Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.
Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Investigasi
Keesokan harinya di kantor polisi distrik 1. Nathan sedang berkumpul di depan meja kerja bersama Reno dan Niko.
"Apa katanya?" tanya Niko penasaran.
Reno menggeleng pelan. "Aku kurang tahu detailnya, tapi ayo kita lihat langsung rekamannya."
Mereka memutar rekaman CCTV dari minimarket dan beberapa titik di sekitar lokasi untuk melacak pergerakan korban sebelum meninggal dunia.
20.00 - Korban terlihat keluar dari tempat kerjanya.
20.15 - Terlihat membeli rokok di minimarket.
20.30 - Korban tampak sibuk mengirim pesan kepada seseorang dari ponselnya.
20.40 - Korban terekam berjalan masuk ke arah gang gelap.
20.50 - Ponselnya tidak lagi memancarkan sinyal, statusnya tidak aktif.
21.10 - Mayat korban ditemukan.
Nathan mengernyitkan dahi. "Tunggu sebentar. Coba kita fokus pada rentang waktu jam 20.30 sampai 20.50."
"Ini sangat janggal. Kalau korban tidak dibunuh di gang itu, lalu kenapa sebelum tewas dia berjalan ke sana? Apa dia memang berniat menemui seseorang di tempat sepi?" pikir Nathan.
Nathan menyadari adanya kejanggalan dalam pola tersebut. Reno pun tampak kebingungan memikirkan hal yang sama. "Kalau tidak salah, beberapa jam lagi beberapa saksi akan didatangkan untuk dimintai keterangan. Kita lihat saja nanti."
Beberapa jam kemudian...
Nathan, Reno, dan Niko memperhatikan proses interogasi para saksi dari ruangan sebelah. Namun, polisi yang bertugas menangani kasus ini hanya melontarkan pertanyaan-pertanyaan dangkal.
"Apa Anda melihat hal yang mencurigakan di sekitar gang sebelum korban tewas?" tanya polisi itu datar.
"Maaf, Pak, saya tidak melihat apa-apa," jawab saksi gugup.
Gavin yang ikut memantau proses interogasi itu menggelengkan kepala dengan raut wajah kecewa. "Bodoh sekali. Kenapa dia hanya menanyakan pertanyaan umum seperti itu?" decaknya sinis.
Nathan yang geram melihat ketidakbecusan proses interogasi itu langsung berjalan keluar. Ia menghampiri seorang saksi ibu-ibu yang baru saja selesai diinterogasi.
Ibu ini adalah pemilik toko kelontong di dekat area gang, yang tokonya kemungkinan besar dijadikan jalur oleh pelaku untuk memindahkan korban atau kabur.
"Permisi. Boleh saya bertanya beberapa hal tambahan, Nyonya?" sapa Nathan sopan.
"Ah, b-boleh, Pak. Silakan."
Nathan menatap wanita itu dan mulai melontarkan pertanyaan spesifik yang tajam. "Jam berapa Anda keluar dari toko? Apa yang sedang Anda lakukan di jam 8 malam? Apakah Anda mendengar suara kendaraan berhenti? Apakah ada suara orang berlari? Apakah Anda mencium bau amis atau sesuatu yang tidak biasa? Dan apakah lampu di sekitar gang itu sempat mati mendadak?"
Ibu tersebut tersentak. Pertanyaan beruntun itu membuatnya sedikit gemetar karena panik, namun ia berusaha mengingat. "S-saat itu saya sudah menutup toko dan pulang ke rumah, saya tidak keluar lagi setelah jam 7 malam. Saya hanya beristirahat sambil menonton TV. Tapi... kalau tidak salah dengar, saya memang mendengar deru suara motor yang cukup berisik di dekat toko saya."
Nathan tersenyum tipis. "Bisa Anda pastikan jam berapa suara motor itu terdengar?"
"Sekitar pukul delapan lewat empat puluh menit, Pak."
Reno dan Niko yang mendengar jawaban itu saling berpandangan.
Mereka sadar bahwa kemungkinan besar pelaku menggunakan sepeda motor untuk membawa atau memindahkan korban.
"Bisa jadi pelakunya bukan cuma satu orang," bisik Reno.
"Iya, masuk akal. Ini jelas-jelas pembunuhan yang sudah direncanakan matang," timpal Niko.
Setelah mendapat petunjuk baru, Komisaris Martin langsung menginstruksikan timnya untuk memeriksa toko milik ibu tadi secara mendalam. "Sepertinya pelaku menyusup melalui toko itu dan mereka sudah tahu jadwal pemilik toko pulang. Nathan, Reno, Niko, kalian boleh ikut periksa ke sana."
Gavin yang berdiri tak jauh dari mereka berdecak kesal.
Entah kenapa Komisaris Martin tampak begitu memercayai dan mengistimewakan tiga orang itu. "Ck, aku yakin mereka tidak akan berguna juga di sana," gumam Gavin sambil membalikkan badan dan pergi.
Beberapa waktu kemudian, tim kepolisian telah memasang garis polisi dan memeriksa seluruh area dalam toko tersebut.
Sayangnya, hasil rekaman CCTV toko sudah dihapus secara manual di rentang waktu jam 20.40 ke atas.
Nathan berkeliling memeriksa setiap sudut toko. Bahkan setelah tim menggunakan bahan kimia khusus (luminol) untuk mendeteksi jejak darah yang mungkin sudah dibersihkan, hasilnya tetap nihil. Tidak ada bercak darah sedikit pun.
"Pelakunya cukup pintar. Berarti mereka sudah merencanakan pembunuhan ini dengan rapi sejak lama. Tidak ada jejak sekecil apa pun yang ditinggalkan di sini," gumam Nathan sambil tersenyum merasa tertantang.
Polisi lain dari tim investigasi yang ikut memeriksa merasa bingung. "Kalau begitu, kenapa mereka repot-repot membuang mayatnya di gang belakang? Kenapa tidak dibuang sekalian ke sungai atau dikubur?"
Nathan terdiam sejenak sebelum menjawab. "Menurutku, pelaku sengaja ingin kita menemukannya. Dia ingin membuat kita kebingungan dan berasumsi bahwa ini hanyalah kasus perampokan biasa yang gagal. Sayangnya, tindakan menghapus rekaman CCTV dan mengosongkan lokasi justru menunjukkan bahwa mereka tidak seahli yang mereka kira."
Meskipun tidak ada bukti fisik yang kuat di TKP, tim kepolisian mulai memperluas area investigasi.
Sekitar jam 5 sore, Nathan sedang berdiri meregangkan ototnya sambil menatap langit sore. "Jadi, bagaimana perkembangannya?" tanyanya saat melihat Niko mendekat.