Irena adalah sosok gadis yang selalu mendapat tempat istimewa di hati Alif. Sejak mereka masih duduk di bangku SMA, sebenarnya mereka sudah sama-sama menyimpan perasaan satu sama lain. Namun karena ada salah faham dan beberapa hal yang mengharuskan mereka untuk berpisah dalam waktu yang tidak sebentar. Akankah cinta mereka akan hadir lagi bersama dengan kehadiran irena kembali? Yuk baca kisah selengkapnya
Maaf apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat dan mungkin ada alurnya juga. Tapi aku jamin ini pyur karya Mala sendiri hasil imajinasi sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah mala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Desas desus Tetangga
💮 Selamat Membaca, dan semoga sehat selalu 💮
''Pertama: ''Kau harus berjanji padaku, untuk jangan pernah meminum obat-obatan itu lagi. Nanti jika kamu nggak bisa tidur, kamu bisa menghubungiku! Aku akan langsung ke rumahmu OKE!''
''Iya...iya aku janji,'' jawab Iren.
''Aku nggak butuh janjimu doang, tapi buktiin!'' Mira menatap Iren dengan tatapan masih belum percaya.
''Iya! Aku akan mencoba membuktikannya. Kau ini benar-benar cerewet sekali. Apa lagi syarat yang kedua?'' Tanya Iren.
''Yang kedua: Berjanjilah padaku, kalau kau akan membuka pintu hatimu...''
''Memangnya slama ini aku menutupnya apa!'' Protes Iren.
''Eiiiits..Siapa yang menyuruhmu menyela omonganku?'' Mira sangat kesal, setiap membahas soal hati, Iren selalu saja menghindar dan mengelak.
''TUK'' ( suara jitakan tangan Mira di kepala Iren.)
''Auuu...Kepalaku yang malang...'' Ucap Iren sambil mengelus-elus kepalanya yang baru saja di jitak oleh Mira.
''Iya..iya maaf, lanjutkanlah! Aku akan mendengarkannya.'' Dimas yang melihatnya pun hanya tersenyum menyaksikan kedua sahabat itu.
''Berjanjilah padaku, kalau kau akan membuka hatimu lagi. Jika ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus dan kau merasa nyaman, kau harus menerimanya OKE!'' Ucap Mira. Dari tatapannya tergambar jelas rasa khawatir dan peduli akan kisah asmara Iren. Demi menyenangkan sahabatnya, Iren pun mengiyakannya.
''Baiklah, sekarang kau tidurlah! Besok kau sudah boleh pulang,'' Setelah menyuruh Iren tidur, Mira pun juga kembali melanjutkan tidurnya dipangkuan Dimas.
Keesokan harinya...
Dimas sedang mengurus administrasi kepulangan Iren, sedang Iren dan Mira, mereka sedang membereskan barang-barang. Semalam Dimas juga menginap di rumah sakit. Padahal istrinya sudah minta izin padanya, tapi tetep saja di susul. Dasar bucin...
''Ren, aku ke luar dulu ya,'' ucap Mira tiba-tiba.
''Mau kemana?'' Tanya Iren, yang penasaran kenapa tiba-tiba sahabatnya pergi keluar.
''Menyusul suamiku!'' Teriak Mira yang suaranya mulai menjauh. Namun setelah sampai luar, Mira malah tidak menyusul Dimas, tapi ia sedang menelfon seseorang.
''Halo Lif, kamu jadi nggak jemput Iren? Katamu kemaren mau menjemputnya?'' Tanya Mira. Ya ternyata Mira tengah menelfon Alif untuk menanyakan perkataannya kemaren.
''Maaf Mir, sepertinya aku tidak bisa. Tolong sampaikan maafku pada Iren ya.'' Ucap Alif. Dari sebrang sana.
''Kamu ada urusan mendadak kah? Tiba-tiba tidak bisa menejmput?'' ( Jiwa kepo ibu-ibu )
''Tadinya aku akan berangkat ke rumah sakit, namun tiba-tiba Danisha datang dan ibuku memintaku untuk mengantarkannya jalan-jalan.'' Alif sungguh kesal saat ini. Di saat ia akan memperjuangkan cintanya, tapi orang tuanya malah berusaha menghalanginya.
''Gadis sialan itu lagi! Baiklah Lif, lanjutkan saja jalan-jalanmu. Aku mau kembali ke ruangan Iren, kasihan dia menungguku nanti,'' ucap Mira.
''Iya Mir, sekali lagi aku minta maaf ya.'' Alif benar-benar merasa bersalah, tapi mau bagaimana lagi.
''Oh iya Lif, pesanku kau itu sudah dewasa. Sudah seharusnya kau mengambil keputusan dan bisa bersikap tegas terhadap dirimu sendiri. Aku yakin kau tahu mana yang terbaik untukmu, dan yang benar-benar kau inginkan dalam hidupmu. Jangan sampai kau menyesal karena salah mengambil langkah.'' Telefon pun terputus begitu saja. Kata-kata Mira, seakan berputar terus dipikiran Alif. Memang benar apa yang dikatakan Mira, di sisi lain ia tidak ingin menjadi anak yang tidak berbakti. Tapi di sisi lain ia juga ingin memperjuangkan cintanya.
Mira pun kembali keruangan Iren berbarengan dengan suaminya.
''Yang, nanti kamu langsung pulang aja ya! Kasihan Mura. Pasti dia kebingungan mencari kita. Lagi pula kak Juan kan mau pulang juga hari ini. Biar aku yang mengantarkan Iren saja ya,'' ucap Mira. Dimas pun menyetujuinya, dan pergi duluan untuk pulang. Setelah sampai di ruangan...
''Loh! Dimana Dimas Mir?'' Tanya Iren sambil celingukan mencari Dimas.
''Suamiku sudah pulang duluan. Karena kakak iparku hari ini akan pulang ke kampungnya. Jadi aku sendiri yang akan mengantarkanmu pulang,'' jawab Mira sambil mengambil tas yang berisi baju ganti dan barang-barang Iren.
Setelah memesan Taxi mereka pun pulang kembali menuju rumah Iren. Namun saat sampai, mereka di kejutkan dengan beberapa tetangga yang berkumpul di depan rumah Iren sambil membicarakan Iren. Bahkan ada si ceriwis Jils juga di sana.
''BRAAAK!'' ( Sudah dipastikan saat ini level kemarahan Mira melebihi batas )
''Astaga Ren! Kenapa cilok ini rasanya pedas sekali ya Ren? SEPEDAS OMONGAN TETANGGA!'' Ucap Mira dengan keras agar para tetangga yang berkumpul mendengarnya.
''Apa yang sedang kalian lakukan di depan rumah Iren?'' Tanya Mira.
''Haduuh Mir, jangan emosi gitu napa? Kami berkumpul untuk melihat keadaan Iren. Bukankah kemaren Iren mencoba bunuh diri kan? Kami hanya ingin tahu aja keadaanya.'' Ucap Jils dengan senyum mengejek.
''Bunuh diri? Siapa? Kau ini kalau ngomong hati-hati ya Jils! Jangan sembarangan menyebarkan berita yang pada akhirnya hanya fitnah belaka!'' Ucap Mira dengan emosi.
''Haduuh mbak Mira, semua sudah pada tahu kok, katanya neng Iren kemaren overdosis obat-obatan karena ingin bunuh diri.'' Ucap salah satu tetangga Iren. Iren masih diam mendengar ucapan mereka. Dia sendiri tidak ingin menanggapi ocehan para tetangga. Namun tidak dengan Mira.
''Haduuuh Bu Tuti! Ibuk denger ceritanya dari mana? Sahabat saya cuma terkena Mag dan kurang darah saja. Tadinya aku mau pulang dulu buat bacok orang terus darahnya aku peras, terus di masak terus aku kasihkan ke rumah sakit, biar dokter berikan ke pasien lainnya juga. Tapi karena Iren bersikeras pulang, makannya aku gak jadi deh bacok orang.'' Seketika ibu-ibu pun merinding mendengar ucapan Mira.
''Lagi pula, dari pada ibu-ibu di sini berkumpul dan cuma mengurusi hidup orang lain, bukankah lebih baik ibu-ibu sekalian urusi makannya, minumnya sandang pangannya dan sekalian jajan buat sahabatnya juga!'' Jadi kan gak nanggung ngurusinya. Dan gak cuma modal nyumbang ngoceh saja!'' Ucap Mira dengan santai, namun setiap katanya menusuk bagaikan panah yang tepat sasaran.
''Mir...mir, kamu itu masih muda. Tapi kok omongannya kaya gitu. Kaya nggak pernah di sekolahin saja. Kalau ngomong sama yang lebih tua itu harus ada sopan santun,'' ucap salah satu ibu-ibu itu. Iren pun menarik lengan Mira.
''Udahlah Mir, biarin aja mereka mau ngomong apa. Kita nggak usah tanggapin. Nanti yang ada malah nguras energi kita sendiri karena emosi,'' Iren mencoba menenangkan Mira.
''Tenang saja Ren, aku gak emosi kok. Kamu masuk dulu aja istirahat ya! Biar aku mengusir mereka dulu,'' ucap Mira. Namun....
''Kenapa Ren? Takut ha? Sampai-sampai kau hanya bersembunyi dibalik punggung sahabatmu!'' Mulut Jils benar-benar minta di robek.
''PLAAAK!'' ( suara tamparan keras tepat mengenai wajah Jils )
''Aku diam bukan berarti aku lemah! Aku hanya tidak ingin membuat keributan yang tidak ada untungnya sama sekali untukku, dan hanya menambah dosa. Tapi kau, semakin di diamkan malah semakin nglunjak! Apa aku selama ini pernah mengusikmu? Kenapa kamu begitu sangat membenciku? Padahal, mengobrol saja kita tidak pernah? Kapan aku pernah mengganggumu?'' Ucap Iren.
Waah seketika membuat semua orang yang ada di sana diam membisu. Bahkan Mira saja ikut menganga mendengar emosi yang diluapkan oleh sahabatnya itu.
Ayolah Irene, pergi segera
tinggalkan semuanya
Irene hanya diperalat
Irene lebih baik menjauh
sengaja menyebut kakak ipar, tapi lalu kemudian membantingnya
dan mereka memanggil Irene, bukan untuk beramah tamah
sampai serendah itu, melakukan kejahatan
kalau Alif yang mendatangi Iren
itu berarti yang salah adalah kamu