Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Setelah negosiasi "jebakan" kemarin, Arkan benar-benar memberikan posisi kepada Dimas. Namun, alih-alih memberinya ruangan dingin yang konyol dan kekanakan, Arkan bermain di level yang jauh lebih tinggi. Sang CEO iblis itu menciptakan sebuah ruangan khusus untuk Dimas di tengah-tengah lantai operasional. Ruangan itu terbuat dari kaca transparan di keempat sisinya. Staf kantor diam-diam menjulukinya 'Akuarium Kaca'.
Di sanalah Dimas duduk pagi ini. Ia tidak terlihat menyedihkan. Sebaliknya, Dimas mengenakan setelan jas *navy* pesanan khusus yang sangat rapi, rambutnya tersisir klimis, dan posturnya tetap tegap berwibawa. Ia terlihat seperti seorang eksekutif. Namun, ironinya adalah, di dalam ruangan kaca nan mewah itu, Dimas tidak diberikan akses ke dokumen strategis apa pun. Tugasnya yang diatur langsung oleh Hadi hanyalah menyortir ratusan surel keluhan pelanggan dan membalasnya satu per satu dengan pedoman bahasa yang sangat kaku.
Setiap karyawan yang lewat bisa melihatnya. Dimas mempertahankan senyum aristokratnya, meski aku tahu rahangnya pasti sudah kaku menahan amarah karena egonya sedang dikuliti pelan-pelan di depan publik.
"Laporan harian, Pak Arkan," lapor Hadi saat memasuki ruanganku pagi ini. Arkan kebetulan sedang duduk di sofa ruanganku, menyesap espreso sambil memeriksa *tablet*-nya. "Target di dalam Akuarium Kaca terpantau stabil. Ia berhasil membalas dua ratus surel tanpa mematahkan *keyboard*-nya."
Arkan tidak mengangkat pandangannya dari layar. "Bagus. Pastikan teh kamomilnya dihidangkan tepat waktu. Kita tidak ingin tamu kehormatan kita merasa kurang dilayani saat dia sedang menjadi tontonan gratis bagi seluruh karyawan."
Aku menggelengkan kepala, meletakkan pena di atas meja. "Arkan, kamu benar-benar tahu cara menghancurkan harga diri seseorang tanpa harus merusak setelan jasnya."
Arkan menoleh padaku, seulas senyum tipis yang mematikan tersungging di bibirnya. "Orang seperti Dimas hidup dari validasi dan kekuasaan, Naura. Mengurungnya di ruangan dingin hanya akan membuatnya merasa terhina. Memasukkannya ke dalam etalase kaca tanpa kekuasaan apa pun? Itu baru seni menyiksa yang berkelas."
Namun, belum sempat aku membalas, telepon di meja Hadi berdering nyaring. Hadi mengangkatnya, dan dalam hitungan detik, postur tubuh sekretaris itu menegang. Ekspresi tenangnya retak.
"Baik. Saya akan segera informasikan kepada Bapak CEO," ucap Hadi kaku lalu menutup telepon. Ia menatap Arkan dengan wajah pias. "Pak Arkan. Rombongan Dewan Komisaris baru saja tiba di lobi. Dan mereka... membawa tim auditor eksternal."
Alis Arkan bertaut. "Auditor eksternal? Jadwal audit tahunan masih tiga bulan lagi."
Hadi menelan ludah. "Berdasarkan info dari resepsionis, ini adalah audit investigatif mendadak. Ada laporan masuk ke Dewan Komisaris mengenai dugaan penggelapan dana kampanye iklan dan... nepotisme di divisi pemasaran."
Ruanganku mendadak senyap. Jantungku berdegup kencang. Nepotisme? Penggelapan dana pemasaran? Itu divisiku!
Arkan berdiri. Gerakannya sangat tenang, namun aura di sekelilingnya seketika berubah menjadi gelap dan mengancam. Ia mengancingkan jasnya dengan gerakan lambat dan penuh perhitungan. "Dimas," desisnya pelan. "Dia menggunakan sisa koneksinya di Dewan Komisaris untuk menyerang balik. Dia bermain sebagai pelapor berintegritas yang peduli pada perusahaan."
"Apa yang harus kita lakukan?" tanyaku, mulai merasa cemas. Reputasiku sebagai profesional sedang dipertaruhkan.
Arkan berjalan menghampiriku, berhenti tepat di depan kursiku. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursiku, mengurungku dalam dominasinya yang menenangkan. Matanya yang tajam menatap langsung ke manik mataku.
"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa selain menjadi Naura yang cerdas seperti biasa," ucapnya, suaranya berat dan mengalirkan keyakinan. "Ayo kita sambut tamu kita. Kita tunjukkan bahwa Mahardika Group tidak bisa digoyang hanya dengan rumor murahan."
***
Ruang rapat utama di lantai tertinggi itu terasa sangat menyesakkan. Tiga anggota Dewan Komisaris duduk dengan wajah muram dan penuh selidik. Dimas juga ada di sana, duduk di salah satu kursi dengan postur santai dan wibawa yang tak berkurang sedikit pun, seolah dia bukan orang yang baru saja membalas surel komplain popok bayi selama tiga jam.
Namun, yang paling menyita perhatian adalah pria yang duduk di tengah-tengah tim auditor. Pria itu muda, berwajah tampan dengan rahang tegas, mengenakan kemeja abu-abu yang lengannya digulung hingga siku. Saat kami masuk, ia mendongak. Lesung pipit muncul saat ia tersenyum ramah.
"Arkan Mahendra. Selalu elegan di tengah badai," sapanya, suaranya renyah dan penuh percaya diri.
"Rayhan Kusuma," balas Arkan dingin. Ia menarik kursi untukku dengan gestur yang sangat posesif sebelum duduk di sebelahku. "Aku tidak menyangka firma sekelas Kusuma & Partners mau turun tangan untuk mengurus gosip."
Rayhan tertawa kecil. Ia tidak terintimidasi sama sekali oleh aura Arkan. Matanya justru beralih menatapku, dan kilat ketertarikan yang sangat jelas melintas di matanya. "Gosip atau bukan, itu tugas kami untuk membuktikannya. Dan Anda pasti Ibu Naura. Manajer Pemasaran yang portofolionya sedang menjadi bahan perbincangan di kalangan bisnis. Sebuah kehormatan bisa bertemu langsung. Anda jauh lebih... memesona daripada yang dideskripsikan oleh laporan."
Aku tersenyum profesional. "Terima kasih, Pak Rayhan."
Sebelum aku bisa berkata lebih jauh, tubuh Arkan bergeser menutupi sebagian pandanganku ke arah Rayhan. "Fokus pada laporannya, Rayhan. Istri saya—maksud saya, Manajer Pemasaran saya—memiliki jadwal yang padat hari ini."
Rayhan tersenyum geli melihat reaksi protektif Arkan, lalu membuka map di depannya. "Baiklah. Kami menerima laporan bahwa ada pembengkakan dana hingga tiga puluh persen pada kampanye digital bulan lalu. Laporan ini dilengkapi dengan salinan persetujuan yang ditandatangani oleh Ibu Naura, dan diloloskan begitu saja oleh Bapak CEO."
Rayhan menyodorkan sebuah dokumen ke tengah meja. Dimas menatap kami dengan senyum tipis yang sangat berwibawa, seolah ia adalah pahlawan kebenaran.
Aku menarik dokumen itu. Mataku menyapu deretan angka dan struktur tabel di sana. Hanya butuh waktu dua menit bagiku untuk menemukan kejanggalannya. Aku menghela napas pelan, lalu meletakkan kembali dokumen itu ke tengah meja.
"Pak Rayhan, izinkan saya bertanya," ujarku tenang. "Apakah firma Anda selalu menggunakan data sekunder tanpa memverifikasi sistem inti perusahaan?"
Rayhan menaikkan alisnya, tampak terkejut sekaligus tertarik. "Apa maksud Anda, Bu Naura?"
"Dokumen ini memang menggunakan logo dan format kami. Tanda tangannya pun mirip dengan tanda tangan digital saya. Namun," aku menunjuk ke arah sudut kiri bawah, "kode identifikasi pengeluaran ini menggunakan format *legacy* yang sudah Mahardika Group tinggalkan sejak enam bulan lalu. Jika ada pencairan dana dengan kode ini, sistem *finance* kami akan otomatis menolaknya. Ini bukan dokumen asli. Ini hasil manipulasi yang sangat rapi."
Keheningan menyergap ruang rapat. Para komisaris saling berbisik. Dimas masih mempertahankan wajah tenangnya, meski matanya sedikit menegang.
Rayhan mengambil kembali dokumen itu, memeriksanya dengan teliti, lalu menatapku dengan mata berbinar kagum. "Luar biasa. Ketelitian yang fantastis, Bu Naura. Sepertinya pelapor kita melewatkan detail krusial tersebut."
"Istriku memang kompeten. Tidak seperti auditor yang menerima dokumen tanpa verifikasi," sindir Arkan tajam, nada suaranya sedingin es.
Rayhan tertawa lepas. "Touche, Arkan. Aku akui aku sedikit terburu-buru. Tapi melihat ketajaman analisismu, Bu Naura, sepertinya kita perlu berdiskusi lebih panjang soal alur keuangan ini. Bagaimana kalau makan siang bersama? Hanya kita berdua, membahas detail sistem kalian agar kami tidak salah langkah lagi?"
*KRAK.*
Suara itu terdengar sangat jelas. Semua mata tertuju pada Arkan. Pena *Montblanc* berlapis emas di tangannya baru saja patah menjadi dua bagian. Tinta hitam menetes menodai kertas di depannya.
Arkan tidak terlihat marah. Wajahnya tetap datar, sangat datar, namun udara di sekitarnya terasa seolah oksigennya baru saja tersedot habis.
"Hadi," panggil Arkan. Suaranya sangat tenang, terlalu tenang hingga membuat bulu kuduk berdiri.
Hadi yang sejak tadi mematung di sudut ruangan segera maju. "Ya, Pak Arkan."
"Ambil alih presentasi teknis dengan tim auditor. Berikan mereka akses *read-only* ke sistem kita. Dan Pak Rayhan..." Arkan menatap pria itu dengan tatapan predator yang siap mengoyak mangsanya. "Jika Anda butuh penjelasan, Hadi akan dengan senang hati menemani Anda makan siang, makan malam, atau bahkan sarapan. Manajer Pemasaran saya tidak memiliki waktu untuk meladeni inkompetensi pihak luar."
Arkan berdiri. Ia meraih tanganku, jemarinya mengunci pergelangan tanganku dengan lembut namun tak terbantahkan.
"Rapat selesai bagi kami," ucap Arkan kepada para Komisaris. Ia melirik Dimas sejenak. "Dan Dimas, pastikan kamu tidak salah membalas surel pelanggan. Berwibawalah sedikit dengan pekerjaanmu."
Tanpa menunggu balasan, Arkan menarikku keluar dari ruang rapat. Langkahnya panjang dan cepat. Aku harus setengah berlari untuk mengimbanginya saat kami menyusuri koridor eksekutif menuju ruang kerjanya.
Begitu kami masuk ke dalam ruangannya, Arkan membanting pintu hingga tertutup rapat, menguncinya, lalu membalikkan badan dan menyudutkanku ke pintu. Napasnya memburu, matanya memancarkan api kecemburuan yang tidak bisa lagi ditutup-tutupi oleh gengsinya.
"Arkan! Kamu gila, ya? Komisaris masih ada di sana!" protesku, meski jantungku berdebar tak karuan melihat wajah tampannya dari jarak sedekat ini.
"Biarkan saja mereka!" geram Arkan rendah. Ia mengurungku di antara kedua lengannya yang kekar, menunduk hingga wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter. Aroma *mint* dan kayu cendana miliknya menginvasi seluruh indraku. "Apa-apaan senyummu tadi, Naura? Dan kenapa kamu menjawab pujian pria brengsek itu?"
Aku mengerjap, berusaha menahan senyum nakal yang mendesak naik. "Aku cuma bersikap profesional, Pak Bos. Dia memuji kinerjaku, aku berterima kasih. Memangnya kenapa? Kamu cemburu pada auditor itu?"
Arkan memalingkan wajahnya sejenak, rahangnya mengeras. "Saya tidak cemburu," bantahnya dengan nada ketus yang sangat kontradiktif dengan gesturnya. "Saya hanya... menjaga aset perusahaan. Dia datang untuk mengaudit, bukan untuk menebar pesona pada istri orang."
Aku tertawa renyah. Tawa itu membuat wajah kaku Arkan sedikit melunak. Aku memberanikan diri, mengangkat kedua tanganku dan meletakkannya di dada bidangnya, merasakan detak jantungnya yang berpacu liar.
"Kamu tahu, Arkan," bisikku lembut, menatap matanya yang gelap, "tadi di dalam, kamu patahkan pena seharga belasan juta hanya karena pria lain mengajakku makan siang."
Arkan menelan ludah, matanya turun menatap bibirku. "Pena itu kebetulan sudah rusak. Aku hanya menekannya terlalu keras."
"Oh, begitu ya? Jadi, kalau besok Pak Rayhan mengirimiku bunga untuk meminta maaf atas tuduhannya, kamu tidak akan marah?" tanyaku menggoda, sengaja memancing egonya.
Mata Arkan kembali menyala. Dalam satu gerakan cepat, ia melingkarkan tangannya di pinggangku, menarik tubuhku hingga merapat sempurna pada tubuhnya. Tidak ada jarak tersisa.
"Coba saja sentuh bunga darinya, Naura," desis Arkan tepat di telingaku, suaranya berat dan menggetarkan. "Aku akan membeli seluruh toko bunga di Jakarta dan memastikan dia tidak bisa membeli satu kelopak pun. Dan jika dia masih berani mendekat, aku akan mengakuisisi firmanya hanya untuk bisa memecatnya di depan matamu."
"Itu namanya monopoli dan penyalahgunaan kekuasaan yang sangat kekanak-kanakan, Mas Arkan," bisikku, tak bisa menahan senyum bahagia.
Arkan menarik wajahnya, menatapku dengan tatapan yang begitu dalam, posesif, dan penuh cinta yang belum bisa ia ucapkan dengan gamblang. "Itu namanya memastikan seluruh dunia tahu bahwa kamu adalah milikku. Hanya milikku."
Lalu, tanpa memberikan peringatan, Arkan menunduk dan mencium bibirku. Bukan ciuman yang menuntut, melainkan ciuman yang manis, hangat, dan penuh dengan luapan perasaan yang tertahan.
pokonya terus semangat author