Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 19
“Tut, kowe ndak semaput, to? Kok mukamu langsung pucet gitu?” seru Rodiyah seraya menggoyangkan pundak Tutik.
“La iyo, kok langsung diem seperti patung begitu ada mbak Anne, tadi saja kamu lancar pas ngomongin dia,” sindir ibu muda, sedari awal memang berpihak pada Anne,
“Kae mau manusia opo demit, Yah?” tanya Tutik dengan suara bergetar, matanya masih tak berkedip, tubuh seolah tak lagi bisa digerakkan. “Tau-tau nongol langsung nyerocos di depan kita terus ngilang.”
Rodiyah dan ibu muda bernama—Jamilah, saling lempar pandang, mulut sedikit menganga.
“Kesambet koyone bocah iki,” gumam Rodiyah, tangannya dikibaskan di depan wajah Tutik, berusaha mengembalikan perhatian ibu hamil itu. “Tut … nyebut! Hoi!”
Tutik tersentak pelan, kain di tangan ia letakkan asal. “Demit kae mau, Yah. Jelas demit. Tiba-tiba muncul, rambut awut-awutan, ndak alok ndak opo, langsung ngilang. Merinding aku.” (Setan itu tadi, Yah. Pasti setan. Tiba-tiba muncul, rambut acak-acakan, tidak menyapa, langsung hilang. Merinding aku)
Ia lalu duduk lemas di batu kali, membiarkan baju daster longgar dengan motif batik basah oleh air sungai, satu tangan mengusap lengan yang meremang.
“Aku, yo agak merinding. Koyo kesirep rasane,” timpal Rodiyah, ikut-ikut meraba lengan mengkilat tersengat sang surya. (seperti terhipnotis rasanya)
Jamilah menggeleng pelan, wanita manis sudah menjanda tiga tahun lamanya itu turut menyahut sambil membereskan pakaian yang baru selesai dicucinya. “Kalian ini pagi-pagi wes ngelantur. Jelas-jelas sedari tadi mbak Anne berdiri di atas, memperhatikan kita, kok di bilang demit. Ada-ada saja.”
“Kowe tau wedokan itu datang?” serbu Tutik, air mukanya berubah nyalang, punggung sedari tadi bungkuk tegak seketika.
“Yo tau to, lawong dari kejauhan saja sudah kedengaran suara ringkikan kudanya,” sahut Jamilah seraya beranjak dari sungai.
Rodiyah menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kepala terbalut kain tipis menyerupai sorban kecil sedikit miring dengan alis berkerut samar. “Kok aku ndak denger yo?”
“Kowe asik mendengar kabar yang belum tentu kebenarannya, menambahi dengan informasi yang tak jelas juga asal-muasalnya. Lagipula, opo mungkin wong kayak mbak Anne dan sinyo Hans kuda-kudaan di sawah, sedang mereka punya kamar mewah, kalaupun mau bisa saja menyewa losmen termegah di kota,” ujar Jamilah yang paham siapa Hans Williams sebab ia pernah bekerja menjadi tukang cuci di rumah keluarga Williams.
Tutik yang tak terima dengan sindiran halus Jamilah, langsung berdiri, tak menyadari pijakan pada kaki hingga nyaris terpeleset. Untung badan sedikit gempalnya mampu ditahan Rodiyah.
“Damput! Gara-gara anak gundik itu, meh ketiwasan aku!” umpatnya, menyalahkan orang lain atas keteledorannya sendiri. (meh ketiwasan\= hampir celaka)
Wanita hamil enam bulan itu berdiri tegak di depan Jamilah, satu tangan bertopang di pinggang, satu lagi menunjuk hidung perempuan yang merupakan tetangga depan, berjarak tiga rumah dari rumahnya.
“Kowe menuduh aku mengarang cerita?!” hardiknya, dadanya naik-turun menahan amarah siap membuncah.
“Aku ndak menuduh, hanya mengingatkan kalo—”
“Alah … ndak udah sok mbelani, ngerti opo kowe tentang kelakuan si Anne kalau di luaran sana. Opo jangan-jangan kowe salah satu anak buahe? Pantas saja kowe betah menjanda, ternyata kowe gundik juga, opo malah begenggek?” tuding Tutik, tangan sedari tadi menunjuk wajah Jamilah, berganti mendorong pundak wanita bertubuh lebih kecil darinya.
Jamilah seketika meradang, tak terima dituduh sebagai wanita simpanan apalagi sengaja berjualan, satu tangannya terangkat, siap menampar wajah nyalang tetangganya, namun tangan nya terhenti di udara saat terdengar teriakan dari arah bukit.
“Berhenti! Kowe mau menyakiti ibu hamil?!” Dengan langkah terhuyung Marni menuruni perengan bukit landai. “Iki lah deso kalau sudah kena tulah, ndak akan ada ketenangan, semua saling serang sebab tanah desa semakin panas. Kalau ndak segera dicegah, bisa-bisa pertumpahan darah yang terjadi di kemudian hari.”
Ia menarik lengan Tutik ke dalam rangkulannya, netra tajamnya menelisik penampilan Jamilah. “Kowe pulanglah, jangan sampai pengaruh buruk anak gundik itu menyakiti warga yang tidak berdosa.”
Jamilah terbelalak, sudut bibir terangkat samar, begitu mata sendunya memperhatikan penampilan wanita paruh baya di depannya. “Aku pikir sampean berlari-lari hendak menjadi penengah, rupa-rupanya justru memperkeruh suasana.”
“Aku iki hanya membela mana yang benar, mana—”
“Jadi menurut sampean, menuduh orang tanpa bukti itu benar?” Jamilah terkekeh pelan, lalu berbalik badan, malas mencari masalah, memilih pergi tanpa menoleh lagi.
“Pantas saja di tinggal minggat karo bojone, kelakuannya seperti itu ternyata,” sungut Tutik dengan napas terengah sisa amarah tak tuntas terlampiaskan.
Marni tersenyum teduh, sorot matanya meredup. Dengan lembut ia papah ibu hamil itu ke pinggir sungai sambil menyenggol pundak Rodiyah yang termangu, tak tau harus berbuat apa.
“Kowe itu masih hamil cah ayu, nggak baik meladeni orang seperti itu, bisa-bisa anakmu nurun mereka nantinya,” ujarnya begitu mereka sudah duduk dibawah pohon jati.
Tutik buru-buru mengusap perutnya, satu kakinya menghentak tanah berpasir. “Amit-amit jabang bayik, doh doh seng adoh.” (jauh kan lah)
“Bener kui, mbokde.” Rodiyah turut menyahut, raut wajahnya masih terlihat ling-lung.
Melihat itu, Marni berganti mengusap lengan Rodiyah, dahi terdapat keriput, mengerut halus. “Kowe kok dari tadi tak lihat kaya wong bingung to, Nduk? Kenek opo?”
“Ndak tau, mbokde. Habis di datengin mbak Anne, langsung koyok ling-lung aku,” jawab Rodiyah.
“Wes jelas iki, kowe cah loro kena gendam, ilmu pengasihane anak gundik itu.” Marni kembali menebar kabut dusta, sengaja memilih Tutik dan Rodiyah yang mudah di hasut juga gemar menyebarkan kabar busuk tanpa berpikir kebenarannya.
Di tempat yang berbeda, beberapa petani terlihat tengah adu mulut. Sugi yang berdiri di barisan paling depan, terlihat begitu lantang meneriakkan protes.
“Sekarang gini aja, Kang. Sawahmu waras, sedang punyaku garing melingking. Mosok iyo kowe mentolo, hah?! Lagipula, sawah mu ndak lebih setengah kedok yang ke gilas traktor, ” serunya dengan tangan berkacak di pinggang. (mentolo \= tega)
“Lho yo ndak bisa ngunu to, Kang. Setengah kedok iki calone bisa dapet satu karung padi, kok se'enake sampean omong cuma,” balas si pemilik sawah yang rusak akibat digunakan untuk lewat traktor yang membajak sawah milik Sugi dan beberapa petani yang menentang saran dari Anne.
“Kemarin saja kowe metengkelek hanya karena selang yang digunakan untuk pengairan melewati pinggiran sawahmu, sampai kami harus gotong royong membuat parit tambahan, sekarang kowe seenak udel merusak padi mulai mau kembali tumbuh,” lanjut si petani, namanya Tarmuji. (metengkelek \= marah tak jelas)
Sugi terdiam sejenak, tatapannya berpindah-pindah, lalu kembali bersungut-sungut membantah ucapan Tarmuji. “Aku ‘kan cuma mengikuti saran bu mantri, kowe yo denger to, kalau padi yang sudah terlanjur kering ndak bakal bisa lagi terselamatkan.”
“Punya pakde Kuwat, sawah bagian pinggir itu lebih parah dari punya sampean, bisa diselamatkan, walaupun ndak semua. Kudune kan sampean belajar seko pengalaman. Dulu pernah hampir kejadian seperti ini, karena kesigapan mbak Anne, semua teratasi, panen kita kembali melimpah,” balas Tarmuji.
“La iyo to, lawong kita kemarin lo cuma disuruh urun tenaga, pompa air sak solar e semua di tanggung mbak Anne, kowe nggak mau, giliran saiki sawah e koncone kembali segar kowe ndak terima,” timpal petani lainnya.
Sugi berdehem pelan, tatapannya beralih pada traktor yang masih meraung, membajak sawahnya. “Wes lah saiki ngene ae biar sama-sama enak. Sawahmu yang rusak nanti tak ganti rugi sama kacang ijo yang bakal tak tanam, setengah kedok tak ijoli sak kedok, wes, beres urusan!”
“Lah, gung karuan tanduranmu sukses, panen. Kalau ternyata bosok meneh, piye?”
“Saya yang akan menanggung kerugiannya ….”
Bersambung.
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria