NovelToon NovelToon
BAYANG BAYANG MASA LALU

BAYANG BAYANG MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Dinarta Firdaus

Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUNGA YANG MEKAR KEMBALI

Paris di awal musim gugur selalu memiliki cara untuk meredam riuh di kepala. Langit sore itu berwarna jingga pucat, berpadu dengan guguran daun-daun pohon chestnut yang sewarna tembaga, menutupi trotoar batu di sepanjang kawasan Le Marais. Angin bertiup agak kencang, membawa aroma panggangan roti mentega dari boulangerie sebelah dan dingin yang mulai menusuk tulang.

​Di sudut sebuah kafe kecil bernuansa klasik dengan kanopi kain hijau tua, Kirana duduk tenang. Ia mengenakan mantel wol panjang berwarna krem dan syal rajut abu-abu yang melingkari lehernya. Penampilannya kini jauh lebih sederhana dibandingkan empat tahun lalu di Jakarta, saat ia masih terikat dalam lingkaran sosialitas yang semu. Rambutnya kini dipotong sebahu, dibiarkan tergerai alami. Wajahnya bersih dari riasan tebal, namun sepasang matanya tidak lagi memancarkan binar es yang dingin. Matanya kini teduh, seperti telaga tenang setelah badai besar berlalu.

​Empat tahun di Prancis, menjauh dari ingar-bingar pemberitaan hukum dan bisnis di Indonesia, telah menghidupkan kembali jiwanya yang sempat mati. Kirana mengelola sebuah toko bunga kecil sekaligus galeri seni botani di pinggiran kota. Ia tidak lagi menyentuh angka-angka saham, tidak lagi menyusun strategi manipulasi. Di sini, ia belajar memaafkan dirinya sendiri. Setiap kelopak bunga yang ia rangkai setiap pagi adalah bentuk rekonsiliasi dengan nuraninya yang dulu sempat ia kotori demi sebuah dendam.

​Ia menyesap café au lait hangat dari cangkir keramiknya, menatap kerumunan orang yang berlalu-lalang di trotoar. Hidupnya sudah tenang. Setidaknya, sampai lonceng kecil di atas pintu masuk kafe berdenting nyaring.

​Seorang pria melangkah masuk. Ia mengenakan mantel parit (trench coat) berwarna hitam dengan syal gelap. Pria itu melepaskan kacamata bacanya yang sedikit berembun karena hawa dingin di luar, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kafe yang tidak terlalu ramai.

​Gerakan tangan Kirana yang hendak meletakkan cangkir mendadak terhenti di udara. Jantungnya melewatkan satu detakan.

​Pria itu adalah Bimo.

​Empat tahun tidak bertemu, gurat wajah Bimo tampak sedikit berubah. Ia terlihat lebih matang, dengan beberapa garis kedewasaan yang tegas di sekitar matanya. Potongan rambutnya tetap rapi, mencerminkan sisinya sebagai seorang profesional hukum yang disegani. Namun, keangkuhan atau ketegangan korporasi yang dulu selalu melekat di bahunya kini telah luruh. Pria itu tampak lebih lepas, lebih manusiawi.

​Pandangan mereka bertemu. Bimo terpaku di dekat pintu selama beberapa detik. Ada riak keterkejutan, kelegaan, dan kerinduan yang mendalam yang melintas cepat di sepasang mata pria itu. Bimo memaksakan seulas senyum tipis—senyuman tulus yang sama dengan senyuman yang ia berikan pada Kirana di masa-masa kuliah mereka dulu, jauh sebelum dosa-dosa Jakarta mengubah mereka menjadi monster.

​Bimo melangkah mendekat ke meja sudut Kirana. Langkah kakinya stabil, tidak terburu-buru, seolah ia menghormati ruang aman yang telah dibangun Kirana selama ini.

​"Boleh aku duduk di sini, Kirana?" suara berat Bimo memecah keheningan di antara mereka. Suara yang sangat familiar, namun kini terdengar tanpa beban masa lalu.

​Kirana tersenyum, sebuah senyuman tulus yang sudah lama tidak ia tunjukkan pada siapa pun dari masa lalunya. Ia mengangguk perlahan. "Silakan, Bimo. Sudah lama sekali."

​Bimo duduk di kursi kayu di hadapan Kirana, meletakkan mantelnya di sandaran kursi. Seorang pramusaji datang, dan Bimo memesan segelas espresso hangat tanpa gula. Setelah pramusaji pergi, keheningan sempat kembali menyelimuti meja mereka, namun kali ini bukan keheningan yang mencekam atau penuh kecurigaan. Itu adalah keheningan dari dua jiwa yang sedang membaca perubahan satu sama lain.

​"Bagaimana kamu bisa menemukanku di sini?" tanya Kirana membuka percakapan, nadanya ringan tanpa ada nada defensif.

​Bimo terkekeh kecil, menyesap kopinya yang baru saja diantarkan. "Aku tidak mencarimu dengan menggunakan detektif swasta atau jaringan hukumku, Kirana. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menghormati keputusanmu empat tahun lalu. Tapi, sepupuku—notaris yang dulu membantu kita—kebetulan berlibur ke Paris bulan lalu dan tidak sengaja membeli buket bunga di tokomu. Dia mengenalimu, dan dia memberi tahuku."

​Bimo menatap Kirana dalam-dalam, menatap guratan kedamaian di wajah wanita itu. "Aku kebetulan sedang ada urusan arbitrase bisnis di Jenewa minggu ini, dan aku berpikir... mungkin sudah waktunya aku mampir untuk melihat apakah kamu sudah berhasil menemukan apa yang kamu cari."

​"Dan seperti yang kamu lihat, aku sudah menemukannya, Bim," jawab Kirana lembut, tangannya mengusap pinggiran cangkir tehnya. "Aku menemukan diriku yang dulu. Kirana yang menyukai bunga, yang menyukai ketenangan, dan yang tidak perlu hidup dalam kebohongan setiap hari."

​"Bagaimana dengan Jakarta?" tanya Kirana kemudian. Ia merasa sudah cukup kuat untuk mendengar kabar tentang kota yang membesarkan sekaligus menghancurkannya itu.

​Bimo menyandarkan punggungnya, tatapannya menerawang ke luar jendela. "Aris sudah menyelesaikan dua pertiga masa hukumannya. Karena kerja sama yang baik dan pengembalian aset yang kita atur lewat yayasan fidusia dulu, dia mendapatkan beberapa kali remisi. Dia berubah banyak, Kirana. Dia tidak lagi memegang bisnis. Kudengar setelah keluar nanti, dia hanya ingin kembali ke kota kelahirannya di Jawa Tengah untuk mengurus perkebunan kecil milik ibunya. Kesombongannya sudah habis, tapi setidaknya dia masih memiliki kesempatan untuk hidup tenang."

​"Lalu Sarah?"

​"Firma hukumnya bangkrut, dan dia sempat terseret kasus pencucian uang sebagai saksi ahli. Dia sekarang menetap di Singapura, bekerja sebagai konsultan independen. Reputasinya di Jakarta sudah selesai," Bimo menjeda kalimatnya, lalu menatap Kirana kembali. "Dan perusahaannya... PT Utama Karya Propertindo sudah dilikuidasi dengan bersih. Semua utang kepada pihak ketiga sudah lunas. Tugas hukumku untuk mengurus peninggalan itu sudah selesai setahun yang lalu."

​Kirana mengembuskan napas panjang. Ada rasa lega yang luar biasa mengalir di dadanya. Mendengar nama-nama itu kini tidak lagi memicu rasa sakit, mual, atau hasrat untuk menghancurkan. Semua itu terasa seperti sinopsis dari sebuah buku fiksi lama yang pernah ia baca di masa lalu.

​"Dan bagaimana denganmu, Bimo?" Kirana menatap pria di hadapannya dengan tatapan yang penuh perhatian. "Apakah kamu sudah memaafkan dirimu sendiri?"

​Bimo tertegun mendengar pertanyaan itu. Ia menunduk, menatap cangkir espresso-nya yang tinggal setengah.

​"Butuh waktu dua tahun bagiku untuk berhenti merasa bersalah, Kirana," aku Bimo jujur, suaranya merendah. "Aku sempat membenci diriku sendiri karena membiarkan logikaku lumpuh demi ambisi melindungimu dengan cara yang salah. Aku sempat merasa bahwa aku hanyalah pion dalam permainan dendammu. Tapi seiring berjalannya waktu, aku sadar... aku melakukan semua itu bukan hanya karena kamu memanipulasiku. Aku melakukannya karena egoku sendiri yang ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi pria yang lebih hebat daripada Aris."

​Bimo mendongak, matanya memancarkan kejujuran yang matang. "Setelah aku melepaskan ego itu, aku mundur dari firma hukum lamaku. Sekarang aku lebih banyak bergerak di bidang hukum lingkungan dan hak asasi manusia. Hidupku jauh lebih tenang sekarang, Kirana. Aku tidak lagi mengejar takhta di atas penderitaan orang lain."

​Kirana merasakan kehangatan merayap di hatinya. Pria kaku yang dulu ia seret ke dalam kegelapan kini telah berhasil menemukan jalan kembalinya menuju cahaya.

​Sore perlahan berganti malam. Lampu-lampu jalanan kota Paris mulai menyala satu per satu, memancarkan pendar kuning keemasan yang romantis di atas aspal yang mulai dingin. Musisi jalanan di ujung blok mulai memainkan akordeon, mengalunkan nada-nada bertempo lambat yang manis.

​Bimo melihat jam tangannya, lalu menatap Kirana dengan ragu-ragu. "Kirana... aku harus kembali ke hotelku untuk bersiap penerbangan kembali ke Swiss besok pagi. Tapi, sebelum aku pergi... bolehkah aku menanyakan satu hal yang belum sempat terjawab empat tahun lalu?"

​Kirana tersenyum kecil, ia sudah bisa menebak apa yang akan ditanyakan Bimo. "Tanyakanlah, Bim."

​"Apakah di dalam hatimu yang sekarang... yang sudah bersih dari dendam dan masa lalu... masih ada ruang untuk seorang pria yang pernah membuat kesalahan bersamamu? Pria yang sekarang ingin memulainya dengan cara yang benar, tanpa dokumen hukum, tanpa manipulasi, dan tanpa terburu-buru?" Bimo menatap Kirana dengan pandangan penuh harapan yang tulus—bukan lagi harapan posesif seorang pria yang ingin memiliki, melainkan harapan seorang sahabat yang ingin mendampingi.

​Kirana tidak langsung menjawab. Ia menatap ke luar jendela, melihat daun-daun kering yang menari ditiup angin malam Paris, lalu kembali menatap Bimo.

​Kali ini, tidak ada ketakutan atau kejijikan yang ia rasakan saat menatap Bimo. Rasa trauma itu telah luruh bersama waktu. Yang ada hanyalah rasa nyaman yang familier—rasa nyaman dari seorang pria yang telah mengenalnya sejak ia belum menjadi siapa-siapa.

​"Bimo..." Kirana mengulurkan tangannya di atas meja, membiarkan jemarinya menyentuh punggung tangan Bimo dengan lembut. Sentuhan yang kini terasa hangat, bukan lagi dingin karena konspirasi. "Hatiku yang sekarang tidak lagi memiliki dinding pembatas yang tebal. Aku sudah selesai menata hati."

​Kirana menjeda kalimatnya, memberikan seulas senyuman paling manis yang pernah Bimo lihat dalam hidupnya. "Toko bungaku di ujung jalan itu buka setiap hari pukul sembilan pagi. Jika besok pagi atau bulan depan, atau kapan pun kamu kembali ke Paris dan ingin belajar mengetahui bagaimana cara merangkai bunga mawar tanpa terluka oleh durinya... pintunya selalu terbuka untukmu. Kita bisa memulainya dari sana. Sebagai dua orang asing yang baru pertama kali bertemu di kota ini."

​Mendengar jawaban itu, mata Bimo berbinar terang. Beban berat yang selama empat tahun ini menggelayuti hatinya menguap seketika. Ia membalikkan tangannya, menggenggam jemari Kirana dengan kelembutan yang memuja—sebuah genggaman yang menandai awal dari sebuah alur cerita yang baru.

​Malam itu, di bawah langit Paris yang mulai bertabur bintang, kisah balas dendam yang berdarah di Jakarta telah resmi dikubur sedalam-dalamnya. Di atas tanah yang baru, di dalam kafe kecil yang hangat, sebuah benih hubungan yang murni dan matang perlahan-lahan mulai bertunas kembali, bersiap untuk mekar di bawah petunjuk waktu yang lebih bijaksana.

1
Ara putri
mampir ya kak. Jika berkenan mampir juga keceritaku TUAN AYAZ, TOLONG BERHENTI!
Dinarta Firdaus: baik kakak terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!