NovelToon NovelToon
Tentang Bintang & Galaksi

Tentang Bintang & Galaksi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Romantis / Tamat
Popularitas:29.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chika Ssi

"Kamu itu nggak pantas ikut lomba! Berkacalah! Lihat wajahmu yang buruk itu! Dipenuhi bercak putih yang tak jelas! Kurasa itu salah satu alasan, kenapa kamu dicampakkan sama keluargamu sendiri!" ~ Bulan Purnama

"Jika bisa memilih, aku juga ingin memiliki wajah cantik sepertimu, Bulan. Mengenai lomba ini, aku hanya mengikuti lomba baca puisi. Bukan lomba kecantikan. Apa orang sepertiku tidak pantas memiliki prestasi walau hanya secuil?" ~ Bintang Kejora.

"Kamu itu unik! Nggak usah dengerin apa kata orang! Pura-pura tuli dan buta, terkadang bisa jadi alternatif terbaik dalam hidup! Ingat, setiap orang itu dilahirkan spesial! Dan kamu adalah salah satunya!" ~Galaksi Milkyway.

(Kisah ini berdasarkan pengalaman pribadi author yang didramatisir 😂😂😂)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika Ssi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balas Dendam Apa?

"Sebenarnya aku menyukai Gala," ucap Bulan.

"Ya?"

"Aku ingin mengungkapkan perasaanku suatu hari nanti." Bulan tersenyum tipis sambil menatap punggung Gala yang masih asyik bermain voli.

"Mengungkapkan perasaan terkadang membuat hati kita lebih lega, walaupun terkadang menyakitkan." Bintang tersenyum kecut kembali teringat masa lalunya.

"Kamu benar. Eh, sudah sore ternyata!" Bulan menatap langit yang mulai berwarna jingga.

"Pulang sekarang, yuk!" Bintang beranjak dari bangku dan berjalan beriringan dengan Bulan, meninggalkan lapangan voli.

Langkah keduanya kembali berhenti, ketika melintasi ruang OSIS. Bulan menatap brosur yang tertempel pada papan pengumuman, dan membacanya perlahan.

"Abang None, ya? Mau ikutan?" tanya Bintang.

"Iya. Tahun lalu aku gagal. Kali ini aku mau mencobanya lagi." Mata Bulan berkilat ketika membaca setiap kata yang tercetak pada brosur itu.

'Baiklah, aku juga akan mendaftarkan diri!' Bintang tersenyum datar sambil menatap Bulan yang masih membaca isi dari brosur tersebut.

Setelah puas membaca brosur itu, Bulan dan Bintang kembali berjalan menuju tempat parkir. Bulan mengantar Bintang, sebelum pulang ke rumahnya.

***

Sesampainya di rumah, Bintang langsung menuju kamar dan membuka laptopnya. Dia mencari informasi mengenai Pemilihan Abang None. Bola mata Bintang naik turun ketika menatap layar berukuran 12 inch di depannya. Dia membaca satu per satu deretan huruf yang berisi persyaratan untuk mengikuti ajang bergengsi Ibu Kota itu.

"Warga Negara Indonesia. Oke, masuk. Pria atau wanita berusia 18 sampai 25 tahun. Bulan kemarin aku sudah genap 18 tahun." Bintang mengangguk sambil terus menatap layar.

Bintang terus membaca persyaratan sampai selesai. Setelah merasa memenuhi syarat sebagai calon kandidat, Bintang menekan tombol berwarna oranye pada layar untuk mendaftar. Ketika sedang sibuk mengisi formulir pendaftaran, tiba-tiba pintu kamar gadis itu berderit.

"Sibuk apa, Neng?" Awan masuk ke kamar, kemudian duduk di tepi ranjang Bintang.

"Ck, Abang kebiasaan! Tolong sopan santunnya! Ketuk pintu dulu, baru masuk! Sana ulangi!" Bintang menatap tajam ke arah Awan, kemudian mengibaskan tangannya di depan wajah.

Awan berdecak, bangkit dari ranjang, kemudian melangkah keluar kamar. Lelaki itu menutup pintu lalu mengetuknya sesuai permintaan Bintang.

"Ya. Masuk!" teriak Bintang sambil terkekeh.

"Puas, Neng?" Awan memajukan bibir bawahnya, lalu kembali berjalan mendekati sang adik.

"Nah, begitu!" Bintang mengacungkan kedua jempolnya ke arah Awan.

"Lagi ngapain sih? Serius amat!" Awan kembali duduk di tepi ranjang kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, agar bisa melihat apa yang sedang dikerjakan Bintang.

"Ini, Bang. Aku mau daftar Abang None!" seru Bintang.

"What? Serius?" Awan melebarkan mata karena tidak percaya dengan apa yang sedang Bintang kerjakan.

"Serius lah, Bang! Seriburius malah!" Bintang melipat kedua lengannya di depan dada, matanya terpejam, dan kepalanya mengangguk beberapa kali.

"Memangnya kamu yakin bakalan menang? Kalau nggak menang, yang ada cuma dapet malu loh!"

"Ini nih, mental Calon Beban Negara!" Bintang menggelengkan kepala sambil menggerakkan jari telunjuknya di depan wajah Awan.

"Bang, kita nggak bakalan tahu gimana akhirnya kalau nggak mau mencoba! Mencoba hal baru 'kan dibutuhkan dalam proses untuk menjadi lebih maju dan berkembang! Kebayang gak kalau waktu masih bayi, Abang nggak mau belajar jalan? Mungkin sekarang Abang berpindah tempat dengan cara ngesot! Judulnya bukan lagi Suster Ngesot! Tapi, Dokter Ngesot!" Bintang terbahak ketika membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi pada Awan.

"Asem!" gerutu Awan. Lelaki itu meraih bantal di sampingnya kemudian melemparkan benda itu ke arah Bintang yang masih tertawa.

"Seru sekali sepertinya," ucap Bu Pelangi.

Bintang dan Awan sontak menatap sang bunda yang masuk sambil membawa nampan berisi dua gelas es sirup berwarna hijau, sepiring buah potong, dan satu toples penuh kue kastengel favorit Bintang. Mata keduanya langsung melebar dan setengah berlari mendekati sang ibu.

"Sini biar Bintang yang bawa, Bun!" Bintang mengambil alih nampan yang dibawa oleh Bu Pelangi.

"Bunda kok bawa es cuma dua gelas? Kan Awan juga mau, Bun!" Awan memajukan bibirnya layaknya bocah SD yang sedang merajuk.

"Eh, itu buat kamu sama Bintang, Bang!Bunda sekalian mau pamit, ada acara di Rumah Sakit. Ayah minta Bunda buat nemenin."

"Oke, Bunda!" jawab Bintang dan Awan serempak.

Bintang meletakkan nampan ke atas nakas, kemudian memeluk dan mencium pipi Bu Pelangi. Setelahnya Awan meraih jemari sang ibu dan mengecup punggung tangannya.

"hati-hati di jalan ya, Bunda!" seru Bintang

"Iya, kalian juga. Jangan berantem terus!" Bu Pelangi mengacungkan jari telunjuk ke arah Bintang dan Awan.

"Siap, Bunda!

***

Semilir angin malam membelai rambut panjang Bintang. Gadis itu sedang menatap langit yang terlihat gemerlap karena cahaya bintang. Sebuah senyum terukir di bibir tipisnya. Di depan Bintang, ada sebuah buku catatan berisi beberapa poin penting mengenai Ajang Abang None.

Sebuah ketukan pintu membuat gadis cantik itu menoleh. Tak lama kemudian Bu Pelangi masuk sambil membawakan segelas susu hangat. Bu Pelangi meletakkannya di atas nakas samping ranjang Bintang.

"Sedang apa?" Bu Pelangi melirik buku catatan yang masih terbuka sambil tersenyum tipis.

"Ini, Bun. Bintang sedang mencatat beberapa hal penting mengenai Ajang Pemilihan Abang None." Bintang tersenyum tipis sambil menunjukkan buku catatannya.

"Bintang mau mendaftar?" Bu Pelangi melebarkan mata.

"Lebih tepatnya, sudah mendaftar!" Bintang tersenyum lebar dengan mata berkilat penuh semangat. Namun, senyum Bintang seketika pudar, saat melihat mimik wajah Bu Pelangi yang datar.

"Bun, kenapa?" tanya Bintang.

"Apa Bintang ingin sekali ikut ajang itu?" Bu Pelangi duduk di tepi ranjang, disusul oleh Bintang.

"Iya, Bun. Setelah sekian lama hanya memendam keinginan untuk mengikutinya karena tidak cantik, kali ini Bintang mau mencobanya." Bintang menunduk, jemarinya saling meremas satu sama lain. Diam-diam Bu Pelangi melirik jemari sang putri.

"Bintang, Bunda memang baru mengenalmu beberapa bulan. Tapi, Bunda sangat paham bagaimana sifatmu. Kamu sedang berbohong, 'kan?" Bu Pelangi merangkum wajah mungil putri angkatnya, dan menatapnya dingin.

Mendengar ucapan Bu Pelangi, Bintang melebarkan mata. Rasa bersalah memenuhi hatinya sampai terasa sesak. Gadis itu kembali menunduk. Ujung matanya mulai basah karena air mata.

"Maaf," ucap Bintang lirih hampir tidak terdengar.

"Lihat, Bunda. Apa sebenarnya alasanmu begitu kekeuh untuk mengikuti Abang None?" Bu Pelangi mengangkat dagu lancip Bintang dengan jari telunjuknya, sehingga tatapan keduanya kini beradu.

"Balas dendam. Bintang mau membalas perbuatan Bulan di masa lalu, dengan menyainginya di setiap usaha yang ia lakukan." Mata Bintang memerah, tenggorokannya seakan terhalangi oleh batu besar karena tangis yang tertahan.

"Bintang, balas dendam itu bukanlah perbuatan yang baik! Bunda tidak suka! Jadi, ini alasanmu kenapa bersikukuh untuk kembali bersekolah di sana? Apa saja yang sudah kamu lakukan untuk merencanakan balas dendam mu?" cecar Bu Pelangi.

"Maaf, Bunda. Tapi, Bulan harus merasakan apa yang sudah Bintang rasakan!" teriak Bintang frustrasi. Bahu gadis itu bergetar hebat karena tangis yang ia tahan, akhirnya pecah.

Bu Pelangi langsung merengkuh tubuh putrinya, dan memeluknya penuh kasih sayang. Perempuan paruh baya itu menepuk perlahan punggung Bintang. Sesekali dia mengecup puncak kepala gadis itu. Dua perempuan beda usia itu seketika menoleh ketika suara bariton Dokter Langit menyapa pendengaran mereka.

"Balas dendam apa?"

Bersambung ....

Gimana ya, kira-kira respon Dokter Langit setelah mendengar penjelasan Bintang nantinya? Jangan lupa baca kelanjutannya setiap hari jam 19:00 WIB.

Sambil nunggu karya ini update, mampir Yuk, ke karya teman seperjuangan Chika.

Judul: Pura-pura Miskin

Author: Momoy Dandelion

Blurb:

Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.

Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."

"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."

Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.

1
🌹🪴eiv🪴🌹
aku.marah Sama author

kok bulan di matiin,bikin cacat dong,,
😭😭😭😭


terimakasih untuk tulisan indah mu thor 💜
Bisa Pesan Cover di Saya: ampuunnnn 😭😭😭
total 1 replies
🌹🪴eiv🪴🌹
py ceritane bulan hamil bayi gala,,
gala di kasi obat tidur bukan obat perangsang
🌹🪴eiv🪴🌹
otak halu aku kenapa nggak bisa menerima ya kalo ada perundungan bersifat kriminal

ini kriminal ,,ih sebel sama otakku padahal tahu cuma cerita 🙈
Bisa Pesan Cover di Saya: Kriminal bgt sebenernya😭😭😭
total 1 replies
🌹🪴eiv🪴🌹
aku disini 🤗


bulan kau itu bersinar karena cahaya matahari jadi jangan belagu,, aslinya Lo itu item butem 🤣
🌹🪴eiv🪴🌹: terhura ya 🥺
total 2 replies
Bisa Pesan Cover di Saya
Haiii Semua...

Apa kabar?

Chika mau rilis novel baru awal bulan besok loh...

Judulnya TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

Jangan lupa mampir dan kasih dukungan yaa❤❤❤
Leli Darwika
semangat terus ya Thor 💪💪💪🌹🌹🌹🌹
Leli Darwika
semoga saja ada dewa penolong.
Leli Darwika
😭😭😭😭
Leli Darwika
jahatnya kamu bulan...😡😡😡😡
Leli Darwika
bagus bintang.
Leli Darwika
duh, sungguh. kembaran yang bertolak belakang. baik n buruk.
Leli Darwika
😱😱😱😱
Leli Darwika
bunda yg penyabar.
Leli Darwika
hatimu sungguh mulia bunda.
Leli Darwika
yang sabar ya bintang.....
Leli Darwika
aku padamu bintang.
Leli Darwika
bagus bintang, pertahankan sikapmu itu.
Leli Darwika
tetap semangat ya bintang....
semoga kebahagiaan yg sebenarnya cepat menghampiri mu.
Leli Darwika
bintang sudah tau kebohongan gala. tp berharap bintangnya, sabar n menunggu galanya berkata jujur ajj.
Leli Darwika
masih berbohong ajj kamu gala.
kapan kamu jd lelaki sejati. yg bisa jujur sama pasangannya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!