Butuh waktu lima tahun lamanya bagi Mer untuk siap bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Teman masa kecilnya yang begitu ramah dan ceria itu seketika berubah menjadi sesosok pria misterius nan dingin. Akan tetapi, kepribadian Vallen yang berubah tetap tak melunturkan perasaan yang telah lama bersinggah di hatinya. Mer tetap mencintai Vallen meski pria itu tak menganggap Mer ada.
Perjuangan terus Mer lakukan untuk mendapatkan perhatian Vallen. Ia terus mendekati Vallen walau pria itu selalu melontarkan kata yang menyakitkan. Meski sering tak diacuhkan olehnya, bukanlah sebuah alasan bagi Mer untuk menyerah. Semua itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta Vallen kembali.
Hanya soal waktu saja Mer dapat meluluhkan hati Vallen. Merubah kepribadiannya kembali menjadi sosok yang hangat. Menjadikan hal yang mustahil dapat diraihnya. Meski begitu, Vallen tetap menolak cintanya dengan alasan takdir yang selalu ia katakan. Akankah alasan takdir itu suatu saat akan menenggelamkan cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIFA IFTITA RAHMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERNYATAAN CINTA
Jum’at, 19 Oktober 2018
Sebulan tak terasa lamanya latihan latihan terus Menghadang kami hingga saat ini lah puncak dari latihan-latihan yang selama ini sebulan tak terasa lamanya latihan latihan terus menghadang kami hingga saat ini lah puncak dari latihan latihan yang selama ini kami lakukan sepulang sekolah aku mengintip ke depan panggung telah terduduk manis kak kakak kelas 12 yang siap untuk menyaksikan.
“Mer, kelas lo antrian terakhir ya!” ucap Rakha.
Ia tersenyum kepadaku, mengangkat kepalan tangannya ke udara, memberi semangat. Saat acara hendak dimulai, kami dipersilahkan duduk terlebih dahulu di belakang kakak kelas 12. Dipersilahkan juga ikut menonton penampilan-penampilan kelas 10 yang lain. Sungguh menyenangkan melihatnya. Ada yang mempersembahkan dance, tari saman, polantas, musikalisasi puisi, diva, dan masih banyak lainnya.
“Tepuk tangan yang meriah dari kelas 10 Ipa 5,” Ucap sang mc.
Semua Bersorak menyeru sambil bertepuk tangan. Pertunjukan tadi memang menyenangkan. stand up comedy. Banyak yang tertawa dibuat oleh kelas 10 ipa 5.
“Kini tibalah dipertunjukkan yang terakhir, saksikanlah teater dari 10 ipa4,”
Aku beserta murid-murid dari kelas 10 ipa 4 berjalan ke belakang panggung, bersiap-siap. Jantungku rasanya berdetak dengan sangat kencang. Masih sedikit grogi karena vallen ikut serta melihat penampilan ini.
“Oke guys, ayo kita mulai!”
---
Di sebuah kerajaan Kosala, hiduplah seorang pangeran gagah yang memiliki tampang rupawan. Ia pintar tiada tara, tak ada satu pun gadis yang tak jatuh hati padanya.
Suatu ketika, pemuda gagah itu sedang dalam misi berbahaya. Menumpas para raksasa di hutan rimba.
Rasyid naik ke atas panggung, diikuti oleh beberapa raksasa, Nuha dan Tsaqif dengan diiringi lagu. Rasyid memainkan anak panahnya yang tajam, siap untuk membunuh para raksasa. Hanya dalam sekali tombak, keluarlah darah membanjiri seperti lautan.
Rey ikut naik ke atas menghampiri Sang Rama.
“Aku mendengar kabar akan diadakan sayembara oleh Raja Wideha untuk gadisnya yang rupawan. Kau harus ikut serta kakanda,” ucap Laksmana
“Kau ingin kakakmu ini mendapatkan jodoh melalui sayembara?”
Rama mendengus tak memedulikan adiknya yang tengah membujuk kakaknya agar mengikuti sayembara itu. Akan tetapi, saat Rama melihat seorang Shinta, dengan bijaksana mengulurkan tangannya untuk membantu para dayang-dayang yang ceroboh menjatuhkan buah, terpana lah Sang Rama melihat kecantikan Shinta dan pada akhirnya Rama menyetujui bujukan dari Laksmana agar meengikuti sayembara.
Sayembara dimulai, tidak ada pertandingan ataupun kekerasan agar memenangkan sayembara itu. Mereka, para pangeran-pangeran yang mengikuti sayembara, hanya diminta menarik busur pusaka kerajaan Wideha. Busur itu milik dewa Siwa yang di hadiah kan ke bumi. Jangankan menarik senar busurnya, mengangkatnya saja tak ada yang mampu.
Faras dan Fikri mencoba mengangkat sebuah busur di atas panggung, tidak bisa, tentu saja, itu kan hanya sebuah akting.
Entah karena kekuatan apa, mungkin kekuatan cinta lah yang membuat Rama dapat mengalahkan pangeran-pangeran yang gagal itu. memenangkan sayembara dan menikah pada gadis cantik kerajaan Wideha.
Lepas pernikahan, pasangan muda itu kembali ke Ayodya, ibukota kerajaan Kosala. Diangkat lah Rama menjadi raja kosala.
Licia yang berperan jadi ibu tiri Rama, ikut menaiki panggung. Mengusir Rama dan Shinta serta Laksmana adiknya yang setia, dari kerajaan atas intrik liciknya. Mengangkat anaknya, Barata, menjadi raja kosala.
Seketika lampu panggung dimatikan. Dengan cepat, Via dan Putri serta diikuti oleh yang lain merubah latar tempat kerajaan kosala menjadi sebuah hutan. Saat lampu panggung kembali menyala, berdirilah Rasyid dan Mer yang tengah berakting menjadi Rama dan Shinta.
“Menggemaskan sekali,”
Mer menunjuk sebuah boneka kijang di atas panggung, meminta agar Rasyid mengejarnya. Tanpa menunggu lagi, Rasyid mengejar boneka kijang yang telah diikat oleh senar tipis, membuat boneka kijang tersebut berjalan menuruni panggung yang diikuti oleh Rasyid.
Kijang itu bukanlah kijang biasa, melainkan jelmaan raksasa, anak buah Rahwana yang menyamar. Dari bawah panggung Rasyid berteriak minta tolong. Sebenarnya, bukanlah Rama yang menjerit, melainkan seekor kijang yang telah berhasil dipanah oleh Rama. Kijang itu berubah wujud, berseru meminta pertolongan. Menirukan suara Rama.
Shinta mendengarnya, takut suaminya kenapa-napa, ia menyuruh Laksmana untuk menyusul sang suami. Laksmana ragu, khawatir itu semua hanyalah jebakan. Ia memutuskan membuat sebuah lingkaran yang mengelilingi kediaman mereka, melindungi Shinta sepanjang ia tidak keluar dari dalam lingkaran itu.
Rey mengambil kapur dari kantongnya, menggambar lingkaran di atas panggung yang terbuat dari kayu, lantas menuruni panggung.
Aksay sudah siap dengan perannya, dengan mengenakan kostum ala pengemis miskin yang meminta rezeki, ia terduduk melas di luar lingkaran buatan Rey.
Shinta yang berhati mulia, merasa kasihan terhadap penderitaan kakek tua itu hingga ia mengabaikan wasiat dari Laksmana dan mengulurkan tangannya keluar lingkaran untuk memberikan kendi air. Sekejap, saat tangan Shinta keluar dari lingkaran, Rahwana berubah wujud.
Aksay melepas pakaian compang-camping nya itu menjadi sebuah Rahwana. Saat di bawah panggung, Aksay lebih dulu mendobelkan pakaiannya sehingga ia tinggal melepas pakaian compang-camping nya menjadi seorang Rahwana. Soal make up, sejak awal Aksay telah didandani menjadi seorang Rahwana. Hanya saja, selama ia berperan menjadi pengemis, Aksay sedari tadi menundukkan kepalanya.
Aksay menarik lengan Mer cepat, membawanya turun ke bawah panggung seolah Shinta telah diculik oleh Rahwana dan membawa Shinta pergi ke kerajaan Alengka.
Saat Shinta menuruni panggung, kembalilah Rasyid menaikinya bersama Rey. Mereka Amat pilu mengetahui bahwa Shinta telah diculik oleh Rahwana. Rama tak bisa tinggal diam mengetahui kabar itu, ia meminta bantuan daari bangsa Wanara, alias manusia kera.
Cholida, Ali, Zahra, Fatih, Ulya ikut menaiki atas panggung. Bersiap membantu Rama untuk menyerang kerajaan Alengka. Akan tetapi masalah tak kunjung berhenti. Tak ada jalan untuk melewati lautan ribuan kilometer itu. Hampir kehabisan akal, pada akhirnya Rama meminta bantuan pada Baruna, dewa yang mengurus samudera. Baruna menolaknya dan Rama marah akan hal itu, ia mengangkat busur dewa Siwa. Hendak mengeringkan seluruh lautan andai Baruna menolak permintaannya.
Kesepakatan demi kesepakatan, Baruna tetap tak ingin terlibat dalam pertempuran. Ia memutuskan membantu Rama dengan membuat sebuah jembatan untuk dilewati Rama beserta para bangsa Wanara.
Nuha, Tsaqif, Najwa, Mila, dan Novan sebagai raksasa kerajaan Alengka bersiap untuk menyerbu bangsa Wanara. Perkelahian terjadi. Saling menyerang membuat darah berlimpah keluar. Darah itu menggunakan pewarna makanan yang telah diplastikin kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam saku celana, dada, dan lain sebagainya. Maka ketika diantara mereka ada yang gugur, mereka tinggal memecahkan plastik itu dari luar, maka jadilah darah yang membasahi tubuh mereka.
Rasyid menarik busur dewa Siwa, bersiap menghujani Aksay mengguanakan anak panah. Saat itu juga, Rahwana tumbang dengan berlimpah darah.
---
“Waw, gue nggak nyangka, baru kali ini ada pementasan teater yang adegan dibakarnya pake api beneran,”
Seluruh penonton pada berdiri memberikan tepuk tangannya. Mungkin ini adalah bagian terserunya sampai-sampai pada teriak.
Dari balik panggung, Via berlari ke depan, meneriaki orang-orang yang tengah terhibur saat adegan Shinta harus melewati ujian kesucian, melewati kobaran api suci yang meletup-letup.
“WOY, LO LO PADA! INI PANGGUNG KEBAKAR BENERAN! UDAH BUKAN SKENARIO! CEPET TOLONGIN, MER NYA MASIH DI ATAS PANGGUNG!”
Itulah sekilas suara dari Via yang dapat kudengar. Selebihnya, hanya terdengar samar karena detak jantung panik telah mengelabuhi diriku. Menulikan telingaku untuk mendengar lebih jelas lagi. Aku ketakutan, disini panas. Api meletup-letup di sekitarku. Tak menemukan jalan keluar, didepan penuh dengan kobaran, sedang di belakang terhalang triplek karya Vallen dengan kayu besar sebagai sandaran. Entah bagaimana terjadi, tiba-tiba api besar muncul begitu saja dengan ledakan. Parahnya, hanya aku sendiri yang masih berada di atas panggung.
Aku meringkuk ketakutan, pasrah. Memeluk diriku sendiri. Kepanasan bersama api yang siap menelanku kapan saja. Asap yang menggumpal, penyebab napasku terasa sesak. Aku menangis, menjatuhkan banyak tetesan air mata menjatuhi pipiku. Andai takdir baik tak berpihak padaku, kuharap bukan dengan cara inilah aku mati. Sangat tak terdugakan apabila sebuah pensi dapat menjadi kekacauan besar.
Aku sudah mencoba berteriak, berkali-kali meminta pertolongan. Akan tetapi penonton justru mengira aku hanya berakting sebagai Shinta. Aku tak tahu lagi harus bagaimana, tubuhku terasa sakit. Napasku sulit menghirup oksigen. Bahkan air mata membanjiri pun tak ada gunanya.
Pusing menimpa kepalaku. Sudah tak tahan lagi, mataku perlahan tertutup. Gelap seketika mengelabuhi penglihatan. Aku tak dapat melakukan apa-apa lagi. Hanya dapat terbaring lemah di atas panggung terbakar, menunggu kabar baik datang.
---
Samar-samar aku melihat sekeliling. Atap berwarna putih yang pertama kali dapat kulihat. Pusing di benak masih terasa, namun aku mencoba bangkit dari tidurku. Mencoba untuk duduk.
Butuh beberapa detik untuk menyadari keberadaan seorang pria tengah tertidur di sebuah kursi di samping ranjang UKS. Kepalanya ia rebahkan di atas ranjang yang kutempati. Wajahnya begitu tenang saat ia tertidur. Setenang arus sungai yang mengalir teratur.
Aku mengamati lamat-lamat wajah itu, tanpa sadar aku tersenyum dibuatnya. Sudah lama aku tak melihat wajahnya yang tertidur, begitu tampan. Diam, tak memberikan ekspresi datar, tak menatapku tajam, tak menyorotkan kebencian padaku, juga tak menghindariku atau menganggapku seolah tak ada. Aku suka Vallen yang begini.
Berawal dari keterpanaanku pada wajahnya, barulah aku menyadari ada bekas luka bakar di bahunya. Baju seragamnya sobek, gosong terkena percikan api. Memperlihatkan dengan jelas darah yang telah mengering pada lengan atasnya.
Aku menggigit bibir, cemas melihat luka-luka di lengan atasnya. Sungguh, berapa banyak lagi luka yang harus ia terima akibat ulahku.
“Makasih Len,” gumamku.
Pasti ada sesuatu yang baik dibalik sebuah musibah, dan itu benar. Aku terjebak dalam api yang membara, tapi berkatnya aku mengetahui satu hal, secuek-cueknya Vallen, ia masih tetap mengkhawatirkanku. Vallen rela melibatkan dirinya dalam bahaya hanya untuk menyelamatkan hidupku. Jika bukan karena dirinya, entah apa yang akan terjadi pada nyawaku nanti.
Kulepas selimut yang tadinya menyelimuti tubuhku. Aku menjerengnya, melekatkannya ke punggung Vallen yang tertidur. Tanganku tanpa sadar mengusap pipinya tang berkeringat, ia sungguh kelelahan.
Yang semula tidur dengan tenangnya, Vallen kemudian mengerutkan alusnya. Ada setitik air matanya yang dapat kulihat, ia menangis dalam tidurnya. Entah mimpi apa yang saat ini sedang dialaminya.
“Mer, please, jangan pergi,”
Aku terdiam mendengar kata-katanya yang mengigau. Entah itukah yang diinginkannya, aku juga tak tahu. Meski ia tanpa sadar mengatakannya, aku harap begitulah isi hatinya. Aku harap perkataannya benar, ia tak ingin agar aku pergi, ia ingin agar aku tetap disini, disisinya, bersamanya, menemaninya.
Aku mengusap-usap rambutnya yang telah berantakan.
“Gue selamanya nggak akan pernah ninggalin lo Len, gue takut justru lo yang akan ninggalin gue,”
---
“Lo udah sadar?” tanyanya yang masih setengah sadar.
Aku sudah lagi tak berada di atas ranjang UKS. Tengah terduduk di sampingnya yang masih mengucek mata.
“Lengan gue lo apain?”
Vallen melihat lengannya yang telah dililit kasa. Luka-lukanya itu telah kusterilkan dan kuobati menggunakan obat merah ketika ia sedang tertidur.
“Gue obatin, nanti kalo udah sampe rumah, lo ganti aja kasanya,”
Vallen menatapku dalam diam. Bahkan hanya dengan kata terima kasih saja ia seperti enggan mengatakannya. Bukan, orang yang seharusnya mengucapkan terima kasih ialah diriku, bukan dia.
“Len, makasih ya,”
Ia menaikkan sebelah alisnya.
“Untuk segalanya. Termasuk karena lo udah nyelamatin gue dua kali,”
Tatapan matanya itu, sungguh tak dapat ditebak. Wajahnya yang selalu bersikap datar ketika menatapku, sifatnya yang masih misterius, tertutup, menghindari orang-orang, cuek, tak banyak bicara, berbeda seratus delapan puluh derajat dari Vallen yang kukenal lima tahun lalu.
“Udah, lo istirahat. Gue keluar,”
Tanpa menunggu jawaban dariku, Vallen bangkut dari duduknya. Ia seolah ingin kembali menggenggamku, tapi ketika aku membuka pintu lebar-lebar untuknya, ia justru menghindariku. Seperti bayangan yang hanya ada ketika tak dipandang orang lain.
Aku menggenggam pergelangan tangannya, mencegahnya sebelum ia benar-benar pergi. Ia merasakan sentuhanku dan dengan sendirinya menghentikan langkah. Memutar badannya kembali menghadapku.
Alisnya mengangkat, seperti bertanya ada apa dalam bahasa isyarat. Tubuhku bergetar, aku menggigit bibirku untuk mencegah grogi muncul. Kuteguhkan keyakinanku bahwa inilah saatnya, aku tak ingin lebih lama menunggu lagi.
“Len, gue... cinta sama lo,”
“Trus?”
Mati-matian aku mencoba mengucapkan kata itu, tapi ia hanya merespin dengan satu kata, seperti tak menghargainya.
“Terus ya, gue pengen, kita pacaran,”
Vallen terdiam. Bibirnya bungkam untuk menjawab perkataanku. Aku pun sama, diam dengan debaran saat menanti jawabannya. Aku berharap ia akan menerimanya. Sungguh, momen inilah yang kunanti-nanti apabila ia menerimanya.
Kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Bermenit-menit waktu berlalu namun tetap tak ada jawaban darinya.
“Kayaknya gue nembak lo kecepetan ya, jadi garing deh,”
Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal. Tertawa hambar. Detak jantung tak karuan menjalari sekujur tubuhku. Malu sudah tak dapat kutahan lagi. Pertama, statusku disini adalah seorang cewek yang menyatakan perasaannya pada cowok terlebih dahulu. Dan kedua, pernyataanku digantungkan olehnya, membuatku lebih lama menunggu dengan campuran antar detak jantung dan pikiran yang harus kuatur agar tak meledak.
“Lo nggak harus jawab seka-“
“Gue jawab sekarang aja,”
Terdengar dari hembusan napasnya, ia berpikir keras. Apakah dengan menerimaku kembali membutuhkan pemikiran keras?
“Gue nggak bisa,” lirihnya.
Kata itulah yang paling enggan diterima oleh gendang telingaku. Aku mengatupkan mulutku, berusaha tegar. Akan tetapi, bagaimana pun juga, air mata tak dapat kutahan lagi. Perjuanganku, semua sia-sia. Ia yang selama ini kuharapkan, Vallen yang selama ini menguasai hatiku, ia telah menghancurkannya dengan kata-kata singkat darinya.
“Tapi, kenapa Len?”
“Lo nggak perlu tau,”
Lagi-lagi wajah yang sulit kuartikan, ia lontarkan ke arahku. Vallen sungguh menolakku, tapi ia enggan menatapku saat mengatakannya. Pemandangannya ia alihkan pada objek yang lain. Seperti ia hendak menghindari tetesan air mata yang keluar dari kelopak mataku.
Aku memegang kedua pipinya agar matanya terfokuskan padaku. Tidak kemana-mana, hanya memandangku seorang. Kearah seorang gadis yang selama lima tahun menanti untuk mendapatkannya kembali. Akan tetapi gadis itu telah gagal, sang pangeran es di hatinya telah menutup rapat perasaannya untuk alasan yang tak diketahui sang gadis.
“Len, please, seenggaknya lo kasih gue alasan kenapa lo nolak gue, kenapa lo benci sama gue setelah lima tahun yang lalu. Apa sampai sekarang gue masih nggak pantes buat lo?”
“Gue punya sebuah rahasia yang buat gue jadi gini,”
“Apa? Jelasin! Apa karena gue nggak pantes buat lo? Apa karena orang tua kita nggak ngerestui hubungan kita? Oh, atau jangan-jangan lo berubah karena gua nggak ada waktu lo terpuruk? Sadar Len, lo yang ngusir gue duluan! Lo nyuruh gue pergi disaat gue tanya dimana letak kesalahan gue ke elo. Lo nggak pernah kasi gue alasan buat memperbaiki kesalahan!”
Telah kulepas seluruh air mata yang semula mengaburi penglihatanku. Telah kulepas pula pertanyaan-pertanyaan yang selalu menikam otakku. Aku hanya ingin ia tahu gimana tersiksanya diriku memikirkan hal itu.
Bukannya bersimpati, ia justru menghempas kasar lenganku yang sedari tadi mendarat pada pipinya. Ia membangun jarak diantara kami. Berbalik badan hendak pergi. Sebelum dengan tega ia melakukannya, Vallen membisikkan sesuatu yang membuatnya terlihat semakin tega.
“nggak semua rahasia harus lo ketahui Mer,”
Barulah ia pergi. Benar-benar pergi meninggalkanku sendirian di ruang UKS dengan perasaan bercampur aduk. Bingung, kecewa, sedih, patah hati, marah, dan sebagainya.
---
Aku menghapus sisa-sisa air mata, sembab dibuat olehnya. Berjalan asal keluar UKS hendak pulang. Aku tak peduli apakah ini sudah jamnya untuk pulang. Aku tak peduli nasib orang-orang yang tengah sibuk membersihkan bekas panggung terbakar. Pikiranku telah hanyut dalam kesedihan. Ditambah denyutan pada kepalaku yang masih terasa. Akan tetapi itu bukan masalah lagi karena hatiku bahkan lebih parah sakitnya.
Tatapanku kosong, kulalui langkah demi langkan dengan lamunan. Apakah aku gagal? Iya. Apakah aku sedih? Tentu. Apakah aku menyerah? Tak akan pernah. Baru ditolak sekali bukan berarti aku akan berhenti mencintainya. Aku sanggup berbuat nekat, aku juga harus sanggup terima apapun keputusannya. Akan tetapi jika ia menyuruhku untuk enyah dari kehidupannya, barulah aku tak akan sanggup melakukannya.
Tersenyumlah walau hati ini terasa sakit. Aku pernah mendengar kalimat itu. Akan kucoba saat ini juga. Aku tersenyum, walau hatiku masih menderita akan penolakannyam setidaknya itu mengurangi beban masalah yang bersinggah di hatiku. Setidaknya itu membantu walau hanya sedikit. Jujur saja, kalimat itulah yang pernah Vallen katakan padaku.
“Mer, lo nangis?” ucap Rakha yang tiba-tiba telah berada di depanku. Saking fokusnya aku menenangkan hatiku, aku sungguh tak Rakha dengan tegaknya berdiri di hadapanku. Ia menaikkan sebelah alisnya, ingin mencari jawaban atas ketidakjujuranku yang mengatakan tak ada masalah.
“Beneran?”
Aku mengangguk sebagai jawaban. Anggukan yang sungguh tak meyakinkan.
“Kalo lo butuh bantuan atau teman curhat, lo boleh kok jadiin gue rumah kembali disaat lo sedang terpuruk,”
“Alay,”
Kusikut lengan Rakha perlahan sebagai respon. Aku tersenyum tipis, kehadiran Rakha memang membuatku lebih baikan.
“Lah, gue ngomongnya serius, lo anggep candaan,”
Rakha menggembulkan pipinya layaknya anak kecil yang sedang merajuk. Membuat ekspresi menggemaskan untuk menghiburku. Mau tak mau, senyumku mengembang di buatnya.
“Akhirnya lo senyum juga. Gue anterin pulang yuk. Lo keliatan masih kurang sehat,”
“Gausah Rak, gue balik sendiri aja,”
“Yaudah, lo balik sendiri aja bisa kan? Gue masih ada urusan yang belum tuntas,”
Rakha tersenyum sebelum akhirnya pergi meninggalkanku. Entah ini hanyalah firasat buruk atau bukan, senyumannya terlihat palsu. Wajahnya yang semula melucu kembali terlihat serius begitu kalimat terakhirnya terucap, urusan yang belum tuntas.
---
aku akan lanjutin nanti... 🥰
salam cilamici