Sudah direvisi lebih bagus, silakan dibaca dari awal. Terima kasih!
Tidak kenal, tapi menikah. Nadin menyetujui surat perjanjian karena ditolong oleh tuan muda, saat hendak dijual dengan temannya sendiri. Nadin tidak menyia-yiakan kesempatan, dia berusaha membuat Argan jatuh cinta padanya. Akankah dia berhasil mencapai tujuannya, disaat banyak rintangan yang menghalangi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden
Keesokan harinya, Nadin menghidupkan bola kristal di depan Argan. "Ini hadiah dariku, untuk tuan muda. Tolong diterima iya!"
Argan mengangkat tangannya menutupi mata, hingga mengeluarkan cairan bening. Tidak mengucapkan apapun, hanya berlari keluar kamar. Nadin mendengar suara Argan yang batuk-batuk. Kembali hadir trauma masa kecil, pernah bermain bola kristal meledak.
"Hmmm... tuan Argan tampaknya terharu, karena aku beri kejutan lampu kristal." Nadin malu-malu, menutup selimutnya sampai kepalanya tidak terlihat.
Pukul 12.00 Nadin masih di dalam kamar, sementara suaminya sudah pergi.
Tok! tok! tok!
Terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar.
"Tunggu sebentar!" Nadin melangkahkan kakinya, lalu segera membuka pintu.
"Asisten Dera, ada apa?" tanya Nadin.
Terlihat Dera membawa sesuatu dalam paper bag. Dia mengangkat kedua paper bag itu tepat di depan Nadin. "Ambilah ini, tuan muda menyuruhmu untuk menambah wawasan dengan membaca buku."
Nadin menerima hadiah dari suaminya. "Terima kasih!"
"Satu lagi bersiaplah yang rapi, dengan pakaian yang sudah disiapkan, dalam paper bag. Hari ini tuan muda ingin mengajakmu pergi. Kalau sudah selesai, segeralah keluar. Tuan muda sudah menunggumu di dalam mobil, bersama asisten Heru." Dera segera berbalik badan, sedikit menjauh dari kamar Nadin. Dia menyandarkan tubuhnya, pada tembok.
Nadin segera menutup pintu. Dia melihat isi paper bag. Ternyata di sana ada buku-buku pengetahuan tentang makan-makanan khas Indonesia, tentang busana-busana dan lain-lain. Dia membuka paper bag satunya berisi sebuah pakaian syar'i, satu setelan dengan hijabnya. Pakaian itu sangat cantik dan menawan.
"Dia pasti bawa perasaan, karena aku beri hadiah. Memang bola kristal melekat di hati." Nadin menggerakkan kaki kanan dan kiri, secara bergantian.
Tanpa pikir panjang, dia segera mengganti baju dengan yang diberikan oleh asisten pribadi Argan tadi. Nadin memoles sedikit pelembab bibir, berwarna merah muda. Lalu dia keluar dengan tampil seadanya, namun kecantikannya tetap terlihat.
Di dalam mobil Nadin senyum-senyum saja, memperhatikan asisten Dera secara detail. Hari ini kebetulan dia bisa duduk bersebelahan, menatap wajah itu secara dekat.
"Kita mau kemana?" tanya Nadin.
"Jangan banyak tanya, ikut saja." jawab Dera.
Mobil menuju puncak bukit, di sana terdapat villa. Mobil berhenti di parkiran yang luas, lalu dua sepeda dikeluarkan dari bagasi.
"Tuan, untuk apa dua sepeda itu?" tanya Nadin penasaran.
"Itu untuk kita berdua. Kita akan naik sepeda, di hutan belakang villa."
"Tuan, kami menjadi patung di sini iya?" tanya Heru, dengan raut wajah datar.
"Aku tidak menyuruh kalian menjadi patung. Kalau kalian mau bermain silakan, asalkan jangan menggangguku dengan Nadin. Aku sedang ingin berdua dengannya."
Heru mengangguk, setelah itu matanya melirik Dera. "Ayo asisten Dera, kamu harus ikutan."
”Cih, kenapa menoleh ke arahku. Kalau mau main, silakan main sendirian. Jangan ajak aku, yang lagi malas.” batin Dera.
Heru masih bertanya lagi, setelah didiamkan. "Dera, kita main lomba lari mau tidak?"
"Tidak mau, kamu main sendiri saja." jawabnya acuh.
"Ayolah Dera, memangnya kamu mau menunggu mereka sampai kembali?" tanya Heru.
Dera berpikir itu akan sangat membosankan, dan terasa lumayan lama. Namun, Dera juga tidak ingin menerima tawaran Heru.
"Dera!" panggil Heru, dengan setengah berteriak.
Suaranya itu berhasil membuyarkan lamunan Dera. Sedikit merasa kesal karena dikagetkan. "Apaan sih Heru, teriak-teriak tidak jelas." Dera menatap tajam ke arahnya.
"Aku menawari lomba lari, anggap saja sebagai olahraga pagi." Tidak menyerah untuk mengajaknya.
"Aku tidak mau." Dera tetap kekeh, pada pendiriannya.
"Aku kira kamu perempuan yang pemberani. Ternyata perempuan lemah, diajak lomba saja langsung mengelak sebelum mencoba." Heru sengaja mengejeknya, supaya Dera berubah pikiran.
"Iya, aku terima tawaranmu. Kalau aku yang menang, jangan pernah menggangguku dengan hal konyol lagi."
"Kalau aku yang menang, kamu harus mau makan malam denganku. Bagaimana deal?"
Dera berpikir sejenak, lalu memutuskan tawaran dari Heru. "Hmmm baiklah, aku setuju dengan kesepakatan ini." jawabnya.
Sepeda Argan dan Nadin melaju, pedal diayun oleh kedua kaki mereka. Benar-benar sejuk udara di sana, banyak pepohonan rindang. Wajar saja masih asri, karena belum dilakukan penebangan liar.
Argan melirik ke arah bibir istrinya, terbayang yang dilakukan waktu tidur bersama Sahara. "Nadin, aku minta cium seperti waktu itu." berterus-terang.
"Tidak bisa tuan muda, apa lupa kesepakatan kita?" Nadin sengaja tarik ulur. "Kemarin aku bersemangat, karena Sahara yang memintanya. Sekarang, tidak ada alasan yang tepat." Nadin sengaja menolak, supaya Argan menghapuskan surat perjanjian pernikahan.
"Jamur lucu!" panggil Argan.
Nadin mengacuhkan panggilan Argan, dia berpikir Argan berbicara sendiri.
Argan sedikit kesal. "Apa kamu sengaja mengabaikan. Aku tadi memanggilmu."
"Maaf tuan, aku tidak tahu. Panggilan apa itu, aku tidak pernah mendengarnya."
"Mulai dari pertemuan awal, memang itu julukan untukmu." ucap Argan.
Nadin mengerutkan dahinya, baru kali ini Argan memanggilnya dengan julukan aneh itu. Nadin tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya, dia terlihat manis dengan lesung di pipinya. "Aku setuju, jika suami nyata yang memberi julukan." jawab Nadin.
"Kenapa kamu malah tersenyum seperti itu?" Berusaha mensejajarkan sepedanya, dengan sepeda Nadin.
"Aneh saja tuan, sejak kapan namaku berubah menjadi jamur lucu."
"Lupakan saja, kamu mau atau tidak lomba denganku? Garis akhir ada pada gang, yang paling ujung didekat hutan larangan."
"Boleh, ayo kita mulai dari sekarang."
Sepeda Nadin dan Argan mengebut secara bersamaan. Mereka mendayung sepeda itu dengan cepat. Argan berhasil mendahului Nadin yang sekarang berada di belakangnya.
”Aku tidak tahu maksudmu mengatakan hal tadi, apa hanya sekadar menjadikan aku lelucon. Hmmm... atau aku punya sedikit tempat di dalam hatimu. Aku akan tetap berusaha membuat kamu jatuh cinta. Kita tidak boleh bercerai, aku pasti bisa.” Berbicara di dalam batin.
Nadin tidak sadar, bahwa sepedanya melaju ke dalam jurang. Sepedanya melaju hendak menabrak batu besar, namun tidak bisa digunakan remnya.
"Aaaa!" teriak Nadin.
Bugh!
Nadin terbentur batu besar dan mengeluarkan darah segar dari kepalanya. Sepeda Nadin tergeletak, Argan baru menyadari bahwa Nadin tidak ada di belakangnya.
Sementara di rumah istana itu, Niken melihat tangannya yang diperban. Mengingat bagaimana marahnya dia terhadap Nadin, saat di dalam kamar mandi.
”Aku benci dengan statusku sebagai pelayan, sedangkan dia makan dan tidur bagai ratu. Aku ingin seperti dia yang mempunyai uang banyak, tanpa bekerja keras. Kalau gaji di sini tidak sampai dua puluh juta perbulan, aku tidak akan mau bekerja di sini. Masih terhormat kerjaan yang dulu di mall, tapi gaji di sini lebih menggiurkan, mengalahkan pegawai negeri.” batin Niken.
maaf krn sukak dg ceritax,semiga makin sukses..💪💪💪
yg jahat tp nanti bucin
walau crt sama tp beda nama doang
tp aku suka crt ceo
mbek mbek mbek 😂😂😂