak Kanaya🥰🙏
Yanti Yanti
sekejam apapun ibu, tetap lha seorang ibu, yg akan melakukan apapun buat anak nya... 👍👍👍
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
gak ada bosennya cerita ku ulang berkali kali ❤️❤️❤️❤️❤️
siska nirmala
seperti biasa, kk alana tidak pernah gagal membuat alur cerita yang menarik
Lia Kiftia Usman
selangkah...yg mendebarkan...ketemu kan kan....
Lia Kiftia Usman
kangen oka arunika...baca lagi yg kesekian ..
Sri Wulandari
bu mega sangat luar biasa bisa menenangkan & membujuk ara dg mudah hingga kepercayaan dirinya mulai kembali lagi walaupun blm sepenuhnya
Sri Wulandari
segera cerita sm abang ara sebelum badai dtng menghantam klrg sigit Suwarno karna masa lalu itu telah dtng yaitu ibu kandung mu😔
Sri Wulandari
arunika pasti paham klu abang oka g suka identitasnya d ketahui smua orang jd dia lebih memilih identitasnya yg d ketahui orang lain karna arunika lebih memilih pasang badan utk melindungi privasi abang oka
Sri Wulandari
saling membuka diri itu lebih baik daripada memendam dlm hati yg akan terus berikan luka...
terkadang ego harus d turunkan demi suksesnya sebuah hubungan agar kesalah pahaman yg selama ini terjadi bs terurai sedikit demi sedikit
Sri Wulandari
akhirnya arunika kembali k mode aslinya yg sllu membuat oka merindukannya😂😂😂
lala
pokoknya nih novel kereeen banget, wajib kalian bacaaaa
bunga citra
dar der dor
bunga citra
et daaah
Ria Mersi Akmal
lagu kesukaan aku di up disini, ah senangnya 🤭
Adeeva Haboo
abaaaaang aku rinduuuuuuuuu
ida nurhalimah
karya yg luar biasa bagus ada banyak pelajaran yg d dapat
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
wkwkwk nggak bilang2..cuman bikin pengumuman aja kok 🤣🤣🤣
Indah Ekawati
huhuhuu...namgis bacanya thor....keren bgt...ini mah keren bgt dijadikan film .../Drool/
Lusyana_njus⋆⃝🌈
balike lagi kesini setelah kmrn singgah di Kirana - Caraka, Bi - Abi skrg bareng Abang Oka - Ara.
btw makasih teh Al krna kisah Abang ini anak ke 3 ku kukasih nama Arunika 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!