Rangga terbangun disebuah ruangan serba putih dihadapan tiga orang dewa, setelah berbincang bincang, Rangga menyadari bahwa ia telah tewas karena suatu alasan.
Oleh para dewa ia mendapatkan kesempatan hidup kedua di dunia sihir dimana manusia dan berbagai mahluk sihir hidup saling berdampingan, dunia dimana keajaiban dapat terjadi kapanpun dan dimanapun.
Akankah Rangga menemukan jalan untuk menikmati kehidupannya dengan tenang atau masalah yang akan menghampirinya? ikuti petualangan Rangga ya!
Follow Ig Author (@catur_iu)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catur Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 9 Sahabat
"Owh, aku kira siapa ternyata kau otak tua" Ujar Rangga dengan senyuman tipis di wajahnya, tatapan mata keduanya menggambarkan tidak ada kebencian.
Meskipun William disebut sebagai otak tua, pemuda berambut putih itu tampak sangat tenang seolah tidak ada yang terjadi.
"Mulutmu masih tetap sama seperti dulu Rubah Licik" Ujar William lantas ia memeluk Rangga dengan sangat erat, kejadian itu tentu membuat seisi kelas menjadi terkejut.
William yang dikenal tegas dan tidak suka jika ada orang yang merendahkannya memeluk erat tubuh Rangga meskipun anak itu telah mengejeknya.
"Kapan kau datang ke kota Ardian? Kenapa kau tidak segera menemuiku?" Tanya William dengan semangat tanpa menyadari saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian di dalam kelas.
"Bisakah kita bicarakan nanti, lebih baik kita mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Guru Foxs terlebih dahulu" Ujar Rangga dengan senyuman tipis kemudian ia berjalan menuju tempat duduk di belakang William.
Disamping tempat duduk Rangga terdapat seorang wanita manis dengan rambut serta pupil mata berwarna hijau, Rangga bisa menebak bahwa wanita itu bukanlah murni Ras manusia karena pada telinga wanita itu terdapat telinga yang meruncing layaknya bangsa Elf.
"A… aku Aurora Beliare, senang bertemu denganmu Rangga" Ujar wanita itu dengan wajah yang bersemu merah, perasaan malu segera menyerang Aurora membuatnya ingin menggali lubang dan bersembunyi di dalam lubang yang dia buat.
"Namaku Rangga Wisdom, senang mengenalmu Aurora" Ujar Rangga dengan senyuman tipis di wajahnya, begitu mengetahui Rangga menyebut namanya, wajah Aurora berubah menjadi semakin merah padam dibuatnya.
"Jangan hiraukan dia Rangga, Aurora memang orangnya pemalu dan sulit untuk diajak bicara, tetapi dia adalah orang yang baik" Ujar William kemudian ia kembali membuka catatannya.
Pelajaran berlangsung selama seharian penuh, mengenai dasar dasar sihir dan kesesuaian Atribut satu sama lain, Rangga yang sudah sering membaca buku juga dibuat cukup kagum dengan apa yang dijelaskan oleh Foxs.
Memang pada dasarnya sihir adalah hal yang sangat tabu jika dibicarakan di tengah tengah masyarakat karena tidak semua orang bisa menjadi seorang ahli sihir maupun mempelajari sihir.
Hanya akademi yang diperkenankan untuk mengajar sihir kepada semua orang yang memang benar benar ingin belajar tanpa terkecuali.
Alasan masalah ini sebenarnya cukup sederhana, jika semua masyarakat mempelajari sihir dan teknik berpedang milik ksatria kerajaan, ditakutkan kerajaan akan menjadi kacau, bahkan dikhawatirkan penduduk saling menyerang satu sama lain dengan sihir yang mereka miliki.
Rangga berjalan berdampingan bersama dengan William, keduanya mengelilingi akademi sihir untuk mengenalkan Rangga dengan setiap bangunan yang dibangun di akademi itu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya, sejak kapan kau datang ke kerajaan Ardian? Kenapa kau tidak datang menemuiku?" Tanya William menatap ke arah Rangga dengan serius.
Sebenarnya hubungan Rangga dan William sudah terjalin sejak empat tahun yang lalu, kala itu keduanya sama sama berusia delapan tahun.
Kala itu Ryan yang merupakan sahabat ayah William tengah berkunjung ke kediaman William, dan saat itulah keduanya dipertemukan.
Awalnya Rangga bersikap biasa saja pada William bahkan terkesan sangat cuek, tetapi karena William terus terusan mengikuti dirinya maka dengan terpaksa Rangga menanggapi apa yang diminta oleh William kecil kala itu, dan jadilah sampai sekarang mereka berteman sangat baik bahkan bisa dibilang keduanya adalah sahabat.
"Aku datang satu minggu yang lalu, sebenarnya aku ingin menemuimu tetapi ada masalah yang menimpa keluargaku saat ini" Ujar Rangga sambil menundukkan kepalanya, ia tidak bisa mengatakan bahwa ibunya telah diculik pada temannya itu atau dia akan menjadi khawatir.
Cukup masalah ini hanya dia dan keluarganya yang menanggungnya tanpa melibatkan orang luar meskipun William adalah sahabat baiknya.
William yang melihat wajah Rangga tertunduk tahu, bahwa pemuda itu tidak ingin menceritakan masalahnya padanya, tetapi hal itu tidak membuat William sakit hati, menurutnya setiap orang memiliki masalahnya sendiri sendiri sehingga sudah sewajarnya Rangga bersikap demikian.
"Wah wah, jadi ini ya anak yang berani mendekati dewi suciku, anak yang cukup berani tetapi sangat bodoh!" Ujar salah seorang murid dari lima orang yang menghentikan Rangga saat ini.
Di Samping Pinggang mereka terdapat sarung pedang serta bilah pedangnya menandakan mereka adalah murid dari jurusan ksatria.
"Tuan Edward, jangan susah susah mengotori tangan anda, hanya cecunguk kecil seperti dia biar aku yang mengurusnya" Ujar yang lain sambil meletakkan tangannya di gagang pedang miliknya.
"Senior, apa yang sedang kalian lakukan? Apakah kalian tidak tahu bahwa di dalam akademi kita tidak boleh bertarung seenaknya, apakah senior ingin mendapatkan hukuman?" Tanya William dengan tegas menatap ke arah kelima orang itu.
"Maaf tuan William, tetapi akademi ini meskipun berada di bawah pengawasan kota Ardian tetapi tidak termasuk ke dalam aset kota, Akademi memiliki hukum sendiri jadi jangan menceramahiku dengan hukuman payahmu itu" Bentak Edward dengan amarah yang terlukis di wajahnya.
"Tetap saja kita… " William belum menyelesaikan kata katanya sebelum Rangga menghentikan William agar tidak membelanya lebih jauh lagi.
"Kau ingin bertarung bukan, kalau begitu bagaimana jika kita selesaikan masalah ini di arena sekarang juga, setahuku memang tidak diperbolehkan bertarung tetapi jika di dalam arena maka lain ceritanya" Ujar Rangga.
Sontak pernyataan Rangga membuat semua orang yang ada disana terkejut, bahkan orang yang sedang menikmati pemandangan segera menoleh ke arah Rangga begitu mendengar pemuda itu menantang Edward.
Siapa yang tidak mengenal Edward, salah satu murid berbakat di jurusan ksatria yang memiliki bakat menyamai Nurul, bahkan bakat miliknya bisa dikatakan lebih baik dari Nurul tetapi dia tidak pernah mengungkapkannya.
"Apakah anak itu sudah gila?"
"Dia tidak serius bukan?"
"Berani beraninya anak itu menantang Edward, apakah dia sudah tidak betah tinggal di akademi?"
Ujar beberapa tukang gosip yang melihat Rangga dan Edward dari kejauhan, bahkan William dibuat tercengang dengan pernyataan yang keluar dari mulut Rangga.
Pada dasarnya seorang penyihir memang lebih lemah jika dibandingkan dengan kesatria, bahkan terbilang mustahil untuk mengalahkan ksatria dengan atribut khusus yang sangat kuat.
Alasannya cukup sederhana, tubuh seorang penyihir dan stamina yang dimilikinya kalah banyak dari kesatria yang memfokuskan pelatihan hanya pada kekuatan, selain itu proses merapal mantra untuk mengeluarkan serangan kuat biasanya memakan banyak waktu sehingga serangan sihir tidak begitu efektif bertarung di garis depan.
"Hahaha, kau cukup berani rupanya, kalau begitu aku terima tantanganmu, mari kita menuju ke arena untuk menyelesaikan masalah ini" Ujar Edward sambil melangkahkan kakinya diikuti oleh Rangga.
Semua orang yang ada disana mengikuti keduanya karena ingin melihat bagaimana Rangga dipermalukan didepan banyak orang.