NovelToon NovelToon
Dia Bukan Gadis Biasa

Dia Bukan Gadis Biasa

Status: tamat
Genre:Romantis / Petualangan / Cintamanis / Contest / Balas Dendam / Chicklit / Tamat
Popularitas:606.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lintang Lia Taufik

Tania Wijaya adalah seorang putri kaya raya yang terbuang karena persaingan bisnis sang ayah, harus bangkit belajar beladiri dan melakukan penyamaran menjadi seorang model.


Pertemuan tak sengaja dengan seorang pria keras kepala. Segala cara Tania lakukan demi menghindari pria itu. Namun, takdir berkata lain saat Tania terjebak dalam jeratan cinta yang di rencanakan Milan, kakak dari pria yang dicintainya.


Bagaimana perjalanan hubungan Tania setelah tahu Milan memiliki tunangan? Ikuti terus keseruan kisahnya.



***

Noted: Novel ini mengandung unsur beladiri/ Action yang tidak cocok untuk di bawah umur. Harap bijak memilih bacaan. Novel ini juga hanya tulisan fiksi pengarang. So harap berkomentar sopan ya reader yang budiman.


Novel ini sedang tahap revisi. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lintang Lia Taufik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semua Tampak Baik

🌟 VOTE, LOVE, RATE, DAN LIKE 🌟

Tania mengamati lalu lintas di sepanjang jalan perjalanan pulang. Hatinya selalu merasa sepi, sendiri. Hingga kehadiran seorang pria yang ditemui tak sengaja karena kecelakaan ketika hujan. Ya ... namanya Edo Mahardika, pria keturunan Indo-Belanda yang kini mulai mengisi hari-harinya.

"Kita sudah sampai," ucap Raffa mengejutkan Tania.

"Ya," jawab Tania tersenyum sembari menoleh dan menatap teduh ke arah Raffa.

Seketika Raffa membalas dengan senyuman manis, ia menepuk bahu Tania.

"Tidak perlu risau, takdir Tuhan pasti baik untuk kamu. Semangat memperbaiki diri agar selalu memberikan manfaat bagi orang lain. Tidak perlu memikirkan kehadirannya yang akan merusak tujuan hidup kamu."

Raffa mengelus punggung tangan Tania, ketika bulir bening kembali mengalir deras melewati pipi putih gadis yang kini hidupnya sebatang kara itu.

Raffa mengedarkan pandangannya ke arah teras rumah Tania, seketika senyuman teduh yang sebelumnya sengaja ia tampakkan mulai memudar. Raffa sangat mengenal siapa Edo, meski sikapnya seratus delapan puluh derajat dengan Milan tetapi Raffa tetap saja khawatir.

"Apakah kamu ada janji?" tanya Raffa, ia menatap tajam ke arah Tania sambil menautkan kedua alisnya. Ini artinya Raffa sedang serius saat ini.

"Tidak," jawab Tania, ia menggeleng pelan sambil menyeka sisa bulir bening di pipinya. Lalu mengangkat kepalanya membalas tatapan Raffa.

"Edo, dia sedang duduk di teras rumah. Apakah ia sering kemari?" tanya Raffa, lagi. Seolah sedang mengintimidasi.

"Hmmm ... dia terkadang datang tiba-tiba, seperti saat ini." Senyuman tipis mulai mengembang di bibir tipis Tania.

Bola mata Raffa bergerak-gerak mengamati ekspresi wajah Tania. Terlihat gadis di depannya menampakkan wajah berbinar-binar menatap Edo dari jendela mobil.

Siapa sangka bahwa takdir membawa Tania pada jalan berliku. Ia harus merasakan duka yang luar biasa sebelum berada dititik ini. Ia bahkan harus menghadapi monster sedingin Milan terlebih dahulu ketika kabut menyelimuti sedihnya. Ya ... tepat dimalam kematian sang ayah, masih jelas dibenak Tania, Milan datang bersama beberapa orang untuk mengusirnya.

Lebih lagi kondisinya yang sekarang mengharuskan dirinya mampu mandiri, kuat dan terlihat dikagumi banyak orang. Mereka masih ada yang peduli saja sudah cukup membahagiakan. Betapa Tania rakus dan juga terlihat kejam, jika ia menyukai dua pria sekaligus dalam hatinya. Apalagi Edo berbaik hati selalu ada untuk dirinya, kecuali Milan yang selalu bersikap dingin sebelumnya.

"Ya, gak apa-apa Kak Raffa. Edo itu baik kok, gak sedingin Milan. Jadi jangan khawatir." Tania mulai mendorong pintu mobil, dan berjalan keluar yang segera diikuti oleh Raffa.

"Tunggu, sejak kapan kamu mengenal Milan? Apa kalian dekat?" tanya Raffa, ia terkejut mendengar nama Milan terucap dari bibir Tania.

"Aku pernah bertemu sebelumnya secara tidak sengaja di restoran tempat biasa kita bertemu. Tenang saja Kak, dia tidak mengenali aku yang sekarang." Tania melepaskan genggaman tangan Raffa dan berjalan menghampiri Edo.

Sementara itu, Raffa terus mengekor di belakang Tania. Untuk memastikan jika Edo tidak lebih bahaya dari Milan.

"Halo Edo, sudah lama?" Tania menyapa Edo, ia tersenyum manis. Edo kebingungan, ia seolah tak mengenali Tania dengan dandanan barunya.

"Maaf, ngajak ngomong saya?" tanya Edo memastikan.

"Ini aku, Tania! Kamu jangan bercanda ya, pura-pura gak kenal." Tania memilih masuk, dan membuka pintu rumah yang masih terkunci.

Edo memaku tanpa kedip menatap gadis di depannya yang jauh lebih cantik dari sebelumnya.

"Aku gak mimpi 'kan Tania? Ini beneran kamu?" Edo berjalan mendekat perlahan dengan langkah ragu-ragu. Namun, tangan Raffa segera menghadang.

"Jangan ikut masuk dong, Tania ini sendirian di rumah ini. Tetapi jika kamu ikut masuk selangkah saja aku tidak akan segan untuk menghajar!" seru Raffa. Edo terkejut dengan perlakuan Raffa, yang menurutnya berlebihan.

"Wah, maaf ... saya bukan orang seperti yang ada dipikiran anda. Saya pria baik-baik, yang ingin menjaga Tania. Sama halnya dengan anda, saya mendekat hanya ingin mematikan saja." Edo kembali menjauh, dan memilih duduk dan menunggu.

"Kak, Raffa. Dia bukan ancaman," ucap Tania. Kemudian ia berpamitan sejenak untuk mengganti pakaian, dan Raffa duduk tepat di samping Edo yang terlihat kaku tak bergeming.

"Kenalkan, namaku Edo Mahardika. Bisa dibilang aku teman baru Tania, tetapi aku bukan pria jahat seperti yang anda takutkan," ucap Edo, sambil mengulurkan tangannya yang tak kunjung dibalas oleh Raffa.

Hampir saja Edo menurunkan posisi uluran tangannya, tetapi dengan cepat Raffa menyambut uluran tangan tersebut.

"Aku Raffa, bisa dibilang aku ini kakaknya. Jadi, kalau kamu macam-macam bisa dipastikan akan berhadapan langsung dengan aku." Keduanya saling berjabat tangan.

Hal berani yang dilakukan Edo, memperkenalkan diri dengan sopan membuat Raffa dijalari rasa bersalah. Kondisi sekarang begitu rumit dirasakan Raffa. Bahkan saat Tania keluar menghampiri keduanya, dan mengajak Edo ketempat latihan beladiri Raffa terlihat pasrah. Ia bahkan tidak berani mengutarakan pendapatnya.

Begitu pun ketika Edo menyuarakan setuju dengan keinginan Tania, Raffa hanya bisa menasehati. Asalkan Edo tidak membuat ulah, dan juga tidak melakukan hal buruk dikemudian hari ia setuju saja.

"Kak, Raffa ... jika memang merasa keberatan, dengan keinginan aku yang bersikeras untuk mengajak Edo ketempat latihan jangan dipendam sendiri. Sampaikan saja, aku gak apa-apa."

Raffa hanya tersenyum. Miris. Apalagi yang bisa ia lakukan? Tania terlihat begitu bahagia untuk pertama kalinya setelah keterpurukan.

"Aku akan baik-baik saja, selagi kamu berada tidak jauh dari keberadaan diriku. Aku akan berusaha menjaga semampuku."

Tania mendesah. Lalu meninggalkan Raffa, sambil menepuk pelan bahu pria penjaganya itu.

***

Raffa terlihat serius memperhatikan gerakan Tania yang dirasa perlu dibenahi. Bahkan di tempat latihan Raffa tidak segan menendang Tania, jika gadis tersebut melakukan kesalahan dengan latihannya. Apalagi jika sampai keberadaan Edo mengganggu latihannya.

Edo bahkan tidak menyangka, jika perempuan secantik dan seluwes Tania belajar ilmu beladiri. Apalagi pelatihnya adalah pengawal pribadi, yang merangkap berbagai macam pekerjaan. Edo merasa dirinya bukan siapa-siapa saat itu.

Edo memang putra konglomerat, dengan keseharian sebagai pengusaha muda yang masih amatir. Edo sebelumnya mengikuti pertemuan bersama Raffa, tetapi keduanya hanya mengenal sebagai seorang pebisnis. Edo tercengang saat mengetahui Raffa begitu mengesankan dengan segudang keterampilan yang dimiliki.

"Kamu gak ingin ikut latihan sama aku beladiri?" tanya Tania, disela-sela istirahat.

"Wah, nanti aku bisa dibanting sama si Raffa," jawab Edo tersenyum lebar.

"Aku mau mengajakmu makan malam di rumah keluargaku malam ini," ucap Edo, tiba-tiba suaranya berubah serak karena ragu-ragu.

Bukannya Tania, tetapi Raffa yang tidak sengaja mendengar ucapan Edo terlonjak seketika. Matanya menatap tajam, seperti hampir mencelos saja dari tempatnya.

"Apa!" teriak Raffa, terkejut.

"Aku akan ikut, jika kamu sendiri yang jemput pukul 07.00 malam nanti," sahut Tania, dengan suara lantang dan begitu cepat.

Raffa hanya menggelengkan kepalanya. Tentu saja karena ia sudah tahu seluruh keluarga Edo adalah orang yang bisa saja membahayakan Tania.

Bersambung ...

🌟 Terimakasih banyak sudah berkenan mampir membaca karyaku. Semoga kalian juga sudi memberi jempol dan meramaikan kolom komentar ya, biasanya sebelum menulis saya suka baca komentar-komentar lucu dari kalian. Semoga banyak inspirasi. Salam hangat Lintang untuk kalian.

Salam cintaku.

Lintang (Lia Taufik).

1
Nina_Melo
Semangat Kak, jangan berhenti menulis. Tulisanmu bagus
ros
X nk lanjutkan k thor
mahdalena pulungan
ya habis akhirnya/Silent//Silent//Silent/
mahdalena pulungan
terbawa emosi lanjuuuut/Facepalm//Facepalm/
mahdalena pulungan
keren😁😁😁😁🥰🥰🥰🥰
Mhercye DG
thor mana lanjutanx
Mhercye DG
Raffa jangan mati dulu dong thor😢
Rina Yulianti
sayang banget....cerita sebagus ini minim like
Wida Yanti
ceritanya menarik,penuh teka-teki
Lintang Lia Taufik: Terimakasih Kak, silahkan mampir juga di "Bunga Desa Terdampar di Kota & Cinta Tabu" jika berkenan.
total 1 replies
Samantha
Selalu suka karyanya
Teddy
Genre yang beda, tapi tetep seru
Magic Lightning
crazy up
Black Blink
amazing
Eli Supriatna
mau di bawa kemana ini,,,
Yu Fi
rafa ini kyknya kakak kandung edo deh lah tania alat buat ngehancurin milan
Rusie Abdullah Ibu Kidorin
mampir ah ada beladirinya..
Erlinda
Tania kamu kok ceroboh sekali seharus nya dlm kondisi mu yg seperti ini kamu harus bersikap tenang ga perlu sesumbar kamu kan ga tau siapa kawan dan siapa lawan jgn gegabah dong
Ami
up pokoknya up, ga bisa tidur nanti
Ami
up thor
Ami
cemunguth
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!