NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##05

Mobil-mobil mewah berlapis kaca gelap yang membawa rombongan keluarga besar Desmon perlahan bergerak meninggalkan halaman utama Istana Buckingham.

Di bawah paparan sinar matahari pagi yang tipis, Baxeena berdiri kaku di atas tangga marmer, melambaikan tangan dengan keanggunan yang terlatih saat kendaraan ayahnya melintasi gerbang besi berukir lambang kerajaan.

Begitu raungan mesin mobil-mobil sport dan sedan diplomatik itu menghilang di balik tikungan jalan, lambaian tangannya meluruh secara mendadak.

Topeng ramah yang ia pasang di depan media dan orang tuanya luntur seketika.

Baxeena membalikkan badan, menyapu pandang ke arah koridor istana yang lengang. Keheningan bangunan kuno ini terasa begitu menghimpit, menyerap setiap helai napasnya menjadi hembusan yang dingin dan hampa.

Dengan langkah kaki yang lambat namun konstan, ia berjalan menyusuri lorong-lorong berkarpet tebal, melewati barisan lukisan minyak para penguasa terdahulu yang seolah menatapnya dengan pandangan penuh tuntutan.

Langkah kakinya membawanya kembali ke sayap barat istana, menuju kamar pengantin yang semalam menjadi saksi bisu pecahnya badai emosi. Baxeena meraih gagang pintu jati yang berat, mendorongnya pelan, lalu melangkah masuk.

Ia mengira ruangan itu kosong. Namun tepat di tengah kamar, berdiri sesosok pria tegap dalam balutan kemeja kasmir gelap yang kancing atasnya telah terbuka.

Alistair berada di sana, menunggunya.

Pria itu berdiri diam di dekat meja mahoni, memegang sebuah cangkir porselen yang asap tipisnya membumbung ke udara.

Tatapan mata hazel-nya yang tajam langsung mengunci keberadaan Baxeena begitu pintu berderit terbuka. Ada kedalaman yang sulit diartikan dari cara pria itu memandangnya—sebuah kombinasi antara kerinduan yang terpendam, rasa bersalah yang mengakar, dan keheningan yang amat pekat.

Baxeena menghentikan langkahnya di dekat pintu, refleks menarik jarak. Ia tidak menyapa, hanya menatap Alistair dengan raut wajah yang membeku kembali bagai es.

Alistair meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan dengan ketukan halus yang nyaris tak terdengar. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka selama beberapa detik sebelum bibirnya bergerak.

"Terima kasih."

Suara bariton yang rendah dan teratur itu memantul pelan di dinding kamar. Tidak ada ketegangan militer dalam suaranya saat ini; hanya ada kelelahan emosional yang amat jujur.

Baxeena mengangkat sebelah alisnya. Ia menyilangkan tangan di depan dada, memasang benteng pertahanan yang tak tertembus. "Terima kasih untuk apa?" tanyanya dingin, nada suaranya datar tanpa riak.

Alistair menatap tepat ke dalam manik mata Baxeena, mencari sisa-sisa binar wanita muda yang dulu pernah menjadi dunianya. Namun yang ia temukan hanyalah dinding tebal yang sengaja dibangun Baxeena selama belasan tahun.

"Untuk hal besar yang kau lakukan pagi ini," jawab Alistair pelan. Garis rahangnya yang kaku mengendur sedikit. "Kau bersikap lembut pada putriku di meja makan. Terima kasih... karena kau telah mau menerimanya."

Sebuah senyum tipis yang sarat akan sarkasme terukir di bibir Baxeena. Ia tidak tertawa, namun lirikan matanya memancarkan kepahitan yang teramat dalam. Baxeena mengangguk pelan, sebuah gestur formal yang sangat kaku.

"Itu kewajibanku," sahut Baxeena pendek. Suaranya meluncur begitu mudah, bagai membacakan klausul kontrak yang telah dihafal di luar kepala.

Ia melangkah melintasi ruangan, mendekati meja rias untuk melepaskan pin mutiara yang menyemat rambutnya. Melalui cermin besar di depannya, ia menatap bayangan Alistair yang masih berdiri membisu di belakangnya.

"Tapi jangan berbangga hati, Alistair," lanjut Baxeena, menancapkan setiap kata dengan kepresisian yang menyakitkan. "Aku tidak pernah mengatakan putrimu adalah putriku juga. Bersikap rasional di depan keluarga dan publik adalah bagian dari akting yang harus kujalani dalam pernikahan aliansi ini. Jangan mengartikannya sebagai bentuk kelunakan hatiku padamu, atau pada darah dagingmu."

Alistair tidak terkejut. Pria itu justru menghembuskan napas panjang, membiarkan kata-kata tajam Baxeena meresap ke dalam jiwanya tanpa perlawanan.

Sebagai seorang perwira tinggi yang terbiasa bertahan di medan pertempuran terbilang ekstrem, ia tahu betul bahwa amarah Baxeena adalah perisai. Baxeena yang membentenginya dengan kata-kata pedas adalah Baxeena yang sedang berusaha melindungi jiwanya yang pernah terluka parah.

"Aku paham," kata Alistair lirih. "Aku tidak meminta lebih dari apa yang sanggup kau berikan, Xeena."

"Bagus kalau kau paham," potong Baxeena cepat. Ia memutar tubuhnya, menghadap Alistair sepenuhnya. "Sekarang, jika kau tidak ada urusan militer atau protokol kerajaan yang harus diselesaikan, aku ingin menyendiri. Aku lelah berpura-pura tersenyum di depan semua orang."

Alistair menatap Baxeena selama beberapa saat. Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk melangkah mendekat, menggenggam jemari dingin wanita itu, dan membongkar seluruh kebenaran tentang malam terkutuk belasan tahun lalu—tentang bagaimana rasa bersalah telah menggerogoti hidupnya setiap malam sementara ia membesarkan Violet seorang diri. Namun, Alistair menahannya. Ia tahu, memaksakan kebenaran di saat luka Baxeena masih basah hanya akan membuat wanita itu makin menjauh.

"Aku ada rapat komando di Markas Besar Bersenjata pukul sepuluh," kata Alistair, kembali memasang nada resminya. "Aku akan pergi bertugas sampai besok sore. Istana ini sepenuhnya aman untukmu. Pelayan pribadi yang kuutus akan memenuhi seluruh kebutuhanmu."

Alistair membalikkan badan, melangkah menuju pintu. Namun tepat saat jemarinya menyentuh gagang pintu mahoni, ia menghentikan langkahnya tanpa memutar kepala.

"Violet adalah gadis yang keras kepala, Xeena," bisik Alistair, suaranya sarat akan peringatan yang teramat halus. "Dia memikul beban ketakutan yang ditanamkan oleh orang lain di luar istana ini. Jika dia melakukan sesuatu yang melewati batas selama aku tidak ada... kumohon jangan sungkan untuk bertindak tegas padanya."

Tanpa menunggu jawaban dari Baxeena, Alistair menarik pintu dan melangkah keluar, meninggalkan keheningan yang kembali menelan ruangan itu secara utuh.

***

Siang merayap perlahan di atas Istana Buckingham. Angin musim gugur yang dingin berhembus menembus dedaunan pohon oak di taman belakang, menciptakan bisikan alam yang samar-samar.

Baxeena menghabiskan beberapa jam berikutnya di dalam perpustakaan pribadi di sayap barat. Ruangan berdinding kayu mahoni gelap yang dipenuhi ribuan jilid buku kuno dan dokumen sejarah itu menjadi tempat perlindungannya dari tatapan para pelayan yang terus-menerus mengawasinya dengan rasa ingin tahu. Baxeena duduk di dekat jendela besar yang melengkung, memegang sebuah cangkir teh chamomile yang sudah mendingin.

Pikirannya melayang. Kata-kata Alistair sebelum pergi tadi terus bergema di kepalanya. 'Violet memikul beban ketakutan yang ditanamkan oleh orang lain...'

Baxeena bukan wanita bodoh. Pengalamannya hidup di lingkungan kelas atas Los Angeles dan latar belakang pendidikannya telah melatihnya untuk membaca dinamika psikologis manusia dengan sangat tajam.

Sikap defensif Violet di meja makan pagi tadi, gertakan anak remajanya, hingga aksi menguncinya di kamar rias semalam bukanlah sekadar kenakalan anak spoiled berat. Itu adalah manifestasi dari ketakutan yang teramat sangat—ketakutan akan pengabaian.

Siapa yang menanamkan ketakutan itu pada anak seusianya? batin Baxeena sembari menatap ke arah taman. Ibu kandungnya?

Lamunan Baxeena terputus oleh suara langkah kaki kecil yang tergesa-gesa di luar koridor perpustakaan, disusul oleh suara gesekan kain yang kasar.

Baxeena berdiri perlahan, meletakkan cangkirnya di atas meja kayu. Ia melangkah menuju pintu perpustakaan yang sedikit terbuka. Di sana, di balik pilar granit yang megah, berdiri Violet. Gadis tiga belas tahun itu masih mengenakan seragam sekolah berasramanya, namun blazer hitamnya tampak agak kusut. Ia sedang memegang sebuah amplop cokelat tebal dengan tangan yang bergetar tipis.

Violet tidak menyadari keberadaan Baxeena. Matanya terfokus pada kertas-kertas di dalam amplop tersebut, sebelum dengan tergesa-gesa ia menyembunyikannya di dalam lipatan jas sekolahnya. Wajah gadis kecil itu pucat, bibirnya terkatup rapat dalam ketegangan yang nyata.

Baxeena menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu, melipat tangan di dada. "Sesuatu yang penting hingga kau harus bersembunyi di balik pilar istana pada jam pelajaran, Violet?"

Gadis itu meloncat kaget. Amplop cokelat di tangannya hampir saja terjatuh ke lantai marmer. Violet memutar tubuhnya dengan cepat, menatap Baxeena dengan mata membelalak yang seketika dipenuhi oleh pertahanan diri yang agresif.

"Bukan urusanmu!" seru Violet, suara remajanya melengking menembus koridor yang sunyi. "Kau tidak berhak mengawasiku atau mencampuri urusanku di istana ini!"

Baxeena tidak terprovokasi. Ia melangkah keluar dari perpustakaan dengan gerakan yang sangat tenang, setiap pijakan kakinya memancarkan kontrol penuh atas situasi. Ia berhenti di jarak dua meter dari Violet, menatap gadis itu dari atas ke bawah secara evaluatif.

"Tentu saja aku tidak berhak mencampuri urusan pribadimu," kata Baxeena lembut, namun nadanya memiliki ketegasan yang dingin. "Tapi sebagai orang dewasa yang saat ini berada di rumah ini saat ayahmu sedang bertugas di markas militer, aku bertanggung jawab atas keselamatanmu. Jam sekolahmu seharusnya baru berakhir dua jam lagi. Kenapa kau sudah ada di sini?"

Violet mengepalkan tangannya rapat-rapat. Kemarahan, rasa takut, dan doktrin dari ibunya bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Ia menatap Baxeena dengan tatapan benci yang membara.

"Aku bilang bukan urusanmu, Mommy Baxeena!" Violet menekankan kata Mommy dengan nada sarkastik yang amat kental. "Kau pikir hanya karena kau berhasil berpura-pura manis di depan Nenek pagi tadi, kau sudah jadi penguasa di sini?! Kau cuma wanita asing yang datang dari Los Angeles untuk merebut Ayah dari Ibuku! Kau tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Ibu Katherine di istana ini!"

Baxeena menatap gadis remaja di hadapannya tanpa mengedipkan mata. Tidak ada riak amarah di paras cantiknya. Keheningan merayap di antara mereka selama beberapa detik yang terasa sangat panjang, membuat Violet yang tadinya menggebu-gebu mulai merasa goyah oleh ketenangan Baxeena yang tak terusik.

"Aku sudah memikirkannya," Baxeena akhirnya bersuara, nadanya rendah dan teratur. "Dan aku tidak berniat menggantikan siapa pun."

Baxeena melangkah satu tapak lebih dekat. Violet refleks mundur setengah langkah, menegang.

"Ibumu, Katherine, adalah wanita yang melahirkanmu," kata Baxeena, suaranya mengalir bagai air di atas batu karang—dingin, namun memiliki bobot yang amat berat. "Posisinya sebagai ibumu adalah fakta biologis dan emosional yang tidak akan pernah bisa diubah oleh siapa pun, termasuk olehku. Tapi posisi sebagai istri dari Duke of Edmund Alistair Blackwood... saat ini dipegang olehku. Suka atau tidak suka, itu adalah fakta hukum dan politik yang harus kau hadapi."

Violet menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, matanya berkaca-kaca menahan lelehan air mata frustrasi.

"Jika kau ingin membenciku karena pernikahan ini, silakan," lanjut Baxeena tanpa keraguan. "Tapi jangan gunakan kebencianmu untuk merusak dirimu sendiri dengan bolos sekolah atau menyembunyikan rahasia konyol di balik pilar. Ayahmu adalah seorang perwira tinggi militer yang memikul beban negara di pundaknya. Dia tidak butuh drama anak remaja yang mengacau saat dia sedang bertugas."

"Kau... kau tidak tahu apa-apa tentang Ayah!" jerit Violet dengan suara tercekik. Air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya yang kemerahan. "Ayah menderita karena tidak bisa bersatu dengan Ibu! Dan kau datang hanya untuk memperburuk segalanya!"

Gadis itu membalikkan badan dan berlari kencang menyusuri koridor, melintasi belokan menuju sayap timur istana tempat kamarnya berada. Suara derap langkah kakinya memantul nyaring sebelum akhirnya menghilang ditelan pintu yang dibanting keras di kejauhan.

Baxeena berdiri sendirian di tengah koridor yang hampa. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Pandangannya jatuh ke lantai marmer tepat di tempat Violet berdiri tadi.

Di sana, tergeletak selembar kertas putih yang tampaknya terjatuh dari amplop cokelat milik Violet saat gadis itu terkejut tadi.

Baxeena melangkah mendekat, membungkuk untuk mengambil kertas tersebut. Itu adalah salinan dokumen rekening bank luar negeri atas nama Katherine—ibu kandung Violet—dengan catatan transfer bulanan bernominal fantastis yang baru saja ditandatangani menggunakan stempel rahasia anggaran istana.

Mata Baxeena menyempit. Sebagai wanita yang terbiasa mengelola aset dan bisnis besar di Los Angeles, ia langsung mengenali pola ini dalam hitungan detik. Ini bukan sekadar tunjangan anak biasa. Ini adalah manipulasi finansial yang memanfaatkan Violet sebagai perantara untuk memeras anggaran istana tanpa sepengetahuan Alistair.

Baxeena meremas kertas itu pelan di jemarinya.

Jadi ini permainanmu, Katherine? batin Baxeena dengan pandangan mata yang berubah amat dingin. Kau memanfaatkan ketakutan anakmu sendiri untuk menjarah rumah pria yang telah kau tinggalkan?

Baxeena melipat kertas itu dengan rapi, lalu memasukannya ke dalam saku gaunnya.

Perang dingin di dalam Istana Buckingham rupanya jauh lebih rumit dan kotor dari sekadar penolakan seorang anak tiri. Dan Baxeena Valerio Desmon bukanlah jenis wanita yang akan berdiam diri saat ada seseorang yang mencoba bermain kotor di wilayahnya.

1
Asriani Rini
Demoga biolet bisa membedakan mama yg tulus dan mana yg jahat
Rosdianah 🌷: benar kaa
total 1 replies
nayla tsaqif
Tp ttp aja,, kamu punya ank dr jalang itu pak ali,, jadinya jijik liat kamu bekas jalang,, harusnya baxee janda dulu biar bekas orang jg,, biar impas😩
Rosdianah 🌷: nah iya lagi, harusnya dibikin janda dulu ya🤣🤣🤭
total 1 replies
Adiba Azahra
Haloooo kak izin mengikuti dan nyimak yaaa dari awal hahaha 🙏😁👍 semangat terus pokok nya 😍👍
Rosdianah 🌷: okay ka🫶
total 3 replies
Mia Camelia
ehmm rencana apa sih yg di bikin violet dan katrine 🤔🤔🤔
Mia Camelia
violet baru nonggol udah pingin jitak aja🤣🤣🤣🤣
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭
nayla tsaqif
AJ besanan ama mantan nih,,, 😌
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!