Bagaimana jika orang yang kau sukai masih terus berada di bawah bayang-bayang sang mantan kekasih?
Dan bagaimana jika orang yang kau cintai, mencintai dirimu juga, namun orang disekitar tak menyetujui hubungan tersebut.
Inilah kisah Aileen, yang menyukai Sam, sang kakak kelasnya. Namun, segala sesuatu tentang Sam tak pernah lepas dari sang mantan kekasih, yakni Clarissa.
Hingga, saat Aileen memutuskan kembali ke negara asalnya, Sam baru menyadari bahwa ia telah salah.
Juga, Felysia, kakak tiri Aileen yang menyukai Daniel. Namun teman-temannya tak menyukai jika Felysia bersama dengan Daniel. Mereka ingin Felysia bersama dengan Felix.
Apakah kedua kakak beradik ini bisa mmperjuangkan cinta mereka? Atau harus membiarkan cinta mereka pergi begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Betsya Disi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Felix
Aileen kini kembali ke kelasnya setelah selesai dengan urusan tidurnya di perpustakaan. Dan kini saat ingin pulang sekolah, tiba-tiba ia merasa butuh untuk pergi ke toilet. Setelah ia selesai, ia hendak ke luar dan pergi pulang kerumah.
Namun saat ia sedang mencuci tangan di wastafel, tiba-tiba saja para siswa dari kelasnya yang kemarin yakni Velisa dan para temannya datang dengan senyum antagonis.
Mereka tak berbicara apa-apa. Mereka hanya langsung menyiramkan Aileen dengan seember air di tangan mereka.
Aileen yang terkejut hanya bisa terdiam terpaku. Ia merasa malas berurusan dengan mereka, apalagi dia masih berstatus murid baru di sini.
Melihat tak ada perlawanan dari Aileen, mereka langsung keluar dan melemparkan ember itu sembarang arah di toilet. Setelah melihat mereka pergi, ia pun segera keluar dan menemui kakaknya yang mungkin sudah menunggunya di parkiran.
Dan benar saja, saat di parkiran, sang kakak sudah berdiri di samping sepeda mereka sambil menahan panas cuaca siang itu. Ia segera saja mempercepat langkahnya menuju sang kakak.
"Eh Dek, lo kok basah kuyup gini? Habis dibully lo?" Ucap Felysia yang melihat adiknya datang dengan kondisi basah kuyup.
"Udahlah kak, udah sempat basah juga. Udahlah gak usah dibahas,” jawab Aileen meyakinkan agar sang kakak tidak khawatir.
"Bilang sama gue Dek, biar gue cabei tuh mulutnya. Siapa sih yang lakuin? Anak kelas 12? Hayo, gue hajar, gak takut gue walau dia senior. Emosi banget gue ah.”
Aileen hanya mengangguk malas berusaha tidak memperpanjang masalah ini, sambil mengambil helm yang berada di sepedanya.
"Eh Kak kita gak bisa sama nih, nanti lo malah ikut basah,” ucap Aileen.
"Terus gue naik apa dong Dek?" Tanya Felysia. Aileen pun juga ikut bingung, ia mencari cara agar sang bisa pulang tanpa ikut bersamanya.
Hingga saat ia melayangkan pandangannya ke berbagai penjuru, ia melihat Felix sedang berjalan kearah parkiran.
"WOI KAK FELIX!" Teriak Aileen kuat hingga beberapa orang yang berada diparkiran menoleh kepada Aileen walau bukan mereka yang dipanggil.
Felix yang merasa terpanggil pun menoleh dan ia bisa melihat Aileen yang melambaikan tangan dengan Felysia di sampingnya. Felix pun menghampiri mereka dengan senyuman yang mempesona.
"Eh kok lo basah gini?" Tanya Felix.
"Biasa Kak, habis main air. Eh bisa antarin kakak gue ini gak kak?" Ucap Aileen.
Felysia membelalakan matanya mendengar penuturan adiknya tersebut. Ia berusaha menolak rencana adiknya itu.
"Eh gak usah Felix. Gue naik sepeda bareng adek gue aja,” ucap Felysia sambil menyikut adiknya.
"Udah ikut gue aja,” ucap Felix langsung sambil menarik tangan Felysia dan membawanya menuju tempat di mana motornya diparkirkan.
"Sorry ya, gue gak punya helm lain. Gak apa-apa kan?" Tanya Felix yang kini sudah memakai helmnya.
"Ngank apa,” jawab Felysia singkat sambil menaiki motor Felix. Motornya cukup tinggi, hingga Felysia harus memegang pundak Felix untuk membantunya naik.
"Udah?" Tanya Felix.
"Udah, yok!" Jawab Felysia sambil memegang baju dibagian pinggang Felix sebagai pegangan.
Hingga mereka akan akan keluar gerbang, Felysia melihat Daniel berada diluar gerbang yang sedang menunggu jemputan.
Ia pun hanya menunduk, namun terlihat seperti punggung Felix sedang menopang kepala Felysia. Hingga akhirnya mereka keluar dari lingkungan sekolah dan langsung menuju ke rumah Felysia.
Daniel yang berada di luar gerbang sekolah, melihat seorang perempuan yang dibonceng oleh Felix. Ia kenal perempuan itu, ia adalah Felysia.
Arah mata Daniel terus mengikuti arah motor Felix pergi. Ia merasa seperti hatinya terselimut awan hitam, dan ada amarah di sana.
Namun ia langsung mengalihkan perhatiannya. Ia berusaha mengacuhkan rasa berkecambuk di hatinya kini. Namun hatinya sangat berkuasa atas dirinya.
***
Sekitar 20 menit kemudian, Felysia dan Felix pun tiba didepan rumah Felysia.
"Ah Felix, makasih banyak ya. Maaf banget udah ngerepotin lo,” ucap Felysia berterimakasih kepada Felix.
"Santai aja. Lagian arah rumah kita emang sama kan. Jadi gak usah merasa ngerepotin. Gue seneng kok,” ucap Felix tersenyum tulus.
"Tapi tetap aja gue gak enak,” lanjut Felysia sambil cemberut karena sudah merepotkan Felix.
"Udah gue bilang gue seneng antar lo,” jawab Felix lagi.
"Ya udah masuk dulu yuk. Buat minum gitu,” ajak Felysia mencoba membalas perbuatan Felix.
"Kalo masuk ke hati lo aja bisa gak?" Tanya Felix tertawa, namun hatinya serius untuk.
"Dasar. Udah gih sana lo pulang tuh. Hati-hati, jangan ngebut,” ucap Felysia mengelak. Ia tahu walau Felix mengucapkannya sambil tertawa, namun sebenarnya Felix serius mengatakannya.
Ia merasa tidak tega menyakiti perasaan Felix. Mereka sudah dekat sejak masuk sekolah menengah pertama.
Ditambah rumah mereka yang hanya berjarak beberapa blok, membuat mereka dulu sering pulang bersama. Intensitas pertemuan mereka yang menyebabkan Felix memilikimu perasaan yang lain selain teman kepada Felysia.
Namun beda halnya dengan Felysia, justru Felysia hanya menganggap Felix adalah sahabat. Tak ada perasaan lebih. Jika lebih pun, Felysia hanya menganggap Felix sebagai layaknya seorang kakak.
"Iya, iya. Gue pulang. Masuk dulu sana, baru gue pergi,” ucap Felix sambil mengacak-acak rambut Felysia gemas.
"Lo tuh yang pergi dulu. Gue udah sampe di rumah kok. Sana, sana hus hus,” ucap Felysia sambil mengerak-gerakkan tangannya mengusir Felix.
"Masuk dulu gih. Siapa tau nanti waktu lo mau buka pintu rumah, tiba-tiba ada mammonth datang terus bawa lo lari,” jawab Felix bercanda.
"Pergi dulu cepat ih. Siapa tau nanti tiba-tiba ada cheetah yang datang dari belakang lo buat ngajak balap-balapan paling cepat gimana?" Jawab Felysia ikut bercanda.
"Gini ya yang mulia. Kalo lo masuk duluan ke rumah lo, gue jadi tau lo udah sampai dengan selamat. Seandainya ada mammonth betulan yang datang, gue bisa hadang,” ucap Felix yang tetap tak ingin pergi sebelum Felysia masuk ke rumah lebih dulu. Walau lebih tepatnya sedang mengulur waktu agar bisa lebih lama bersama Felysia.
"Gini ya Tuan. Gue udah di rumah. Dan gak mungkin ada mammont kayak yang lo ceritain. Udah gih, sana pulang. Gue di sini mantau siapa tau cheetahnya betulan datang,” jawab Felysia tak mau kalah.
Kegiatan bertengkar kecil yang penuh candaan itu terus berlanjut, hingga akhirnya mereka asik membahas tentang hewan.
"PACARAN TERUSS!!" Teriak ibu Felysia yang kini sedang berdiri di depan pintu rumah sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sontak Felix dan Felysia pun terkejut.
"Oh Felix. Udah lama gak keliatan. Mampir dulu yuk,” ucap sang ibu.
"Ah makasih Tante. Kapan-kapan aja. Felix pulang dulu ya Tan,” pamit Felix pada ibu Felysia.
"Gue pulang dulu ya. Pawang mammonth sesungguhnya udah muncul,” ucap Felix bercanda.
"Hati-hati,” jawab Felysia tersenyum manis, dan dibalas senyuman hangat dari Felix sambil menarik gak motornya.
Melihat kepergian Felix, Felysia pun berjalan menuju rumahnya.
"Jadi bekal yang kemarin buat Felix ya Kak?" Tanya sang ibu yang masih berdiri di depan pintu.
"Enggak. Buat kepala sekolah,” jawab Felysia.
"Kamu pacaran sama Felix ya Kak? Kalian cocok banget loh,” tutur sang ibu lagi sambil ikut masuk ke dalam rumah mengikuti langkah kaki Felysia.
"Enggak Mama. Felysia cuma anggap Felix teman doang. Lagian Felysia harus fokus belajar tau,” ucap Felysia berbohong di kalimat terakhirnya.
"Iya deh anak muda gitu emang, suka rahasiaan,” goda sang ibu yang jadi mengingat masa masa mudanya dulu.
biasanya orang luar lbh berani.lawanlah...
udah penasaran banget
8 like buatmu.
Mari kita saling dukung.
Semangat up terus ya..
yuuuk mmpir juga dikaryaku berjudul "menikah karena perjodohan (Haris dan Hana) " smoga berkenan, mksh 🥰🥰🥰
boomlike dari ditinggal nikah dan kamulah harpanku hadir...ditunggu feedbacknya iga
lanjut thor...
mari saling dukung 😊✌️