Sejak dihianati oleh Ayah dan Kekasihnya. Justin tidak percaya lagi pada sesuatu yang dinamakan cinta. Justin menganggap bila cinta adalah hal yang tabuh dan memuakkan. Menganggap semua wanita itu sama saja, penghianat dan tidak bisa di percaya. Namun pertemuan singkatnya dengan seorang gadis di sebuah bar yang akhirnya merubah pandangannya tentang cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 "Simpatik"
Angin senja berhembus lembut, menggoyangkan helaian panjang Jia yang di biarkan tergerai dan jatuh di atas punggungnya. Gadis itu menutup matanya barang sejenak untuk menghirup udara sore yang begitu menenangkan. Perlahan, Jia membuka kembali matanya memperlihatkan sepasang mutiara hazelnya yang cerah.
Namun di balik itu tersimpan luka batin dan penderitaan yang selalu tersimpan rapi di sana.Tidak ada lagi air mata yang menetes dari pelupuknya. Air matanya sudah mengering karna terlalu banyak yang dia teteakan, ia sudah lelah menangisi kejadian yang merobek ulu hatinya. Helaan nafas panjang berkali-kali meluncur dari bibir mungilnya.
Jia tidak tau kesalahan apa yang telah ia lakukan sampai-sampai Kris dengan tega mencampakkan dirinya begitu saja dan meninggalkannya demi bersama wanita lain yang belum tentu lebih baik dari dirinya.
"Kau terlihat cukup berantakan, Min Jia." seru seseorang yang duduk dibalik pohon yang Jia gunakan sebagai tempat bersandar.
"OMO?" nyaris saja Jia terkena serangan jantung dadakan karna ulah orang itu, sontak saja Jia menoleh dan mendapati seorang pemuda tampan berpenampilan serampangan dengan perban putih membebat kepalanya dengan bercak darah di atas alis kanannya. "Justin-ssi?" pekik Jia terkejut.
Justin beranjak dari posisinya dan menghampiri Jia. "You oke?" Jia menggerutkan dahinya dan menatap Justin kebingungan.
"Apa kau terlihat tidak baik-baik saja?" tanyanya. Justin mengangkat bahunya acuh, pemuda itu berdiri di samping Jia dan ikut menatap lurus kedepan.
"Entahlah, mungkin itu hanya perasaanku saja." jawab Justun acuh tak acuh. Jia tersenyum tipis.
"Memangnya terlihat jelas ya, jika aku tidak dalam keadaan baik?" tanyanya sedikit berbisik, meskipun suaranya begitu pelan namun masih dapat tertangkap jelas oleh telinga Justin.
Justin memutar lehernya untuk mentap gadis di sampingnya, sepasang mata coklatnya menatap mata Jia yang juga menatap padanya. Kesedihan terlihat jelas dari sorot mata teduhnya, meskipun terlihat tegar tapi sesungguhnya gadis itu begitu rapuh.
Justin tidak tau berapa banyak topeng yang Jia pakai hanya untuk menutupi kesedihan dan kerapuhan hatinya. Karna hanya dengan melihatnya saja siapa pun tau bila gadis ini tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Suasana diantara mereka menjadi hening. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mereka berdua. Justin dan Jia diam dalam keheningan, mereka berdua sama-sama menatap lurus kedepan pada satu objek yang sama sebuah pertunjukkan 'Air mancur'.
Tatapan Justin dingin dan datar berbeda dengan Jia yang terlihat kosong. Dan dalam suasana seperti ini Jia kembali teringat pada semua kenangan manisnya yang dulu ia lewati bersama Brian yang penuh suka cita, canda tawa sebelum Brian mencampakkan dirinya.
Dan mengingat kembali masa lalunya hanya membuat perasaan Jia semakin perih. Memang tidak mudah untuk Jessica menghapus dan membuang semua kenangannya dengan laki-laki itu karna bagaimana pun juga Kris pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.
"Apa aku terlihat begitu menyedihkan?" gumam Jia setelah cukup lama saling diam. "Selama ini aku hanya merepotkan orang-orang di sekelilingku. Shilla dan Xion oppa terutama. Aku begitu sering membuat mereka kerepotan dan berada dalam kesulitan karna diriku. Kadang aku merasa jika diriku ini tidak berguna sama sekali, sekali saja ... aku ingin hidup tanpa harus menyusahkan orang lain terutama mereka, tapi rasanya begitu sulit.
Kadang-kadang aku berfikir jika hanya kematianlah satu-satunya jalan terbaik untukku. Terdengar gila memang, tapi sudah berkali-kali aku mencoba untuk mengakhiri hidupku sendiri tapi selalu gagal." Ujar Jia panjang lebar.
Suaranya parau seperti menahan tangis. "Maaf, jika aku sudah terlalu banyak bicara. Terimakasih karna sudah mau mendengarkan curahan hatiku. Maaf, tapi aku harus pergi sekarang." Jia hendak beranjak namun tarikan lembut pada lengannya menghentikan langkahnya. Kedua mata Jia terbelalak saat merasakan wajahnya bertabrakan dengan sesuatu yang bidang.
"Jika kau ingin menangis tidak perlu di tahan karna itu hanya akan membuatmu semakin sakit." ujar Justin terlewat datar. Jari-jarinya mengusap punggung Jia dengan gerakan naik turun. Justin merasa iba dengan keadaan Jia.
Sekuat apa pun menahannya, akhirnya pertahanan Jia pun runtuh. Gadis itu sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya, air matanya tumpah dalam pelukkan Justin. Kedua tangannya terkepal kuat di depan dada bidang Justin yang hanya tertutup kaos putih tipis yang menjadi dalaman vest denimnya. Isakannya terdengar begitu pilu menbuat hati siapa pun yang mendengarnya menjadi terenyuh termasuk Justin.
Justin bersikap seperti ini bukan karna ia memiliki rasa pada Jia melainkan karna rasa simpatik mengingat jika gadis itu terluka karna ulah kakaknya. Brian.
Saat di rasa mulai tenang, Justin melonggarkan pelukkan pada Jia dan menatap dalam manik hazelnya. "Setelah ini kau ingin pergi ke mana?" tanya Justin dengan nada datar.
"Arena balap liar. Aku berjanji pada, Shilla, untuk bertemu di sana. Gadis itu memaksaku dan terus merenggek seperti bayi." jawabnya.
Justin terdiam untuk beberapa saat kemudian mengangguk. "Baiklah, aku akan mengantarkanmu ke sana."
.
.
"YAKKK!! BOCAH SETAN, APA YANG KALIAN LAKUKAN EO?" amuk Thalita pada Thomas dan Felix yang sebenarnya dengan sengaja menumpahkan minuman bersoda yang mereka bawah pada wajah dan pakaian wanita itu dengan berpura-pura tersandung sesuatu.
Sehun yang melihat hal itu berpura-pura menjadi panik. Pemuda itu menghampiri Thalita dengan sebuah sapu tangan yang kemudian dia gunakan untuk membersihkan wajah dan pakaiannya. "Nu-nunna, maafkan dua bocah itu ne. Pasti mereka tidak sengaja. Sini biar aku bersihkan." Sehun mencelupkan sapu tangan tersebut pada cup ice crean yang sudah mencair sebelum mengusapkan pada wajah Thalita.
Plakkk!!
Dengan kasar Brian menepis tangan Sehun dari wajah istrinya dan menatapnya tajam. "Sialan! Apa kalian sengaja eo ingin mempermalukan Thalita seperti ini? Dan kalian bertiga, apa masalah istriku dengan kalian sampai-sampai kalian berbuat hal kurang ajar seperti ini padanya? Apa ini didikan baji*gan itu pada kalian." teriak Brian pada ketiganya.
Gyutt!!
Felix, Sehun dan Thomas mengepalkan tangannya mendengar Brian mengucapkan kata bajingan yang sangat jelas itu di tunjukkan pada siapa. Mereka tidak terima bila Justin sampai di bawah-bawah, dan apa yang mereka lakukan semata-mata untuk meluapkan kekesalannya setelah mendengar cerita Shilla tentang bagaimana berengseknya pasangan itu.
Felix begitu geram mendengar bagaimana jahatnya Brian pada Jia, jika saja pada saat itu ia sudah mengenal Jia dan berada di sana. Pasti Felix sudah melindas mereka berdua dengan mobilnya.
Shilla yang merasa tidak tahan lagi menghampiri Brian dengan sebuah minuman di tangannya, tanpa aba-aba Shilla langsung menyiramkan minuman tersebut pada kepala Brian. "Seharusnya kau bercermin sebelum mengatakan orang lain bre*gsek. Karna kau jauh lebih bre*gsek dari orang yang paling bre*gsek.
Sudah sejak lama aku ingin sekali membunuhmu dan melemparkanmu kedalam kandang Singa tapi aku selalu menahannya demi menjaga perasaan, Jia. Kau tidak hanya menghancurkan gadis malang itu tapi kau juga membuatnya hampir mati. Apa kau melupakan hal itu, Brian-ssi?" ujar Shilla dengan nada meremehkan, seringai tajam terlukis jelas di bibir merahnya.
"Bre*gsek, apa yang kau katakan dan kau lakukan pada suamiku? Kau ingin mempermalukannya eo?" amuk Thalita pada Shilla.
Plakkk!!!
Shilla menahan lengan Thalita yang hendak menamparnya dan berbalik menampar wanita itu. Shilla benar-benar merasa muak pada pasangan tersebut yang begitu menjijikkan di mata mereka. Felix, Sehun dan Thomas tidak tau sebenarnya terbuat dari apa hati mereka berdua, Brian terutama. Mereka bertiga berfikir apakah mata Brian sudah buta karna lebih memilih Thalita dari pada Jia. Meskipun tidak pernah berada di posisi Jia, namun mereka merasa pasti berat menjadi Jia.
"Aku peringatkan padamu, jangan pernah menyebut, Justin, hyung bre*gsek jika kau tidak ingin mengalami hari-hari yang buruk. Hyung, Nunna, kaja pergi. Balap liarnya di mulai sebentar lagi." ucap Felix dan berlalu begitu saja.
Brian dan Thalita benar-benar menjadi pusat perhatian, mereka benar-benar di permalukan habis-habisan oleh Shilla dan ketiga teman Justin p. Semua orang yang ada di sana berbisik membicarakan mereka. Rasanya mereka sudah tidak lagi memiliki muka untuk menatap dunia "APA KALIAN SEMUA LIHAT-LIHAT?" amuk Brian pada orang-orang itu.
"Sudahlah, Oppa, sebaiknya kita segera pergi dari sini." ucap Thalita seraya menarik Brian keluar dari kedai ice cream tersebut.
🌹🌹🌹
Justin mengendarai mobil sportnya dengan kecepatan sedang. Jalanan malam ini cukup ramai hingga tidak ada celah untuknya bisa kebut-kebutan seperti yang biasanya dia lakukan di tambah dengan keberadaan Jia di sampingnya. Justin tidak ingin membuat gadis itu merasa mual karna cara mengendarai mobilnya yang melebihi kecepatan maksimal, sesekali Justin melirik pada Jia yang diam termenung sambil menetap keluar jendela.
"Kau ingin makan malam terlebih dulu sebelum pergi ke sana?" tanya Justn mencairkan suasana.
Sontak saja Jia memutar lehernya dan menatap Justin yang kembali fokus pada jalanan. "Tidak perlu, Justin-ssi, aku tidak lapar." Jawabnya. Jia kehilangan selera makannya karna Brian dan Thalita. Jika saja sore ini ia tidak bertemu mereka pasti Jia tidak akan menolak saat Justin mengusulkan makan malam. "Jika kau ingin makan malam lebih dulu, kita bisa berhenti sebentar." imbuh Jia yang merasa tidak enak pada Justin.
"Aku juga tidak lapar." jawabnya datar.
Drett!! Drett!!! Drett!!
Ponsel milik Justin tiba-tiba bergetar. Nama Leo-lah yang muncul di layar itu. Justin mengambil ponsel itu dan menerima panggilan tersebut sembari menepikan mobilnya. "Bicaralah." suaranya terdengar dingin dan tegas. Membuat Jia yang duduk di sampingnya sampai merengkut karna takut.
Meskipun ini bukan pertama kalinya ia mendengar Justin berbicara sedingin itu namun tetap saja Jia merinding saat melihat ekspresi wajah di tambah tatapan dinginnya. Meskipun penampilannya mirip brandalan namun ketenangan dan aura dominasinya begitu mirip dengan laki-laki brengsek yang telah mencampakkan dirinya hingga Jia berfikir apakah mereka bersaudara di perkuat dengan marga mereka yang sama.
'Kami sudah menyiapkan motor yang akan kau pakai malam ini. Aku dan Kai akan langsung membawanya ke lokasi.'
"Baiklah, kita ketemu di sana. Mungkin aku akan datang sedikit terlambat,"
'Tidak masalah, asalkan kau datang. Dan lagi pula balapannya di tunda satu jam lagi.'
"Hm! Aku tutup telfonnya." Justin memutuskan sambungan telfonnya dan kembali melanjutkan perjalannya yang sempat tertunda. "Kita akan makan malam lebih dulu, kita masih punya waktu selama satu jam." ucap Justin seraya melirik sekilas gadis di sampingnya.
"Baiklah, terserah kau saja, Justin-ssi."
Kali ini Jia tidak bisa menolak lagi. Ia sungguh merasa tidak enak pada Justin, di samping itu ia juga mulai merasa lapar mengingat jika dirinya belum makan apa pun sejak pagi tadi. Justin menepikan mobilnya pada cafe milik Dio, kedatangan mereka di sana langsung di sambut oleh salah satu pelayan cafe.
Dio tidak bisa melayani mereka berdua mengingat jika dia sedang bersama anggota Five Corner.
Setelah makan malam, Justin dan Jia langsung pergi ke arena balap liar. Setibanya di sana, Justin segera turun di ikuti Jia yang berjalan mengekor di belakangnya. Wajah gadis itu menunduk mengingat banyak sekali pasang mata yang menatap padanya. Jia berdecak kesal, berada di tengah keramaian ini adalah hal yang paling dia benci.
.
.
BERSAMBUNG.
aku kira walaupun Jia meninggal.
setidaknya bayinya bisa disela dan menemani Justin di sisa hidupnya. walaupun Justin tidak akan pernah menikah lagi.
hadeeh
keren banget ceritanya thor👍🏻🥰
Justin knp setiap ketemu Jia pasti lg butuh pertolongan.... ckckck...
semangattsss....