Masih proses remake :v
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carlito Vazquez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1.10 : Chloe dan Irving
“Oi, oi ada apa? Serang yang benar dong~!”
“Aku, Ketua Fansclub Chloe takkan membiarkan orang sepertimu memiliki Madonna kami!!”
Ini, sungguh pemandangan aneh.
Entah dari mana, orang yang mengaku pemimpin pemuja Chloe datang menatangku dan Yuba pagi tadi. Masa cuma gara-gara sering jalan dengannya dianggap masalah bagi mereka.
Yah, aku sih menolaknya karena menurutku hal bodoh. Anehnya Yuba malah menerima tantangannya, bahkan sampai membuat taruhan tak berguna. Itulah mengapa aku bisa di arena latihan ini sekarang, menonton pertarungan dua orang aneh.
“Yuba bodoh, kau ngapain dari tadi? Cepat bereskan dia!” Aku kesal melihatnya tak kunjung serius melawan badut itu.
Setelah menangkis pukulan, Yuba menendang mundur lawannya dan saat itu juga kakinya diposisikan melebar. “Sudah, sudah~ Aku memang berniat serius mulai sekarang.”
Oh ya, ini pertama kalinya aku melihatmu bertarung. Sihir apa yang kau gunakan nanti?
Lawannya memegangi perut setelah kembali berdiri. Kedua kaki gemetar seperti sudah tidak mampu lebih lama lagi. “Tidak bisa dimaafkan … tidak bisa dimaafkan … TIDAK BISA DIMAAFKAAN!!”
“Hoho, itu baru semangat~!” Yuba memprovokasi dengan isyarat tangan. “Majulah!” Dia mulai memposisikan diri sebagai pendekar pedang yang ingin melakukan tebasan.
“Sudah terlambat! Kau tidak mungkin bisa menghindari ini!” Kepalan kiri di atas yang kanan secara vertikal, perlahan mulai memusatkan energi. “Sihir angin terkuatku, Durandal Tempesta—“
Percaya diri, dia mengatakan ini setelah nyengir, “Sayang sekali.” Tangan kiri di sebelah pipi seperti baru meremas sesuatu, perlahan ditarik menuju sebaliknya hingga timbul suara gesekan.
Apa yang terjadi?? Itu … um— Benang?!
“Apa ini?! Kenapa sihirku sulit keluar— Tanganku … tanganku tidak bergerak!”
Ketika pandangannya diangkat, terlukis wajah seorang pemenang yang begitu membara. “String….” Punggungnya seperti baru didorong sesuatu. “Crossfield!” Yuba seketika muncul di hadapan lawan, menebasnya dengan pedang energi sihir.
“Goh— AAAAAA!!!”
Ketika si ketua perkumpulan berteriak seperti serigala dan tumbang, saat itulah Yuba meninggikan kepalan dengan meringis.
“Pemenangnya, Yuba Octavius Greissman!” seru senior Page yang mengulurkan tangan.
“Jangan remehkan benang, bo~doh.” Yuba merendahkan kelopak mata sembari menjulurkan lidah, kemudian berbalik dan melambaikan tangan. “Itu pertandingan yang menarik!”
H-Hebat … sihir benang dan manipulasi energi sihir. Sculpt konsepnya mirip Takedown, cuma sifatnya ini ‘keluaran’, masuk dan lepaskan. Bedanya punyaku energi tetap ditahan, bukan dibuang.
Apa pun itu, dengan begini dia naik peringkat.
“Sistem peringkat? Apa itu senior?” tanya Yuba.
“600 murid, tiga gedung sekolah. Sistem ini ada untuk memilah siswa mana yang mampu diikutsertakan dalam program pertukaran pelajar, turnamen antar sekolah, dan lainnya. Kalahkan lawanmu, maka peringkatnya milikmu. Dasarnya akan terjadi pertukaran posisi jika menang dan kalah.”
Seingatku sih begitu, Page Hour mengatakannya sebelum pertarungan dimulai. Rasanya banyak yang ingin kutanyakan padamu, terutama soal itu ... hari ini aku sudah cukup tenang. Jadi aku takkan menggangu— Setidaknya sebelum menemukan informasi baru.
Intinya sekarang Yuba naik ke posisi 424 dari tanpa peringkat.
Ketika baru di pusat arena, barusan lawannya melewatiku dengan kecewa dan malu. Daripada peduli, aku pun mendekati Yuba. “Ehmm ... jika dipikir-pikir, bukankah secara teknis kau sekarang dikatakan sebagai nomer satu dari angkatan kita?”
“Ohh, masuk akal.” Meskipun hal sehebat ini, dia nampak tidak terlalu tertarik.
Orang bebas memang beda. Nomer satu ‘kah ... aku tahu untuk sekarang seluruh tahun pertama belum ditentukan peringkatnya, katanya harus mengikut serangkaian penilaian apalah itu.
Yah, yang dilakukan Yuba tidaklah dilarang. Kemungkinan juga ada anak sepertinya.
Tepukan tangan hanya bisa dihitung jari, toh yang nonton cuma lima anak buah ketua perkumpulan aneh itu dan aku sendiri. Menyedihkan rasanya jika hanya didukung olehku, dikala yang lainnya menghujatnya sekarang.
Mau bagaimana lagi, tidak banyak orang tahu soal pertarungan ini.
“Kamu tidak apa-apa, Chloe?” tanya Yuba khawatir sembari melepaskannya dari ikatan tali sihir.
“Umm,” jawabnya sembari mengangguk, terlihat sedih. “Maaf ya, Yuba sampai repot-repot menyelamatkanku.”
“Oooooh Madonna-ku!” serunya langsung mendekap jemari halus Chloe, betapa terang binaran pada matamu itu. “Syukurlah tidak terjadi apa pun, haaaaahahaaaaaa.”
Melihat reaksi berlebihannya, aku hanya bisa memberi senyum pahit. “Syukurlah kalau begitu.” Tentu juga senang kok.
“Zale~! Kau nonton juga ternyata.”
Emangnya siapa tadi yang nyorakin, bego!
Langkah kaki ini … seseorang mendekat. Cuma satu, dengan jelas kulihat sosoknya. Anak seusiaku, rambut pirang dan pakaian bangsawannya— Rapier itu juga. Apa yang dilakukannya di sini?
Irving.
“Chloe!” serunya terdengar marah.
“Kakak??” respon Chloe formal dan langsung menghadapnya.
He? K-Kakak…??
“Apa yang kamu lakukan di sini? Padahal aku sudah pernah memberitahumu untuk menjauhi hal tak bermanfaat! Terutama.... ” Kini dia mempelototiku dengan raut khas khusus rakyat jelata. “Rendahan gagal ini!”
Terpincut, aku pun tanpa pikir panjang melangkah membelakangi Chloe dan tidak membiarkannya melihat hal bodoh ini.
“Kau ... mau melakukan apa? Minggir, Chloe tidak pantas berteman dengan badut tanpa etika sepertimu.” Sekilas matanya melirik Yuba, ekspresinya entah kenapa jauh lebih ramah. “Bukan untukmu, mantan bangsawan. Biru adalah biru.”
“He ... jadi bangsawan itu hanya boleh berteman dengan orang pilihan? Sungguh, pasti sangat merepotkan ya ‘kan ... mengikuti tradisi usang yang menutup kemampuan berekspresi seseorang. Kalau aku sudah pasti pergi dari rumah!”
Tersinggung oleh ucapanku, dia mendorong pundakku dengan geram menunjukkan gigi, meraih tangan Chloe untuk dibawa pergi secara paksa halus.
“Tunggu kakak, setidaknya dengarkan Zale—“
Oi, tunggu— Mau kau bawa ke mana dia—
Sebelum sempat bergerak, lengan orang aneh sebelahku sudah menghalangi jalan. Begitu kulihat, dia menggelengkan kepala seperti tidak menginginkanku untuk mengejar.
“Kenapa?? Kita harus segera— “
Sekali lagi dia menghentikanku dengan gelengan kepala. Kali ini dihiasi raut sedih bercampur kecewa yang menggambarkan ketidakberdayaan. “Ini masalah keluarga mereka.”
T-Tapi … cih, sial!
“Ini tidak masuk akal! Bukankah Chloe adalah teman kita?!”
“Zale, tolong— Jangan....” Jemarinya meraih pundakku, menghadiahkan ungkapan ikhlas. “Tindakanmu bisa saja merusak keluarga mereka.” Ia akhiri dengan gelengan penuh permohonan.
...?! A-Aku— Tidak bermaksud! Chloe … aku harap dia baik-baik saja.
****
Di sini aula dansa sekolah. Aku tidak tahu untuk apa tempat ini ada dan tak yakin orang biasa sepertiku boleh di sini, Wakil Kepala Sekolah mengadakan apel yang dihadiri beberapa guru inti.
Demi mencegah kericuhan, sengaja diadakan pemisahan. Golongan rakyat jelata, menengah, dan bangsawan ‘dikumpulkan’ pada aula-aula berbeda.
“Pssst. Psstt...!”
Siapa yang manggil di tengah-tengah pidato begini?
“Aku melihatnya ... pertarunganmu waktu itu benar-benar hebat, aku sampai terkagum-kagum.” Kau, anak dari kelas sebelah. Rambut hitam dengan muka kurang ajar, kalau tidak salah dia punya dua saudara kembar.
Bukan hanya dia, gadis dari barisan lain menyahut, “Zale Llyod bukan? Seperti seorang pahlawan di novel yang kubaca, kamu tidak takut sama sekali dengan bangsawan dan soal ... tekad. Itu sungguh keren!”
“Aku tidak mengerti kenapa orang-orang mengatakan hal buruk soal orang ini, padahal hebat banget! Kau adalah kebanggaan kita, rakyat jelata— Lebih menariknya ... bahkan kau berhasil mempermalukan seorang bangsawan! Bukankah itu prestasi yang sangat lezat sekali?”
Saking tiba-tibanya aku sampai bingung mau bilang apa, hanya angguk-angguk sungkan lalu kembali pada pidato. Tentu mereka tetap tak henti menggangguku.
Pertarungan itu ... padahal yang kupikirkan hanyalah membuktikan siapa pecundangnya. Tak kusangka dampaknya bisa sebesar ini. Harusnya tidak banyak— Seseorang pasti menyebarkannya.
Rasanya tidak adil. Padahal belum ada setengah jam mengkhawatirkan nasib temanku, sekarang aku dibanjiri pujian orang-orang yang dulunya meremehkanku. Benar-benar aneh bukan?
Membuatku makin percaya, pilihan mampu merubah nasib seseorang dalam sekejap.
“Berjuanglah, Zale!” seru mereka dengan pelan, agar tidak menarik perhatian Bu Fusha.
Pemahaman ini bukanlah sebuah kesalahan. Maka dari itu aku perlu melakukan sesuatu pada Chloe dan Irving, meskipun harus ikut campur urusan keluarga mereka. Kebebasan memilih seseorang dalam krisis di sini!
Oh ya, soal pidato. Kurasa mau habis. Ini yang dikatakan Bu Fusha, “Selama kemah ujian di Myeirs of Hyena, pastikan untuk mengikuti kata pembimbing kalian dan patuhi peraturan pasukan perbatasan. Kegiatan akan dimulai dalam dua minggu. Itu saja, informasi selanjutnya akan diberitahukan pada hari keberangkatan.”
Fiuh, akhirnya kelar.
Barisan pun bubar dan orang-orang berurutan kembali ke kelas. Para guru sepertinya masih ingin berdiskusi satu sama lain, kurasa nanti jamnya kosong. Kesempatan bagus untuk memulai pencarian.
Pertama keluar bangunan ini. Kalau nggak salah mereka di paling timur, di antara gedung ekstrakulikuler dan perpustakaan. Selanjutnya aku hanya perlu ke belakang gedung belajar ke-2.
Di mana ... mana— Ketemu.
Chloe dan Irving. Bingo, sesuai dugaan mereka berencana membicarakan masalah saat jam istirahat tadi. Aku perlu lebih dekat. Sembunyi-sembunyi seperti intel profesional, jangan biarkan dirimu ketahuan.
Bagus, kuawasi dari balik tikungan ini.
“Sudah hentikan kebodohanmu! Mau sampai kapan kamu terus berbaur dengan rakyat jelata? Lama-kelamaan kerendahan mereka mencemari darah biru terhormatmu.”
“Kakak! Bukankah kamu sudah mengenalnya sejak kecil?” Chloe berbalik dan berjalan agak jauh dengan kedua lengan dilintang di punggung. “Harusnya kakak tahu, Zale itu ... sangat pengertian dan apa adanya,” keluhnya menada makin rendah.
Irving dengan halus memegang sisi pundak adiknya, menatapnya halus bersama senyuman. “Chloe, lihat mataku baik-baik. Kamu itu berasal dari keluarga terhormat. Segala pilihan kita sangat mempengaruhi martabat bangsawan Reissel.“ Betapa lembutnya caramu bicara barusan, aku pertama kali melihatnya.
“Aku sangat mengerti itu. Kakak mencintai keluarga Reissel dan mau melakukan apa pun demi melindunginya, Chloe ... menyukai sisi kakak yang seperti itu.“ Dia berbalik demi mendekap kedua jemari Irving. “Mengapa harus membenci Zale?”
Chloe....
“Karena dia rakyat jelata, darahku akan ternodai hanya dengan satu tempat dengan mereka—”
“Mengapa...?” Kini Chloe memandang kakak bodohnya dengan muka memelas yang bagiku imut. Maaf. “Kakak membencinya hanya karena lahir dari golongan berbeda? Apa itu, besar sekali pengaruh Paman Nigel berikan padamu. Benar-benar ... sudah berubah, Kak Irving.” Dia menepis lengannya, lalu pergi.
Dia mengarah sini! Gawat aku harus— Dia tidak sadar…? Begitu saja melewatiku tanpa menaikkan pandangan wajah sedih kecewanya sama sekali.
Irving pasti sangat terpukul. Aku mengerti apa niatanmu, tapi cara dan ideologimu salah. “Chloe...,” gumamnya khawatir sembari terus menyaksikan telapak. “TIDAK BISA DIMAAFKAN. ADIKKU ... KAU HARUS MENANGGUNG AKIBATNYA, BEDEBAH JELATA!!” Saking murkannya dia sampai merobohkan sebuah pohon.
Sebaiknya pergi dari sini, aku cukup melihatnya. Kuharap tidak terjadi hal merepotkan nanti.
****
Dua jam berlalu, belum terjadi apa pun. Kini menjalani pemeriksaan kesehatan di ruang kesehatan untuk memenuhi syarat kemah ujian nanti.
“Yuba Octavius Greissman.”
“Ya,” respon Yuba yang segera mendekati dokter.
Yah, sudah dipastikan aku lulus pemeriksaan fisik. Sejak awal milikku sudah cukup bagus. Semenjak mencari alternatif untuk menutupi kelemahanku dalam sihir kartu, demi Takedown ototku kulatih serutin mungkin.
Tidak lupa pola hidup sehat, mengingat aku hidup sendiri sekarang.
“Tekanan darah, energi sihir sudah.” Dokter sekolah mencatat di papan catatan. “Sekarang lepas pakaianmu, waktunya pemeriksaan fisik.”
“Oke Pak,” jawabnya sedikit bersemangat. “Begini sudah cukup?”
Ap— O-Oi ... hah?? Y-Yuba, punggung itu….
Dokter menjatuhkan papan catatannya, memberinya sensasi gemetar pada tangan. “Sulit dipercaya. Nak Yuba, sejak kapan kamu memilikinya? Punggungmu terdapat bekas luka bakar dan gores besar. Siapa yang melakukannya??”
“Ini?” Yuba menengok punggungnya. “Hanyalah masa lalu.”
Hanyalah masa lalu? Sebenarnya mengapa....
“Oi, Yuba—“
Seperti sudah mengerti niatku, orang aneh ini menghentikan langkahku dengan uluran tangan. Tanpa melihat, menggelengkan kepala dikala terus mendengarkan ucapan dokter sekolah.
“Setelah ini datanglah ke ruang konseling, mengerti?”
“Baiklah,” respon Yuba terdengar kurang hidup sembari mengenakan kembali pakaiannya.
Namun, sebelum aku mampu menyentuh pundaknya, sosoknya terlanjur melangkah meninggalkan ruangan dalam diam dan mengabaikan segalanya. Membungkamku di tempat, dikala tangan ini masih membeku di udara.
Meskipun sahabatnya, ternyata ... aku memang tidak tahu apa pun soalnya. Sial ada apa dengan hari ini?
Pemeriksaanku sudah selesai, cukup buruk pada bagian rohani. Tubuh ini rupanya memiliki energi melimpah. Sayangnya tidak tersebar dan terpusat dengan baik, makanya sihirku selalu tidak stabil?
Aku benar-benar perlu belajar.
Kesampingkan itu, Chloe dan Yuba— Tapi … setelah semua yang terjadi, rasanya tidak mungkin mencoba menyelesaikan masalah mereka. Sama-sama berat dan terlalu bersifat pribadi.
Ada baiknya membiarkan mereka sendiri. Yakin...?
“Tumben sekali, melihatmu tidak bersama mereka.”
“Kurin— Tidak, Nona.” Untung saja aku tidak menabrakmu lagi. Selalu saja muncul di titik buta, dasar gila. “Mereka nampaknya sibuk hari ini.” Tidak ada alasan untuk memberitahunya, toh palingan juga nggak peduli.
Namun, timing yang bagus. Syukurlah ... keraguan hatiku pasti sangat besar. Untuk pertama kalinya aku senang kau muncul di hadapanku. Terbiasa dengan peran memalukan benar-benar menakutkan.
Dia mengibas kepang rambutnya. “Begitu. Kebetulan sekali, ikut denganku. Traktir makan di kantin.” Kurang ajar dan sombong, khas dirimu banget.
Hah?? Kau pikir aku punya uang pas untuk mentraktirmu?! Yah, Kurin yang biasanya.
“Terima kasih.”
“Ha?”
“Bukan apa-apa kok~!” sanggahku, geleng-geleng dihiasi raut penuh syukur.
“Apa itu, menjijikkan sekali.”
Kantin, bisa dibilang surganya anak sekolahan. Menyediakan segala jenis hidangan yang ramah isi dompet dan berporsi ringan—tidak ada makanan berat di sini.
Kuharap Lasagna-nya belum habis. “Apa yang Anda inginkan, Nona Kurin?” Inilah saat dimana kenyamananku diuji, bersikap seperti ini sepanjang waktu sungguh sangatlah memalukan.
Jangan lihat, sialan!
“Pizza.”
“Yakin tuh nambah kalori pagi begini— “
“Ha?”
“Nggak, nggak. Segera saya bawakan.”
Pizza ‘kah? Harganya 240 Feld. Ditambah 120 ... bukan masalah, asalkan belum lewat 1000 Feld. Pembatasan ini diperlukan demi kelangsungan hidupku! Hah ... entah sudah berapa banyak yang keluar untuknya.
Andai saja aku tidak berhutang.
“Aku kembali,” ucapku baru saja meletakkan dua piring dan air gelas di atas meja. “Nona tidak keberatan ‘kan jika rasanya keju mozzarella?” Uwah inimah keterlaluan kalorinya, kuharap dia tidak marah.
“Hmph.” Bagai orang sombong, tangannya meraih piring incaran. “Kamu beruntung karena ini favoritku. Jangan berpikir yang tidak-tidak, bukan berarti aku menyukainya.”
Ya, ya. Nona labil. Masih sempatnya bersikap sok begitu.
Ketenangan dan kebebasan, hanya di saat-saat seperti ini aku merasa damai. Menikmati makanan favorit dikala gadis menyebalkan lebih mempedulikan dua potong Pizza.
Bukankah sangat membahagiakan?
Seusai menyantap bagian akhir roti pasta datar ini, segera kusedu gelas air mineral hingga kosong. “Oh ya, bagaimana tes kesehatanmu tadi?”
“Biasa aja. Buat apa tahu?”
Benar juga.…
“Apa kau tahu di mana lokasi kemah ujian nanti?” Gawat, aku malah keterusan.
Kurin yang baru selesai makan juga, meletakkan jari telunjuk dan jempol pada dagu. “Kalau tidak salah, Myeirs … ya ‘kan? Kudengar perlu melewati wilayah gunung, di situ juga banyak hutan.”
Barusan … dia merespon dengan normal?! Nggak salah dengar ‘kan aku?
“Apa lihat-lihat? Menjijikkan.” Cih, masih nggak sopan seperti biasa.
Yang tadi beneran, mungkin. Positif saja, kurasa secara tidak sadar dia ingin berbicara normal denganku. Rasanya menggelikan.
“Hei, apa kalian bilang kemah ujian?” Suara ramah ini muncul begitu saja di belakangku. Begitu kutengok, kudapati kakak kelas cantik dengan surai panjang biru laut, kini melambaikan tangan dan tersenyum ramah.
Tidak salah dia….
Dia nyelonong duduk di sebelah tanpa permisi. “Kamu pasti temannya Yuba*-ya*\, Zllyod ‘kan?”
Yuba*-ya*? Zllyod?? Baru kali ini ada yang salah kaprah memanggil namaku.
“Yang benar Zale, senior.”
“Haha, benar juga ya. Maaf, maaf~! Zade…??” Cewek ini nggak ada harapan.
Luna Octavius Greissman, kakak perempuannya Yuba. Tahun kedua. Mereka saudara yang aneh, nggak kusangka orang sepertinya ternyata Ketua Komite Kedisiplinan sekolah ini.
Dunia memang sudah gila.
Kesampingkan sifatnya yang aneh, begini-begini dia menjalani tugasnya dengan baik. Salah satu bukti nyata adalah ketenangan kantin ini. Sekalipun tak pernah ribut semenjak aku pertama kemari.
“Oh, Ketua Komdis yang otaknya miring itu.” Hei, hei orangnya di depanmu lho. “Jadi, gimana kemah ujiannya?”
Kemah ujian. Seperti pidato Bu Fusha tadi, akan ada tes selama beberapa hari di wilayah perhutanan terbesar Kerajaan Fyord, Myeirs of Hyena. Kata senior, yang diujikan selalu sama setiap tahun.
Yaitu ujian promosi tingkat penyihir.
Oleh Prominence, diketahui ada enam tingkat penyihir. ‘Murid’, ‘Amatir’, ‘Pro’, ’Guru’, ‘Pertapa’, dan ‘Agung’. Jadi dengan lulus dari kemah, secara resmi aku akan dianggap sebagai pemula.
Katanya sampai harus mengeksplorasi penuh sebuah Dungeon tanpa bantuan sedikit pun. Mengalahkan monster, bertahan hidup, dan uji strategi. Ya walau tetap saja tergantung siapa pengujinya.
“Jadi begitulah~ Namun, Myeirs ya...? Malang sekali nasibmu— Pfft.”
Barusan, dia tertawa?! Seburuk itukah lokasi tahun ini? Sial … malah jadi penasaran sekarang, dua minggu lama bener!
“Ketuaaaa!” seru seseorang yang datang dari pintu barat. Dari sini aku bisa melihatnya melambaikan, dikala tangan satunya sibuk menahan tumpukan kertas. “Ada di … hah … sini rupanya … hah….”
“Rave*-ya*! Ada apa\~?”
“Yang benar Reive— Oh ya, gawat! Dia mengacau lagi! Sekarang juga yang lainnya membutuhkan kehadiran Ketua, kali ini Wakil Kepala Sekolah sampai ikut lho!” serunya begitu panik sampai menjatuhkan barang bawaan.
“Heeehh…,” keluhnya menidurkan kepala dengan tangan terlentang ke depan di atas meja. “Dia lagi? Nggak jera-jera ya anak itu.” Seketika dia normal kembali. “Dahlah, ayo.”
“Yang semangat dong, Ketua!”
“Tapi~! Masa itu-itu aja anaknya— “ Aku tak bisa mendengarnya lagi.
Aku dan Kurin melihat satu sama lain, hanya diam seribu kata.
****
*Ding* *Dong* *Dong*
Baiklah, belnya sudah bunyi.
Di tengah perjalanan, lagi-lagi aku bertemu Kurin. Sebenarnya ogah, kurasa akan kucoba mengajaknya pulang bersama. Mengejutkannya, orangnya menerima begitu saja.
Wow.
“Kau— Nona biasanya pulang dengan siapa?”
“….” Malah diam saja dan terus melihat depan seakan-akan tak mengabaikanku, mari anggap saja begitu. “Sendiri,” jawabnya singkat, pikirannya seperti terganggu sesuatu. “Baru kali ini ada yang menemaniku … kamulah orangnya.”
Serius? Aku yakin dia belum pernah memiliki seorang teman dalam hidupnya, makanya sifatmu seburuk ini. Teman … apa mungkin dengan gadis ini?
“Lain kali, Nona boleh memintaku menemani pulang. Aku tidak keberatan.”
“Bodoh ya kamu? Seenaknya menawar tiba-tiba seperti itu, terserah apa maumu!”
Kuanggap itu sebagai iya. Akan lebih baik lagi jika bersama Chloe dan Yuba, seperti kemarin. Gadis labil ini pasti akan membutuhkan orang seperti mereka.
Tiba-tiba ada yang menghadangku ketika di luar gerbang timur. “Zale Llyod!”
Kau … si gendut yang selalu bersama Irving, ajudannya! Ada perlu apa dia—
“TIDAK BISA DIMAAFKAN. ADIKKU ... KAU HARUS MENANGGUNG AKIBATNYA, BEDEBAH JELATA!!”
Jadi dia memilih cara seperti ini.
“Ikut aku sebentar, Tuan Muda Irving sedang mencarimu. Beliau sekarang menunggu di Vila-nya.”
Sudah kuduga.
“Tidak masalah, ayo.”
Kali ini apa rencanamu, bocah sialan? Meski ... aku kurang lebih tahu. Sudah jelas kebakaran minta bertarung lagi.
Tipikal Irving ketika kesal.
To Be Continued….
Chapter 1.1 : Pahlawan — Chapter 2.8 : Penguasa Kota (Jangan baca dulu selain chapter chapter ini)
(Catatan akan diperbarui tiap waktu)