NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Pertarungan di Dalam Kegelapan

Cahaya obor menerobos masuk ke dalam gua, mengusir kegelapan yang selama ini menjadi sekutu Lin Fan. Suara langkah kaki berat bergema di dinding batu, disertai dengan desisan kasar dan bau amis yang menyengat.

Lin Fan bersembunyi di balik pilar batu hitam, napasnya ditahan serapat mungkin. Ia menghitung jumlah musuh berdasarkan suara. Ada tiga manusia. Dan satu... sesuatu yang besar.

"Aku mencium baunya," geram suara parau dari depan. "Darah beast level tinggi. Dan ada jejak Qi Yin yang kuat. Seseorang sudah mengambil intinya."

"Siapa yang berani mencuri dari hadapan Tuan Muda Zhao?" tanya suara lain, lebih halus dan licik.

"Tangkap dia. Hidup atau mati, aku ingin tahu siapa dia. Jika dia sudah memakan intinya, belah perutnya dan ambil sisa-sisanya," perintah suara pertama—Tuan Muda Zhao.

Lin Fan mengerutkan kening. Zhao? Clan Zhao adalah klan pedagang kaya di Kota Qingyun, sering bersaing dengan Clan Lin dalam bisnis herbal. Mereka dikenal kejam dan tidak segan menggunakan cara kotor.

Dari balik pilar, Lin Fan mengintip sedikit.

Tiga pria berpakaian mewah namun praktis berdiri di mulut gua. Di tengah mereka, seorang pemuda berwajah arogan dengan jubah sutra biru—Tuan Muda Zhao Feng. Di sisi kirinya, seorang pria tua berkumis tipis yang memegang kipas besi (kemungkinan ahli strategi atau kultivator elemen angin). Dan di sisi kanannya, seorang raksasa bertubuh kekar yang membawa palu besar.

Di belakang mereka, terdengar raungan rendah. Seekor Harimau Bayangan, beast tingkat menengah yang bisa menyatu dengan bayangan, sedang menggeram, matanya bersinar hijau dalam kegelapan.

"Mencari mayat?" bisik Lin Fan pada diri sendiri. "Aku masih hidup, dan aku akan memastikan kalian menyesal masuk ke sini."

Lin Fan tahu dia tidak bisa mengalahkan ketiganya secara langsung. Zhao Feng setidaknya Level 6, sama seperti Lin Fan, tapi kemungkinan memiliki artefak dan pil pendukung. Pria tua itu misterius, dan si raksasa jelas tipe penyerang fisik brutal. Harimau Bayangan adalah variabel liar yang berbahaya.

Tapi Lin Fan punya keunggulan: Dia tahu layout gua ini. Dan dia punya Pedang Es Miniatur.

Namun, Pedang Es itu adalah kartu as terakhir. Dia harus menggunakannya dengan tepat. Pertama, dia perlu memisahkan mereka.

Lin Fan mengambil sebuah batu kecil dari lantai gua. Dengan teknik melempar presisi yang ia latih saat bekerja sebagai pelayan (melempar sampah ke ember dari jarak jauh), ia melempar batu itu ke arah sudut kiri gua, jauh dari posisinya.

Plak!

Suara batu menghantam dinding terdengar jelas.

Harimau Bayangan langsung menoleh, pupil matanya membesar. Insting pemburuannya terpancing. Tanpa perintah, beast itu meluncur ke arah suara, tubuhnya hampir tak terlihat di antara bayangan-bayangan stalaktit.

"Hai! Kontrol binatangmu!" bentak Zhao Feng.

Pria tua dengan kipas besi tersenyum tipis. "Biarkan saja. Harimau itu akan menemukan tikus itu. Kita hanya perlu menunggu."

Lin Fan tidak menunggu. Saat perhatian mereka teralih sesaat, ia bergerak. Bukan keluar, tapi naik.

Ia memanjat pilar batu hitam di tengah kolam dengan cepat dan diam-diam, menuju langit-langit gua yang penuh dengan tonjolan batu. Dari sana, ia memiliki pandangan atas seluruh ruangan.

Harimau Bayangan mencapai sumber suara, menyadari itu hanya batu, dan mengaum frustrasi. Itu memberi Lin Fan waktu lima detik.

Lin Fan melihat si Raksasa berdiri paling dekat dengan tepi kolam. Dia target pertama.

Lin Fan mengumpulkan Qi-nya di kaki, menggunakan Teknik Napas Besi untuk memperkuat otot betisnya. Ia melompat dari langit-langit, bukan menyerang, tapi mendarat di punggung si Raksasa.

Sebelum Raksasa itu bisa bereaksi, Lin Fan menusukkan jarum akupuntur beracun (sisa racun paralisis ringan dari Lin Yue) ke titik syaraf di leher Raksasa, lalu melompat mundur ke atas air kolam.

Riak.

Raksasa itu terhuyung, matanya membelalak. "Ada orang di atas!"

Zhao Feng dan Pria Tua itu langsung menoleh. Zhao Feng menarik pedangnya, bilahnya berkilau dengan aura api. "Keluar, pengecut!"

Lin Fan muncul dari permukaan air, berdiri tegak di atas air berkat kontrol Qi yang presisi (teknik dasar yang ia pelajari dari Sutra Embun Beku yang baru saja ia baca sekilas—memanipulasi tegangan permukaan dengan Qi dingin).

Wajah Lin Fan tertutup kain, hanya matanya yang terlihat dingin dan tajam.

"Aku bukan pengecut," kata Lin Fan, suaranya datar. "Aku adalah hantu yang akan menghantui mimpi burukmu."

Zhao Feng tertawa meremehkan. "Hantu? Kau hanya anak kecil. Bunuh dia!"

Si Raksasa, meski lehernya terasa kesemutan akibat racun, mengamuk. Ia ayunkan palunya ke arah Lin Fan.

Lin Fan tidak menghindar ke samping. Ia melompat ke depan, menuju ayunan palu. Di udara, ia aktifkan Tinju Embun Beku.

Bum!

Tinju Lin Fan bertemu dengan kepala palu besi. Ledakan energi dingin menyebar. Es membeku seketika di sekitar kepala palu, membuat logam menjadi rapuh dan berat.

Raksasa itu terkejut merasakan hawa dingin yang menembus sarung tangannya, membekukan sendi-sendi jarinya. Palunya terjatuh.

"Sial! Dingin sekali!" teriak Raksasa.

Zhao Feng tidak membuang waktu. Ia menebaskan pedang apinya, menciptakan gelombang api berbentuk bulan sabit yang mengarah ke Lin Fan.

Lin Fan mendarat di tanah, berguling menghindari serangan api itu. Panasnya membakar ujung bajunya. Dia sadar, elemen api Zhao Feng unggul melawan es-nya jika bertarung jarak jauh. Dia harus mendekat.

Tapi Pria Tua dengan kipas besi sudah bergerak. Ia mengibaskan kipasnya, mengirimkan angin tajam berupa pisau angin tak terlihat ke arah Lin Fan.

Lin Fan sulit menghindarinya semua. Salah satu pisau angin menggores pipinya, mengeluarkan darah.

"Dia cepat," gumam Pria Tua itu. "Tapi tekniknya kasar. Zhao Feng, habisi dia dengan Serangan Naga Api."

Zhao Feng mengangguk. Ia mulai mengumpulkan Qi-nya, tubuhnya bersinar merah terang. Udara di gua menjadi panas dan pengap.

Lin Fan tahu dia tidak bisa menahan serangan penuh Zhao Feng. Tubuhnya sudah lelah, dan racun di jarumnya terlalu lemah untuk melumpuhkan kultivator sekelas mereka sepenuhnya.

Dia harus menggunakan kartu asnya. Tapi tidak sekarang. Dia butuh momen di mana Zhao Feng lengah total.

Lin Fan pura-pura terpojok, mundur hingga punggungnya menempel pada dinding gua. Dia terlihat panik, napasnya tersengal-sengal.

"Menyerahlah," ejek Zhao Feng, mendekati Lin Fan dengan pedang terangkat tinggi. "Beritahu aku siapa namamu, dan aku akan memberimu kematian yang cepat."

Lin Fan menunduk, bahunya berguncang seolah-olah menangis.

Zhao Feng tersenyum puas. Dia menurunkan kewaspadaannya sedikit, fokus pada kepuasan mengalahkan musuhnya.

Saat itulah, Lin Fan mengangkat kepalanya. Matanya tidak berisi air mata, melainkan niat membunuh yang dingin.

Tangan kanannya masuk ke dalam cincin penyimpanan.

"Sekarang!"

Lin Fan mengeluarkan Pedang Es Miniatur. Benda itu bersinar dengan cahaya biru menyilaukan, suhu di sekitarnya anjlok drastis hingga nol mutlak.

Zhao Feng menyadari bahaya itu terlambat. "Apa itu—?"

Lin Fan melemparkan Pedang Es itu lurus ke dada Zhao Feng.

Tidak ada suara. Tidak ada ledakan. Hanya sebuah hembusan angin dingin yang melewati udara.

Pedang Es itu menembus pertahanan Qi Zhao Feng seolah-olah itu adalah kertas. Bilah es murni itu menusuk tepat di jantung Zhao Feng, membekukan darahnya seketika.

Mata Zhao Feng membelalak, mulutnya terbuka lebar, tapi tidak ada suara yang keluar. Tubuhnya membeku menjadi patung es dalam hitungan detik.

Krak.

Patung es itu retak, lalu hancur menjadi serpihan-serpihan kecil. Zhao Feng tewas.

Keheningan mematikan meliputi gua.

Pria Tua dan Raksasa itu terpaku, wajah mereka pucat pasi. Mereka baru saja menyaksikan Tuan Muda mereka, ahli waris Clan Zhao, dibunuh dalam satu serangan oleh seorang "pelayan" tak dikenal.

"Kau..." suara Pria Tua itu gemetar, campuran antara ketakutan dan kemarahan. "Kau membunuh Tuan Muda Zhao... Kau tahu apa artinya ini? Seluruh Clan Zhao akan memburumu sampai ke ujung dunia!"

Lin Fan tidak menjawab. Ia segera berbalik dan lari menuju celah rahasia di belakang pilar batu, tempat ia masuk sebelumnya. Dia tidak punya waktu untuk bertarung lagi. Kartu asnya sudah terpakai.

"Tangkap dia!!" teriak Pria Tua itu, suaranya pecah. "Jangan biarkan dia lolos!"

Raksasa itu meraung, mengejar Lin Fan dengan kecepatan yang mengejutkan. Pria Tua itu mengibaskan kipasnya, mengirimkan badai angin yang mencoba menjatuhkan Lin Fan.

Lin Fan masuk ke dalam terowongan sempit di belakang pilar. Terowongan itu mengarah ke bawah, semakin dalam ke perut bumi. Gelap, sempit, dan penuh akar tanaman.

Dia mendengar langkah kaki para pengejarnya semakin dekat.

Lin Fan berlari sekuat tenaga, meskipun paru-parunya terbakar. Dia harus menemukan jalan keluar lain. Jika tidak, dia akan terperangkap di dalam gua ini selamanya.

Tiba-tiba, terowongan itu bercabang. Kiri dan kanan.

Lin Fan berhenti sejenak. Manik Giok berdenyut ke arah kiri. Tapi suara pengejar datang dari belakang. Jika dia pergi ke kiri, dia mungkin menemui jalan buntu. Jika ke kanan...

Dia memilih kanan. Karena di sana, ia mencium aroma udara segar. Angin.

Lin Fan mempercepat larinya, meninggalkan kegelapan gua, menuju cahaya remang-remang di ujung terowongan.

Dia selamat dari pertempuran. Tapi perang dengan Clan Zhao baru saja dimulai. Dan kali ini, dia tidak punya sekutu. Dia sendirian melawan seluruh klan pedagang terkaya di kota.

Lin Fan tersenyum pahit di dalam kegelapan.

"Baiklah, Clan Zhao. Mari kita lihat siapa yang akan bertahan."

1
Femi Lestari
Bagus! Aku suka
Femi Lestari
seru! ceritanya ga langsung buat mc overpower, justru lebih pakai otaknya dibanding ototnya.
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!