NovelToon NovelToon
Lovely, Miss Agent

Lovely, Miss Agent

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Tamat
Popularitas:145.3k
Nilai: 5
Nama Author: Atseira

Jangan lupa, tinggalkan jejakmu 🥰

Rachelle Young, seorang Agent antisosial & kasar. Pamannya mendadak memberinya tugas, menjadi seorang pelatih bela diri di sebuah desa kecil. Menggantikan sang paman, Rachelle mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Berada di antah berantah, tak membuat Rachelle meninggalkan pekerjaan aslinya. Di desa tersebut, Rachelle menemukan banyak kasus aneh dan mulai menyelesaikannya. Dibantu dengan seorang polisi bernama Luke, Rachelle memulai misi kecilnya.
Satu pesanku saat kau berada di desa itu. Jangan percaya pada siapapun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atseira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10: Kesempatan Luke

Baik asap maupun Rachelle, keduanya merupakan kolaborasi apik yang membuat para preman tumbang. Mereka terlentang di atas lantai gudang dengan keadaan lemas. “Siapa di sini yang merasa jadi bosnya?” tanya Rachelle sambil mengangkat tangan. Dia berdiri di hadapan para preman yang masih bergeletakan di lantai.

Seorang pria seperti yang Rachelle duga, tampak mengacungkan tangan. Rachelle menatap ke arahnya dan segera menyeret pria itu ke lain tempat. “Tim, lima menit lagi perintahku turun. Bersiaplah!” seru Rachelle dari alat komunikasinya. Dengan segera, Rachelle melangkah keluar dari gudang sambil menyeret pria lemas berjuluk, “si bos para preman” tersebut.

Saat keluar, Rachelle berpapasan dengan Luke yang hendak masuk. Mencari keberadaannya. “Kau baik-baik saja?!” seru Luke dengan wajah cemas. Namun, wanita itu hanya membalasnya dengan senyum tipis. Dia malah membuat Luke fokus pada seorang pria yang sedang dicengkeramnya.

“Kau masuk ke dalam hanya untuk menyeretnya keluar? Bagaimana jika kau terluka?!” amuk Luke makin menjadi. “Bukankah karena itu, aku dipanggil oleh pamanku sebagai pengganti Paman Raph. Kau tahu dia, kan?” jawab Rachelle seenaknya. “Kau tetaplah seorang wanita! Aku hanya meminta bantuanmu untuk menemaniku, bukan begini!” balas Luke makin marah besar. Rachelle hanya menghela nafas pasrah. Dia kehilangan kata-katanya.

“Oh ya, katamu ada sepuluh orang. Bagaimana dengan yang sembilan?” tanya Luke beralih topik. “Timku baru saja melapor. Mereka bilang, ini kasus besar. Rekanku dari kota, juga menyelidikinya. Aku sengaja membawa yang ini, karena hanya dia yang bisa mengungkap semuanya. Kau akan bebas dari rasa bersalahmu, jika menggunakannya. Your last chance” bisik Rachelle. “Apa maksudmu?” balas Luke yang makin tak mengerti.

Rachelle menatap Zach, yang juga sedang menatap ke arah dirinya dan Luke. “Kasus fitnah ayah Zach” bisik Rachelle lagi. Kedua mata Luke melebar. Mendengar ayah Zach, semangatnya kembali terangkat penuh. “Bawa dia ke kantormu. Aku akan mengantar Zach pulang” ucap Rachelle sembari menyerahkan bos para preman pada Luke.

Rachelle melangkah ke arah Zach. Dia tampak memeriksa luka yang diterima Zach dari para preman. “Tidak, Rachelle. Aku akan membawanya ke tempatku. Biarkan Zach bertemu dengan warga dulu. Kemudian, kau ikut denganku” tolak Luke yang kini, memberi perintah pada Rachelle.

Rachelle menatap wajah Luke yang sedang tak main-main. “Kalau begitu, ayo pergi. Kita harus segera meninggalkan tempat ini, jika kau tidak ingin dia diambil paksa oleh rekan kerjaku. Mereka orang-orang yang lebih keras kepala, ketimbang diriku” ujar Rachelle. Luke menurut. Dia bergegas pergi sambil membawa buruannya. Zach melangkah agak sedikit lemah di belakang Luke, dengan bantuan Rachelle.

Sejenak, Rachelle membiarkan Zach melangkah sendirian. Dia terlihat menatap ke arah gudang. “Kids, temukan emasnya, eksekusi dan bersihkan” perintah Rachelle lewat alat komunikasi. “Dimengerti, Kapten!” seru sebuah suara yang terdengar dari earphone Rachelle. Baru mengambil beberapa langkah, peluru dari senapan Steve memburu seluruh orang yang berada di dalam gudang.

Baik Luke maupun Zach, tak mendengar teriakan dari sembilan preman tersebut yang sedang dieksekusi. Steve menggunakan senapan dengan peredam suara, ketika melakukan eksekusi kali ini. Dia tampak menikmati segala proses yang dilakukannya malam ini. “Sampah memang haruslah dibuang pada tempatnya” ucap Steve di sela-sela melakukan pekerjaannya.

Dan setelah bersenang-senang dengan pesta yang dia jalankan, Steve membereskan semuanya. Dia bersama dengan bawahannya yang dipanggil secara khusus, melakukan tahap akhir sebuah misi. Yaps, pembersihan. Tim yang dikomandoi oleh Steve tersebut dinamakan, si penghapus jejak. Tim itu juga merupakan special service milik biro tempat Rachelle bekerja.

For your information, istilah emas adalah bukti. Istilah eksekusi adalah membunuh semua orang yang akan menghalangi jalannya misi. Dan istilah pembersihan adalah penghilangan jejak untuk para agent yang telah mengeksekusi targetnya.

Tahap pertama, mereka akan lebih dulu menyingkirkan jejak para agent. Kedua, mayat target yang telah dieksekusi. Dan yang terakhir, pemberesan TKP. Karena itulah mengapa jika sebuah kasus telah ditangani oleh para agent, orang yang datang belakangan untuk menyelidiki tak dapat mendeteksi apapun.

Zach berlari ke arah sang ibu, yang berada tak jauh dari kerumunan warga. Setelah menelepon Luke, ibu Zach pergi mencari Zach sendirian. Dia mencari Zach, ke tempat yang biasa Zach singgahi. Karena tidak menemukan Zach dan malah berpapasan dengan para warga, akhirnya ibu Zach ikut dalam rombongan para warga yang mencari putranya.

Pertemuan antar keluarga Weiss, benar-benar terasa mengharukan. Rachelle mendadak teringat, oleh seorang wanita yang selalu mengomelinya bagai ibu sendiri. “Wanita tua itu... pasti sedang berusaha untuk melacakku juga, bukan? Kalau dia tahu, aku bekerja di tempat ini... baik paman Ron ataupun paman Raph pasti akan dia hancurkan saat itu juga. Tidak kaget, karena kelakuannya dia mendapat julukan yang menyeramkan. Auh, aku jadi merindukannya” batin Rachelle sembari mengingat wajah seorang wanita dalam pikirannya.

“Terima kasih, pelatih Elle. Tolong sampaikan juga, rasa terima kasih saya pada petugas Luke. Kalian berdua adalah... orang-orang yang selalu peduli dengan Zach. Terima kasih banyak” ucap Ibu Zach sembari memegang erat tangan Rachelle. “Tanpa bantuan dari petugas Luke, saya hanyalah pelatih biasa. Ah ya, soal preman yang membuat Zach babak belur... telah ditangani oleh petugas Luke. Karena itu, dia masih ada di TKP saat ini” jelas Rachelle mengungkap alasan absennya Luke dalam upaya pemulangan Zach. Ibu Zach mengangguk mengerti, akan absennya Luke.

“Maaf, kami juga tidak bisa membawanya dalam keadaan baik-baik saja” sesal Rachelle. Ibu Zach menggeleng, menahan air mata yang sempat tak bisa keluar sebagaimana mestinya. Dia sudah bersyukur, putranya masih hidup meski terluka.

“Pahlawan kesiangan ya? Palingan juga, dia nggak sengaja bertemu Zach di jalan” celetuk Miya. Dia lagi, dia lagi. Ternyata sejak tadi, dia mendengarkan pembicaraan antara ibu Zach dan Rachelle dari kerumunan para warga. Ken mencoba untuk menghentikan Miya, usai melihat Rachelle berhasil membawa pulang Zach.

“Pelatih Elle telah berhasil membawa Zach pulang. Itu adalah bagian terpenting bagi kita semua. Zach selamat dan hanya merawat lukanya. Dan fakta lain juga terungkap. Pelatih Elle, bukanlah orang yang tidak peduli pada muridnya” kata Ken membela Rachelle. “Atau jangan-jangan... Dia adalah komplotan para preman itu. Pelatih Elle, kau komplotan mereka kan? Itu sebabnya, kau tahu dimana keberadaan Zach!” tuduh Miya tak berdasar. Tentu, dia makin panas dong saat Ken kembali membela Rachelle lagi.

Kepercayaan warga desa pada Rachelle, kembali menurun. Kini, Rachelle terpojok lagi. Tapi tiba-tiba, ibu Zach melayangkan tangannya tepat ke arah mulut Miya.

Semua orang terkejut, melihat mulut Miya ditampar. Iya, Miya ditampar oleh ibu Zach. Segera, setelah perkataannya cukup mengusik telinga ibu Zach. Rachelle terlihat cukup kaget hingga menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Kubilang, dia adalah pelatih yang sangat peduli pada Zach. Kau bicara begitu, karena kau belum mengenal pelatih Elle dengan baik. Sebab itu, jaga mulutmu!” amuk ibu Zach tak main-main. “Aku mengenalnya! Dia memang bukan pelatih yang baik seperti dugaanmu, bi!” seru Miya tetap ngotot. “Kau itu yang terlalu iri padanya! Kenapa? Karena dia populer, meski sikapnya cuek dan ekspresinya sinis? Itulah titik kelebihan yang membuat semua pria muda di desa ini tertarik! Lagipula ya, kau kan bukan pelatih di tempat klub. Terus kenapa kau bisa bilang, kalau dia bukan pelatih yang baik? Hah?! Kalau kau ngomongnya ngawur begitu lagi, aku akan melaporkannya pada ibumu!” ancam ibu Zach diikuti tangannya yang menunjuk-nunjuk ke arah Miya, sedari tadi. Miya tak bisa berkutik, akibat ancaman tersebut.

Ponsel Rachelle mendadak bergetar. Luke membutuhkan bantuannya. Rachelle segera meminta izin untuk pergi. Sepeninggal Rachelle, orang-orang masih membicarakan sikap Rachelle.

Ibu Zach juga memutuskan untuk segera pulang. Dia hendak mengobati Zach, setelah marah habis-habisan. Akan tetapi, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Menatap tajam ke arah Miya. “Jangan sering pergi ke tempat latihan klub, kalau nggak butuh-butuh amat. Kurangi juga deh, cari perhatian ke pelatih Ken. Lebih baik lagi kalau, kau mengurangi perkataan burukmu itu pada pelatih Elle. Ingat ya” pesan ibu Zach. Kemudian, dia melangkah pergi meninggalkan kerumunan warga desa, Miya dan juga Ken sambil membantu Zach berjalan.

“Sorry, ada sedikit kendala di sana tadi” sesal Rachelle. “Wanita itu lagi ya? Miya benar-benar tidak menyerah untuk mencari keburukanmu” tanggap Luke memahami. Rachelle hanya angkat bahu tak peduli. Dia melangkah mengikuti Luke yang sudah menunggunya, di depan sebuah ladang luas yang berpagar.

Rachelle dibuat takjub, ketika berada di depan sebuah rumah kecil yang tersembunyi dari balik ladang. Luke membuka pintu rumah tersebut. “Welcome to my shelter. Hanya kau yang tahu tempat ini. So, kurasa sekarang kita bisa saling menjaga rahasia” ucap Luke mempersilahkan Rachelle masuk. Rachelle menatap ke arah Luke sambil memperagakan gerakan menutup resleting dengan tangannya, tepat di depan mulut. Sebuah tanda kalau, dia akan tutup mulut.

Rachelle melihat kondisi bos para preman yang diikat oleh Luke di sebuah kursi, dengan tangan terikat pula. Dia sudah sadar sepenuhnya, setelah menghirup gas beracun dalam asap yang di keluarkan dari bola senjata milik Rachelle.

“Dia tidak akan mati, cuman karena gas itu kok. Aku menambahkan sedikit bahan memabukkan. Dan untungnya, bukan yang mematikan” kata Rachelle. “Kau punya yang mematikan?” tanggap Luke. Mereka kompak membuat bos para preman panik.

“Tentu, langsung mati begitu saja. Kau mau sekarang?” tawar Rachelle. Bos para preman terlihat kaget saat mendengarnya. “Aku akan melakukan apapun, sesuai dengan kemauan kalian. Asal, jangan bunuh aku” pinta si bos bernegosiasi. Luke dan Rachelle menatapnya bersamaan.

Rachelle mengambil kursi dan duduk berhadapan dengan bos dari para preman tersebut. “Kau butuh sesuatu?” tanyanya kemudian. “Sesuatu yang seperti apa? Maksudmu?” jawab bos preman balik bertanya. “Sebelum kematian, katakan saja apa maumu” ujar Rachelle. “Aku minta keringanan. Bukannya, kau akan menyesal jika membunuhku?” kata si bos dengan percaya diri.

Luke terdengar tertawa keras. “Bukankah dia agak bre*gs*k?!” seru Luke mendadak kesal. Si bos para preman tampak puas, usai berhasil membuat Luke panik. Sayangnya, hal itu tak mempan pada Rachelle. Masih meraba-raba kelemahan Rachelle, dia malah terlambat menyadari.

Rachelle berdiri dari kursi dan menarik pelatuk pistolnya. Dia mendapatkan pistol tersebut dari saku kanan Luke. Rupanya, si pemilik pistol tidak sadar jika senjatanya menghilang.

Sebuah tembakan melesat dari pistol, namun meleset ke arah persis di samping si bos tepat. Hanya begitu saja, si bos tampak syok dan memohon untuk bernegosiasi lagi tentang masalah nyawanya. “Ups, meleset! Kaget ya?” canda Rachelle senang. “Tolong, kita bisa bicarakan ini. Aku akan memberi tahumu tentang apapun, yang ingin kau ketahui” pinta si bos kembali memelas.

Rachelle menggaruk pelipisnya dengan pistol milik Luke. Agak ngeri, ketika Luke melihat cara Rachelle memainkan pistolnya. “Kalau begitu, jelaskan secara rinci perbuatanmu hari ini pada anak itu” perintah Rachelle. Si bos tampak mengangguk penuh dengan hormat. “Oliver James, bekerja sebagai eksekutor untuk Douglas Davey. Wah, pekerjaanmu cukup menyenangkan juga ya? Membunuh beberapa orang seperti yang diperintahkan oleh atasan. So happy!” ujar Rachelle yang mulai membuka data tentang latar belakang si bos para preman, Oliver James.

“Siapa kau sebenarnya?!” seru Oliver terkejut. Si bos itu agak kesal, saat Rachelle lebih dulu mengetahui identitas pribadinya. “Kau pasti ingat, kan dengan seluruh orang yang berhasil dibunuh dengan tanganmu? Oh, ya, tugasmu tidak hanya membunuh. Kau juga bertanggung jawab atas rencana mencelakai seseorang, bukan? Seperti... Erick Weiss contohnya. Ingat nggak, ya?” tanya Rachelle langsung pada intinya. Ya, sebelum mencari bukti untuk membebaskan ayah Zach, Rachelle terlebih dahulu mencari data dan informasi yang valid agar dapat tervalidasi.

Oliver terdengar tertawa kecut. “Demi Erick Weiss, kau sampai melacak identitas pribadiku? Wah... aku terkesan sekali. Ada saja, orang bodoh yang masih membelanya” jawabnya mencibir. “Dan masih ada saja segerombolan sampah yang mengincar keluarga Erick Weiss yang lemah” balas Rachelle. “Nak, sebelum kau ingin mengorek informasi itu dariku... kau harus belajar sejarah dulu. Lagipula, kau bisa menanyakannya pada polisi yang ada di sebelahmu itu. Bukankah dia adalah orang yang saat itu menangkap Erick?” ujar Oliver melemparkan tuduhan.

Luke yang tak sabar, tampak menggebrak meja dan hendak memukul Oliver. Sayangnya, peluru dari pistol yang dipegang Rachelle lebih dulu datang membuat kaki kanan Oliver tertembak. Darah mengucur ke lantai shelter milik Luke.

Atas kejadian itu, Oliver kembali memohon. Ternyata, bos preman tersebut tak siap jika harus mati sekarang. “Erick Weiss, benar atau sengaja disalahkan?” tegas Rachelle serius. “Dia salah! Dia yang salah!” teriak Oliver frustrasi. Rachelle kembali membidik Oliver. Kali ini, peluru berhasil menembus kaki kiri Oliver.

“Erick tidak bersalah” ungkap Oliver pada akhirnya. Rachelle terlihat senang, karena permainan makin menarik. “Kau akan kehilangan tangan kananmu, jika berhenti membongkar hal itu” ancam Rachelle. Oliver tampak mengangguk patuh, tak berdaya.

1
nobita
yaa awal yg menarik...
Diana Puji Astuti
kereen ceritanya...
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
lln Oh iya ya nanti nanti anu tiba di anu di bawah-bawah saya telepon lagi
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
kerrnnnn
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
keren
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
wow kerennnn
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
😂😂😂😂😂😂😂😂
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
mmmm
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
gila kerennnnn
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
keren euy
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
cerita keren begini kq g byk yg baca ya. pdhal bgs bgt
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
cerita bgs bgini g ada yg komen dan baca
Boyscamp Official: terima kasih atas dukungannya ❤
total 1 replies
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
kerennnb
ꪻ꛰͜⃟ዛ༉🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ🌸
baca dlu
Boyscamp Official
terima kasih sudah mampir 🥰
Boyscamp Official: terima kasih sudah mampir 🥰
total 2 replies
Fina Tanjung
cerita sekeren ini kenapa sedikit bgt sih....padahal ceritnya bikin dag....Dig.....dug....
Fina Tanjung
penuh teka teki banget
Boyscamp Official: terima kasih atas dukungannya 🥰
total 1 replies
Fina Tanjung
KK isi kepala mu apa? ko bisa bikin cerita keren kayak gini sih....
Fitzu Taufik
next thor
Fitzu Taufik
semangat thor ku tunggu up nyaaa
Boyscamp Official: siap 😁😁 terima kasih atas dukungannya 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!