NovelToon NovelToon
Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Oktavianiputri77

Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Umpan yang Menangkap Pemburu

Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar sunyi.

Selalu ada suara mesin, lampu yang berkedip, dan kehidupan kota yang seakan tidak pernah tidur.

Di sebuah gedung tinggi milik Rafardhan Group, Arsen Rafardhan berdiri di depan layar utama yang menampilkan peta digital kota.

Satu titik merah berkedip pelan.

Tracker aktif.

Arsen menatapnya tanpa berkedip.

“Dia tidak menghapusnya,” gumamnya pelan.

Baskoro berdiri di belakang. “Artinya dia membiarkannya, Tuan.”

Arsen mengangguk kecil.

“Bukan membiarkan,” katanya. “Dia sedang menghitung.”

Di sisi lain kota.

Mobil van hitam melaju pelan di jalan kosong.

Di dalamnya, Anya Clarissa duduk dengan tenang.

Tangannya menyentuh tas sekolahnya.

Di sana, alat kecil itu masih aktif.

Tracker.

Dari Arsen.

Tulus melirik layar tablet.

“Posisi kita sudah terbaca real-time.”

Anya menatap jendela.

“Dia ingin aku bergerak ke mana dia mau.”

Tulus mengernyit. “Dan kamu akan?”

Anya tersenyum tipis.

“Tidak.”

Ia berhenti sebentar.

“Aku akan membuat dia berpikir dia yang mengendalikan arah.”

Keesokan paginya di SMA Wijaya.

Arsen berdiri di depan ruang OSIS.

Tidak seperti biasanya, ia tidak langsung masuk.

Ia menunggu.

Dan saat Anya muncul—

Arsen langsung bergerak.

“Anya.”

Langkah Anya berhenti.

“Iya, Kak?”

Arsen menatapnya.

Lalu tersenyum kecil.

Senyum yang terlalu terkontrol.

“Aku butuh bantuan lagi.”

Anya berkedip.

“Bantuan apa?”

Arsen mengangkat sebuah map.

“Perpustakaan lama sekolah. Ada data arsip yang harus dipindahkan ke sistem digital. Aku butuh seseorang yang teliti.”

Anya mengangguk kecil.

“Tentu, Kak.”

Terlalu cepat.

Terlalu mudah.

Dan Arsen tahu itu.

Namun ia tetap berbalik.

“Jam istirahat kedua. Ruang arsip perpustakaan.”

Jam istirahat kedua.

Perpustakaan lama SMA Wijaya berada di gedung samping yang jarang digunakan.

Debu lebih tebal.

Buku lebih tua.

Dan suasana lebih dingin.

Anya masuk lebih dulu.

Arsen datang beberapa menit kemudian.

“Sendirian?” tanya Arsen.

“Petugas perpustakaan sedang rapat,” jawab Anya.

Arsen mengangguk.

“Bagus.”

Mereka mulai bekerja.

Atau setidaknya terlihat seperti itu.

Namun tanpa sepengetahuan Anya—

seluruh ruangan sudah dipasangi sistem pemindai mikro.

Sensor gerak.

Sensor suara.

Dan pelacak sinyal.

Arsen berdiri di belakang rak buku, memantau semua data di tablet kecilnya.

Baskoro berbisik di earpiece.

“Semua parameter stabil, Tuan.”

Arsen menatap Anya yang sedang memindahkan buku.

“Tidak ada reaksi aneh?”

“Tidak ada.”

Arsen mengernyit.

“Terlalu sempurna.”

Di sisi Anya.

Tangannya bergerak pelan di antara buku-buku.

Namun pikirannya bekerja jauh lebih cepat.

“Delapan sensor,” bisik Tulus di komunikator.

Anya mengangguk kecil tanpa terlihat.

“Aku tahu.”

“Dia menjebakmu.”

Anya tersenyum tipis.

“Bukan.”

Ia berhenti sejenak.

“Dia memberi aku panggung.”

Arsen mulai mendekat.

Langkahnya pelan.

Hampir tidak bersuara.

Ia berhenti tepat di belakang Anya.

“Capek?” tanya Arsen.

Anya menoleh sedikit.

“Tidak, Kak.”

Arsen menatap rak buku di depan mereka.

Lalu berkata pelan.

“Aneh ya…”

Anya tidak menjawab.

“Setiap kali aku mendekat ke kamu,” lanjut Arsen, “selalu ada sesuatu yang terasa… disembunyikan.”

Hening.

Anya tetap tenang.

“Tapi aku tidak punya apa-apa untuk disembunyikan, Kak.”

Arsen tersenyum tipis.

“Itu yang semua orang bilang.”

Arsen mengangkat tablet kecilnya sedikit.

Data sensor mulai naik.

Detak kecil.

Perubahan mikro.

Sesuatu.

“Ketemu,” gumam Arsen pelan.

Namun di saat yang sama—

Anya menutup buku di tangannya.

Suara klik kecil itu membuat Arsen menoleh.

Dan di detik itu—

semua sensor tiba-tiba turun ke nol.

Bip.

Bip.

Bip.

“Tidak mungkin…” Baskoro langsung panik di earpiece.

Arsen langsung mengangkat tablet.

Semua sistem mati.

“Blackout?” gumamnya.

Tapi hanya selama 1 detik.

Lalu kembali normal.

Namun—

Anya sudah tidak di tempat yang sama.

Arsen menoleh cepat.

“Anya?”

Tidak ada jawaban.

Rak buku kosong.

Di sisi lain perpustakaan.

Anya berdiri di lorong sempit antara rak.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

“Dia sadar sekarang,” kata Tulus.

Anya mengangguk.

“Bagus.”

Tulus terdiam.

“Bagus?”

Anya tersenyum kecil.

“Dia akhirnya berhenti bermain aman.”

Arsen berjalan cepat di antara rak.

Matanya tajam.

Sensor di tablet kembali normal.

Tapi sesuatu berubah.

Tidak ada Anya di layar.

Padahal secara logika—

dia tidak mungkin keluar tanpa terdeteksi.

Arsen berhenti.

Lalu tersenyum tipis.

“Aku mengerti.”

Ia menatap sekeliling.

“Jadi ini permainanmu.”

Di lorong rak lain.

Anya berdiri diam.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak langsung bergerak.

Karena suara langkah Arsen semakin dekat.

Satu.

Dua.

Tiga.

Dan berhenti.

Tepat di ujung rak yang sama.

Jarak mereka hanya satu dinding kayu tipis.

Hening.

Arsen berbicara pelan.

“Aku tahu kamu di sini.”

Anya tidak menjawab.

Arsen melanjutkan.

“Kamu bukan gadis biasa.”

Sunyi.

“Dan kamu juga bukan sekadar siswa beasiswa.”

Diam.

Arsen menunduk sedikit.

Suaranya lebih pelan.

“Hanya satu hal yang belum aku tahu…”

Ia berhenti.

“…kamu siapa sebenarnya?”

Di balik rak buku.

Anya menutup mata sebentar.

Lalu tersenyum.

“Pertanyaan yang salah, Arsen…”

bisiknya sangat pelan.

“Yang benar adalah… kamu sudah sejauh apa masuk ke dalam perang yang bukan milikmu.”

Dan di saat itu—

lampu perpustakaan berkedip sekali.

Seolah dunia menahan napas.

1
Night Watcher
seharusnya cerita yg bagus, tp mc dibuat terlalu monoton, shg cerita jd kaku dan menjemukan.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏
Night Watcher
sekolah kelas atas masa lantainya semen? granit kek, marmer, minimal keramik lah ..😇
Night Watcher
katanya dlm 2 hr, selene hancur. tp msh ttp aja berjaya?
Night Watcher
mungkinkah aku reader pertama?
Night Watcher
coba mampir..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!