NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempat Perlindungan

Suasana di dalam kendaraan militer terasa sunyi dan berat setelah mendengar isi surat ancaman itu. Suara deru mesin dan roda yang bergesekan dengan aspal menjadi satu‑satunya suara yang terdengar. Putra memeluk bahu Citra, sedangkan Citra memeluk erat Andi yang masih terlelap, seolah berusaha melindungi putranya dari bahaya yang terasa mengintai dari segala arah.

“Mereka tahu persis apa yang kita miliki dan apa yang menjadi kelemahan kita,” gumam Putra pelan, matanya menatap lurus ke depan. “Ini membuktikan bahwa informasi tentang kita bocor. Entah dari mana, tapi ada yang memberi tahu mereka setiap langkah kita.”

Kolonel Bayu yang duduk di kursi depan memijat pelipisnya yang terasa tegang. Sebagai perwira tinggi, ia sudah terbiasa menghadapi situasi berbahaya, namun ancaman yang tidak terlihat seperti ini justru lebih sulit dihadapi.

“Tempat yang akan kita tuju adalah markas cadangan yang jarang diketahui orang,” ujarnya mencoba menenangkan suasana. “Hanya segelintir orang yang memiliki akses ke sana. Seharusnya aman, setidaknya untuk sementara waktu.”

Perjalanan memakan waktu hampir dua jam. Mereka meninggalkan area tambang dan desa, melintasi jalan berkelok di perbukitan yang tertutup pepohonan lebat. Setelah melewati beberapa pos pemeriksaan rahasia, kendaraan akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan kokoh berwarna abu‑abu yang tersembunyi di antara lereng bukit. Bangunan itu tampak sederhana dari luar, namun dilengkapi sistem pengamanan yang ketat.

Begitu masuk, mereka segera diantar ke ruang tengah yang luas namun tertata rapi. Ada tempat tidur, peralatan medis, dan ruang kerja yang cukup lengkap. Citra segera memeriksa kembali kondisi Andi, memastikan tidak ada efek samping racun yang tersisa.

“Dia sudah membaik,” ujar Citra sambil menyeka keringat di dahi putranya. “Denyutnya stabil, suhu tubuhnya normal. Istirahat yang cukup akan memulihkannya sepenuhnya.”

Putra tersenyum tipis, rasa lega sedikit menyelinap di hatinya. Ia menatap istrinya dengan pandangan penuh kasih sayang. “Terima kasih, Citra. Tanpa ketenangan dan keahlianmu, mungkin kita sudah tidak bisa berada di sini sekarang.”

Citra tersenyum lemah, lalu memegang tangan suaminya. “Kita saling melindungi, bukan?

Momen hangat itu terhenti ketika Arga masuk ke ruangan dengan wajah serius. Ia baru saja selesai memeriksa seluruh area dan sistem pengawasan.

“Kolonel, ada sesuatu yang aneh,” lapor Arga. “Tim saya menemukan bekas jejak langkah di belakang bangunan, area yang seharusnya tertutup rapat. Jejaknya tidak terlalu jelas, tapi menunjukkan bahwa seseorang pernah berada di sana beberapa jam yang lalu. Seolah sedang mengamati bangunan ini dari jarak dekat.”

Wajah Kolonel Bayu seketika berubah tegang. “Apakah ada peralatan pengawasan yang ditemukan? Kamera atau alat perekam?”

“Belum ditemukan secara fisik,” jawab Arga. “Tapi ada kemungkinan mereka menggunakan peralatan canggih yang sulit dideteksi. Dan satu hal lagi jalur komunikasi kita ke luar terasa sedikit terganggu, seolah ada gangguan sinyal yang sengaja dibuat.”

Berita itu membuat suasana kembali tegang. Tempat yang dianggap aman pun ternyata sudah terlihat. Ini menegaskan kembali bahwa musuh mereka memiliki sumber daya dan jangkauan yang jauh lebih luas dari yang mereka bayangkan.

Adiwinata yang dibawa masuk dan dikurung di ruang terpisah namun masih dalam jangkauan pendengaran mereka tertawa pelan. Suaranya terdengar dingin dan penuh ejekan.

“Sudah kubilang,” ucapnya dari balik pintu. “Dia tidak akan membiarkan kalian hidup tenang. Di mana pun kalian bersembunyi, dia akan menemukan kalian. Dia memiliki cara untuk mengetahui segala sesuatu.”

Putra melangkah mendekati ruangan tempat Adiwinata ditahan, menatapnya lewat celah pintu. “Kau masih bisa membantu kami. Katakanlah apa yang kau ketahui tentang kebiasaan, cara berpikir, atau bahkan tanda‑tanda yang bisa mengidentifikasi orang itu. Jika dia membunuhmu setelah ini, setidaknya kau bisa meninggalkan sesuatu yang berguna untuk menumpas kejahatannya.”

Adiwinata terdiam sejenak, lalu menatap Putra dengan pandangan yang sulit diartikan. “Dia sangat berhati‑hati. Dia tidak pernah berbicara langsung melalui telepon, selalu menggunakan perantara. Dia tidak pernah meninggalkan jejak tulisan tangannya sendiri. Satu‑satunya hal yang bisa kukatakan adalah dia memiliki ciri khas tertentu dia selalu memakai cincin perak berbentuk daun di jari manis tangan kanannya, dan dia sering menyebut kata ‘warisan’ dalam setiap pembicaraan, seolah itu adalah alasan utama dari segala tindakannya.”

Informasi itu sedikit memberi petunjuk, namun masih terlalu samar. Banyak orang yang memakai cincin, dan banyak pula yang membicarakan warisan.

Saat mereka sedang membahas langkah selanjutnya, seorang anggota tim keamanan masuk tergesa‑gesa membawa sebuah amplop cokelat yang tidak bertanda.

“Ini ditemukan tergeletak di depan gerbang utama, diselipkan di antara pagar. Tidak ada pengirim, tidak ada cap pos,” lapornya sambil menyerahkan amplop itu.

Kolonel Bayu mengambilnya dengan hati‑hati, memeriksa apakah ada bahaya, lalu membukanya. Di dalamnya terdapat selembar kertas putih polos dan sebuah foto. Saat ia mengeluarkan foto itu, wajahnya memucat. Ia segera menyerahkannya kepada Putra dan Citra.

Foto itu menampilkan sebuah rumah yang sudah tidak asing bagi mereka rumah tempat orang tua angkat Citra tinggal. Di sudut foto, terlihat sosok yang berdiri membelakangi kamera, namun terlihat jelas cincin perak berbentuk daun di jari tangannya yang tergantung di samping tubuh. Di bagian bawah foto, tertulis tulisan tangan yang dicetak rapi:

“Jika kalian ingin tahu kebenaran lengkap tentang siapa orang tua asli Citra dan mengapa mereka dibunuh, datanglah ke tempat pertemuan lama di tepi danau besok malam. Datanglah berdua saja, tanpa pengawalan. Jika kalian membawa orang lain, nyawa mereka yang ada di foto ini akan menjadi penggantinya.”

Citra terguncang hebat, tangannya gemetar memegang foto itu. Wajahnya pucat pasi, matanya berkaca‑kaca. “Mereka mengancam orang tua angkatku... mereka tidak bersalah dalam hal ini.”

Putra memeluk istrinya erat, matanya menyala penuh amarah namun juga kebingungan. Ini jelas jebakan, namun mereka tidak bisa mengabaikan ancaman itu. Jika mereka tidak datang, nyawa orang yang disayangi Citra akan terancam. Namun jika mereka datang, mereka akan berjalan langsung ke dalam perangkap musuh yang sudah terencana matang.

“Ini pasti jebakan,” ujar Kolonel Bayu tegas. “Kita tidak bisa membiarkan kalian pergi berdua begitu saja. Kita akan mengatur pasukan untuk bersembunyi di sekitar area itu, agar kalian aman.”

Namun, sebelum mereka sempat membahas rencana lebih lanjut, Andi yang terbangun dari tidurnya tiba‑tiba menunjuk ke arah foto itu dan berbicara dengan suara lirih namun jelas:

“Aku pernah melihat cincin itu... di rumah... saat Bibi Sari datang berkunjung minggu lalu...”

Semua orang terdiam serentak. Darah seolah berhenti mengalir di tubuh mereka. Pandangan mereka tertuju pada foto itu, lalu saling berpandangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!