Follow medsos author 👇
FB Susinyasigit
IG Susin59
Biar tau jadwal updatenya
Pengkhianatan yang dilakukan Raka padanya. Menjadi berkah tersendiri untuk Aira. Dari situlah, ia benar-benar menemukan cinta sejatinya. Suraj, yang selama ini dia anggap perusuh, ternyata pria itulah yang mampu memberikan kebahagiaan untuknya.
Raka mengkhianatinya dengan ibu yang selama ini, ia anggap sebagai pahlawan. Ternyata mereka berdua adalah sepasang kekasih yang memanfaatkan dirinya sebagai tameng belaka.
Ungkapan cinta yang keluar dari mulut Raka. Ternyata hanya palsu, sebuah akting untuk menutupi perbuatan busuknya bersama Citra. Wanita yang merawatnya sejak kecil.
Setelah tahu, perselingkuhan mereka. Aira masih berbesar hati untuk bisa menerima Raka dengan syarat. Pria itu harus meninggalkan Citra. Dan pergi bersamanya dari rumah itu. Alih-alih mau menyelamatkan rumah tangganya. Aira justru dipermalukan di depan mereka berdua. Di saat itulah Suraj datang menawarkan kebahagiaan. Yang langsung disambut hangat oleh Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susi Nya Sigit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang pujangga cinta
Tak dapat dipungkiri oleh Aira, Suraj memang menarik. Akan tetapi, Raka lah yang lebih dulu mengisi hatinya. Terlebih, pria itu masih berstatus kekasihnya. Meski, jarang jalan berdua. Namun, komitmen diantara mereka belum pernah berakhir.
"Sudahlah, gak usah gombal melulu." Aira mengambil buku catatan yang ada di saku celemeknya. "Mau pesen apa?" Setelah itu menawarkan menu yang ia jual di cafenya. "Ini, silahkan dipilih."
Suraj mengambil buku menu itu, tanpa sedikitpun bergeser memandang wajah Aira. 'Gadis yang unik. Seribu satu ada di dunia ini. Dia sangat loyal dengan komitmen yang ia pegang' batin Suraj, berbicara.
"Aku mau kopi hitam saja. Gak usah pake gula." Suraj menutup buku menunya. "Karena percuma juga Ake gula." Setelah itu meletakkannya di meja.
"Kok gitu?" tanya Aira kaget.
"Ya karena manisnya semua udah ada di kamu."
Bak ribuan kupu-kupu menari-nari di hati Aira. Mendengar pujian. Em bukan, bukan. Mendengar gombalan dari Suraj. Selama ini, dia menganggap dunianya sempit. Tidak ada pria yang tertarik padanya. Karena kekurangan yang ia miliki. Dan akhirnya, Raka yang pertama kalinya mengutarakan cinta padanya.
Awalnya, Aira menganggap. Hanya Raka, satu-satunya orang yang mengangguminya. Bahkan menyatakan perasaan padanya. Nyatanya, Aira salah. Ia tidak melihat ketulusan di hati Raka, seperti yang ia lihat pada Suraj.
"Sudahlah, aku permisi dulu. Aku siapkan pesanannya." Aira mulai beranjak meninggalkan Suraj yang mematung memandangi punggungnya. Hingga tersekat tembok yang menghalangi dapur dan ruangan itu.
Suraj menggeleng. Dia juga tidak mengerti, mengapa saat ini dunianya hanya terisi dengan gadis itu. Apa sih menariknya? Dia tidak cantik. Secantik mahasiswi atau dosen yang menggilainya. Dia juga tidak tajir, setajir anak-anak rekan bisnis papinya. Tapi, Aura dalam diri wanita itu. Mampu mengisi harinya yang sunyi.
Aira sendiri yang menyiapkan secangkir kopi hitam, sesuai pesanan Suraj. Gadis itu senyum-senyum sendiri, mengingat apa yang dikatakan Suraj padanya. Sehingga menarik perhatian Bellian untuk menggodanya.
"Cie, Mbak Aira."
Sontak wanita itu terkejut. Menatap aneh gadis yang berdiri di sebelahnya. "Kenapa, Yan?"
"Itu tadi, siapa Mbak? Cowok yang bikin Mbak Aira senyum-senyum sendiri gitu?" Jiwa kekepoan Bellian meronta. Tak tahan ingin tahu banyak hal tentang bos-nya itu.
"Yang mana sih, Yan?" Aira pura-pura tidak tahu.
"Aisssh, segitunya gak mau ngasih tahu ke aku. Takut aku ngadu sama mas Raka ya?" celetuk wanita itu. Menunjuk wajah Aira.
"Udah-udah ahh, aku mau anter minuman ini dulu."
Aira mulai beranjak. Namun, langkahnya kembali tersekat saat mendengar ocehan Bellian.
"Mendingan sama cowok itu, Mbak. Daripada sama mas Raka. Keknya sibuk terus sama mami. Sampai-sampai gak perhatian sama Mbak Aira," ucap Bellian memasang wajah prihatin.
Aira sampai lupa, kalau seharian ini. Dia belum menghubungi maminya. Bahkan, kabar dari mereka pun tak ada. Dia hanya bisa menghela napas panjang. Berlalu, tak mau ambil pusing dengan masalah itu.
"Ini, pesanan kamu." Aira meletakkan secangkir kopi itu di meja Suraj. Kemudian, dia mulai berbalik. Meninggalkan tempat itu.
"Eh, mau kemana?" cegah Suraj menahan Aira.
"Mau ke dapur," jawabnya polos. Sambil membalikkan badannya.
"Hemmm, kamu harus di sini!" titah Suraj menunjuk kursi kosong dengan dagunya. "Bagaimana aku bisa menikmati kopi ini, kalau kamu pergi."
"Ya tinggal dinikmati aja, kok." Aira masih berdiri ditempatnya.
"Kopi ini gak akan nikmat, kalau kamu pergi dari sini." Suraj mengaduk cairan hitam pekat yang ada di cangkir.
"Kenapa?"
"Ya karena manisnya akan hilang. Tinggal pahitnya," goda Suraj, kembali membuat bibir merah itu bergerak menyamping.
"Aku masih banyak kerjaan. Maaf, tidak bisa nemenin kamu." Aira menyembunyikan wajahnya karena malu. Lagi-lagi mukanya merah di depan pria itu.
*************
Setelah menghabiskan kopinya, Suraj menemui langsung Aira yang sedang ada di dapur cafe. Pria itu ingin berpamitan langsung pada Aira.
"Ra, aku pulang dulu ya?" Sambil memberikan satu lembar uang lima puluhan, Suraj tersenyum ke arah wanita itu. "Ini, ambil saja kembaliannya."
"Makasih, maaf ya tidak bisa menemani." Aira mengambil uang itu. Kemudian di masukkan ke sakunya.
Di tanggapi anggukan oleh Suraj.
"Semoga kamu gak kapok jajan di sini," ujar Aira malu-malu.
"Aku akan sering-sering datang ke sini." Ucapannya, membuat kening Aira mengkerut. "Karena ada kamu di sini." Suraj menunjuk dadanya, embali menggoda wanita itu. Untuk kesekian kalinya. Wanita itu tersipu malu. Dan tak bisa lagi berkata-kata.
Selepas kepergian Suraj, Aira kembali melanjutkan pekerjaannya. Hingga tak sadar, hari mulai gelap. Wanita itu berhenti sejenak dengan aktivitas. Mencari ponsel yang sejak tadi tidak berbunyi.
"Aku mau telpon mas Raka dulu lah. Udah arah pulang atau belum." Aira bergumam, sambil mencari nomor kekasihnya.
Kekesalan Aira semakin mencuak, saat beberapa kali melakukan panggilan. Tidak ada yang menyaut. Baik Raka atau Citra, tidak ada yang menjawab panggilannya.
"Mereka itu kemana sih sebenarnya? Ya Allah." Aira memijat kepalanya yang terasa berat. Segelintir ucapan dari mereka yang mencibir mamanya mulai menyelinap. Masuk ke dalam pikiran wanita itu. "Semoga aja dugaan aku nggak benar."
ngk ad ending ny
jd gelandangn kn kamu
nth kpn sh surasd jmp ma Aira...
dteng kn mama ny sh aira
macem ngk ad brondong laen ja..