Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 33
Inara melangkah keluar dari rumah itu, napasnya memburu. Saat dia mencapai mobilnya sendiri, tangannya yang gemetar membuat dia kesulitan menekan kunci. Sebuah tangan yang kokoh menyentuh bahunya dengan lembut namun tegas, mengambil alih kunci dari genggamannya.
"Vin... tolong berikan kuncinya. Aku harus segera pergi dari sini!" ucap Inara.
Dia yang panik dan bahkan tak menyadari jika Gavin masih berada di sana menunggunya. Dia mengir Gavin sudah pergi. Sedangkan Gavin mengira Inara akan mengambil berkas penting dan kembali ke Gedung acara. Makanya dia menunggu Inara di sana.
Melihat tangan Inara yang gemetar dan wajahnya yang pucat, membuat Gavin menatap penuh khawatir kepada Inara.
"Inara, lihat tanganmu. Kamu gemetar hebat," ucap Gavin dengan nada suara yang rendah namun penuh penekanan.
"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara kamu dan Mahesa, dan aku tidak akan memaksa untuk tahu sekarang. Tapi sebagai sahabatmu, aku tidak akan membiarkanmu menyetir dalam keadaan seperti ini. Ini sangat berbahaya untukmu! Kamu bisa celaka di jalanan!"
Inara berusaha menolak.
"Vin, tidak perlu. Aku bisa..."
"Tidak, Inara. Kali ini dengarkan aku," potong Gavin. Dia memindahkan Inara ke kursi penumpang mobil sedan hitam miliknya, lalu memutari mobil dan masuk ke kursi pengemudi.
"Kamu keluar dari pesta itu seperti orang yang sedang dikejar bayang-bayang. Kamu pucat, dan matamu, aku tidak pernah melihatmu sesedih ini."
Inara terdiam, matanya berkaca-kaca. Dia memang tidak menceritakan detail keke-rasan yang dialaminya kepada Gavin, namun sahabatnya itu selalu bisa merasakan saat dunianya sedang runtuh. Inara sedari tadi berusaha menahan air matanya di depan Gavin didepan semua orang selama ini.
"Ke mana pun kamu pergi, aku akan mengantarmu sampai kamu benar-benar berada di tempat yang aman," kata Gavin sambil menyalakan mesin.
"Jangan membantah. Aku tidak akan tenang kalau membiarkanmu pergi sendirian malam ini. Dalam keadaan seperti ini, Inara!"
"Terima kasih, Vin! Inara memberikan sebuah alamat kepada Gavin. Tempat aman yang sudah di pastikan oleh Papa Raharjo.
"Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Gavin.
"Aku perlu membuang dulu ponsel ini Vin! Karena Mahesa bisa melacakku dengan ponsel ini!" jawab Inara.
Gavin mengangguk dan membuka kaca jendela mobil untuk Inara. Dengan tenang Inara membuang ponselnya dan setelahnya terdengar bunyi kreeeek. Ponselnya terlin-das ban belakang mobil Gavin. Tak ada ekspresi apapun saat Inara membuangnya. Melihat hal itu, Gavin menyadari kalau hubungan Inara dan Mahesa tak baik-baik saja.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil hening. Gavin tidak bertanya, dia hanya sesekali melirik Inara dari balik kaca spion, memastikan sahabatnya itu tidak menangis tanpa suara. Fokus Gavin hanya satu, memastikan Inara sampai ke tujuan yang ditunjukkan Inara di layar ponselnya. Sebuah perumahan Elit Privat yang memiliki tingkat keamanan tinggi dan tak bisa sembarangan orang bisa masuk.
Perumahan yang benar-benar hanya bisa di masukin oleh orang yang memiliki akses tersendiri. Inara kaget karena Gavin ternyata bisa masuk ke dalam area perumahan yang memiliki tingkat keamanan 3 lapis di gerbang utamanya.
"Vin... Kartu aksesnya ada padaku," Inara kaget. Gavin menoleh dan tersenyum.
"Aku juga tinggal di sini Inara! Makanya aku punya kartu akses sendiri. Kebetulan sekali sepertinya kita akan menjadi tetangga!" Kekeh Gavin. Inara hanya membalas dengan senyum tipis.
"Ini rumahmu?" tanya Gavin. Inara mengangguk pelan.
"Ya. Terima kasih, Vin. Maaf merepotkanmu di tengah acara penting tadi. Dan sampai aku tiba di rumah,"
"Tak masalah! Lagian rumah aku persis berada di sebelah rumah kamu! Kebetulan lagi ternyata!" tunjuk Gavin.
"Selamat datang tetangga! Semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik!" tambah Gavin.
"Sekali lagi terima kasih, Gavin!"
"Jangan terus berterima kasih, Inara. Tapi janji satu hal padaku, Inara. Kalau ada seseorang yang menyakitimu siapa pun itu. Bahkan jika dia adalah suamimu, jangan pernah menanggungnya sendiri lagi. Aku ada di sini. Selalu. Jangan sungkan bicara dan cerita. Aku akan membantumu!"
Kata-kata itu menghantam pertahanan Inara. Dia menyadari bahwa di dunia yang terasa dingin ini, masih ada seseorang yang benar-benar peduli tanpa mengharapkan keuntungan atau jabatan.
"Terima kasih, Vin," bisik Inara tulus, suaranya kini lebih tenang.
Setelah memastikan Inara masuk ke dalam rumah dengan aman dan disambut oleh asisten rumah tangga yang sudah disiapkan oleh pihak Papa Raharjo, Gavin baru mengembuskan napas panjang.
Dia masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun instingnya mengatakan bahwa hidup Inara baru saja berubah selamanya. Dan dia akan mencari tahu sambil menunggu Inara bercerita.
Gavin membawa mobilnya ke rumah sebelah yang nyatanya memang bersebelahan dengan rumah yang di huni Inara. Dia tinggal di sana sendirian. Dan dia memang memilih tempat itu karena ingin benar-benar nyaman dan aman dari segala gangguan. Namun, pikirannya terganggu dengan wajah dan keadaan Inara.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Inara? Bukannya sekarang di gedung itu seharusnya Mahesa di angkat menjadi Pimpinan Utama perusahaan Dirgantara? Lalu kenapa malah dia pergi dari sana? Apa mungkin pengangkatan itu..." seru Gavin pelan.
Dan di ballroom memang sedang terjadi ketegangan. Acara tak sesuai dengan rencana Mahesa.
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭