"Ayo bercerai, Mas!"
kalimat itu Anna ucapkan tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima.
Bukan karena hadirnya orang ketiga. Bukan pula karena Jeevan Aditya pernah mengangkat tangan kepadanya.
Anna hanya...lelah.
Lelah menjadi perempuan yang harus selalu mengalah, selalu kuat, selalu tersenyum, dan selalu memenuhi harapan orang lain hingga perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya ia memilih bercerai.
Namun, hidup ternyata tidak semudah itu.
Saat karirnya mulai bersinar, sebuah kejadian merenggut harga dirinya. Di saat yang sama, seorang teman SMA yang diam-diam mencintainya muncul sebagai pengacara yang siap membela. Sementara itu, seorang pria misterius berhelm hitam terus mengikuti setiap langkahnya.
Siapakah dia? Penguntit atau pelindung?
Temukan jawabannya di novel ini👋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 12, Kenapa Menikahinya?
Pagi di Jakarta mengembuskan napasnya perlahan. Cahaya matahari menetes di sela gedung-gedung tinggi bagaikan benang emas yang di tarik dari ufuk timur. Jalanan mulai dipenuhi langkah para pencari rezeki, sementara deru kendaraan bersahutan seperti orkestra yang tak pernah benar-benar tidur.
Jeevan keluar dari apartemen tepat pukul enam lewat lima belas menit.
Setelah jas abu-abu gelap membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Dari biru navy terikat rapi di leher, sementara tas kerja kulit hitam menggantung di bahu kiri. Sebelum pintu lift tertutup, ia sempat menoleh ke arah Anna yang berdiri di ambang pintu.
"Hati-hati, Mas."
"Hm."
Satu anggukan kecil menjadi jawaban sebelum pintu liftnya menelan sosoknya.
💞
Stasiun MRT sudah di padati para pekerja. Di dalam gerbong, wajah-wajah asing larut dalam rutinitas masing-masing. Ada yang menatap layar ponsel, membaca laporan, hingga memejamkan mata memanfaatkan perjalanan singkat menuju kantor.
Jeevan berdiri di depan pintu sambil memandangi siluet gedung-gedung yang melintas di balik kaca.
Hari ini bukan sekadar menghadiri rapat, ia akan menjadi wajah perusahaan.
💞
Hotel mewah di kawasan pesisir pantai Jakarta Utara itu berdiri anggun menghadap laut. Dinding kaca memantulkan kilau ombak, seolah langit dan samudra bersekutu menyambut tamu-tamu penting dari berbagai penjuru dunia.
Di ballroom utama, ratusan kursi telah terisi.
Para investor, komisaris, hingga perwakilan perusahaan teknologi internasional bercengkrama dalam balutan jas mahal dan gaun formal. Percakapan mengenai angka inovasi, serta peluang bisnis memenuhi udara.
Di sisi ruangan, Irene sibuk memastikan seluruh tamu VIP mendapatkan tempat sesuai daftar yang telah di susun.
Sebagai sekretaris direksi perusahaan mitra, ia sudah terbiasa menghadapi acara berskala besar. Meski demikian, matanya tetap awas mengawasi setiap detail.
Lampu ballroom perlahan diredupkan.
Logo perusahaan teknologi tempat Jeevan bekerja memenuhi layar LED raksasa.
Pembawa acara melangkah ke tengah panggung. "Hadirin yang kami hormati, selamat datang dalam Annual Technology Investment forum. Hari ini kami tidak hanya ingin memperkenalkan sebuah perusahaan, melainkan memperlihatkan arah masa depan industri digital Indonesia."
Tepuk tangan bergema memenuhi ruangan besar tersebut.
"Untuk itu, mari kita sambut Head of Technology Development, Bapak Jeevan Aditya. Kepada bapak Jeevan Aditya, waktu dan tempat kami persilahkan." Ujar pembawa acara.
Jeevan melangkah menuju podium dengan tenang. Tidak ada gestur berlebihan, bahkan tidak ada senyum yang di buat-buat oleh pria itu.
Namun, begitu suara baritonnya memenuhi ruangan, perhatian seluruh hadirin seakan di tarik oleh benang tak kasat mata.
"Teknologi bukan sekadar tentang menciptakan perangkat lunak," ucapnya lantang. "Teknologi adalah cara manusia menyelesaikan persoalan yang dianggap mustahil."
Layar berganti menampilkan perjalanan perusahaan selama belasan tahun. Grafik pertumbuhan terus menanjak, ekspansi bisnis merambah berbagai negara Asia Tenggara.
Riset kecerdasan buatan, keamanan siber, hingga layanan komputasi awan menjadi fondasi yang mereka bangun dengan konsisten.
"Kami tidak mengejar tren," lanjut Jeevan. "Kami membangun ekosistem yang mampu bertahan ketika tren itu berubah."
Ballroom mendadak sunyi, bukan karena kehilangan kata. Melainkan karena setiap kalimat yang keluar terdengar seperti anak panah yang tepat mengenai sasaran.
"Kami percaya, investasi terbaik bukan hanya menghasilkan keuntungan hari ini, tetapi juga menciptakan nilai untuk sepuluh bahkan dua puluh tahun mendatang. Karena itu, perusahaan kami tidak sekadar menjual teknologi. Kami membangun kepercayaan, menciptakan solusi, dan bertumbuh bersama setiap mitra yang memilih berjalan bersama kami."
Seusai persentasi, tepuk tangan membuncah memenuhi ruangan. Bahkan beberapa investor berdiri memberikan standing ovation.
Tak sedikit yang meminta jadwal pertemuan lanjutan kepada tim perusahaan.
Di sudut ballroom, Abimanyu menyilangkan tangan di depan dada sambil menyeringai bangga.
"Tuh, kan," gumamnya pelan. "Kalau urusan bikin investor jatuh cinta sama perusahaan, suruh aja si kulkas dua belas pintu berjalan."
Baru saja hendak melangkah menghampiri Jeevan, seseorang berbelok dari arah berlawanan sambil membawa setumpuk map.
Bruk!
"Astaga?!"
Puluhan berkas beterbangan seperti daun yang diterbangkan angin.
"Maaf! Maaf! Banget!" seru Abimanyu spontan sambil berjongkok memunguti kertas-kertas itu.
Perempuan di depannya ikut berjongkok dengan napas tertahan.
"Enggak apa-apa, Pak." Sahutnya.
Saat keduanya sama-sama hendak mengambil lembaran kertas terakhir, dahi mereka justru beradu.
Tok!
"Aduh!" Abimanyu refleks memegangi kepalanya. "Waduh...kayanya otak saya tadi pindah jalur."
Perempuan itu menatapnya datar selama beberapa detik.
"...masih sempat bercanda?"
"Kalau enggak bercanda, malunya makin kerasa." Bisik Abimanyu.
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Irene terangkat tipis.
Abimanyu terpaku, dalam hati ia bergumam, "Wah... senyumnya manis juga."
Irene buru-buru menarik kembali senyumnya lalu pergi dengan wajah datar meninggalkan Abimanyu yang masih terpaku.
💞
Restoran hotel yang menghadap laut mulai dipenuhi para tamu undangan. Dinding kaca membentang dari lantai hingga langit-langit, memperlihatkan hamparan ombak yang berkejaran dengan angin siang. Cahaya mentari jatuh di atas permukaan air, berkilau seperti ribuan keping kaca yang di tebarkan sembarangan oleh langit.
Jeevan memilih meja di dekat jendela.
Ia melonggarkan sedikit dasinya sebelum membuka kancing jas. Tak lama kemudian, seseorang menarik kursi di hadapannya tanpa permisi.
"Permisi, orang sukses. Boleh nebeng makan sama calon pengangguran?"
Jeevan mengangkat kepala sekilas. "Kamu masih direktur."
"Iya, tapi capek."
"Kamu sendiri yang daftar." Sahut Jeevan tanpa ekspresi.
Abimanyu mengembuskan napas panjang.
"Nah, ini dia. Dulu kupikir jadi direktur bakal keren. Ternyata isinya rapat, laporan, sama dikejar investor."
Pelayan datang menghidangkan dua porsi makanan.
Belum sempat menyentuh sendok, Abimanyu sudah mulai membuka obrolan.
"Van." Panggilnya.
"Hm."
"Aku tadi ketemu perempuan," katanya curhat.
Jeevan memotong daging di piringnya.
"Lalu?" tanya Jeevan tanpa memindahkan pandangan dari makanan.
"Cantik banget gila, senyumnya tuh...manis banget." Katanya mengingat lagi pertemuan tak sengaja barusan.
"Selamat." Jawab Jeevan.
Abimanyu berkedip. "Selamat apanya?"
"Ya...kamu berhasil melihat perempuan cantik." Jawab Jeevan.
Abimanyu menatap sahabatnya, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Ya bukan begitu!"
Jeevan tetap tenang.
"Aku nabrak dia..."
Jeevan menyerobot. "Itu tidak perlu di banggakan."
"Bukan bangga, sial." Ucapnya berdecak.
Jeevan mengangkat pandangannya dan langsung mengangkat tangan menunjuk santai sahabatnya dengan garpu. "Berarti kamu harus belajar jalan, Bi."
Abimanyu memijat pelipisnya. "Astaga... ngobrol sama kamu tuh kaya lagi wawancara sama mesin ATM."
"Mesin ATM tidak bisa menjawab, Abi. Yang realistis aja kenapa." Ucapnya santai seraya menyuapkan potong daging ke dalam mulutnya.
"Nah, itu! Kamu malah bahas logikanya." Sahut Abimanyu kembali pada piring makannya.
Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Jeevan bergerak nyaris tak terlihat.
Abimanyu langsung menunjuk wajah sahabatnya. "Tuh, kan! Kamu bisa bercanda juga."
"Tapi kenapa...Anna gak suka sama candaanku ya, Bi?" tanya Jeevan pada akhirnya.
Abimanyu terkekeh. "Ya bayangkan aja...istri kamu kan lebih muda dari kamu, Van. Ya mungkin... jokes kamu gak masuk ke dia. Kamu tahu sendiri, yang faham sama jokes kamu di kantor cuma aku sama senior-senior kita. Terlebih kakekku, kecintaan banget sama candaan garingmu."
Mereka kembali menikmati makan siang beberapa saat.
Suasana hening tidak pernah terasa canggung bagi keduanya. Persahabatan yang terjalin bertahun-tahun membuat diam pun mampu dipahami sebagai bentuk percakapan.
Tiba-tiba Abimanyu kembali bersuara.
"Eh, serius."
"Hm.." sahut Jeevan.
"Van, kok bisa sih kamu nikah sama Anna?" tanya Abimanyu santai.
Jeevan menghentikan gerakannya, lalu menatap wajah sahabatnya datar.
"Ya bisalah. Aku kan laki-laki normal, kamu tahu kan kelemahan laki-laki itu apa?" tanyanya seraya melipat kedua tangannya di dada seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Cewek cantik." Jawab Abimanyu enteng.
"Nah, itu kamu tahu. Nih, kalau semisal, ada perempuan cantik. Mau di lihat atau enggak?" tanya Jeevan lagi.
"Ya di liatin lah, kan itu rezeki namanya." Jawabnya lagi.
"Nah, itu. Tahu sendiri jawabannya." Sahut Jeevan kembali meraih garpu dan pisaunya.
Abimanyu tertegun sejenak, "Tapi aneh aja gitu. Tiba-tiba kamu ngumumin mau nikah, mana ngumuminnya pas lagi rapat sama Presdir lagi."
Jeevan terdiam.
...🌼🌼🌼...
Sebenarnya, apa alasan Jeevan nikah sama Anna? Dan kenapa Abimanyu sang sahabat mempertanyakan itu?
Tunggu bab selanjutnya 🫶
...BERSAMBUNG...