Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan dan Gejolak di Balik Perban
Malam di London Timur terasa semakin mencekam saat Alistair Thorne berdiri di depan jendela markas teater tua, menatap bayangan Obsidian Tower di kejauhan. Pasukan gabungan Isabella dan Iron Crest sudah bersiap di lobi, namun Alistair masih memiliki satu "urusan administratif" yang belum selesai.
Ia melangkah kembali ke ruang medis darurat. Sloane sedang duduk di tepi kasur, tangannya sibuk melipat perban cadangan dengan sangat rapi—begitu rapi hingga setiap lipatannya tampak seperti diukur dengan penggaris milimeter.
"Nona Sterling," panggil Alistair, suaranya lebih lembut namun mengandung intensitas yang membuat Sloane tersentak.
Sloane mendongak, dan seketika ia merasa seluruh sarafnya tersengat listrik. Sejak pengakuan cinta publik di aula tadi, Alistair tidak lagi menahan diri. Pria kaku itu kini sering melakukan kontak fisik yang membuat Sloane merinding.
Alistair melangkah mendekat, masuk ke dalam ruang pribadi Sloane. Ia tidak berhenti sampai ujung sepatunya bersentuhan dengan kaki Sloane. Alistair merunduk, satu tangannya mencengkeram pinggang Sloane, sementara tangan lainnya mengusap tengkuk gadis itu, jempolnya bergerak perlahan di belakang telinga Sloane.
"A-Alistair... kau mau apa lagi? Kau harus berangkat perang!" Sloane bergumam, tubuhnya menjadi kaku seperti papan kayu. Bulu kuduknya berdiri saat merasakan napas hangat Alistair di permukaan kulit lehernya.
"Secara operasional, saya membutuhkan 'bahan bakar' emosional sebelum memasuki zona tempur," bisik Alistair, suaranya parau dan dalam.
Alistair tidak menunggu jawaban. Ia menarik pinggang Sloane hingga tubuh gadis itu menempel erat pada dada bidangnya. Sloane bisa merasakan detak jantung Alistair yang kuat, dan itu membuatnya semakin gemetar. Ia tidak pernah membayangkan bos "kulkas"-nya bisa menjadi seposesif dan seberani ini.
Alistair menenggelamkan wajahnya di leher Sloane, menghirup aroma sabun apel yang menjadi candu barunya. "Sloane... jika saya tidak kembali, pastikan Anda tidak membuang semua jas saya. Biarkan salah satunya tetap di kamar Anda... secara administratif."
"Jangan bicara bodoh, Tuan Kaku!" Sloane mencoba memprotes, namun suaranya melemah saat bibir Alistair mulai menyentuh pangkal lehernya. "Hah... Alistair... berhenti..."
Bukannya berhenti, Alistair justru mengangkat wajah Sloane, menatap mata cokelat yang berkaca-kaca itu dengan tatapan predator yang penuh rasa lapar. Detik berikutnya, Alistair mengunci bibir Sloane dalam ciuman yang jauh lebih intens dari sebelumnya.
"Mmm..." desahan halus lolos dari bibir Sloane saat lidah Alistair mulai menuntut akses lebih dalam.
Sloane merasa dunianya berputar. Tangan Alistair yang besar kini merayap ke punggungnya, menekan tubuh Sloane seolah ingin menyatukan jiwa mereka. Ruangan medis yang sunyi itu kini hanya dipenuhi oleh suara napas yang memburu dan kecupan yang dalam.
"Hah... Alistair... wait..." Sloane terengah di sela ciuman mereka, namun Alistair justru semakin memperdalam pagutannya.
"Ah..." suara desahan pelan kembali terdengar dari tenggorokan Sloane saat Alistair menggigit kecil bibir bawahnya, memberikan sensasi perih yang nikmat. Alistair seolah tidak ingin memberi Sloane waktu untuk berpikir atau bicara. Baginya, bibir Sloane adalah satu-satunya obat untuk kegelapan yang akan ia hadapi di luar sana.
Tangan Sloane yang tadinya kaku, perlahan mulai merambat ke leher Alistair, mencengkeram kerah kemeja hitam pria itu dengan erat. Meskipun ia belum menjawab pengakuan Alistair secara verbal, tubuhnya tidak bisa berbohong. Ia menginginkan pria ini.
Ciuman itu berlangsung lama dan penuh gairah, hingga oksigen di paru-paru Sloane benar-benar menipis. Alistair melepaskan tautan bibir mereka perlahan, namun keningnya tetap menempel pada kening Sloane. Napas mereka bersahut-sahutan, menciptakan harmoni yang sangat tidak kaku di tengah suasana perang.
"Tetaplah di sini. Jangan pergi ke mana pun," perintah Alistair, suaranya sangat serak. "Jika saya kembali, saya menagih jawaban atas parameter cinta saya."
Sloane hanya bisa mengangguk lemah, wajahnya memerah hingga ke dada. Jantungnya berdebar sangat kencang, seolah-olah ia baru saja berlari maraton sambil membawa sapu. Saat Alistair berbalik dan melangkah keluar ruangan, Sloane baru menyadari bahwa kakinya masih gemetar hebat.
"Dasar... bos gila..." gumam Sloane sambil menyentuh bibirnya yang terasa bengkak. "Bagaimana bisa dia melakukan itu dengan wajah datar?"
Di luar ruangan, Isabella berdiri bersandar di dinding, memperhatikan Alistair yang keluar dengan tatapan yang jauh lebih tajam dan berbahaya.
"Sudah selesai pengisian energinya, Alistair?" tanya Isabella dengan nada menggoda.
Alistair merapikan kerahnya yang sedikit berantakan akibat cengkeraman Sloane. "Secara administratif... sistem saya sekarang sudah berada di level seratus persen. Mari kita hancurkan Obsidian Tower."
Marcus dan para pengawal lainnya, yang sejak tadi berdiri memunggungi pintu ruang medis, segera berbalik dan memberikan hormat.
"Tuan Thorne, unit Iron Crest siap bergerak. Kami... eh, kami tidak melihat apa pun tadi," ucap Marcus sambil menatap lurus ke depan, berusaha keras menahan senyum.
"Bagus. Karena jika saya mendengar ada laporan noda gosip di unit ini, saya sendiri yang akan melakukan 'pembersihan' total," jawab Alistair dingin.
Mereka pun bergerak. Pasukan bayangan London itu meluncur keluar dari teater, menuju pertempuran terakhir yang akan menentukan masa depan mereka. Di dalam markas, Sloane kembali ke tugasnya—membersihkan sisa debu di meja medis—namun kali ini dengan senyum yang tidak bisa ia hilangkan, dan jantung yang masih menanti kepulangan sang Tuan Kaku yang baru saja mencuri napasnya.
To be continued....