Bukan Pengantin Pilihan Hati
"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"
Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.
Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.
Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.
Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Rumah yang Lama Di tinggalkan
Rintik hujan malam kota Jakarta berubah menjadi guyuran yang semakin deras ketika mobil taksi berwarna biru yang membawa Naura akhirnya berbelok masuk ke sebuah kawasan perumahan sederhana di pinggiran Jakarta Timur.
Kompleks perumahan itu sangat jauh berbeda dengan kawasan elite tempat kediaman megahnya bersama Arka.
Di sini, rumah-rumah berdiri berdampingan dengan jarak yang rapat, tanpa ada pagar tinggi yang menjulang atau penjagaan ketat dari petugas keamanan berlapis.
Naura menatap ke luar jendela kabin belakang taksi. Tatapannya tertuju pada sebuah rumah berlantai satu dengan cat dinding berwarna putih gading yang sudah mulai memudar di beberapa sudutnya.
Di halaman depan yang tidak terlalu luas, tampak beberapa pot tanaman hias yang tertata rapi, bergoyang pelan diterpa angin malam dan tetesan air hujan. Rumah itu adalah rumah masa kecilnya, sebuah tempat yang menyimpan sejuta kenangan masa lalu yang kini terasa begitu sunyi.
Kedua orang tua Naura telah lama meninggal dunia,ibunya berpulang saat ia masih remaja, sedangkan ayahnya wafat tepat beberapa bulan yang lalu,bersaman selembar wasiat untuk menikah dengan Arka, dan itu mengubah seluruh garis takdir hidupnya.
Sejak Naura menikah dan pindah ke kediaman mewah Arka, rumah itu tidak dibiarkan kosong begitu saja. Rumah tersebut dirawat dan ditempati oleh Bi Minah, seorang kerabat jauh sekaligus bibi penunggu rumah yang telah setia menemani keluarga Naura sejak dulu.
"Sudah sampai, Bu. Ini rumah nomor dua puluh empat, kan?" tanya sopir taksi, memecahkan keheningan yang sejak tadi menyelimuti kabin belakang.
Naura tersentak kecil dari lamunannya. Ia menyeka sisa-sisa air mata di pipinya yang sudah mengering dengan ujung jemarinya, lalu mengangguk pelan. "Iya, Pak. Benar ini rumahnya. Ini uangnya, Pak, ambil saja kembaliannya," ucap Naura sambil menyerahkan selembar uang seratus ribu rupiah, tanpa berniat menunggu uang kembalian yang tidak seberapa.
Dengan tergesa-gesa, Naura membuka pintu taksi dan melangkah keluar, melindungi perutnya yang masih rata dengan menggunakan tas tangan besarnya agar tidak terkena hantaman air hujan secara langsung.
Ia berjalan cepat menembus rintik air, menuju ke arah teras rumah yang diterangi oleh pendar lampu bohlam berwarna kuning yang hangat.
Tubuhnya menggigil pelan, bukan hanya karena hawa dingin yang menusuk kulit melalui sweter rajutnya, melainkan karena gejolak emosi dan rasa lemas yang luar biasa dahsyat setelah mengalami pertengkaran hebat dengan Arka di butik sore tadi.
Tangan Naura yang gemetar terangkat untuk mengetuk pintu kayu jati tua di hadapannya.
"Tok! Tok! Tok!"
"Bi Minah ... ini Naura," panggil Naura dengan suara yang serak, parau, dan nyaris tenggelam oleh suara gemuruh guntur yang bersahut-sautan di langit malam.
Di dalam rumah, Bi Minah sedang duduk di ruang tengah sambil melipat beberapa pakaian bersih. Pendengaran wanita paruh baya itu menangkap suara ketukan pintu dan bisikan lirih yang sangat ia kenali. Kerutan dalam langsung tercetak di keningnya yang sudah dihiasi garis-garis penuaan. Dengan dahi berkerut penuh rasa heran, Bi Minah meletakkan pakaiannya, berdiri, dan melangkah menuju pintu depan.
Mengapa keponakannya datang malam-malam begini, dalam kondisi hujan deras, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya dari sang suami, Arka? Bukankah baru tadi pagi ia menemani Naura ke dokter kandungan?
Begitu selot pintu digeser dan daun pintu terbuka, jantung Bi Minah seakan berhenti berdetak selama satu detik.
Di hadapannya, berdiri Naura dalam kondisi yang teramat mengenaskan. Rambut panjang Naura tampak sedikit basah karena cipratan air hujan, wajahnya pucat pasi, dan sepasang matanya bengkak serta memerah hebat karena tangisan yang berkepanjangan.
"Non Naura? Astaga, Nak! Ada apa denganmu?" tanya Bi Minah panik, suaranya dipenuhi oleh rasa keterkejutan yang luar biasa masif. Ia langsung menarik tubuh mungil keponakannya masuk ke dalam rumah, menutup pintu rapat-rapat untuk menghalau angin malam yang bertiup kencang.
Begitu merasakan kehangatan tangan Bi Minah yang familier, seluruh pertahanan yang dibangun Naura sejak di butik tadi runtuh seketika tanpa sisa.
Tas tangan yang dipegangnya terlepas begitu saja jatuh ke atas lantai ubin.
Naura langsung menghambur ke dalam pelukan Bi Minah, memeluk erat tubuh wanita paruh baya tersebut dan menumpahkan seluruh tangisan histerisnya di dada sang bibi.
Bahunya berguncang hebat, dan suara tangisannya terdengar begitu menyayat hati, mencerminkan rasa sakit luar biasa yang sedang mengoyak-ngoyak jiwanya.
"Bibi ... hiks ... Bibi ..." jerit Naura di sela-sela isak tangisnya yang memilukan.
Bi Minah yang tidak tahu apa-apa hanya bisa memeluk erat keponakan kesayangannya. Tangannya yang hangat bergerak lembut mengusap punggung Naura, mencoba memberikan ketenangan.
"Sshh ... tenang, Nak. Bibi di sini. Ada apa, hm? Kenapa kamu menangis seperti ini? Di mana Den Arka? Kenapa kamu pulang sendirian dalam kondisi seperti ini?"
Mendengar nama Arka disebut, tangisan Naura justru semakin menjadi-jadi. Perutnya kembali terasa melilit hebat, memicu rasa mual yang sangat kuat akibat tingkat stres yang teramat tinggi.
Naura mendadak membekap mulutnya dengan tangan kanan, matanya melebar panik saat merasakan cairan lambungnya bergejolak naik ke tenggorokan.
"Non Naura? Kamu kenapa, Nak?" Bi Minah semakin panik melihat perubahan ekspresi wajah Naura.
Tanpa menjawab, Naura langsung melepaskan pelukan bibinya dan berlari tergesa-gesa menuju kamar mandi yang terletak di bagian belakang rumah.
Ia berlutut di depan wastafel, memuntahkan seluruh isi perutnya yang sebenarnya kosong. Tubuhnya bergetar hebat, lemas tak bertenaga hingga ia terpaksa berpegangan pada tepi wastafel agar tidak jatuh tersungkur ke lantai.
Bi Minah menyusul dengan wajah yang dipenuhi oleh rona kecemasan yang mendalam. Ia berdiri di belakang Naura, membantu memijat tengkuk keponakannya dengan lembut, membiarkan Naura menyelesaikan rasa mualnya.
Tadi pagi, saat di rumah sakit, Naura begitu bahagia melihat hasil tes kehamilan. Namun, mengapa malam ini semuanya berubah menjadi lingkaran penderitaan?
Setelah beberapa saat, Naura membasuh mulut dan wajahnya dengan air dingin, lalu menyandarkan tubuh lemasnya pada dinding kamar mandi dengan napas yang memburu tidak teratur.
Bi Minah menuntun tubuh lemas Naura keluar dari kamar mandi, membimbing langkah keponakannya menuju kamar tidur lama milik Naura yang terletak di samping ruang tengah.
Kamar tidur itu masih tertata rapi karena selalu dibersihkan oleh Bi Minah. Seprai berwarna merah muda pastel yang bersih, meja belajar kecil tempat Naura biasa menggambar pola gaun di masa mudanya, dan sebuah jendela kayu yang menghadap ke halaman samping.
Di atas meja nakas, terdapat sebuah foto keluarga berbingkai kayu; foto Naura remaja bersama kedua orang tuanya yang sedang tersenyum lebar. Melihat foto itu, dada Naura terasa semakin sesak oleh rasa rindu yang berlipat ganda. Di saat pernikahannya hancur seperti ini, ia tidak lagi memiliki pundak kedua orang tuanya untuk bersandar.
"Sekarang, kamu ganti pakaianmu dengan baju yang kering yang ada di dalam lemari, lalu langsung istirahat," perintah Bi Minah lembut sambil mengusap kepala Naura.
"Jangan pikirkan apa pun dulu malam ini. Pikirkan kesehatan bayimu. Ceritakan pada Bibi jika kamu sudah siap."
Naura menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang kembali dipenuhi oleh air mata.
Rasa sakit hati akibat foto-foto pengkhianatan Arka bersama Valerie kembali mencuat ke permukaan dengan kekuatan penuh.
"Kak Arka ... Kak Arka mengkhianatiku, Bi," lirih Naura, suaranya terdengar begitu rapuh dan patah-patah. "Mantan kekasihnya kembali dari Paris, dan ... dan aku melihat foto-foto mereka sedang berpelukan dan berciuman di dalam ruang kerja Kak Arka sendiri. Kak Arka membohongiku, Bi. Tadi pagi dia tampak sangat bahagia, tapi di belakangku dia masih membagi kehangatannya dengan wanita lain."
Mendengar penuturan dari bibir Naura, Bi Minah terkejut luar biasa. Ia tahu betul bagaimana sifat Arka yang selama ini terlihat begitu memuja Naura, bahkan bersikap sangat posesif dan protektif sejak mengetahui kehamilan Naura. Namun, melihat bukti kehancuran di wajah keponakannya, Bi Minah tidak bisa mendebat.
"Astaga, Den Arka ..." gumam Bi Minah, menggelengkan kepalanya tidak percaya. Namun, sebagai orang tua yang bijak, ia tahu saat ini yang paling dibutuhkan Naura bukanlah penghakiman, melainkan ketenangan. "Sudah, Nak, sudah. Pikirkan kesehatan janinmu dulu. Masalah suamimu ... biar menjadi urusan besok setelah pikiranmu sedikit lebih tenang. Bibi akan menjagamu di sini. Kamu aman di rumah ini, rumah peninggalan ibumu."
Naura mengangguk patuh. "Terima kasih, Bibi. Maafkan Naura karena sudah merepotkan Bibi malam-malam begini."
"Jangan pernah berkata seperti itu. Kamu sudah Bibi anggap seperti anak sendiri sejak kedua orang tuamu tiada. Rumah ini akan selalu menjadi tempat pulangmu," ucap Bi Minah dengan senyuman hangat yang tulus, sebelum akhirnya melangkah keluar dan meminta Naura untuk segera mengunci pintu dari dalam.
Setelah bibinya keluar, Naura mengganti pakaiannya dengan daster katun longgar yang nyaman dari dalam lemarinya. Ia kemudian merebahkan tubuh mungilnya di atas ranjang tuanya yang empuk. Kamar itu terasa sangat sepi dan asing bagi indra penciumannya yang kini sudah terbiasa dengan aroma parfum maskulin milik Arka dan kehangatan dada bidang suaminya yang kokoh setiap malam.
Naura meringkuk di atas ranjang, memeluk kedua lututnya dekat ke arah dada sambil terus-menerus mengusap perutnya perlahan.
Air matanya mengalir membasahi bantal penopang kepalanya dalam keheningan malam yang diguyur hujan deras Jakarta Timur.
Rasa rindu yang aneh mendadak menyergap hatinya, sebuah kontradiksi yang menyakitkan karena di satu sisi ia sangat membenci kebohongan Arka, namun di sisi lain jiwanya tetap mendambakan dekapan hangat pria itu yang selalu berhasil membuatnya merasa aman.
Kembali ke rumah peninggalan orang tuanya yang kini hanya dijaga oleh sang bibi memberikan perlindungan fisik baginya, namun tidak mampu menyembuhkan luka batin yang teramat perih akibat benih kesalahpahaman yang kini telah resmi memisahkan jarak di antara dirinya dan sang suami.